Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Berasa punya suami


__ADS_3

Notifikasi masuk ke ponsel Ibra. Ibra pung segera membukanya. "Oh, yang ngantar paket martabak, pesanan mu," gumam Ibra sambil melirik sang istri yang nampak cemas.


Sadar dengan pakaiannya, Laras bergegas masuk ke kamara mandi. Seraya berkata. "Aku malu."


Bibir Ibra tertarik, menyunggingkan senyuman. Melihat Laras yang di hadapannya saja malu-malu apalagi depan orang, kemudian berdiri mendekati pintu.


Blak!


Pintu terbuka, benar saja, ojek online mengantar pesanan Ibra. "Maaf, Tuan? rada telat." orang itu mengangguk hormat.


"Oh, gak apa-apa." Sambil melirik jam tangannya. Lalu memberikan bayarannya. "Terima kasih ya Bang, dan itu bayarannya."


"Makasih Tuan, tapi ... ini kelebihan," ucap orang pengantar paket tersebut.


"Nggak pa-pa ambil saja buat ongkos." sambung Ibra kembali sambil mengambil paketnya.


"Oh, terima kasih banyak, Tuan." Mengangguk hormat.


"Ya." Ibra menutup pintu, seiring kepergian orang tersebut.


Tidak lupa mengunci pintu, lalu berjalan ke tempat semula. "Sayang, sini?"


Mendengar suara Ibra yang memanggilnya, Laras membuka sedikit daun pintu. Dan kepalanya nongol dari balik itu, melihat-lihat apa benar tidak ada orang.


Melihat kelakuan Laras yang seolah tidak percaya, Ibra menggeleng sambil tertawa. "Sayang ... gak ada siapa-siapa, emangnya aku rela? kalau orang melihat kamu berpakaian seperti itu. Nggak lah."


Laras nyengir dan malu-malu, berjalan mendekati Ibra yang sudah menunggunya. "Orang nya sudah pergi ya?"


"Sudah, ngapain aku panggil kamu kalau ada orang? yang ada aku usir. Ngapain di sini? ganggu kita saja." Timpal Ibra sambil mengambil potongan martabak bulan yang masih hangat di suapkan ke mulut Laras. "Aa ... buka mulutnya."


"Em ... enak sekali," ucap Laras sambil mengunyah martabak dari tangan Ibra.


Ibra pun, menyuapkan sisa gigitan Laras. "Enak juga." Ibra mengangguk. Dan menjilati jarinya.


Kini Laras tengah asyik memakan martabak bulan yang lebih dari sekedar yang diinginkan.


Ibra tersenyum melihat sang istri, kemudian mendekati Laras yang anteng memakan martabak itu. Ibra melingkarkan tangan nya di perut Laras. Momen-momen ini tidak ingin berlalu begitu saja, Ia ingin melaluinya dengan kebahagiaan.


Menempelkan dagunya di bahu Laras. "Ayo, abisin. Nanti aku belikan lagi kalau masih mau, ucap Ibra sambil mengeratkan rangkulannya.


"Kamu, gak mau lagi?" tanya Laras sambil memutar kepalanya ke arah Ibra yang berada di bahunya.


"Nggak Ah, cukup, buat bumil ku saja, biar kenyang," cup mengecup pipi Laras.

__ADS_1


"Em ... kenyang," gumam Laras sambil mengambil tisu untuk mengelap tangannya.


"Habisin, sayang ... nanti mubazir." Bisik Ibra sembari menyusuri leher Laras dengan bibirnya.


"Kalau sudah kenyang gimana?" menyimpan tisu bekas dan dikumpulkan di sebuah kantong.


"Iya-iya ... ya udah simpan daja. di situ. pengen makan apa lagi hem?" tanya Ibra lagi. "Kalau banyak makan gini, beberapa hari saja bisa bulat nih pipi. Tembem, enak kalau aku gigit," sembari mengelus pipi Laras yang memang lebih berisi.


"Emang iya sih, aku lihat tubuh aku tambah gemuk deh. Pipi juga," ucap Laras menyentuh pipinya sendiri.


Ibra yang sedari tadi nempel dan tetap memeluk sang istri, mencium pipi Laras sekalian digigit nya gemas. Sikap Laras yang malu-malu bikin Ibra makin geregetan dan gemas dibuatnya.


Laras memekik. "Sakit ..." menjauhkan wajahnya dari Ibra dan mengusapnya.


"Masa? gak ada bekasnya juga." Gumam Ibra mengamati pipi Laras yang seketika itu memerah. Dan di kecup sebagai gantinya.


"Panas," sahut Laras seraya memukul tangan Ibra yang melingkar di perutnya.


Ibra tersenyum dan tetap di posisinya semula. Laras menjauhkan wajahnya agar dapat menoleh Ibra. "Besok boleh ya aku main ke laut?"


"Nggak boleh."


"Aah ... kok gak boleh sih? masa aku harus ngurung mulu di kamar, di mension gak boleh keluar. Di sini juga gak boleh keluar, terus aku bolehnya apa sih?" gerutu Laras.


"Iih ... gak adil?" ketus Laras.


"Kalau kamu ke laut ... terus di bawa penunggu laut gimana? kalau di daratan. Aku bisa minta bantuan polisi dan sebagainya, kalau hilang di laut? aku gak punya kenalan di sana." Suara Ibra lembut.


"Bukan ke lautnya, tapi main ke pantainya." ralat Laras.


"Oh, boleh. Tapi sama aku, takut ada yang nyulik," jelas Ibra kembali sambil menghembuskan napas ke kulit Laras.


"Ah, siapa yang mau menculik aku? emangnya anak kecil," Laras tertawa kecil.


"Ada, buktinya aku, saat ini kamu lagi aku culik dari mension. Aku culik orangnya, dan ... juga hatinya." ungkap Ibra lembut.


Laras kian meremang dengan semua yang Ibra lakukan dan setiap sentuhan yang terus dia gencarkan, bikin jantungnya berdegup sangat kencang.


Melihat tatapan Ibra yang makin kesini makin mendamba. Laras melepaskan diri dengan alasan ingin ke toilet sebentar. "Aku pengen pipis sebentar."


Dengan terpaksa Ibra membiarkan mangsanya pergi. Sesungguhnya Laras, bukan cuma pengen pipis aja. Tapi entah kenapa ia semakin gugup dibuatnya berdekatan dengan Ibra, seperti baru malam pertama aja.


"Huuh ... kok aku jadi gugup gini sih? ayolah Laras ... ini bukan malam pertama mu, malahan kamu ini sedang mengandung benihnya." Laras bicara sendiri di cermin setelah buang air kecil.

__ADS_1


Kemudian ia membuka pintu kamar mandi, dari sana terlihat kalau Ibra masih duduk di tempat yang sama, namun kali ini dia sedang sibuk dengan laptop di pangkuan.


Melihat Laras keluar dari kamar mandi. Ibra segera menutup laptop dan menyimpannya, setelah Laras kian mendekat. Ibra meraih kembali tangan Laras dan menariknya kepangkuan Ibra, membuat tangan Laras yang satunya. memegang pundak Ibra seakan melingkar di sana. Manik mata keduanya bertemu, tatapan yang sangat dalam. Seakan ingin saling menyelami hatinya masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Ibra menggendong tubuh Laras ala bridal style. Di bawanya ke atas tempat tidur. Kedua tangan Laras melingkar di leher Ibra, ia takut terjatuh. Matanya menatap wajah sang suami yang baru kali ini berasa punya suami, yang seharian ini barengan. Hari ini benar-benar Laras di manjakan oleh seorang Malik Ibrahim.


Ibra menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Dan kembali memposisikan tubuhnya di atas Laras yang menatap sayu ke arahnya. Laras melihat kabut tebal kian menyelimuti manik mata Ibra, Laras melingkarkan tangannya di leher pria yang mengunci tubuhnya itu. Seakan menarik membawa wajah pria tersebut mendekat ke wajahnya.


Napas Ibra yang kian memburu. Ingin sekali segera mendaki di gunung himalaya dan kemudian turun berlayar di lautan madu. Bersampan di sebuah pulau kecil namun menghanyutkan.


Karena kepalanya seolah Laras tarik, mendekat ke wajahnya. Seakan memberi jalan untuk dirinya menikmati dan menimba sumur dalam itu, yang berada tepat depan wajah Ibra. Sudah menantang menunggu kedatangan Ibra.


Kali Ini, entah dari mana asalnya. Ada sebuah dorongan agar Laras menikmati momennya bersama sang suami, dia gak boleh terlalu pasif. Dia harus menunjukan bahwa dirinya adalah istri, bukan cuma pencetak anak saja. Ia harus mampu membuat Ibra merasa puas dak tidak ingin pernah meninggalkannya.


Dia harus memperjuangkan suami dan anaknya, saat ini Laras mencoba mengimbangi, mencoba sedikit agresif, walau masih tetap malu-malu.


Ibra agak aneh dengan perubahan Laras yang sedikit nakal dan agresif. Namun justru bikin Ibra tambah suka dan bergairah, selama bersama Laras tak sedikitpun terbesit di pikirannya tentang wanita lain. Sekalipun Dian, yang ada dalam pikirannya hanyalah Laras dan Laras.


****


Ke esok hari nya, jarum jam sudah menunjukan pukul 09.00 wib. Ibra masih terlelap tidur. Tergambar jelas lelah di wajahnya, akibat semalam yang terus begadang. berolahraga malam bersama sang istri.


Saat ini Laras sudah bangun lebih dulu, bahkan sudah bersih-bersih hingga terlihat segar dan rapi, netra matanya terus memandangi wajah tampan suaminya yang masih begitu nyenyak. Dengan nakal jari Laras menjepit hidung mancung Ibra seperti yang sering Ibra lakukan terhadap dirinya.


Namun dia cuma bergumam. "Hem ..." dan menggeliat tanpa membuka mata sedikitpun, lalu tidur kembali.


Nampak Laras tersenyum lucu melihat muka bantal suaminya. "Hem ..." seraya menghembuskan napas dari hidungnya, Laras mengayunkan langkah ke dekat jendela. Memandangi air laut yang nampak tenang itu.


"Nggak bawa susu bumil, lagi. Huuh ... main bawa kabur aja, jadinya gak persiapan apa-apa deh." Gumamnya sambil mengusap perutnya.


Laras keluar kamar, meninggalkan suaminya yang masih berkelana di alam mimpi. Langkah Laras begitu pasti ya itu menuju pantai, dia berjalan-jalan di pesisir pantai. Memandangi air laut yang biru, di bawah sinar matahari yang mulai meninggi dan menunjukan teriknya.


Pikiran rasanya plong, seakan tak ada beban, apalagi kalau setiap hari di temani suami, berasa punya suami dan tidak berbagi. Tapi bagaimanapun, mau gimanapun, Ibra tetaplah suaminya Dian. Wanita yang sangat dia cintai dari awal, sementara, Laras hadir dikala kemelut rumah tangga menyapa diantara mereka.


Di kamar, Ibra terbangun. Tangannya menepuk-nepuk tempat tidur sebelahnya, seakan mencari sesuatu. Namun tempat itu kosong, ia segera membuka matanya yang masih dilanda kantuk. "Yang ... sayang di mana?" suara Ibra yang parau khas bangun tidur, memanggil Laras. Namun tidak ada sahutan sedikitpun.


Ia bangun dan menggosok matanya. Melilitkan handuk ke tubuhnya yang sudah tersedia di sana. Ibra bergegas membuka pintu kamar mandi kosong, toilet juga kosong. Berlari ke balkon tidak ada, ia menggaruk kepalanya. "Kemana dia ya?"


Mengambil ponsel, menelpon kontaknya. Untuk menanyakan posisinya di mana? namun dering ponsel Laras berada di belakang tubuhnya Ibra ....


****


Apa kabar semua reader ku semua? makasih ya sampai saat ini kalian masih setia menunggu dan membaca tulisan ku🙏 terus dukung aku ya. Karena tanpa kalian semua aku bukan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2