Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Mati berdiri


__ADS_3

Keduanya asyik berlayar di samudra yang indah, melayang di angkasa yang membuat jiwa terhanyut. Terbuai dengan kenikmatan yang tak terhingga.


Kedua tubuh mereka bergetar hebat, pada ujung waktu yang merea akhiri. Darmi menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Darmi bermanja-manja meletakkan kepalanya di dada pria yang jadi lawan mainnya barusan.


"Mas, ada saudara ku yang ingin menjual empang. Beli dong Mas, sayang kalau sampai dibeli orang."


"Berapa katanya?" tanya pak Mulyadi.


"Katanya sih 80 juta. Maunya, tapi gak tahu juga," jawabnya.


"Iya, nanti kita pikirkan lagi. Sekarang fokus kesehatan ku dulu." Gumamnya.


Telapak tangan mbok Darmi mengelus dada pak Mulyadi. Naik, turun. Sampai titik keperkasaannya. "Biaya kesembuhan mu itu Jodi yang urus Mas, kalau uang mu kan aman-aman saja. Gak ada hubungannya!"


Pak Mulyadi hingga merem melek merasakan belaian mbok Darmi pada sesuatu di sana. "Iya-iya. Akan ku pikirkan." Dengan napas yang tersengal-sengal.


Mbok Darmi tersenyum melihatnya. "Bener ya Mas? atas nama ku ya Mas?" mbok Darmi memeluk pak Mulyadi. Sangat senang sekali.


"Uh ..." desah Pak Mulyadi.


"Kenapa Mas?" tanya Darmi penasaran.


"Oh, Tidak. Tidak ke napa-napa." Pak Mulyadi menggeleng.


"Bilang aja Mas. Jangan sungkan kalau mau sesuatu, sudah kewajiban ku untuk melayani mu." Menatap lekat.


Pak Mulyadi tersenyum penuh arti, dan mbok Darmi sangat faham dengan maksud pak Mulyadi. Ia beranjak dan bersiap untuk berenang di sagara cinta kembali.


****


Cctv yang sudah terhubung dengan ponsel Jodi. Jelas akan dengan mudah Jodi mengeceknya. Namun karena sedang mengobrol dengan Ibra dan Laras. Menjadikannya menunda.


Obrolan yang begitu asik tentang bisnis. Sesekali menoleh pada kedua wanita yang dengan antusiasnya mengajak bermain baby boy.


Jodi pun jadi ingin bergabung dengan mereka mengajak bermain baby Satria, Jodi mencium pipi gembul baby Satria yang ada di gendongan Caca.


Kemudian, Jodi dan Caca di ajak Laras jalan-jalan mengenali semua ruangan di mension ini.


"Gila, gak cape nih jalan sana sini?" desah Jodi.


"Kan pake lift, lagian pekerja banyak. Sekalipun aku dan suami tinggal di rumah yang di sana. Asisten di sini tak ada pengurangan," ungkap Laras.


Ibra barusan mendapat tamu yang lebih penting. Jadi gak ikut jalan-jalan.


"Jadi dulu kamu tinggal di sini, bareng madu juga?" tanya Jodi menatap ke arah Laras, Caca pun menatap ikut penasaran.


"Iya, tapi kamu berjauhan, seperti aku di lantai empat. Yang lain di lantai 2 3 sangat berjauhan." Kenang Laras.


"Kok bisa kamu mau dinikahi pria beristri 3 sih? tapi tidak usah di jawab kok. Aku sudah tahu semuanya," ucap Jodi. Matanya perhatikan semua sudut ruang dan dekorasi di sana.


"Oya, apa Dian mengundang kamu. Untuk ke acaranya?" tanya Laras menatap Jodi yang berjalan ke arah jendela.

__ADS_1


"Dian, Tentu. Aku di undang dong, tinggal beberapa hari lagi kan?" jawab jodi sambil menoleh.


"Iya, gimana kalau kita datang nya barengan Ca. Kalian ke sini dulu atau gimana?"


"Kalau kita ke sini dulu jauh lagi, La ... kecuali kita janjian di mana gitu." Timpal Jodi.


"Emang mengadakan acaranya di mana?" akhirnya Caca nimrung.


"Agak jauh sayang dari sini," sahut Jodi.


"Ci-cieh ... panggilannya sayang. Jadi iri deh." Goda Laras. Membuat Caca tersipu malu.


"Ngapain iri sayang ... kan sayang kamu ada di sini," suara Ibra yang tiba-tiba muncul di situ merangkul bahu Laras.


"Aduh, aku peluk siapa nih? masalahnya kita belum halal Ca." Gumam Jodi seolah memeluk seseorang di sampingnya. Padahal memeluk anggin.


Caca tersenyum. "Apaan sih?"


"Habis dari tadi pamer kemesraan terus, aku kan jadi pengen. Ha ha ha ..." Jodi tertawa.


"Makanya cepetan, biar bebas." Timpal Ibra sambil melirik sang istri. "Iya gak sayang?"


"Iya, gak kagok lagi."


"Aku kira sih. Kalau Caca pasti dia akan memberikan suka rela , tanpa dipinta apalagi di paksa deh sayang," ucap Ibra pada Laras sambil menaik terunkan alisnya.


Netra mata Laras membulat dengan sempurna. "Nyindir! itu lain cerita Abang ..." jari Laras mencubit pinggang Ibar.


"Abang?" Laras menyeruak memeluk tubuh sang suami menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ibra. "Malu tau!"


Jodi dan Caca saling bertukar pandangan. Dengan bibir tersenyum simpul.


"Ha ha ha ..." Ibra tertawa dan membalas pelukan sang istri.


"Itu kan lain ceritanya. Pastilah siapapun akan merasa malu." Laras mendongakkan wajahnya.


"Iya sayang, iya. Gimana kalau kita makan malam dulu yu?" ajak Ibra pada Jodi dan Caca. Tangannya menggandeng tangan Laras dengan sangat mesra.


"Aduh ... jangan di tontonkan terus dong, kemesraannya. Aku kan jadi pengen hik hik hik." Canda Jodi sambil berjalan.


Ibra hanya tersenyum, begitupun Laras dan Caca. Setelah menyusuri lorong atau ruang yang ada di mension tersebut, Akhirnya mereka sampai di meja makan yang sudah tertata menu-menu masakan yang siap di cicipi.


"Baby Satria sudah bobo ya Sus?" tanya Laras pada Susi yang sudah berada di dapur.


"Sudah, Nya. Baru saja aku tidurkan." Jawab Susi sambil membantu asisten lainnya.


Laras mengambilkan piring beserta isinya untuk Ibra, sang suami. Setelah itu barulah untuk dirinya sendiri.


"Ayo makan, jangan sungkan-sungkan." Ibra menoleh pada Jodi dan Caca.


Semuanya makan malam dengan sangat lahapnya. Para asisten pun makan di meja yang satu lagi, meja yang biasanya di pake menjamu tamu dari kantor.

__ADS_1


Pak Marwan dan istri, Ibra, Laras. Jodi dan Caca terus berbincang, di sela makannya. Tentang acara besok dan acara pernikahan Jodi, Caca nantinya.


"Emang acaranya kapan?" tanya Ibra setelah menelan makannya.


"Awal bulan depan, insyaAllah." jawab Jodi.


"Berarti kita pulang dari liburan ya sayang?" netra mata Ibra menoleh sang istri.


"Iya, kalau berangkatnya agak sini. Apa undur aja?" goda Laras pada suaminya sambil mesem.


"Nggak-gak bisa sayang. Gak bisa di undur lagi, bisa mati berdiri sayang aku." Suara Ibra pelan sambil menggeleng.


Laras menunjukkan senyum simpulnya. Merasa lucu dengan ekspresi wajah lesu Ibra.


"Sayang, Mama kasih saran ya untuk kalian berdua. Sebelum liburan kasih dulu, jadi gak akan mati berdiri tuh sayang." Bisik bu Rahma pada Laras yang senyum-senyum sendiri.


"Ah, Mama. Nggak dukung anak nya nih," gerutu Ibra pada sang ibunda.


"Loh, sayang ... ini Mama lagi dukung lah, makanya kasih saran yang menguntungkan buat mu." bela bu Rahma.


"Ah, gak mau kalau di sini-sini juga. Gak asik. Pengen suasana yang baru Mah ..." gumam Ibra.


"Ya, terserah." Laras sok cuek.


Tak selang lama makan malam pun selesai. Diakhiri dengan air putih.


"Nanti sajalah, liburannya bareng-bareng kita ya Ca?" Jodi menoleh pada calon istrinya.


Laras melirik sang suami. "Iya sayang ya? liburannya bareng-bareng. Biar ramai."


"Pengen secepatnya titik!"


Laras memanyunkan bibirnya. Kemudian mengalihkan pandangan pada Jodi dan Caca. "Kayanya, tiga hari lagi juga kami berangkat. Lain kali saja kita liburan barengnya."


"Itu gampang, bisa diatur." Jodi mengangguk.


"Kalau aku sih sebenarnya, gak harus liburan sih, biar di rumah dibuat nyaman saja. Dan lebih ekonomis kan? gak harus buang banyak uang juga," ungkap Laras.


"Bener sih, tapi kadang otak ini pengen represing juga." Timpal Caca.


Waktu sudah menunjukan kalau suasana beranjak larut malam, Jodi pun pamit dan mengajak Caca pulang. Hatinya sudah tak sabar untuk mengungkap kebenaran tentang sesuatu di rumah.


Ibra dan Laras mengingatkan kalau besok wajib datang dan jangan lupa ajak paman Mulyadi ke mension ini, dimana akan diadakannya acara empat puluh hari baby Satria.


Jodi dan Caca sudah berada di dalam mobil, Laras melambaikan tangan pada Caca. Sampai mobil tersebut menghilang dari pandangan. Dan barulah Laras serta suami masuk. Berjalan menuju kamarnya yang harus melewati lift terlebih dahulu.


Di dalam Lift. Ibra dan Laras saling berpelukan, Laras menenggelamkan wajahnya di dada Ibra ....


****


Sudah baca kan? semoga kalian tetap suka dengan jalan cetitanya. Kau tidak bosan tuk meminta dukungan atas novelku yang "Bukan Suami Harapan"

__ADS_1


__ADS_2