
Rombongan dari panti pun, sudah datang. Semuanya menghampiri Laras dan bersalaman. Bu panti memeluk Laras sangat erat, melepas rindu yang lama tidak bertemu.
"Apa kabar, Bu ... Aku kangen sama Ibu. Maafkan aku juga yang lama tidak mengunjungi kalian semua," ungkap Laras sambil membalas pelukan ibu panti.
"Ibu dan adik-adik mu baik Laras, tak apa. Apalagi sekarang kehamilan mu makin membesar. jadi jangan banyak bepergian, lagian uang pun sering kau kirimkan pada kami. Doa yang terbaik untukmu, Nak." Ujar bu panti. Mengelus perut Laras.
"Mah, Pah ... kenalkan. Ini Ibu panti yang merawat Laras dari kecil sampai dewasa, beliau lah yang menyayangi ku juga." Laras mengenalkan bu panti pada mama dan papa mertua.
"Oh, ini ya? makasih ya? sudah merawat Laras menjadikannya wanita yang baik hati," tutur bu Rahma pada bu panti sembari mengulas senyuman, mereka saling peluk dan cium pipi kiri dan kanan. Kemudian bu panti menangkupkan tangan di depan dada pada pak Marwan yang langsung di sambut oleh pak Marwan dengan hal yang sama.
Jodi, yang berdiri di sudut ruangan begitu terkagum-kagum. Terkesima melihat kecantikan Laras yang kian keluar auranya, ditambah kini mengenakan kerudung senada dengan gaun yang ia kenakan itu.
"Waw, cantik sekali gadis itu. Masya Allah ... andai aku bisa memilikinya. Alangkah bahagianya hatiku, sayang banget. Kamu sudah disunting orang, kalau saja kita lebih dulu bertemu? mungkin kamu akan menjadi milikku, bukan milik seorang Malik Ibrahim yang sudah beristri." Batin Jodi, pandangan matanya tak lepas dari sosok Laras seorang.
Miftah yang di dampingi seorang wanita cantik dan menggendong balita, sesekali melirik ke arah Laras yang duduk bersimpuh. Diantara wanita-wanita yang lainnya. Aura kecantikannya kian terpancar, penampilannya sangat jauh berbeda dibandingkan dulu yang sangat sederhana. Biarpun sekarang juga gak terlalu mewah, tetap saja banyak perubahan dari sosok wanita yang pernah ia cintai dan tak pernah adanya gayung bersambut itu.
Ibra dan Dian, sedang menyambut tamu. Dari rekan-rekan kerja Ibra yang menyempatkan datang, meskipun waktunya masuk kerja. Sebagian pada datang tuk ikut berbaur dalam tasyakuran empat bulanan ini.
Untuk menyingkat waktu yang terus berputar. Acara pun di mulai, langsung pembukaan oleh ibu ustazah Ida yang dipersilahkan oleh Ibra yang kini sudah duduk di samping Laras.
Netra mata Ibra terus bergerak mengamati ke arah Jodi dan Miftah yang terus memperhatikan ke arah Laras. Ingin rasanya menutupi Laras agar terhindar dari pandangan pria-pria tersebut. Namun sebisa mungkin ia harus menyembunyikan kecemburuan nya itu, meskipun hati terasa panas terbakar, dongkol.
Ibu ustazah sudah siap dengan mikrofonnya. Diawali dengan basmalah.
"Assalamua'laikum wr, wb ...."
"Wa'alaikumus salam wr. wb." Jawab semua yang hadir di tempat tersebut.
"Pertama-tama kita panjatkan syukur kepada Allah subhana huata'ala, yang telah memberi berupa-rupa nikmat yang kadang tidak kita sadari. Bahkan kita sering melupakan, dan tak mau bersyukur. Kita sering lupa apa yang kita punya atau kita miliki, kalau itu cuma titipan.
Semoga kita semua, Allah jadikan orang-orang yang pandai bersyukur padanya. Bersyukur,- sebesar dan sekecil apapun nikmat yang sudah kita dapatkan. Aamiin-Aamiin ya Allah ya robbal'alamin.
Seperti saat ini, kita harus bersyukur karena telah dipertemukan di sini, saling bertatap muka yang mungkin ini yang kali pertama ya? dengan tujuan untuk memanjatkan doa-doa yang terbaik untuk keluarga ini, dan khususnya buat calon baby yang kini masih di dalam kandungan. Umumnya untuk kebaikan kita semua.
Kita semua juga tak lupa. Mengucapkan sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi muhammad shalallahu alaihi wasallam beserta sahabat-sahabatnya.
Saya ucapkan terima kasih banyak, atas kehadiran saudara/saudari, ibu. Bapak sekalian, yang berkenan hadir. Dalam acara tasyakuran empat bulanan nya Nyonya Larasati dan Tuan Malik Ibrahim, dan juga kehadiran adek-adek semuanya yang juga turut hadir. Semoga kalian semua Allah jadikan anak-anak yang saleh dan saleha. Berbakti pada orang tua, berguna untuk nusa dan bangsa serta agama. Aamiin yang Allah ya robball'alamin.
Kita semua hadir di tempat ini, tiada lain untuk turut mendoakan calon baby nyonya Laras. Agar menjadi anak yang saleh dan saleha kelak di saat dia sudah lahir ke dunia ini. Aamiin ya robball'alamin.
Kenapa kita mengadakan tasyakuran empat bulanan? sebab ini sebagai bentuk rasa syukur kita akan kebesarannya Allah subhana huata'ala. yang telah mengkarunia kan sesuatu yang amat berharga. Ya itu ... insyaAllah keturunan yang baik, anak adalah titipan yang harus kita jaga. Kita didik dan kita sayangi dengan sepenuh hati.
Apapun kekurangannya anak itu, kita sebagai orang tua wajib-wajib menyayanginya, mendidiknya. Memperhatikannya. Masya Allah ... saya suka sedih, saya menangis bila ada baby, anak yang di buang oleh ibunya. Oleh orang tua nya sendiri, berapa banyak orang yang ingin mempunyai anak. Berapa banyak orang yang merindukan kehadirannya. Tapi kenapa banyak pula orang tua yang membuang anak itu?"
Tidak terasa, hampir semua yang hadir meneteskan air mata. Mendengar penuturan ustazah Ida yang mengiris hati.
Begitupun dengan Dian, ia menyeka sudut matanya yang berair. Jadi ingat dirinya sendiri, yang ingin punya anak namun takdir mengatakan lain.
Bu Rahma yang dekat dengan Dian mengusap bahunya serta senyuman untuk sekedar menguatkan.
"Kita berada di sini, dengan tujuan tak lain adalah mendoakan agar janin senantiasa diberikan berkah. Sejak di dalam perut hingga nanti lahir dan menjalani kehidupan di dunia kelak.
Saya akan sedikit menjelaskan Arti empat bulanan itu seperti apa? yang merupakan ... 40 hari pertama berupa nutfah atau cairan kental yang berada dalam rahim ibu.
40 hari kedua berkembang menjadi ‘alaqah atau segumpal darah.
Dan 40 hari ketiga berkembang menjadi mudhghah atau segumpal daging. Masya Allah ....
Apabila seluruh waktu dalam fase tersebut dihitung berdasarkan bulan, maka akan sama dengan 4 bulan atau 120 hari.
__ADS_1
Pada bulan ke-4 inilah, Allah SWT mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin yang terdapat dalam rahim ibu tersebut.
Sungguh maha besar Allah yang telah menciptakan alam beserta isinya ya? termasuk kita sebagai penghuninya. Mari kita awali dengan bersholawat badar."
Bu ustazah langsung memimpin sholawat dan doa khusus, dengan suara lantang dan jelas.
Setelah rangkaian demi rangkayan acara selesai, tibalah pembagian bingkisan khususnya buat anak yatim dan anak panti yang diberikan langsung oleh Laras dan Ibra. Lanjut makan-makan yang sudah tersedia di depan.
"Kau juga ada di sini?" selidik Dian pada Jodi yang sedang mengambil makanan di meja parasmanan.
"Iya, aku bersama anak panti. Kenapa?" Jodi balik bertanya dan menatap Dian.
"Jadi ... kau juga kenal Laras dong?" tanya lagi Dian sembari menunjuk ke arah dalam.
"Kenal," jawab Jodi dengan masih mengambil makanan, di bawanya ke kursi tamu dan duduk di sana.
Dian menaikan alisnya. "Apa kau pernah ada minat?"
Jodi hanya menatap tanpa ekspresi pada Dian.
"Em ... maksud saya, apa pernah suka, sama dia? secara dia cantik." ralat Dian
Sebelum Jodi menjawab, dia tersenyum dan mengunyah lalu menelan dengan santainya Jodi berkata. " Tentu, Suka lah, tak ada satu pun laki-laki yang tak tertarik atau tak tergila-gila pada sosoknya yang cantik, ramah ... pelayanan nya baik pada suami. Termasuk suami mu juga tergila-gila sama dia."
"Maksud kamu?" selidik Dian sambi mengernyitkan keninhnya.
Jodi menelan lebih dahulu makan di mulutnya. "Iya, semua laki-laki akan terpesona, tergila-gila pada wanita berparas cantik seperti dia. Apalagi bukan cuma parasnya aja yang cantik, tapi ... juga hatinya. Pelayanan terhadap suaminya gimana, wajar kalau suami mu juga sangat bucin sama dia."
Dian tertegun. Menatap cemas pada Jodi, yang asik makan. Kemudian Jodi kembali menoleh.
"Kalau seandainya saya, mendapatkan dia. Tidak akan pernah saya sia-siakan dia." setengah berbisik dan kemudian berlalu entah kemana?
Membuat hati Dian semakin gusar, gelisah dan kepanasan.
"La, saya pamit dulu ya? terima kasih atas undangan dan jamuanny," ucap Miftah yang menggendong putranya.
"La, siapa itu?" selidik Ibra penasaran.
"Oh, ini Istri Tuan," tambah Miftah pada Ibra.
"Oya, sama-sama. makasih juga atah kedatangannya. Mana istri mu?" tanya Laras celingukan mencari keberadaan istri pak Rt. Alias bu Rt.
"Di luar, masih makan," sahut Miftah menunjuk keluar.
"Ooh ... putra mu tertidur." Laras mengusap kepala putranya Miftah. Tangan yang kiri Laras tak pernah lepas dari genggaman Ibra.
Tak lupa memberikan bingkisan dan Amplop sebagai kenang-kenangan.
Setelah berpamitan pada yang lainnya. Miftah menyeruak keluar dari tempat tersebut.
"La, aku pamit dulu ya? makasih bla bla bla." Ibra menirukan perkataan Miftah pada Laras.
Laras menoleh. "Apaan sih?" sembari menggeleng.
"Bu ustazah, makasih banyak atas kehadirannya. Atas doa nya juga," Laras mengmbil bingkisan+amplopnya.
"Sama-sama Dek Laras, terima kasih juga telah mengundang dan mempercayai saya. Untuk membawajan acara ini." Bu ustazah mengangguk pasa Laras dan Ibra.
"Terima kasih juga atas jamuan dan bingkisannya. Semoga Allah mengganti setiap rejeki yang di keluarga oleh keluarkan ini, dengan sesuatu yang yang amat melimpah dan berkah. Aamiin ya Allah," sambung bu ustazah Ida.
__ADS_1
Orang-orang komplek berangsur-angsur pulang. Kini giliran rekan-rekan kerja Ibra yang pamit pulang, Semuanya tak lupa juga mengucapkan selamat pada Ibra dan Laras.
Ada juga yang usil dan berkata. "Kenapa barang mu tumpul pada Dian sehingga dia tidak hamil-hamil. Sementara sama yang ini, langsung hamil."
Ibra hanya membalas dengan senyuman saja, dan terus berjabat tangan bergantian. Saat ini Dian entah di mana berada, yang jelas di ruangan tersebut tidak ada.
Zayn dan Jodi sedang mengobrol, ternyata mereka berteman ketika sekolah dulu. "Lama kita tidak jumpa kawan? gimana kabarmu. Baik atau buruk, atau juga sedang-sedang saja," gurau Zayn sambil tertawa.
Pria tampan dan putih itu menyambut uluran tangan Zayn dengan wajah yang bersinar bahagia. "Senang bertemu dengan mu. Setelah sekian lama kita terpisah jarak dan waktu, ha ha ha ...."
"Kenapa kau ada di sini? tanya Zayn. "Jangan bilang kau di undang Dian." Zayn mengira Jodi datang karena undangan Dian, sebab setau Zayn Jodi rekan kerja Dian.
"Benar, aku berada di sini, sebab dapat undangan dari Laras pribadi. Maksud ku aku diajak pihak panti untuk memenuhi undangan dari Laras, lumayan sambil menyelam. Minum air ha ha ha ..." lagi-lagi Jodi tertawa.
"Hahaha, aku kira menyelam sambil minum susu." Timpal Zayn menyeringai.
Kemudian keduanya masuk menemui Laras dan Ibra. Namun Ibra tidak ada di tempat. Keadaan semakin lengah karena tamu terus berangsur pulang. Yang ada bu panti, Laras. Mama mertua, Zayn dan Jodi bergabung dan berbincang hingga tercipta suka cita dan tawa dantara semuanya. Dian pun yang baru datang. ikut tersenyum.
Ibra datang bersama pak Marwan, dan melihat Laras tertawa begitu renyah bareng Jodi dan juga Zayn.
Melihat kedatangan Ibra, senyuman Laras memudar dan melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 11.15 wib. Segera berdiri dan menghampiri Ibra.
"Kanapa berhenti tertawanya?" ketus Ibra pada Laras pelan.
Laras menunjuk ke arah jam. "Sudah waktunya pergi salat jum'at, aku siapkan sarung sama baju koko nya ya?"
Laras membawa langkahnya menuju kamar, untuk menyiapkan sarung dan kok juga pecinya. Ibra mengekor dari belakang.
Di ruang tengah, setelah Laras dan Ibra tinggalkan. "Oya, gimana kita ke masjid dulu," ajak pak Marwan pada laki-laki yang ada di sana, daintaranya Jodi, Zayn dan pak Barko.
"Aduh, saya lagi m, Om, jadi saya akan langsung ke kantor saja." Zayn buru-buru beranjak dari duduknya.
"Dasar, belum tobat juga ya?" ucap Jodi mendelik pada Zayn.
"Eeh ... bukan belum tobat. Tapi tergantung kumatnya, ha ha ha ..." Zayn berlalu. "Aku pamit dulu ya semua ..." sambil melambaikan tangan.
"Tuan Jodi mau salat juam'at juga? aduhhh sudah ganteng ... rajin ibadah juga, keren banget lah. Idaman buangeet ..." ujar Susi yang begitu mengagumi sosok Jodi.
"Iya dong ... harus itu," sahut Jodi. "Oya, Bu. saya ke masjid dulu ya, pulangnya nanti setelah saya pulang." ucap Jodi pada bu panti. Sebagai donatur namun dia begitu baik pada bu panti dan anak-anak. kemudian mengikuti pak Marwan dan pak Barko.
Dian menatap punggung rekan kerjanya itu. Sampai hilang di balik pintu.
Ibra yang masih di kamar, bersiap-siap. "Aku tidak suka kamu akrab sama pria lain."
"Akrab? akrab gimana, biasa aja kok, lagian wajarlah. Namanya juga teman kuliah dulu," ucap Laras sambil mengancingkan koko yang Ibra kenakan.
"Sama Jodi juga, bisa-bisanya kamu ketawa-ketawa sama dia. Sama aku tidak ketawa seperti itu," sambung Ibra kembali. Ia memandang dirinya di cermin yang memakai peci, sarung dan koko.
"Emangnya Abang bisa ngelucu gitu? yang bikin aku tertawa?" tanya Laras. Menyemprotkan minyak wangi ke tubuh Ibra. Sudah, pergi sana. Dah siang." Laras memundurkan langkahnya kebelakang.
"Ya, udah," ucap Ibra membalikkan badannya. Ia hendak mencium pipi Laras namun Laras segera menghindar.
"Eh ... sudah punya wudu, kan?" tanya Laras menatap ke arah Ibra.
Ibra menarik sudut bibirnya tersenyum. "Lupa. Assalamua'laikum?"
"Wa'alaikumus salam."
Ibra keluar kamar Laras, dengan setelan yang berbeda. Dian yang melihat Ibra melintas di depannya, terkesiap. Sekarang Ibra memang banyak berubah dari sebelumnya ....
__ADS_1
****
Sudah membaca, kan?" jangan lupa like, komentar. Terus dukung aku ya, agar aku tambah semangat nulisnya.