Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Ngapain malu


__ADS_3

Dari jauh ada seseorang sedang mengawasi Laras. Bahkan dia mengarahkan kamera ponselnya pada Laras yang sedang berbincang dengan Hendar.


"Kang duluan ya?" ucap Laras sambil berjalan kembali ke kamarnya, ketika mau menuruni tangga bertemu dengan Mery yang berdiri menyilang kan tangan.


"Dari mana pagi-pagi? pacaran ya!" dengan nada sinis.


Laras menatap Mery. "Kak Mery maksudnya apa? pagi-pagi sudah ngajak ribut! saya ke taman untuk berolah raga bukan pacaran."


"Hem ... gak ada maling yang mau ngaku! kalau semua maling ngaku! penjara penuh," masih nada sinis.


"Kenyataannya begitu kok," timpal Laras lagi.


"Saya ada buktinya kau dekat dengan tukang kebun itu, dan saya akan perlihatkan pada Ibra. Supaya kamu ditendang dari rumah ini," sambung Mery sambil mengeluarkan ponsel miliknya, memperlihatkan sebuah poto Laras sedang tertawa bareng tukang kebun.


Laras melotot, ada-ada saja ini ulang orang satu ini. Laras tersenyum mengejek. "Itu! akan kau jadikan bukti bahwa saya pacaran sama dia? silakan! saya tidak takut sama sekali. Karena poto itu tidak akan membuktikan apa-apa," ucap Laras sambil melenggang menuruni anak tangga.


Mery semakin geram. "Benar juga! poto ini gak akan membuktikan apa-apa, tapi akan aku coba ah ku perlihatkan pada Ibra."


Laras langsung ke dapur mau bikin sarapan sendiri, kayanya enak pagi-pagi bikin roti bakar selai srikaya.


Di sana sudah ada mertuanya sedang sarapan, bu Rahma menoleh Laras sambil tersenyum. "Laras! sini sarapan bersama. Ibra mana? apa dia belum bangun, mentang-mentang libur."


Laras pun mendekat. "Em ... tadi sih, waktu Laras keluar dari kamar dia belum bangun, aku pikir biarlah, kan libur kerja."


"Iya Mah biar saja, apalagi kalau semalam dikasih lembur sama Laras. Pasti dia capek," timpal Marwan sambil melirik istrinya.


"Oh, iya. Semalam di kasih lembur gak?" tanya bu Rahma pelan pada Laras sambil menyeringai.


Laras kebingungan, kemudian menggeleng pelan. "Lembur apaan sih?" batin Laras.


Pagi Mah. yah?" sapa Yulia yang kelihatan baru bangun tidur.


"Pagi juga sayang, baru bangun ya kamu?" lirih bu Rahma.


"Iya Mah! gak enak badan nih," sahut Yulia sedikit mengeluh.


"Berobat dong! jangan dibiarin, nanti keterusan," sambung bu Rahma.


"Iya, nanti sama Ibra Mah," sahut Yulia sambil menuang air teh hangat. "Gara-gara semalam jadinya kepalaku pusing, dasar bodoh! di kasih malah menolak," batin Yulia.


"Kamu juga baru bangun ya?" bu Mery menoleh kedatangan Mery.


"Aku! sudah dari tadi Mah," sahut Mery. "Nggak lihat apa, aku sudah cantik begini? apa anda sendiri yang baru bangun!" gumamnya dalam hati.


"Oh, iya sudah cantik! apa ada acara hari ini?" tanya bu Rahma lagi.

__ADS_1


Mery mengangguk. "Iya, ada pemotretan nanti jam 09.00 jadi aku akan pergi Mah."


"Oh ... padahal ini hari minggu, waktunya berkumpul keluarga atau liburan bersama," sambung bu Rahma kembali.


"Ibra juga gak mau ngajak kami jalan-jalan ataupun liburan. Mending jalan sendiri saja." Mery menaikan kedua bahunya.


"Em ... gitu ya, ajaklah. Siapa tahu dia mau, asal jangan waktu sibuk aja mengajaknya." lirih bu Rahma di sela makannya.


"Oya ngomong-ngomong apa kalian berdua sudah ada tanda-tanda mau punya baby?" tanya Marwan.


Yulia dan Mery saling pandang, sementara Laras sedang membuat roti bakar agak jauh.


Keduanya menggeleng. "Belum Pah," sahut Mery.


"Apalagi sekarang Ibra sulit diajak gituan! bikin bete," ujar Yulia wajahnya nampak kesal.


"Hahaha ... gitu ya?" pak Marwan tertawa lebar sampai terbatuk-batuk.


"Ayah ... ini apa-apaan! ketawa sampai segitunya," ucap bu Rahma sambil memberikan teh hangat.


"Papa kenapa sih! apa ada yang lucu apa?" Yulia heran dan Mery mengangguk.


Laras mendekat. "Papa kenapa Mah?" menatap cemas.


"Nggak tau ni ayah!" sahut bu Rahma.


Selesai sarapan semuanya bubar, begitupun Laras balik ke kamarnya. Mau lihat apa Ibra sudah bangun apa belum.


Kini Laras sudah berada di kamarnya, benar saja Ibra masih tidur pulas. "Tuan! bangun Tuan. Sudah siang! belum sarapan juga."


Merasa ada yang menggoyangkan bahunya. Ibra membuka mata dan menggeliat nikmat. "Hem ... jam berapa nih?"


Laras melirik jam dinding. "Pukul 07.30 Tuan."


"Kenapa baru bangunkan aku?"


"Saya pikir Tuan hari ini, kan libur jadi biar saja tidur sampai siang. Tapi ... Tuan belum sarapan," sahut Laras.


Ibra duduk bersandar di bahu tempat tidur, memandangi Laras yang memakai setelan olah raga. "Dari mana!" sambil menguap.


"Tadi lari-lari kecil di taman, terus sarapan sama Mama dan yang lainnya."


"Hem ... gitu," lagi-lagi Ibra menguap.


"Aku mau membereskan tempat tidur ini Tuan. Mandi sana, istrinya sudah menunggu," ucap Laras berdiri dekat tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu! istri saya, tapi sayang gak mau saya tiduri. Harus dipaksa dulu baru mau dia," menatap tajam laras.


Laras senyum tipis seraya berkata. "Malu!"


"Malu? sudah lihat dan sudah merasakan juga. Ngapain malu!" timpal Ibra sembari mendekat, meraih tangan Laras. Dia tarik supaya duduk di dekatnya.


Laras pun menurutinya. "Gimana kalau kita lakukan sekarang? kebetulan kita belum mandi!" bisik Ibra di telinga Laras, membuat tubuh Laras kaku. Keduanya saling menatap satu sama lain, sama-sama mulai ada gejolak rasa yang menghiasi tubuhnya.


Netra mata Ibra bergerak menatap kaos yang Laras kenakan. Tangannya menyentuh kaos Laras, ditarik ke atas untuk membukanya. Namun ia urungkan. "Boleh gak?" lagi-lagi berbisik dan memberi sedikit sentuhan di telinganya.


Laras menggigit bibir bawahnya, pikirannya melayang. Mengingat kata Dian yang ingin segera mendapat kabar baik dari dirinya.


Ibra tambah gemas melihatnya. Karena Laras tidak memberi respon apa-apa Ibra menarik bahu Laras agar berbaring, dia langsung mengunci dengan tubuhnya. Laras hanya menatap sendu laki-laki yang sedang mengungkung tubuhnya saat ini, tugasnya hanya melayani dan memberikan anak.


Perlahan! namun pasti. Ibra mencumbu istri muda yang dipercayakan istri pertamanya untuk memberikan anak.


Laras hanya diam dan mengikuti yang Ibra dambakan darinya. Tidak ada suara selain napas yang berhembus kasar dari hidung keduanya.


Ibra membuka kancing bajunya, rasa panas mulai menyerang! gelenyar aneh pun dirasakan Laras. Dia menggigit bibir bawahnya melihat Ibra membuka baju atasnya, baru saja Ibra mau buka pakaian bawah.


Suara riuh terdengar dari balik pintu, membuat Ibra mengurungkan niatnya.


"Sayang! sudah bangun belum? aku gak enak badan nih," suara teriakan Yulia.


Mendengar itu Ibra menghempaskan tubuhnya duduk! memegangi keningnya dan sedikit di pijat. "Aduh ... ada-ada saja gangguannya."


Laras pun bangun! untungnya dia masih mengenakan pakaian dengan lengkap. Cuma acak-acakan saja. Sesungguhnya Laras juga entah kenapa merasa ada sedikit kesal, kecewa. Namun tidak bisa apa-apa.


Laras mengambil baju Ibra yang tadi dilempar, diberikan pada Ibra dan membantu mengenakannya kembali. "Itu istrimu, minta di manja kali," ucap Laras sambil memasang kancing baju Ibra.


Ibra menatap Laras dengan lekat. "Kamu cemburu?" menaikan dagu Laras dengan jarinya.


"Haa ... cemburu? ti-tidak. Buat apa aku cemburu." Laras mengelak.


"Sayang bangun! sudah siang nih," suara Yulia terdengar lagi. "Sayang ... bangun!" tangan Yulia memukul-mukul daun pintu.


Blak!


Pintu di buka oleh Ibra dangan rambut acak-acakan, muka kusut atau masam. "Ada apa sih bikin ribut saja."


Mata Yulia celingukan ke dalam kamar, nampak Laras sedang membereskan tempat tidur. "Sayang! aku--"


Ibra langsung menarik tangan Yulia dan berjalan dengan sepat meninggalkan kamar Laras. Di dalam! entah kenapa Laras hatinya sedikit sakit, kecewa yang tidak dimengerti olehnya kenapa ....


,,,,

__ADS_1


Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.


__ADS_2