
Laras terkejut mendengar suara gedoran pintu yang tak beraturan, kemudian Laras bergegas berjalan mendekati pintu. Pas di buka Susi berdiri dangan tampilan muka yang cengengesan.
Apa maksud mu Sus menggedor pintu sampai keras begitu, bikin orang jantungan tau gak?" ucap Laras menatap heran pada Susi yang nyengir.
"Maafkan saya Nyonya! kalau bikin jantungan, tapi ... jantung Nyonya masih di tempatnya, kan? tidak copot ataupun lompat, kan?" sahut Susi sambil bertanya sesuatu yang tidak masuk akal.
Laras menggeleng. "Aku tuh kaget, aku kira ada apa? kara orang sedang di kejar setan atau apa gitu!"
"He ... he ... he ... itu Nyonya, nyonya besar menyuruh makan malam dan minum susu bumil," ujar Susi sambil nyengir.
Mata Laras menoleh ke dalam kamarnya. "Saya sudah minum susu bumil kok, lupa ya? kan di kamar juga tersedia tinggal seduh aja," sambung Laras kembali.
Susi ikut celingukan ke dalam kamar. "Oh, iya lupa!" menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi ... mungkin nyonya besar hanya mengingatkan saja, oya, di tunggu makan malam."
"Em ... baiklah." Laras melangkahkan kakinya dan menutup pintu.
Mereka berdua berjalan dengan tujuan dapur. "Sus, sepertinya aku pengen pindah dari sini deh," gumam Laras ketika dalam lift.
"Apa Nyonya? kenapa enak di sini, rumah besar. Segala ada, apa sih yang kurang Nyonya? suami makin lama semakin perhatian." Susi merasa heran.
"Justru itu, di sini terlalu luas, iya di sini serba ada, serba mewah. Pokonya kehidupan serba wah, tapi aku merasa tidak tenang, sebenarnya aku betah di sini. Betah kok cuma ...."
"Susi tahu, cuma Nyonya di sini di madu ya, berbagi suami, bagaimanapun kadang ada aja perkataan yang nyeletuk dari istri lain, gitu ya Nyonya?" ucap Susi yang mengerti posisi Laras.
Laras menoleh dan menatap lekat pada Susi. Ternyata Susi mengerti, faham akan perasaannya. "Itu benar Sus, aku ingin hidup tenang, sekalipun berbagi suami. Setidaknya tidak melihat mereka bermesraan!"
"O, oh ... Susi tahu, Nyonya muda cemburu ya? kalau tuan sama istri lain sedang ehem. Terutama sama nyonya Dian?" tanpa canggung Susi menunjuk ke arah Laras yang tersenyum penuh pengelakkan itu.
"Cemburu? nggak kok, gak cemburu! biar saja mereka mau melakukan apa, orang suami istri, kan?" elak Laras.
"Ci elah ... Nyonya muda ngaku aja, masa sama suami tidak cemburu bila sama wanita lain?" desak Susi lagi.
"Ih ... meraka itu, lebih dulu jadi istrinya tuan, sementara aku? baru!" sambung Laras mereka mengobrol sampai beberapa meter lagi ke meja makan.
Melihat kedatangan Laras bu Rahma dan pak Marwan tersenyum. "Ayo makan malam dulu, jangan lupa juga susu bumil nya diminum."
Laras menarik kursi untuknya duduk. "Iya, Mah. Laras gak lupa kok, malah sekarang udah minum di kamar."
"Bagus lah sayang, kalau begitu!" tutur bu Rahma.
"Ayo, makan?" ajak pak Marwan.
Laras dan bu Rahma mengangguk. Laras mengambil sayur sedikit saja, makan sambil melamun. "Handphone aku ketinggalan di kamar."
"Kenapa melamun sayang?" tanya bu Rahma ketika melihat Laras bengong.
"Ah, tidak kok Mah," sahut Laras sambil melukiskan senyuman manisnya.
"Em ... Ibra sudah kasih kabar belum?" tanya bu Rahma lagi sambil menyendok kan makanan ke mulutnya.
Laras menyimpan gelas yang baru saja ia teguk airnya. "Belum."
__ADS_1
"Belum sempat kali," timpal pak Marwan. Kemudian pak Marwan menoleh bu Rika yang berdiri dan sesekali melayani majikannya yang sedang makan itu. "Bu, besok saya dan istri pulang, jadi sebagai kepala di sini. Saya titipkan semua sama Bu Rika, termasuk Nyonya muda. Kalian semua harus menjaga dia baik-baik, jangan biarkan dia kecapean. atau pun stres. Oke?"
"Baik, Tuan besar. Kami akan mengingat pesan Tuan," kata bu Rika dan Susi mengangguk begitupun asisten yang lain.
"Terima kasih, pokoknya kalau ada apa-apa telepon polisi dan hubungi kami."
"Baik, Tuan." Bu Rika mengangguk.
"Papah ... percayalah, Laras akan baik-baik saja. Mama juga, tenang saja, aku akan menjaga kandungan ku ini dengan sangat baik." Menatap kedua mertua nya bergantian.
Keduanya tersenyum senang. "Kami percaya sama kamu, cuma Mama suka parno aja. Takut ini, takut itu, kami sangat merindukan kehadirannya sayang!" bu Rahma mengusap punggung tangan Laras.
"Iya, aku tau kok, kalian sangat merindukan kehadiran anak di keluarga ini. Namun ijinkan aku sendiri yang akan merawatnya nanti." Laras sedikit sedih.
"Iya dong, kamu yang harus menjaga dan merawatnya. Siapa lagi? kamu ibu kandungnya, kecuali kamu tidak sanggup merawatnya. Lagian untuk mengasuh ketika kamu sibuk misalnya, ada banyak asisten. Tapi ... Papah rasa Ibra tidak akan membiarkan kamu sibuk ataupun bekerja selain merawat anak kalian," ujar pak Marwan dan di beri anggukan oleh sang istri Rahma.
"Emangnya kenapa sih kamu bilang begitu sayang? kalau bukan kamu siapa lagi, mau ke mana emang?" tanya bu Rahma menatap penasaran.
"Em ... tidak ke mana-mana, kali saja kak Dian ingin merawatnya sendiri! dan menjauhkannya dari ku, kan bisa saja! aku gak mau Mah, Papah. Aku gak mau anak ku di jauhkan dari aku!" ucapan Laras berakhir haru.
Dulu Laras tidak pernah berpikir nasib tentang anak, mau di ambil atau di rawat sama Dian, sementara ia akan di singkirkan. Silahkan, tapi sekarang ia tidak rela, sekalipun ia di singkirkan dari status istri. Laras gak akan mau menyerahkan anaknya pada Dian.
"Aduh ... gak mungkin Dian mau merawat anak! dia itu manja, buat apa dia rawat anak kalau ujung-ujungnya asisten juga yang urus. Memang dia itu sangat ingin punya anak, tapi dia itu, kan wanita karier gak mungkin setiap hari mau mengasuh anak," bu Rahma mengibaskan tangan dan bibir mencibir.
Laras menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia buang dengan sangat panjang. Ada benarnya juga kata ibu mertua, kalau Dian belum tentu mau sepenuhnya mengurus baby nya nanti.
Dering dari ponsel pak Marwan. Berbunyi dan pak Marwan segera mengambilnya. "Ibra yang telepon."
"Halo, gimana sudah sampai belum?" tanya pak Marwan sangat antusias.
"Sudah, baru sampai, dan masih di bandara," jawab Ibra dari telepon.
"Syukurlah kalau sudah sampai." Pak Marwan mengucap syukur.
"Apa istriku ada di situ?" tanya Ibra menanyakan Laras.
"Oh, ada. Sedang makan. Apa kau ingin bicara dengan dia?" kata pak Marwan sambil melirik Laras yang menunduk.
"Tidak, ya sudah, aku mau berangkat ke apartemen dulu." Kemudian Ibra mematikan teleponnya.
"Oke."
"Apa katanya, Pah?" bu Rahma penasaran.
"Sudah sampai, namun masih di bandara. Belum ke apartemen, katanya."
"Oh, baguslah. Kalau sampai dengan selamat." Timpal bu Rahma.
Laras beranjak dari duduknya. "Mah, aku ke kamar dulu ya?" pamit Laras pada mama mertua. "Pah, aku tinggal dulu."
"Iya, sayang, istirahat yang cukup ya?" sahut bu Rahma dan anggukan dari pak Marwan.
__ADS_1
Laras pergi meninggalkan tempat tersebut. Tadinya mau ke kamar tapi langkahnya mengayun ke taman dan ia duduk di sana. Menghirup udara malam yang dingin, aroma bunga mawar dan sedap malam. Begitu semerbak, menyeruak di tempat tersebut.
Laras duduk termangu di kursi panjang itu. Pandangan menatap bunga-bunga di depannya, ada yang sudah mekar dan ada juga yang masih menunggu kuncup nya.
Menggerakkan manik matanya ke langit yang hitam, gelap tiada bintang satupun. Menatapi Langit yang terbentang luas itu. "Kita di bawah langit yang sama. Namun entah di mana kau bernaung saat ini." Gumamnya Laras.
Satu jam kemudian, Laras merasa dingin di tubuhnya. Angin malam mulai menyapa kulit, ia berdiri, berjalan menuju kamar. Bergegas masuk ke kamarnya, setelah berada di kamar. Laras menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Sekitar tengah malam, Laras gelisah dan terjaga dari tidurnya. Kemudian bangun mengambil segelas air putih lalu di teguk nya sampai tandas.
Ia menoleh ponsel miliknya yang ada di atas tempat tidur, ponsel itu bergetar. Laras mendudukkan tubuhnya di kasur itu dan menoleh waktu menunjukkan pukul 00.30 wib.
Tangan Laras meraih ponsel itu, ternyata vic dari Ibra. "Ada apa telepon malam-malam? vic lagi, istrinya ke mana?" gumam Laras. Kemudian menggulir ikon ijo dan menyimpan ponsel di depannya tampak Ibra sedang duduk mengenakan pakaian santai.
"Lama sekali angkatnya? gak mau bicara dengan ku apa?" ucap Ibra langsung ketus.
Laras mengikat dulu rambut nya nya yang berantakan. "Emangnya ini jam berapa?" dengan suara parau nya.
"Oh, iya," sahut Ibra sambil melirik jam tangan. "Gimana keadaanmu?"
"Baik, seperti yang kau lihat," jawab Laras ketus. Sok cuek.
"Apa kamu tidak merindukan ku?" tanya Ibra menatap wajah Laras yang jelas muka bantalnya.
"Nggak, ngapain? orang baru beberapa jam lalu kita bersama!" kara Laras sambil membuang wajahnya.
"Awas ya? kalau ketemu gak akan aku lepaskan kamu," gumam Ibra sambil tersenyum.
"Apa yang awas, mau lewat? sudah urus saja istri mu di sana," sambung Laras.
"Kenapa, cemburu ya?" senyum Ibra menyeringai.
"Ih, nggak. Aku ngantuk," elak Laras lagi.
"Hem ... nasib suami yang tak di rindukan?" kata Ibra lesu.
Laras mengerucutkan bibirnya. Membuat Ibra tersenyum merasa lucu dengan tingkah istri mudanya itu.
Laras menarik selimut dan memeluknya. Sesekali menguap ngantuk dan mata pun berair.
"Kenapa dingin? belum semalam aku tinggal, sini aku peluk. Pasti tidak kedinginan lagi." Ibra menyeringai.
Laras melotot dan langsung mengibaskan selimutnya. "Tidak, tidak kedinginan kok. Siapa bilang aku kedinginan?" ketus Laras.
"Aku yang bilang, masa tetangga? ya sudah, tidur sana! baik-baik di sana. Oya peluk guling ya? kalau rindukan aku ha ... ha ... ha ..." sambungan vic terputus.
"Uuh ..." Laras seolah ingin memukul Ibra dengan bantal. sok kesal gitu, padahal hatinya berbunga-bunga. Dan senyum-senyum sendiri ....
****
Jangan bosan ya? reader ku yang baik hati ... dan aku ucapkan makasih banyak atas kebaikan kalian yang terus menantikan novel ini up🙏
__ADS_1