Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Pak Rt mu


__ADS_3

"Kawan kuliah, pacar?" selidik Ibra penasaran.


Laras menggeleng. "Bukan, aku cuma menganggapnya kawan biasa kok."


"Kamu, cuma menganggap dia teman biasa? berarti dia punya rasa dong, yang mungkin kamu tidak tanggapi. Atau cinta lama akan bersemi kembali." Hati Ibra makin panas dibuatnya. Ia duduk di dekat Laras.


"Buat apa sih, kita bahas ini? itu cuma masa lalu. Bukankah kita sudah punya jalan masing-masing?" kedua netra mata Laras menatap kedua mata Ibra yang nampak terbakar api cemburu.


Kemudian. Jemari Ibra bergerak mengelus pipi Laras. "Aku tak ingin kehilangan dirimu, itu saja." Menatap lekat wajah Laras.


"Tapi, curiga mu itu tak beralasan. Kalau aku mau, kenapa gak dari dulu saja? bukan sekarang ini, yang sudah punya pasangan masing-masing," ucap Laras. "Tapi gak tahu juga sih kalau ke depannya gimana! yang jelas sih gak akan terulang yang kedua kalinya, berada diantara laki-laki yang sudah punya pasangan."


"Hei ... kenapa bilang gitu? jangan bilang gitu sayang. Kamu akan selalu jadi istri ku untuk selamanya." Ibra merengkuh kepala Laras, dibawanya ke dalam pelukan. Diciumnya berkali-kali pucuk kepala Laras.


Laras membalas pelukan itu. Sembari bergumam. "Di luar ada tamu. Juga ada Dian, gak enak kalau kita lama-lama di sini."


"Baiklah. Aku akan segera ke kantor gak akan lama kok." Ibra melepas pelukannya.


"Nggak makan siang dulu?" tanya Laras sembari merapikan kerah baju Ibra. "Oya, sudah masuk dzuhur, salat dulu."


"Iya, sayang." Ibra mengecup kening Laras penuh kasih sayang.


Ibra membuka jas nya, dan menyingsingkan lengan baju, pergi ke kamar mandi.


"Lama amat, ngapain aja sih mereka di dalam?" gumam Dian dalam hati.


"Sayang, kamu gak masuk kerja hari ini?" tanya bu Rahma melirik Dian yang bengong.


"Oh, tadi ke kantor sebentar." Jawabnya Dian, matanya mengamati setiap sudut ruangan.


"Yu ikut Mama ke belakang?" ajak bu Rahma sambil berdiri.


"Iya, Mah." Dian pun mengikuti mama mertua nya. Dari pada bete di sana dengerin obrolan laki-laki antara pak Marwan dan Miftah.


Bu Rahma dan Dian jalan-jalan ke taman milik Laras. Sambil mengobrol tentang kerjaan dan yang lainnya.


"Aduh, sudah terlalu lama di sini. Saya mohon pamit, sudah siang sekali," ucap Miftah sambil berdiri.


"Wah ... padahal masih betah nih ngobrolnya. Tapi baiklah, lain kali kita bisa ngobrol lagi ya?" sahut Marwan, dan hendak mengantar Miftah ke teras.


Miftah celingukan, mencari keberadaan tuan rumah. Yang tadi di boyong suaminya ke dalam, belum muncul juga.


"Pah, kita makan dulu," suara Ibra yang baru muncul dari kamar.


Miftah menoleh ke arah Ibra dan di belakangnya Laras berdiri. Dengan tatapan yang mengandung arti. Ia mengangguk hormat, kemudian berpamitan pada Ibra dan Laras.


"Oh, silakan! terima kasih atas kunjungannya." ucap Ibra, sembari menunjukkan kemesraan di hadapan Miftah. Dengan cara menggenggam tangan Laras.


Jelas mata Miftah bergerak melihatnya. Ada rasa yang tak biasa ia rasakan, hatinya panas seolah terbakar. Kemudian menunduk dan memalingkan pandangan ke lain arah.


"Mampus loh. Jangan coba-coba menyimpan rasa pada istri ku." Batin Ibra dengan senyum penuh kemenangan.


Miftah mengulurkan tangan pada orang-orang yang ada di sana. Lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Laras menarik tangannya dan mengayunkan langkahnya menuju meja makan, berbarengan dengan kedatangan Dian dan mama mertua.


"Sus, yang kerja sudah pada makan?" tanya Laras pada Susi.


"Sudah, Nyonya. Beru aja selesai," sahut Susi sambil


"Baguslah." Laras mengangguk


Saat ini semuanya sudah berada di meja. Laras tidak segera mengambilkan makan buat Ibra, dengan pikiran kali aja Dian mau ambilkan buat Ibra.


Namun, yang lain sudah mengambil makannya masing-masing. Termasuk Dian sendiri, tapi Ibra tidak Dian ambilkan. Ibra bengong dan meminum air mineral, ia pikir Dian akan mengambilkan untuk nya.


Akhirnya Laras mengambilkan piring dan isinya untuk Ibra. "Mau sama telor nya gak?" tanya Laras pada Ibra yang sedang memandanginya.


"Nggak ah, sudah punya dua, nanti kebanyakan, berabe. He he he ..." Ibra terkekeh sendiri.


Laras mesem. Mendengarnya omongan Ibra yang nyeleneh.

__ADS_1


"Iya nih, Papa juga punya dua. Tapi masih juga mau makan. ha ha ha ..." timpal Marwan.


"Telor, telor apa?" tanya Susi tidak mengerti yang dimaksud oleh Ibra dan Marwan.


Mereka semua saling tukar pandangan. Mendengar pertanyaan Susi.


Laras berdehem. "Ehem, Sus tolong ambilkan tisu ya?"


"Oh, Iya Nyonya." Susi meninggalkan makannya dan mengambil tisu buat Laras.


"Jangan nyeleneh napa? udah tahu gitu." Bisik Laras dengan mata fokus ke makanan.


"Maaf sayang," Ibra menyeringai.


Dian mencibirkan bibirnya, melihat Ibra dan Laras berbisik.


"Sayang, tolong dong ambilkan ayam goreng," pinta Dian pada Ibra. Padahal dengan tangannya pun terjangkau.


Ibra memberikan piring yang berisi ayam goreng, seperti yang Dian pinta.


Marwan dan Rahma memperhatikan dan berpendapat memang beda, Dian yang manja Inginnya di layani. Sementara Laras biarpun kadang terlihat manja tapi kalau pada suami melayani.


Laras lebih dulu selesai karena merasa ... kali ini makan sedikit pun sudah kenyang.


"Loh ... kok makannya sedikit?" tanya bu Rahma pada Laras yang mengabaikan Ibra menyodorkan nasi padanya.


Laras menggeleng. "Sudah kenyang Mah ..."


Ibra segera menghabiskan makannya. diakhiri dengan segelas air putih, bergegas berdiri. "Aku pergi dulu. Assalamua'laikum semuanya."


Laras meraih tangan Ibra, lalu dicium punggung tangannya. Lantas Ibra mencium kening Laras penuh kehangatan.


"Sayang, aku antar kamu ke teras ya?" Dian berdiri dan memeluk tangan Ibra. Bergelantung sangat mesra.


Laras hanya diam, dan menyibukkan dirinya dengan membereskan bekas makannya.


Ibra dan Dian berjalan bergandengan tangan, di teras langkahnya berhenti. Kemudian Ibra mencium pucuk kepala Dian. "Aku pergi dulu."


"Sus. Siapkan kamar dong, saya ingin istirahat." Titah Dian pada Susi yang sedang nyetrika.


Laras yang sedang mencuci tangan, menoleh ke arah Dian. Oya Kak Dian mau istirahat?"


"Iya, lah. Gak boleh bukan?" tegas Dian.


"Em ... boleh-boleh. Boleh banget, kenapa nggak? Susi, tolong ya siapkan." Laras menoleh Susi yang bersiap pergi.


"Baik, Nyonya muda." Susi pun pergi untuk menyiapkan kamar sebelah kamar.yang ditempati oleh bu Rahma dan suami.


"Kamu, betah di sini?" menatap Laras dengan ekspresi.


"Betah, kenapa? gitu Kak," tanya balik Laras.


"Di mension kurang apa sih? fasilitasnya memadai. Buat apa di sini." lanjut Dian.


"Aku, lebih memilih di sini Kak dan--"


"Nyonya Dian, kamar nya sudah Siap." Kehadiran Susi memotong ucapan Laras.


"Silakan, kak istirahat." tambah Laras pada Dian yang menatapnya dingin. Kemudian pergi, melangkahkan kakinya ke kamar yang di tunjuk Susi dan Laras.


Tangan Dian memutar kenop pintu. Blak! pintu terbuka lebar, mengedarkan pandangan ke setiap sudut. "Hem, kamar kecil gini. Di mension 3x lebih besar dari di sini," gumamnya Dian.


Langkanya menuju jendela dan berdiri di sana. Terus langkahnya membawa ke tepi tempat tidur, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut.


"Lumayan empuk nih. Pandai juga memilihnya." ungkap Dian.


Laras yang selesai beberes bersama Susi. Mendudukkan dirinya di kursi. "Sus, aku mau istirahat ya sebentar. Kamu juga. Kebetulan orang-orang dekor juga dah pada pulang."


"Tapi, kursi belum datang deh Nyonya," sahut Susi.


"Kursi, ya biar aja. Nanti juga datang kok," sambung Laras sambil mengusap perutnya yang kembali bergetar.

__ADS_1


"Iya, sih ... iya Susi juga ngantuk sih. Eh, apa sih tadi yang di bilang sama tuan itu Nyonya? dua telor dua telor itu apa sih, Susi jadi penasaran."


"Mati aku, tanya lagi?" menepuk keningnya pelan.


"Kenapa Nyonya? sakit kepala." Tanya Susi tampak penasaran.


"Ah, nggak! itu ... adanya di area sensitif laki-laki." Laras hati-hati dalam menjawab.


Pikiran Susi menjadi traveling, lalu ia mesem dan menatap ke arah Laras. "Berarti ... Nyonya suka lihat ya? atau Nyonya suka mainin, pasti. Secara tuan juga suka ngasih pisang cinta sama Nyonya."


Laras terkesiap mendengar pengajuan pertanyaan dari Susi. Bisa-bisanya bertanya seperti itu. Membuat Laras menggeleng. "Apaan sih Sus ...."


****


Pukul 19.30. Ibra baru pulang dari kantor. Langsung disambut oleh Dian. "Baru pulang sayang?" sapa Dian langsung memeluk dan mencium pipi Ibra.


"Iya," singkat.


"Aku mau nginep di sini boleh, kan? boleh ya sayang ..." rajuk Dian.


Ibra hanya membalas dengan senyuman. Mereka berjalan memasuki rumah yang sudah di hias dengan dekor.


Karena tidak mendapati Laras di ruang keluarga. Ibra langsung memasuki kamarnya Laras, meninggalkan Dian. Melepas genggamannya.


Dian kesal, menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu duduk bersama Mertua nya. "Ada aku di sini, masih saja mencari dia." Gumamnya Dian.


Bu Rahma dan pak Marwan saling bertukar pandangan, setelah melihat tingkah Dian.


"Nyonya muda, mana Sus?" tanya Ibra ketika melintasi Susi yang sibuk di dapur.


"Oh, Nyonya ... barusan di sini, Tuan, mungkin di kamar kali." Susi kebingungan sebab Laras baru saja ada di sana. Bersamanya.


Ibra melanjutkan langkahnya, menuju kamar sang istri. Ibra memutar kenop pintu, blak! pintu terbuka setengahnya. Nampak Laras sedang menyiapkan pakaian ganti Ibra.


"Assalamua'laikum?" Ibra menutup pintu dan menguncinya. Berjalan menghampiri Laras.


"Wa'alaikumus salam ..." sahut Laras, meraih tangan Ibra lantas di cium punggung tangannya.


Ibra pun mencium kening sang istri. "Apa pak Rt mu itu datang lagi?"


"Apaan sih?" Laras mendelik. "Apa maksudnya, nanya seperti itu."


"Kali aja datang lagi," sambung Ibra sambil membuka jas nya. Dibantu oleh Laras dan menggantung nya.


"Nggak ada keperluan," sahut Laras yang menyimpan jas Ibra.


"Adalah, mengobrol dan memandangi mu." lanjut Ibra kembali.


Sejenak Laras tertegun. Duduk di tepi tempat tidur. "Apa maksudnya bicara seperti itu? hati-hati. Nanti menjadi fitnah, gak enak kalau sampai di dengar orang. Apalagi sampai didengar istrinya," lirih Laras menatap lembut suaminya, Ibra.


Ibra terdiam dan duduk di dekat Laras. Laras berlutut membuka sepatu Ibra. "Jangan sembarangan bicara ya? gak enak bila di dengar orang."


Ibra membuka kancing kemeja nya, ia tidak menjawab sedikitpun ucapan Laras. Takut melukai hatinya.


"Aku mau mandi dulu," ucap Ibra.


"Mau aku siapkan air hangatnya?" tanya Laras sambil memeluk kemeja Ibra barusan.


"Nggak sayang, biar aku saja. kamu tunggu di sini saja," cuph mengecup pipi Laras lalu membelainya.


Setelah itu, barulah Ibra berjalan, melangkahkan kakinya memasuki kamara mandi. Laras menatapnya sampai hilang di balik pintu.


Laras duduk di tempat semula sambil mengusap perutnya. "Kenapa sih, harus menyebut-nyebut orang lain? tak beralasan banget."


Selang beberapa saat, Ibra muncul dari balik pintu kamar mandi. Mendapati Laras tengah melamun. "Memikirkan apa sayang? pak Rt mu itu kah yang kau pikirkan." Tanya Ibra yang menghampiri dengan handuk di pinggang.


Laras mendongak memandangi ke arah Ibra yang bertelanjang dada. Kedua netra matanya begitu lekat menatap kedua bola mata sang suami ....


****


Hi ... reader ku semua, sudah baca, kan? jangan lupa like dan komen ya?

__ADS_1


__ADS_2