
Kemudian Ibra berangkat kerja bersama Zayn. Setelah mengantar Ibra sampai teras, Ia masuk kembali ke dalam.
"Mau berangkat jam berapa sayang?" tanya bu Rahma, pak Marwan menambahkan dengan anggukan.
"Nanti lah Mah. Sekitar pukul delapan lewat, aku mau masuk kamar dulu ya?" sahut Laras sekalian pamit ke kamar.
Sesampainya di kamar, Laras bergegas mengambil air wudu. Untuk melaksanakan duha terlebih dahulu, sebelum bersiap-siap ke klinik.
Setelah beberapa waktu, Laras pergi. Bu Rahma dan pak Marwan saling berbincang. "Kira-kira cucu kita laki atau perempuan Pah? tebak aja. Kalau tebakannya benar ... bisa minta apapun sama Mama."
Pak Marwan merubah posisi duduknya, berhadapan dengan sang istri. "Maksudnya? Kalau tebakan Papa benar, dan Mama kalah. Papa bisa minta hadiah apa aja sama Mama gitu?"
"Iya, Papa sayang ... Mama sih tebak cucu kita perempuan. Aduh ... Mama suka gemes deh kalau lihat baju balita perempuan."
"Papa sih, menurut Papa nih ya? pasti laki-laki," dengan yakinnya pak Marwan menebak kalau janin yang Laras kandung sekarang itu anak laki-laki.
"Pasti Mama yang menang, kalau anak itu perempuan. Cantik
baik, seperti ibunya." Bu Rahma kuga yakin akan tebakannya.
"Laki-laki Mah ... percaya deh sama Papa." Kekeh pak Marwan kalau cucu pertamanya adalah laki-laki dan sangat yakin.
"Cewek Pah ... cewek." Bu Rahma juga tetap kekeh.
"Emangnya, kalau anak laki, Mama gak sayang gitu sama cucu kita?" tanya pak Marwan menatap sang istri, penasaran akan jawabannya.
"Sayang lah Pah ... masa nggak! cuma ... kalau bisa cewek dulu, he he he ..." bu Rahma mesem.
"Papa sih dan pastinya Ibra juga, ingin laki-laki lebih dulu. Kalau anak cewek, kan bisa bikin lagi," ujar Marwan.
"Tapi, Pah?" bu Rahma menatap cemas.
"Kenapa?" tanya pak Marwan.
"Gimana dengan rencana Dian yang ingin memisahkan Ibra dan Laras juga anaknya, berarti kita--"
"Berarti kita tidak akan punya cucu lagi gitu?" tanya pak Marwan dan dibalas anggukan oleh bu Rahma.
"Aku yakin seyakin-yakinnya, kalau Ibra gak akan meninggalkan Laras apapun yang terjadi. Dan Ibra juga tidak akan memisahkan Laras dari anaknya. Jadi kita bisa punya cucu lagi Mah ... percayalah? Mama gak lihat apa kalau Ibra bucin gitu sama Laras, Ma."
"Iya sih ... tapi kadang Mama khawatir kalau Dian nekat, Pa. walaupun Mama tau kalau Dian sendiri belum tentu bisa merawatnya, kecuali pakai baby sitter." Wajah bu Rahma menampakkan kecemasannya.
Khawatir kalau Dian nanti benar-benar memisahkan Laras dari Ibra dan mengambil anaknya dari Laras.
"Jangan khawatir Ma ... Laras tidak sebodoh itu, dan Ibra tidak akan membiarkan Dian melakukan itu semua." Tambah pak Marwan. Merangkul bahu sang istri.
"Ya, udah. Mama mau lihat Laras dulu." Rahma beranjak dari sofa. Dengan nakalnya, pak Marwan menepuk pantat sang istri yang melangkah pergi, menuju kamar Laras.
Saat ini, bu Rahma sudah berada depan pintu kamar Laras. "Sayang, Mama boleh masuk?"
Hening!
Tak ada suara dari dalam. perlahan tangan bu Rahma memegang kenop pintu, perlahan ia putar dan didorong ke dalam. Nampak Laras tengah bersujud, di hamparan sejadah. "Masya Allah ... mantu ku!"
Bu Rahma meneteskan air mata bahagia, melihat mantunya yang ini. Lain dari yang lain, benar-benar beda. dari mantu yang lain ataupun Dian.
"Kenapa Ma?" selidik sang suami pada Rahma yang balik lagi dan duduk di tempat semula.
Rahma mengusap matanya yang berair. "Aku bahagia banget, Pah ... mantu kita yang ini lain dari yang lain, dia bersahaja. Salehah, berusaha jadi istri yang baik untuk putra kita. Membawa aura yang baik juga untuk Ibra."
"Iya, Mah. Aku juga melihatnya dan Papa juga sangat bahagia punya mantu seperti dia, makanya sayang banget kalau sampai Ibra melepaskannya."
__ADS_1
"Iya, Pah ... Mama juga gak rela kalau Laras, Ibra lepaskan. Ya, Allah ... jangan sampai itu terjadi." Bu Rahma mendongak dan mengusap wajahnya.
Laras yang sekarang bersiap pergi, menggunakan pakaian panjang dan tak ketinggalan kerudung nya dengan warna senada. "Eh ... tadi seperti ada suara mama, ada apa ya?" gumam Laras sambil memandangi pantulan dirinya di cermin.
Meraih tas kecil kesayangannya lalu cek isinya. Kemudian Laras keluar dari kamarnya, dengan menghampiri sang mertua.
"Eh, sayang, sudah siap?" sapa bu Rahma yang baru keluar dari kamarnya.
"I-iya, Mah, sudah siap belum?" Laras balik nanya sang mama mertua.
"Siap doong, Pah ... ayok?" ucap bu Rahma, kemudian memanggil suaminya yang masih di dalam kamar.
Laras terus melangkahkan kakinya, sambil mengambil kunci dari tas. Matanya mencari Susi yang tak nampak di tempat yang Laras lintasi.
"Sus ... ayu? ikut gak," langkah Laras terus menuju teras, mendekati mobil BMW nya yang terparkir manis di samping rumah.
Ia duduk di belakang kemudi. Menunggu yang lain yang masih di dalam rumah.
Beberapa saat muncullah bu Rahma dan pak Marwan, dari belakang Susi mengikuti.
Kini semuanya sudah berada di dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah semuanya siap, Laras melajukan mobilnya perlahan.
"Papa saja setirnya," pak Marwan menawarkan tenaga.
"Nggak pa-pa, Pah ... biar aku aja dulu yang bawa." Sahut Laras sambil memfokuskan pandangannya ke depan.
"Iya, sayang. Papa aja yang bawa! biar kamu gak kecapean." Timpal bu Rahma yang duduk di dibelakang sama Susi.
"Kali ini, biar aku saja Mah ... gak pa-pa kok." Jawab Laras, sambil menunjukkan senyumnya.
"Ya, sudah. Kalau begitu, hati-hati," pesan bu Rahma.
Mobil Laras terus melaju dengan kecepatan sedang. Menuju klinik yang sudah di rekomendasikan untuk USG.
Setelah, beberapa puluh menit kemudian. Mobil memasuki halaman klinik, Laras dan yang lainnya turun dari mobil tersebut.
Mereka berjalan memasuki klinik lalu daftar. Semuanya duduk di ruang tunggu, sampai akhirnya Laras di panggil oleh dokter ahli.
Laras gelisah, karena Ibra belum muncul juga. Padahal ia sudah memberitahukan kalau dirinya sudah berada di klinik tersebut.
Sebelum memulai prosesnya. Dokter dan Laras juga keluarga mengawali dengan berbincang tentang kehamilan.
Sesekali kepala Laras menoleh ke arah pintu. Berharap Ibra datang, namun yang Laras lihat hanyalah Susi di dekat pintu.
****
Di kantor. Ibra masih sibuk dengan kerjaannya, namun setelah menerima pesan singkat dari Laras, Ibra bergegas. membereskan berkas yang menumpuk. Segera memasukan ponsel ke saku dan menutup laptopnya.
Ia keluar dari ruang kerjanya. Menuju ruang Zayn, untuk bilang kalau dia mau ke klinik sebentar.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Zayn, saya mau ke klinik sebentar, urus saja semuanya." kalau seandainya saya gak balik ke sini lagi, berarti saya langsung ke mension. Kamu langsung aja ke sana. Saya pake taksi."
"Oke. Semoga lancar Bos," ucap Zayn sambil memberi hormat.
Ibra segera mengayunkan langkahnya menuju lift. Untuk menuju ke halaman kantor, kebetulan taksi sudah menunggu.
__ADS_1
Langkah Ibra kian lebar setelah melihat taksi yang ia pesan Sudah nongkrong di parkiran. Tentunya hati Ibra sudah berdebar tak menentu, harap-harap cemas akan USG, entah anak perempuan entah anak laki-laki yang jelas ... apapun itu. Akan ia sambut dengan sangat bahagia.
"Jalan Pak, ke jalan xx Klinik harapan bunda."
Supir pun mengangguk dan segera menjalankan mobilnya dengan cepat.
Jantungnya Ibra berdetak melebihi batas normal, Rasanya sudah tidak sabar ingin segera sampai di lokasi. Dan tidak ingin melewati momen yang sangat berharga dalam hidupnya itu, apalagi ini momen kali pertama untuk dirinya.
Namun siapa sangka jalanan mendadak macet dan katanya di depan ada sebuah kecelakaan. Sebuah insiden yang memilukan, itu kata orang yang dari depan sana.
Beberapa kali Ibra menggelembungkan pipinya dan membuang napas kasar. Dirinya kian gelisah, melihat waktu yang rasanya begitu cepat berputar. Sementara langkahnya seolah tertanam di tempat. "Astagfirullah ... cari jalan lain, Pak." Pinta Ibra pada supir taksi.
"Maaf, Pak untuk menuju ke jalan itu sulit untuk dapat jalan pintas," ujar supir.
Ibra makin gundah gulana. Hati makin gusar. Gimana caranya supaya datang bisa tepat waktu. "Terus, gimana dong Pak? saya harus tepat waktu datang ke tempat itu."
"Sepertinya, ada jalan pintas. Tapi pake motor," tambah supir taksi.
"Ya, udah. Bawa saya ke tempat yang bisa dapatkan motor, secepatnya. Tolong Pak? bagi saya ini sangat penting."
"Baik, Pak." supir memutar taksinya, walau susah payah. Sulit, namun akhirnya bisa juga. Melewati mobil-mobil yang berjejer di belakang.
****
Susi, yang berada di klinik menonton berita terkini. Ada sebuah insiden di jalan xx yang tentunya menuju ke arah sana.
"Nyonya? Nyonya muda, ada kecelakaan. Di jalan xx." Laras dan yang lainnya menoleh ke arah Laras.
"Kecelakaan apa Sus?" tanya Laras penasaran.
"Mobil tabrakan Nyonya. Uuh ... ramai nih, jalan juga macet total." Seru Susi.
Pak Marwan dan bu Rahma, terutama Laras mendadak cemas. Mengingat Ibra pasti melewati jalan tersebut. Ketiganya saling bertukar pandangan, Wajah Laras pucat seketika.
"Bisa mulai sekarang, Nyonya?" tanya dokter kandungan itu.
"Em, sebentar lagi ya dok? tunggu suami saya datang, soalnya dia sudah pesan. Kalau ingin melihat langsung." Lirih Laras dengan muka yang tergambar jelas gusarnya.
"Pah, telepon Ibra coba. Tanya masih di mana?" bu Rahma menatap khawatir sang suami.
Pak Marwan pun menelpon Ibra. Untuk menanyakan keberadaan nya di mana? Namun berkali-kali pun tak di angkat. Oleh sang putra.
"Tak diangkat Mah," pak Marwan menggeleng pelang.
Tatapan mata Laras pun mengarah pada pak Marwan. Berkali-kali menelan saliva nya, berharap tidak terjadi apapun pada Ibra.
"Bagai mana Nyonya? bisa kita mulai sekarang," tanya kembali dokter tersebut.
Laras melirik pada dokter. "Maaf dok, bisa menunggu sebentar lagi. Atau, dokter bisa menangani dulu yang lain. Biar aku nanti saja."
"Oh, ya gak pa-pa di tunggu saja, tapi saya mau keluar sebentar, sebentar aja," ucap dokter dengan ramahnya.
Laras mengangguk. "Silakan dok."
Kemudian, dokter tersebut beranjak sembari mengangguk hormat pada tamunya. Lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Telepon lagi coba Pah," pinta bu Rahma dia begitu gusar sampai mondar mandir, tak tentu arah.
Sementara Laras termangu sambil menggigit kuku jarinya. Pikirannya melayang, entah kemana. Yang jelas, wajah Ibra terus menari-nari di kelopak matanya ....
****
__ADS_1
Sudah membaca kan? jangan lupa segala bentuk dukungannya ya, terima kasih reader ku, semoga gak bosan ya.