
Setelah mendapat kode GPS nya Laras. Irfan segera bertindak mencari tanda-tanda keberadaan Laras, setelah mendapatkan titik letak keberadaannya. Irfan segera melajukan mobil dengan sangat cepat bak anak panah yang keluar dari busurnya.
Pas Irfan tiba di tempat yang di tuju. Tiba juga beberapa temannya menunggu, sebuah rumah mewah tapi sedikit sepi sepertinya jarang di penghuni. namun tampak juga ada yang berjaga di gerbang. Sekitar dua orang.
Irfan yakin dan kalau Laras berada di sekitar ini dan mobil Ruswan pun berada di dalam gerbang tersebut.
Yang lain mencari siasat agar mengecoh kan perhatiannya. Supaya Irfan bisa masuk dengan mudah.
"Permisi Mas, saya ingin bertemu dengan yang punya mobil itu Mas?" tanya salah satu kawan Irfan sambil menunjuk mobil mewah milik Ruswan.
Dua penjaga saling pandang. "Sedang tidak ada." Jawab salah satu penjaga dengan tegas dan menatap curiga.
"Yakin Mas? itu mobilnya ada!" kata teman Irfan.
"Yakin, Rumah ini kosong. Tak ada yang menempati, kalau anda mau bertemu bos kami datangi saja ke kantornya.
Irfan turun dengan gagahnya, matanya tertutup dengan kaca mata hitam. "Kenalkan saya teman dekat pak Ruswan, ingin ikut istirahat di sini."
Kedua mata penjaga itu kembali saling menatap heran. "Biar saya hubungi orangnya--"
"Oh, gak usah. Saya mau membuat kejutan," ucap Irfan sambil memberi isyarat pada kedua tamannya untuk meringkus kedua penjaga tersebut.
Sementara Irfan bergegas mendekati mobil Ruswan dan menggasak tas Laras yang tergeletak di jok mobil Ruswan yang tidak di kunci. Setelah memastikan kalau ponsel Laras ada di dalamnya. Tas tersebut Irfan lempar ke temannya yang sedang menyumpal mulut kedua penjaga itu dengan tangan diikat juga ke belakang. Sehingga keduanya tampak tidak berdaya
Irfan bergegas menyelinap masuk. Di dalam pun ada yang berjaga, ia berjalan mengendap mendekati.
Rek!
Irfan melintir kepala orang tersebut hingga terjatuh tak berdaya tanpa suara. Di lantai bawah ada beberapa kamar namun kosong, Irfan yakin kalau majikanya ada di sana.
Irfan bergegas naik, langsung di hadang seseorang. Dengan cepat Irfan membuat tumbang orang tersebut. Lagi-lagi Rek! Irfan pelintir bagian tubuh musuhnya itu. Sehingga orang tersebut memekik yang tertahan.
Pandangan Irfan tertuju pada sebuah kamar sedikit terdengar suara gaduh. Irfan yakin kalau majikannya sedang dalam bahaya dan ada di kamar tersebut.
Di dalam, Laras terus saja berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tak tersentuh oleh Ruswan. Sekalipun sudah ada dalam kungkungan nya, Laras mencaci, membentak. Menggigit namun tak menyurutkan nafsunya, Bahkan kepala Laras pun entah sudah berapa kali kejedot ke dinding atau lantai.
Semakin lama, Laras semakin kehabisan tenaga. Ia benar-benar merasa lelah tuk menjaga kehormatan nya itu. Sementara Ruswan semakin nafsu dibuatnya. Ruswan semakin menyeringai puas melihat Laras terlihat lemah.
Ruswan membelai pipi Laras yang tangannya terkunci dalam genggaman Ruswan.
__ADS_1
Dengan sisa-sisa tenaga, Laras menjerit. "Tolong ...."
Ruswan yang semakin bergairah terus mencoba menyentuh bibi Laras dangan bibirnya. Laras lagi-lagi berontak sehingga yang ia dapat cuma pipi saja. Ruswan semakin marah.
Plak!
Gambar telapak tangan Ruswan bersarang di pipi mulus Laras, sampai keluar darah segar dari sudut bibir Laras. Ruswan panik sedikit menyesal talah menampar Laras.
Laras membatu buliran air bening mengalir dari sudut matanya, kali ini ia pasrah dengan yang akan menimpanya. "Abang, maafkan aku. Baby Satria maafkan Mammy." Batinnya menjerit.
Laras sudah tak mampu lagi untuk berontak. Kepala sakit, pipi panas dan perih, sekarang Laras diam. Hanya menatap dengan sorot mata penuh kebencian pada Ruswan.
"Dari tadi kek pasrah. Gak harus berontak! coba kamu dari tadi itu menyerahkan diri, saya itu mau ngasih enak bukan mau menyiksa kamu. Pasti aku gak akan kelepasan nampar kamu." Tangan Ruswan membelai pipi Laras yang kena tampar.
Tangan Laras memegangi baju bagian atas yang Ruswan paksa buka. "Lepas, aku mohon ... lepaskan aku." Laras menangis tersedu. Kedua tangannya menyilang menutupi dadanya yang masih memakai baju.
"Ha ha ha ... punyaku sudah on dari tadi gak mungkin melepaskan mu begitu saja, apalagi di saat kamu pasrah begini." Dengan leluasa Ruswan membuka celana panjangnya.
Laras perlahan bangun dan meringsut ke dekat dinding. Semakin takut melihat Ruswan yang lagi-lagi mendekat.
Blak!
Jedug!
Kaki Irfan menendang barang Ruswan yang sedang on itu. Membuat dia memekik dan menangkupkan kedua tangannya lantas terduduk dengan ekspresi wajah aneh. Ruswan sama sekali tak menyangka kalau Irfan akan menemukannya.
Laras terkesiap sekaligus merasa lega akhirnya ada yang menyelamatkan dirinya.
Irfan segera membantu Laras bangun dan menjauh, namun baru tiga langkah.
Tiba-tiba Ruswan mengulang kan kursi kayu untuk di pukul kan ke punggung Irfan. Namun secepat kilat tangan Irfan merebut dan ia lempar ke arah jendela.
Brak! brak!
Kaca jendela pecah kena kursi. Laras menutup kedua telinganya merasa ngeri.
"Dasar kurang ajar kau. Gak tahu malu, penghianat. Dia istri ku." Suara yang di tujukan pada Ruswan. Ibra yang tiba-tiba muncul di tempat itu, Langkah lebarnya mendekati Laras yang tampak lemah, lantas memeluknya.
"Sayang gak kenapa-napa kan?" pelukannya begitu kuat.
__ADS_1
Laras hanya bisa menangis tersedu. Sedih dan bahagia akhirnya ia terlepas dari bahaya.
"Ha ha ha ... kamu tahu Ibra? istri mu yang menggoda ku. Merengek memintaku untuk memuaskannya." Ruswan ngelantur.
Kepala Laras menggeleng di dada Ibra. Seolah mengatakan bahwa yang dikatakan Ruswan itu tidaklah benar.
"Dasar lintah darat kau, bajingan." Tatapan Ibra beralih pada Ruswan kembali dan melepas pelukannya pada Laras. Ibra tak berpikir panjang lagi langsung saja menyerang Ruswan pukulan dan tendangan mendarat di tubuh Ruswan yang terus memekik. Ruswan tersungkur di lantai.
Hati Ibra semakin meradang melihat kondisi tubuh Ruswan yang cuma mengenakan celana pendek saja. Dan Laras yang terlihat kacau, rambut acak-cakan. Baju tak karuan walaupun masih utuh, Ia makin terkejut melihat pipi Laras bekas tangan Ruswan.
merah
Ibra semakin tersulut emosinya. Ia terus memukul, menampar Ruswan sampai babak belur, darah segar keluar dari hidung dan mulut Ruswan. Ruswan yang tidak berdaya cuma bisa pasrah dan menutupi wajahnya, darah yang keluar sampai menetes ke lantai.
Laras menjerit-jerit. Meminta Ibra untuk hentikan itu semua. Laras takut suaminya kalap dan berbuat lebih yang hanya kan mengotori tangannya. "Abang, sudah. Sudah, jangan macam-macam. Aku gak ke napa-napa," ucap Laras memelas.
Ibra menoleh lantas menghentikannya, kemudian menghampiri Laras dan memeluknya kembali membelai rambutnya dengan sangat lembut.
Irfan yang sudah tahu harus bertindak apa. Langsung mengurus Ruswan dan kebetulan polisi yang di bawa Zayn pun sudah datang langsung mengurus Ruswan dan anak buahnya. Ternyata rumah ini memang sudah diincar polisi dari beberapa waktu terakhir ini, sebab ada dugaan penyalah guna obat tidur.
"Sayang, maafkan aku yang tidak becus menjaga mu. Kamu tidak apa-apa kan? tidak sampai--"
Kepala Laras menggeleng. "Tidak, tidak sampai dia melakukannya, percayalah aku masih terjaga." Laras kembali memeluk sang suami sangat erat. Menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Sekujur tubuhnya sakit banyak luka juga di bagian-bagian tubuhnya akibat benturan. Bahkan di kepala, apalagi pipi rasanya semakin panas dan perih.
Tubuh Laras melemas dan merosot dari pelukan Ibra, untung dekapan Ibra begitu kuat sehingga tubuh sang istri tidak sampai terjatuh ke lantai.
Ibra terkesiap. "Sayang kamu ke napa? sayang, bangun." Menepuk pipi Laras satunya.
Ibra panik, wajahnya semakin cemas. Khawatir. Takut istrinya ke napa-napa.
"Nona muda pingsan Bos." Zayn ingin membantu mengangkat tubuh Laras namun tangan Ibra menepis, menolak bantuan dari Zayn.
Ibra gendong sendiri tubuh Laras. Langkahnya semakin kabar membawa Laras menuju mobil. "Rumah sakit terdekat." Gumamnya menoleh ke arah Zayn.
Zayn mengangguk seraya mendahului langkah Ibra untuk lebih dulu sampai di mobil. Setelah tiba, Zayn membukakan pintu mobil belakang untuk Ibra dan Laras. Tidak menunggu perintah Zayn melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Bangun sayang, jangan bikin aku cemas," tatapan mata Ibra tertuju pada wajah Laras pipinya membiru. Di sudut bibirnya darah yang sudah mengering tambah Ibra kian panik ....
****
__ADS_1
Hi ... reader ku. Sudah baca kan? jangan lupa meninggalkan jejak ya. Oya jangan lupa juga. Kunjungi karya aku yang BSH. Alias "Bukan Suami Harapan" 🙏