Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Met bobo


__ADS_3

Di sebuah kantor. Tengah duduk seorang pria tampan, dengan antengnya termenung. Tatapan kosong, pikirannya melayang dan tanpa terasa air bening menggenang di kedua sudut matanya.


Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Hatinya kacau balau, bukan karena menumpuknya pekerjaan. Bukan pula karena semakin ketatnya persaingan usaha, namun peliknya masalah dalam rumah tangga.


Suksesnya perjalanan karir dia sebagai bisnisman muda sudah tercoreng dengan kedua istrinya. Dan kini kemungkinan besar akan terulang kembali Dalam sejarah rumah tangganya.


Mulusnya ia meniti karir tidak semulus ia membina rumah tangga, yang awal mula adem ayem. Semua jadi kacau berantakan setelah sang istri menyuruhnya menikah lagi.


Kini ia cuma bisa meratapi. Menangis dalam hati, hancur sudah perasaannya kali ini. semakin ke sini. Kelakuan buruk istri pertamanya kian ketauan, Istri yang dulu satu-satunya ia cintai.


Entah harus menyalahkan siapa lagi kalau semua sudah begini? lambat laun media pun akan mencium kebobrokan sang istri. Meskipun ia tutupi-tutupi sebisa mungkin. Sudah saatnya ia menyiapkan diri untuk kehancurannya sendiri bila itu nanti harus terjadi, Bukan cuma rumah tangga saja yang kemungkinan hancur. Tapi juga usahanya akan terbawa dan terpengaruh.


Nama dirinya, keluarga semuanya akan tercemar dan pastinya menanggung malu semalu-malunya.


Ibra menunduk, bahunya bergetar. Karena menangis, lalu mengangkat kepalanya dan mengusap kasar pipi yang basah. Setelah melihat Zayn masuk ke dalam ruangannya dengan menenteng berkas di tangan.


"Permisi Bos? apa saya tidak mengganggu." Zayn langsung duduk di depan Ibra.


Ibra berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dengan senyum getir. "Sejak kapan kau bertanya seperti itu? biasanya juga kau tidak perduli saya sedang apa."


"Sorry Bos. Ini ada yang harus anda tanda tangani." Zayn memberikan berkas yang ia bawa. Zayn menjadi sedikit segan, dan bicara formal. Sebab ia tahu betul perasaan Bosnya saat ini seperti apa.


Ibra langsung membubuhkan tanda tangannya yang sebelum itu. Mengecek ulang isinya.


"Sepertinya aku akan pulang cepat. Pikiran ku kacau, gak akan bisa di ajak kompromi lagi," ungkap Ibra dengan mata dan tangan fokus pada tugasnya.


"Iya, Bos. Istirahat ajalah. Oya jangan khawatir semua akan aku urus. Kebetulan hari ini tak ada acara rapat juga, jadi pulang lah." Zayn mendukung niat Ibra untuk pulang.


"Oke, selesai. Saya pulang dulu." Kemudian keduanya jalan berbarengan, keluar dari ruangan Ibra. Dengan tujuan yang berbeda, Zayn menuju ruangannya dan Ibra berniat pulang.


Mobil Ibra melesat membelah jalan raya yang terhitung padat dengan kuda-kuda besi lainnya. Sebelum pulang ke rumah Laras, Ibra memutuskan untuk berhenti dulu di toko kue kesukaan sang istri, Laras.


Setelah mendapatkan yang ia cari, Ibra segera menyalakan kembali mesin mobil kesayangan nya itu. Matanya fokus ke depan, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib, melihat sebuah masjid sekitar beberapa meter di depan. Ibra ingat belum mengerjakan dzuhur.


"Mendingan aku berhenti dulu. Ke rumah memang dekat, sepuluh menit lagi juga nyampe. Tapi, sepertinya. Aku pengen ngerasain salat di sana," gumamnya Ibra.


Setelah sampai di depan masjid tersebut Ibra bergegas memasuki masjid itu, kebetulan Margot nya masih ada di sana sehingga Ibra bisa dengan mudahnya masuk.


Ibra bersimpuh dan berserah diri pada yang maha kuasa yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Ia menyerahkan segala keluh kesah padanya, lama Ibra berada di sana hingga ia baru menginjakkan kaki di rumah sekitar pukul 3 sore.


Di teras, Laras sudah berdiri menyambut kepulangannya. "Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumus salam ..." dengan senyuman manisnya, Laras meraih tangan Ibra. Lantas di kecup nya, begitupun Ibra memegang kepala Laras dan mengecup kening dengan penuh perasaan.


"Katanya pulang dari siang, kok baru sampai?" selidik Laras menatap wajah lelah Ibra yang tampak banyak masalah.


"Aku, tadi salat di masjid depan. Eh ... ketiduran," jawab Ibra sambil menuntun tangan sang istri diajaknya masuk, sebelumnya mengusap dan menyapa sang calon baby.


"Papa dan Mama ke mana?" tanya Ibra. Mereka terus berjalan menuju kamarnya.


"Em ... masih tidur siang kayanya. Aku juga barusan sedang tidur, mendengar suara mobil mu jadi terbangun." Timpal Laras, tangan nya membukakan jas yang melekat di tubuh Ibra.


"Oh, pantas muka bantal. Maafkan aku sayang, tidur mu jadi terganggu." Cuph mengecup kembali kening sang istri sebagai permintaan maaf.


"Nggak pa-pa, oya. Kamu belum makan siang dong, iya?" tanya Laras melirik orang yang sedang membuka dasi dan kancing kemejanya.


Ibra menggeleng pelan. Setelah menggantungkan jas, Laras membantu melepas kemejanya, lalu jongkok membuka sepatu sang suami yang duduk di sofa.


"Ya, sudah mandi dulu, nanti aku siapkan buat makan siang. Mau aku siapkan air buat mandi?" tanya Laras lagi sebelum menyiapkan pakaian ganti buat Ibra.


kedua lengan Ibra membingkai wajah Laras, kemudian tatapan mereka beradu. "Nggak usah sayang, biar aku sendiri aja. Nanti kamu capek." Sejenak tatapan mereka bertemu seolah ingin mendalami sampai ke dalam-dalamnya.


"Baiklah," Laras menundukkan kepalanya.


Tangan Ibra turun ke leher jenjangnya sang istri. Kemudian pandangannya tertuju ke bibir yang ranum itu, akhirnya Ibra mendaratkan kecupannya sesaat. Lalu kembali mengecupnya lama dan penuh perasaan. Setidaknya bersama Laras, Ibra sedikit bisa melupakan semua masalahnya yang sedang ia hadapi saat ini.


Perlahan Laras mendorong dada Ibra seraya berkata. "Mandi dulu, nanti makan," suaranya sangat lirih.


Ibra mengusap bibir sang istri sambil bergumam. "Oke. Aku mau mandi dulu. Melepas genggamannya, lalu membawa langkahnya ke kamar mandi.

__ADS_1


Laras mengambilkan pakaian ganti berupa kaos dan celana pendek agar terkesan santai. Setalah ia simpan di atas tempat tidur, Laras lanjut ke dapur untuk menghangatkan masakan masakan. Kebetulan Susi pun jam segini sedang tidur siang.


Selang beberapa waktu berkutat dengan masakan, akhirnya semua sudah ia sajikan di meja. Ketika mau manggil sang suami, sudah keburu muncul duluan. "Tadinya aku mau manggil ke kamar."


"Nggak usah di panggil sayang. Aku pastu datang sendiri. Ya ampun ... lupa sayang, tadi aku beli kue kesukaan mu, masih di mobil," Ibra hendak mengambil.


Namun tangan Laras menangkap pergelangan tangan Ibra. "Nanti aja ambilnya, sekarang kamu duduk dan makan dulu. Oke?" pinta Laras sambil memainkan matanya.


Ibra menunjukkan senyumnya. "Baiklah sayang ... akan aku turuti mau mu!"


Ibra melahap makan siangnya, namun kali ini Ibra seakan kurang berselera, makannya sedikit aja.


"Nambah ya?" Laras bersiap menambahkan nasi ke piring Ibra.


"Cukup, aku sudah kenyang," tolak Ibra beralasan.


"Em ... tumben dikit makannya, apa gak enak ya masakannya?" Laras menatap heran ke arah Ibra.


"Kenyang sayang, enak kok," timpal Ibra. Tangannya mengambil segelas air untuk ia minum.


"Ya, sudah. Makan buah nih, manis loh." Menyodorkan sepiring buah yang barusan Laras kupas.


Ibra pun mencicipinya. "Pastilah manis sayang, apalagi yang menyajikannya wanita secantik kamu. Tentunya tambah manis."


"Ih ... gombal," senyum Laras tersipu malu.


"Beneran."


"Oya, bukankah besok lusa Dian akan pulang dari Lombok. Abang mau jemput, kan?" selidik Laras. Memandangi ke arah Ibra.


Ibra membalas tatapan Laras dan tak lantas menjawab pertanyaan sang istri. Pikirannya langsung melayang entah ke mana.


"Aku mau ambil kue dulu sebentar ya?" mengusap kepala sang istri, lalu berlalu hendak ke depan mengambil kue di mobil.


Netra mata Laras mengikuti langkah sang suami. Hatinya merasa aneh, sikap Ibra ada yang berubah. "Ada apa ya? kok berasa ada yang aneh," gumamnya Laras. Setelah tubuh suaminya tak terlihat lagi oleh mata. Laras segera membereskan bekas makan barusan.


Saat ini suasana siang sudah berganti gelap, Ibra dan sang ayah sedang mengobrol di dekat kolam renang.


Ibra menggeleng, dan helaan napasnya begitu berat dan panjang. "Aku gak tau, Pa. Aku juga bingung," jawab Ibra, mengacak rambutnya kasar.


"Yang dua kamu cerai, terus gimana dengan istri pertama mu itu? motifnya hampir sama."


"Pa, aku rasa dia melakukan itu karena kesepian. Sebab waktu ku jelas terbagi, tidak memproritaskan lagi dirinya." Suara Ibra lesu.


"Jika waktu mu terbagi, jelas juga bahwa itu tanggung jawab mu Ibra. Dian menikahkan kamu dengan wanita-wanita pilihannya, otomatis bertambah pula tanggung jawab mu. Waktu mu juga akan terbagi, itu pasti. Untungnya, terakhir Dian pilihkna kamu wanita baik. Wanita shalehah, untung banget. Coba kalau Laras seperti wanita lain, Papa tidak tahu apa jadinya hidup kamu?"


Ibra diam terpaku. Ia pun tak bisa bayangkan itu, Kalau seandainya yang jadi istri mudanya bukan Laras.


"Laras bukan hanya membawa kebaikan untuk dirinya, tapi juga untuk kita semua khususnya kamu dan kamu pasti sadari itu!" tambah pak Marwan kembali.


Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, sesungguhnya Dian juga berjasa telah mempertemukan aku dengan Laras, pa."


"I-iya sih, walaupun di balik itu terselip niat yang kurang baik. Dan bisa di bilang jahat juga, harapan Papa sekarang ini ... hanyalah ... ingin Dian bisa merubah diri. Itu saja," lanjut pak Marwan sambil mengedarkan pandangan pada sang istri, yang berjalan mendekati mereka berdua.


"Dua pangeran ku, ayo. Makan malamnya sudah siap!" ucap bu Rahma ketika sudah berada di depan suami dan putranya.


Pak Marwan mengangguk. "Baiklah bidadari ku, kami akan segera datang ke sana."


Langkah bu Rahma kembali ke dalam, setelah mendapat jawaban dari sang suami.


Ibra menyilangkan tangan di dada, pandangannya lepas ke air kolam yang bening dan berkilauan, Terkena cahaya lampu.


"Abang, sudah. Jangan banyak pikiran. Mending kita makan dulu, berpikir pun butuh asupan giji." Pak Marwan beranjak dan mengajak Ibra tuk makan.


"Huuh ..." lagi-lagi Ibra membuang napasnya dari mulut dan hidung, lantas mengikuti langkah sang ayah yang sudah duluan.


Laras masih menuangkan air ke dalam gelas. Melirik ke arah suaminya yang nampak lesu. "Abang, mau makan sama apa?"


"Sup aja dan telor," jawabnya.

__ADS_1


Laras mengambil yang Ibra sebutkan. "Ini, silakan makan!" sembari memperlihatkan lengkungan di bibirnya. Membuat Ibra pun ikut tersenyum.


Pak Marwan, bu Rahma. Ibra dan Laras juga Susi makan bersama. Di meja makan yang sama.


"Tumben, Zayn gak ada datang dalam beberapa hari ini? biasanya suka kebetulan, waktu mau makan dia datang," ucap bu Rahma di sela makannya.


Ibra menoleh. "Dia sibuk, banyak kerjaan yang harus dia urus. Bahkan minggu depan dia akan bolak balik ke kantor cabang yang ada di Bogor."


"Em ... pantas, tapi dia sudah punya calon belum, Bang?" selidik bu Rahma.


"Entah lah, Mah. Kurang tahu Abang juga," sahut Ibra. Setelah menelan makannya.


"Oh, kali aja ada jodoh sama Susi," tambah bu Rahma lagi.


Uhuk-uhuk. Susi langsung terbatuk-batuk, dan langsung meneguk minumnya. "Ogah. Amit-amit. Ih ..." ucap Susi sambil bergidik.


"Kanapa Sus? dia ganteng, kaya. Pekerja keras. Rajin pula, gak akan kesusah deh ... bila kamu menikah sama dia." Goda bu Rahma. Semua yang ada di sana tersenyum mendengarnya.


"Nggak-nggak! Susi gak mau," timpal Susi memggeleng.


Makan malam pun berakhir. Ibra langsung masuk ke kamarnya, diikuti oleh Laras. Setelah berada di kamar mereka melaksanakan salat isya terlebih dahulu, berulah berbaring. Di atas tempat tidur, di bawah sinar lampu temaram.


Kini Laras berada dalam pelukan sang suami yang baring setengah menyandar ke bahu tempat tidur. Kepala Laras berada di dadanya.


"Sayang, boleh gak kalau aku merokok?" gumamnya Ibra sambil membelai rambut Laras yang panjang.


Seketika Laras mendongak. "Sejak kapan kamu meroko? selama ini, aku gak pernah lihat kamu merokok, buat apa merokok?" cecaran Laras dengan tatapan sangat lekat.


"Nggak sih, kayanya menenangkan gitu. ihat orang-orang yang merokok itu kaya sangat menikmati banget. kali-kali aku merasakan gitu?"


"Nggak boleh, meroko itu caman cari penyakit, tahu kan?" jelas Laras dengan masih dengan tatapannya yang belum berpaling.


"Sekali sayang, ingin merasakan gimana sih nikmatnya? membuang asap rokok sambil menghayal, asyik kayanya." Sambung Ibra sambil menyeringai.


Tangan Laras memukul dada Ibra pelan. "Nggak boleh, aku bilang gak boleh. Gak ngerti apa? rokok itu menggangu kesehatan yang diantaranya jantung dan kangker. Roko aja sudah jujur, masih aja banyak yang mau, gimana kalau bohong coba?" ujar Laras kembali.


Tangan Ibra menggengga tangan Laras yang tadi memukulnya. Ia remas dengan sangat lembut, Ibra kecup punggungnya. "Kan, sekali sayang ... ngerasain aja. Boleh ya?"


"Iih ... gak boleh," jelas Laras, Sedikit cemberut.


"Terus bolehnya apa dong, biar bibir ku gak nganggur?" tanya Ibra kembali.


"Nggak tau ah," sahut Laras sambil menempelkan pipinya di dada Ibra. Tangannya mengusap dada bidang itu.


"Nggak, sayang ... gak akan kok. Aku cuma bercanda." Cuph mengecup pucuk kepalanya Laras.


Laras kini diam. Mengingat Dian akan pulang, tentunya waktu Ibra pun akan terbagi lagi. Tidak akan bertemu setiap hari lagi, apalagi merasakan pelukan hangat dan belayannya.


Ibra pikir Laras sudah tidur, karena tidak lagi bersuara selain suara napasnya yang berhembus ke dada Ibra. "Met bobo sayang?" cuph mendaratkan lagi kecupan di pucuk kepala sang istri.


Laras mengangkat kepalanya. "Met bobo juga," dan tidak Ibra duga, Laras mencium pipi Ibra dengan penuh perasaan.


Lantas Ibra menggerakkan wajahnya sehingga bibir keduanya bertemu. M****** nya dengan lembut, sehingga keduanya memejamkan mata dan menikmati itu. Tangan Ibra pun sudah dengan nyamannya meremas benda empuk yang tersedia di hadapannya itu. Kebetulan penghalangnya cuma piyama saja. Semakin leluasa aja bermain-main di sana.


Setelah beberapa waktu. bermain di dua tempat itu, Ibra memposisikan tubuhnya berbaring. "Bobo yuk? ngantuk nih."


Sejenak Laras menatap ke arah sang suami, walau di bawah sinar yang temaram. Namun terlihat jelas kalau Ibra menutup kedua kelopak matanya.


"Tumben, gak dilanjutkan?" gumamnya Laras dalam hati merasa heran. Kalau Ibra tak melanjutkan aksinya, malah memilih tidur.


"Maaf sayang, malam ini aku merasa capek sekali," gumam Ibra dengan mata tetap tertutup.


Akhirnya bibir Laras tersenyum juga, egois benget kalau dirinya berpikir macam-macam, seperti kurang pengertian saja. Pikirnya.


Padahal dalam waktu-waktu ini libido Laras sedang mengalami peningkatan yang diakibatkan masa kehamilannya saat ini. Akhirnya Laras pun memjamkan mata dalam pelukan hangat sang suami dan tak menunggu lama keduanya tertidur nyenyak.


Suara ponsel Ibra yang berkali-kali berbunyi pun, tidak ada yang mendengar seorang pun. Keduanya sudah memasuki ke alam mimpi ....


****

__ADS_1


Sudah membaca, kan? semoga puas ya? terima kasih atas doa dari kalian semua, dan semoga doa kebaikan dari kalian berbalik pula pada kalian semua. Aamiin.


__ADS_2