
Ibra menatap tajam. "Apa yang kalian lihat, apa ada yang aneh dari saya?" Ibra berdiri dengan pandangan yang menyapu semua yang ada di situ.
Semuanya menunduk, jangankan menjawab. Menatap saja mereka tak beran ini lagi, tak berani mengangkat kepala.
Langkah Ibra kembali teratur. "Jangan pernah berpikir yang macam-macam tentang saya, tentang wanita tadi. Tidak ada apa-apa dengan saya."
Para karyawan tetap diam, membisu seribu kata. Tetap menunduk dalam dengan hati yang masing-masing berdebar.
Zayn hanya menyunggingkan senyum dan menatap tajam ke arah bawahnya itu. Ia terus mengekor Bosnya dari belakang.
Ibra tampak kembali merasa kesal. Jangan akan ada dampak dari kejadian tadi. Hati Ibra menjadi kacau, namun Ibra mencoba menenangkan dirinya.
"Urus kejadian tadi jangan sampai berdampak buruk," Gumam Ibra sambil melirik ke arah Zayn yang duduk di samping, sedang memasang sabuk pengaman.
"Oke, tenang aja Bos. Semua bisa diatur." Zayn mengangguk dan segera memutar kemudi.
Ibra mengangguk setuju, hatinya khawatir kalau kejadian tadi menyebar fitnah yang tak bermutu.
Perjalanan ke mension, begitu mulus dan tak ada halangan sama sekali. Mobil yang melesat bak anak panah yang keluar dari busurnya, melewati kuda-kuda besi yang lainnya. Sudah sampai di pekarangan mension.
****
Di kamar, Laras sedang melakukan senam kegel. Di sela baby boy tidur, sedang asyik-asyik nya senam. Baby boy bangun.
Oak ... oak ....oak ....
Laras bergegas beranjak. "I-iya, sayang ... Mammy. Di sini."
Laras cepat-cepat menghampiri dan mengangkat dan segera memberikan asi nya pada baby Satria. Baby Satria langsung berhenti nangis, bu Rahma datang tatkala mendengar baby boy bangun dan menangis.
"Sudah bangun ya cucu Oma? yang ganteng dan tampan." Bu Rahma mencium kepala baby Satria.
"Iya, Oma ... baby Satria baru bangun, akyu lapar Oma ..." jawab Laras melirik sang mama mertua.
"Em ... kelihatan sekali ya lapar nya ya? cucu Oma lapar ya?" bu Rahma mengajak baby boy ngobrol. Yang dia ajak ngobrol cuma menggerak-gerakkan matanya yang bening itu.
Laras menggenggam tangannya yang mungil dan di cium gemas pake banget.
"Nya, ada tuan Mulyadi di luar," kata Susi berdiri di depan pintu yang terbuka lebar itu.
Laras dan bu Rahma menoleh ke arah Susi. "Suruh masuk aja Sus." Titah Laras.
"Sudah, ada di ruang tamu," sahut Susi sambil menunjuk.
"Oh ... sebentar aku keluar." Laras berdiri dengan hati-hati membawa baby boy. Diikuti oleh bu Rahma.
Tadinya Laras ingin mengenalkan pak Mulyadi dengan bu Rosa. Namun bu panti sudah pulang dari pagi bersama anak-anak, kebetulan mereka mau sekolah.
langkah Laras sudah sampai di ruang tamu. Tampak pak Mulyadi bersama perawatnya, Caca. Ia langsung menunjukkan rasa senangnya kedatangan sang paman, dengan cara mengulas senyum yang mengembang.
"Assalamu'alaikum, La ... mana mana baby boy nya? Kakek kangen nih." ucap pak Mulyadi. Ketika Laras muncul.
"Wa'alaikum salam ... apa kabar Paman? aku senang kita bisa bertemu lagi. Kakek sayang, beliau kangen sama baby boy katanya." Mata Laras mengarah ke baby boy yang sudah merasa kenyang. Matanya lihat kanan dan kiri, seolah mendengar dan mengenali suara-suara di sekitarnya.
"Iya, kakek kangen. Mana si ganteng kakek hem?" jari pak Mulyadi mengusap lembut kepala baby boy.
"Wah ... tambah lucu. Dah berapa hari nih? tambah besar aja," tanya Caca yang mendekat pada baby Satria.
"Sudah sepuluh hari ya Mah?" Laras melihat sang Mama mertua yang duduk di seberangnya Laras.
"Iya, 10 hari." Tambah bu Rahma mengangguk membenarkan perkataan sang mantu.
"Nggak terasa ya? rasanya baru kemarin deh nengok di Rumah sakit. Eh ... sudah sepuluh hari aja nih baby boy." Caca mengambil baby boy dari pangkuan Laras.
Laras tersenyum. Melihat Caca yang menggendong baby Satria yang tangannya bergerak-gerak.
"Ih ... gemes ... aku gemes. Pengen cubit, pengen gigit pipinya." Gumamnya Caca. Ia tampak sangat suka dengan baby.
"Suka ya sama baby?" tanya Laras pada Caca.
"Em, banget. Suka banget Mbak." Caca mengangguk. Dan berdiri memangku baby boy. Membawa jalan mondar-mandir.
"Kamu sendiri gimana La, sehat?" tanya pak Mulyadi menatap sang ponakan Laras.
"Alhamdulillah Paman, aku sehat." Jawab Laras.
"Syukurlah, oya Marwan kemana? sedari tadi saya tak melihatnya." Pak Mulyadi melirik bu Rahma yang tampak melamun.
Mendengar suara pak Mulyadi, bu Rahma menoleh. "Oh, suami saya sudah terbang ke luar Negeri. Sedang ada urusan."
"Oh, pantas saya tidak melihat beliau." Tambah pak Mulyadi. kembali. Kemudian menunduk.
"Oya, sayang. Mama mau menyiapkan makan siang dulu," ucap bu Rahma sambil beranjak dari duduknya. Lalu meninggalkan tempat itu.
Laras cuma mengangguk dan tersenyum. "Tadinya aku mau kenalin Paman sama bu Rosa. Ibu panti yang sudah merawat ku dari kecil." Laras mengalihkan pandangan pada sang paman.
Pak Mulyadi menegakkan duduknya. "Oh, iya. Paman juga ingin sekali bertemu dengan dia, ingin berkenalan dan berterima kasih, karena telah merawat serta menyayangi kamu La ..."
"Iya, lain kali lah. Aku pertemukan kalian ya." Tambah Laras.
__ADS_1
"Mbak. Baby boy nya bobo Nih." Caca memberikan baby ke mammy nya.
"Oh, bobo lagi sayang. Yu bobo di tempatnya," tangan Laras menggendong baby Satria. "Sebentar ya? aku bobokan dulu si kecil, Paman."
"Ya ... silakan La ..." pak Mulyadi mengangguk kemudian meneguk minumnya sampai tersisa setengahnya.
Caca duduk kembali di tempat semula. Mengambil album foto dari bawah meja lalu membukanya. Sambil senyum-senyum melihatnya. Ya itu foto-foto Laras dan baby juga suami.
Pak Mulyadi menatap lekat pada Caca. Perawat yang belum lama ini merawatnya. "Suster?" panggil pak Mulyadi.
Caca menoleh. "Iya, Tuan. Apa ada yang perlu saya bantu.
"Nggak. Apa sudah suster sudah punya calon?" selidik pak Mulyadi sembari menatapnya.
Caca mengernyitkan keningnya. Ia terheran-heran mendengar pertanyaan pak Mulyadi. "Em ... tidak." Caca menggeleng.
"Ah yang bener?" tanya pak Mulyadi tak percaya.
Bibir Caca tertarik, tersipu malu. "Apa Tuan butuh sesuatu?" Caca mengalihkan pembicaraan.
"Oh, bisa antar saya ke kamar mandi?" pak Mulyadi ingin ke toilet.
"Baiklah." Caca beranjak. Berjalan mendekati dan mendorong kursi roda pak Mulyadi.
"Kalian mau ke mana?" kebetulan Laras sudah kembali dari menidurkan baby nya.
"Mau numpang ke toilet La ..." pak Mulyadi menjawab.
"Oh, yu aku tunjukan kamar mandinya." Laras duluan jalan menunjukan Toilet.
Lanjut, Laras ke meja makan. Melihat Susi dan bu Rahma yang membantunya, menyiapkan makan siang mereka.
"Hem ... baunya ... masakan sup ala Susi." Gumamnya Laras sambil mencium wanginya masakan yang baunya menyeruak ke seluruh ruangan.
"He he he ... Nyonya bisa aja." Susi senyum-senyum.
"Mumpung si kecil bobo. Makan sayang. Semuanya sudah matang nih," suruh bu Rahma supaya Laras makan duluan.
"Sebentar, Mah ... nunggu paman sebentar." Laras pun duduk dan menyiapkan piring untuknya. "Lebih baik kita makan sama-sama Mah."
Tidak lama pak Mulyadi kembali dengan Caca. Langsung Laras panggil, agar mereka makan bersama. "Paman, Caca ... sini. Makan dulu."
Caca mendorong pak Mulyadi dan menempatkan di sebrang Laras. Berdampingan dengan dirinya.
"Aduh, jadi merepotkan nih." Gumam pak Mulyadi, netra matanya menatap menu-menu yang tersedia di meja.
"Merepotkan apa, Mas. Biasa aja, silakan makan," ucap bu Rahma sambil mengambil makan untuknya sendiri.
Bu Rahma yang menyadari jadi bahan pandangan, menoleh dengan penuh rasa heran. "Kenapa?"
Laras dan pak Mulyadi menggeleng. "Ah tidak." berbarengan.
Pada akhirnya bu Rahma menggeleng pelan, kemudian memasukan makan ke mulutnya. tidak ngeh dengan ucapannya tadi yang membuat Laras dan pak Mulyadi bengong menatap ke arahnya.
Pak Mulyadi di balik makannya mesem-mesem. Berasa jaman dulu ketika masih muda dan berhubungan dekat.
Laras melahap makannya. kebetulan napsu makannya pun meningkat. "Mah ... boleh gak aku makan sambal dikit aja." Rengek Laras pada sang mertua.
"Aduh sayang ... baiknya jangan ya. Nanti perutmu dan si baby gak nyaman sayang," sahut bu Rahma. Namun tidak tega juga dengan mantunya itu yang berwajah sedih. "Boleh. Tapi jangan banyak-banyak."
Bibir Laras tertarik. "Makasih Mah...."
"Susi. Lain kali kalau bikin sambal, kurangi pedasnya ya. Biar Nyonya muda bisa makan, satu lagi. Kalau masak minyak atau yang berlemak nya kurangi juga, gak baik buat Nyonya muda. Nanti tubuhnya meral." Bu Rahma menoleh ke arah Susi yang sedang makan juga.
Caca pun menoleh Susi. "Itu benar, minuman berkafein, bersoda atau yang ada zat asam nya juga gak boleh buat ibu yang baru melahirkan."
"Iya, Nyonya besar dan Mbak suster. Susi sudah diingatkan." Susi mengangguk. Pada keduanya.
"Daging domba, kambing. Sapi juga jangan banyak-banyak atau berlebihan. Bikin panas perut." Tambah bu Rahma kembali.
"Iya, Mah ... iya!" akhirnya Laras bersuara kembali setelah menelan makanan di mulutnya. "Tapi berasa ingin makan sate deh Susi." menoleh ke arah Susi.
"Nanti Susi pesankan."
"Sus. Mas Irfan kenapa gak di ajak makan? suruh makan dong, gimana sih?" protes Laras saat ia ingat kalau di rumah ini ada Irfan.
"Ya ... ampun iya Nya. Lupa!" Susi langsung beranjak mau mencari Irfan yang tadi bersih-bersih dan menanam bunga.
Bu Rahma pun sama sekali tidak ingat. "Iya, sayang kok Mama juga lupa."
"Iya, Mah." Laras mengangguk.
"Pria yang tadi di depan bukan?" selidik pak Mulyadi.
"Benar Paman. Dia pekerja di sini," sahut Laras.
Tidak lama Susi kembali dengan sosok Irfan yang berjalan menuju meja, sebelum duduk. Dia mengangguk hormat pada yang ada di sana, kemudian baru duduk. Bersiap makan siang.
Laras sudah selesai duluan dan pergi ke kamarnya, tuk melihat baby boy yang mungkin bangun tak kedengaran suaranya.
__ADS_1
Namun setelah di cek. Baby boy masih tidur nyenyak, akhirnya Laras kembali ke ruang di mana ada pamannya bersantai setelah makan siang bersama.
"Masih bobo ya Mbak?" tanya Caca pada Laras.
"Iya, suster Caca. Masih nyenyak."
"Assalamu'alaikum?" suara bu Lodia yang tiba-tiba muncul di tempat itu. Menyeruak masuk.
Semua menoleh dan menjawab salam dari bu Lodia.
"Wa'alaikumus salam ..." serempak.
"Laras mana si baby boy. Mommy dah kangen sama si baby boy," sambung bu Lodia sambil memeluk Laras dan bu Rahma bergantian.
Kemudian bersalaman dengan pak Mulyadi dan Caca. Bu Lodia duduk di sana, matanya mencari baby boy yang tak ada di sana.
"Besan sendiri?" tanya bu Rahma pada bu Lodia.
"Iya, sendiri. Nanti Dian nyusul ke mari, saya ingin bertemu dengan baby boy. Kangen." Jawabnya. Dengan napas sedikit terengah.
"Em ... lagi bobo, tapi coba kita lihat. Kangen, kan? yu ikut saya." Ajak bu Rahma.
Bu Lodia pun mengikuti langkah bu Rahma yang berjalan menuju kamar Laras.
Sementara Laras hanya bisa mengulas senyumnya. Tak tahu lagi harus berkata apa? yang jelas bahagia, ia bahagia sebab banyak yang turut berbahagia akan kelahiran baby boy Satria. Termasuk mertua sang suami, alias ibunda dari Dian mantan istri Ibra.
"Senang rasanya. Melihat orang-orang begitu bahagia dengan hadirnya baby Satria," ucap pak Mulyadi matanya mengarah Laras.
"Iya, Paman. Aku juga merasa begitu. Bukan kita saja yang sayang baby Satria." Timpal Laras.
"Alhamdulillah ya? baby Satria banyak yang suka dan sayang," sambung Caca.
"Hem ..." Laras menganggukkan kepalanya pelan.
Oak ... oak ... oak ... suara baby boy. Rupanya dibuat bangun dengan kehadiran bu Lodia.
Suara baby Satria. Semakin kencang nangisnya. "Ya ... ampun ... baby boy bangun?" ungkap Laras sambil mengambil dari tangan bu Lodia yang tak henti memberikan kecupan pada pipi dan kepala baby Satria yang sedang mengambil sumber asi dari sang bunda.
Bu Lodia duduk dekat Laras dan jarinya menusuk pelan pipi baby Satria yang elastis itu. "Mommy gemas banget, iih ... pengen sekali gigit deh ha ha ha ...."
"Cakit dong Oma ... kalau aku di gigit ya? sayang." Kata Laras. Menatap baby boy yang mata beningnya menatap, seolah berusaha mengenali wajah sang bunda.
"Iya-ya ... Oma jahat dong. Sama baby boy? Nggak-gak. Oma sayang kali sama kamu Nak," sambung bu Lodia kembali.
Bu Rahma menatap wajah besannya yang tampak tulus menyayangi cucunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat Dian yang tak bisa mempunyai anak. "Semoga Allah memberi keajaiban pada Dian. Sehingga bisa memiliki momongan nantinya." Batin bu Rahma.
"Kita sama-sama menyayangi baby Satria ya bu Lodia? anggap saja baby boy ini cucu kita berdua." Lirihnya bu Rahma pada bu Lodia.
"Iya besan. Saya jatuh cinta sama si kecil ini." Timpalnya bu Lodia.
"Saya senang sekali. Keluarga ini begitu akur, saling menyayangi satu sama lain. Tentram lah. Melihatnya." Kata pak Mulyadi dengan senyuman di bibirnya menggambar kan rasa bahagia.
"Tentu dong. Biar anak kita tidak lagi ada ikatan, tapi hubungan kita akan selalu baik ya besan?" sahut bu Lodia menjawab perkataan pak Mulyadi. Yang anggukkan oleh bu Rahma.
Suasana seperti itu berlangsung sampai sore. Sampai Dian menjemput sang bunda. Namun sebelum pulang, ia pun mencurahkan rasa rindu pada baby boy. Di pangkunya, di peluk dan diciumnya berkali-kali. Setelah itu barulah pamit pulang meskipun berat, masih ingin bermain dengan baby boy.
Tatkala Dian dan sang bunda mau pulang, Jodi datang. Mereka pun berbincang sebentar, hingga akhirnya Dian meneruskan niatnya untuk pulang. Jodi pun melambaikan tangan pada Dian, sebelum mobilnya menghilang dari pandangan.
Kemudian Jodi masuk, lantas menengok keponakannya, baby boy yang makin menggemaskan. Dan berada dalam gendongan Caca. Laras nya kebetulan sedang berada di kamar mandi.
"Kamu pas banget loh gendong baby," ungkap Jodi sembari menyeringai.
Caca menunjukan senyumnya. "Bisa aja. Suami aja gak punya gimana mau punya anak?"
"Mau gak kalau aku jadi suami mu?" netra mata Jodi menatap netra mata Caca sekilas. Kemudian mengalihkan pandangan ke baby boy. Di usapnya kepala baby Satria.
Caca bengong. Ia memikirkan pertanyaan Jodi barusan, entah benar ataupun cuma bercanda? namun cukup membuat jantung Caca berdebar tak menentu. Berdegup lebih kencang dari sebelumnya, ia menunduk sembari mengajak bermain baby boy.
"Hai ... La. Apa kabar?" sapa Jodi dikala Laras. Menghampiri tempat mereka duduk. Pak Mulyadi duduk agak jauh dari Caca dan Jodi duduk.
"Hai ... juga Jodi, Baik alhamdulillah." Jawab Laras dihiasi senyum ramahnya.
"Eh, Nak Jodi kapan datang?" bu Rahma bergabung kembali bersama mereka.
"Oya, Tante. Baru saja, mau jemput ayah." Jodi mengangguk.
"Oh ... bukannya mau nginep?"
"Nggak Tante.Lain kali lah." Jodi mengajak ayang dan susternya tuk pulang.
Pada akhirnya, Caca dengan berat hati memberikan baby boy pada ibunya. Laras.
"Em ... wangi, dah mandi. Dah cakep. Tante tinggal dulu ya ganteng," ucap Caca mencium pipi baby Satria yang sudah berada di dalam gendongan Laras.
"Iya, Tante. Nanti lain kali main lagi ya?" timpal Laras sambil menunjukan ke ramah nya itu.
Setelah berpamitan, Mereka pun memasuki mobil Jodi. Laras cuma mengantar sampai dekat pintu depan saja. Suasana di luar sudah senja, katanya baby itu jangan di bawa keluar sore-sore. Masih wangi, katanya orang tua dulu. Laras pun segera membawa baby boy masuk setelah mobil Jodi keluar dari halaman rumah ....
****
__ADS_1
Hai ... SKM nih semoga puas ya, oya jangan lupa like & komentarnya, agar aku tambah semangat nih🙏