
Ibra menempelkan kedua telapak tangan ke meja. Pandangannya menatap kosong, hatinya yang terus bergejolak tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Satu-satu istrimu akan di halau! keluar dari rumah, tinggal satu atau dua saja. Itu pun bila kau pilih keduanya. Kalau menurut aku sih, kau akan sulit menentukan pilihan diantara dua itu!" mata Zayn memicing kearah Ibra.
Ibra mengulum lidahnya sembari menoleh Zayn yang dia rasa sok tahu. "Haa! sok tahu kamu. Tapi ... benar juga sih!"
"Aku tahu otak dirimu, yang sudah mulai jatuh cinta sama istri muda mu, itu! ngaku aja bro?" lagi-lagi Zayn sok tahu.
"Ah, bisa saja." Ibra mengulum senyumnya, sembari memandang lepas ke luar jendela.
Beberapa waktu kemudian Ibra membuka kembali berkas yang Zayn bawa. Ibra membuka foto satu demi satu, foto di mana salah satu istrinya tengah dekat dengan seorang laki-laki bahkan adegan bercinta pun ada di situ.
"Sebentar lagi kamu akan merasakan akibatnya! dari apa yang kamu buat. Aku tidak akan segan-segan membuang dirimu dari kehidupan ku, selamanya," gumam Ibra.
"Itu baru kawan ku ... jangan mau dipermainkan oleh seorang wanita yang hidupnya juga ada di tangan mu! bila kau lempar! lambat laun kehidupannya akan hancur berantakan. Saya tak bisa membayangkan gimana terpuruknya kehidupan dia, dan dia akan bersimpuh di kaki mu, bro!" Zayn begitu yakin, dan Ibra hanya melirik saja.
"Pria itu seorang mahasiswa, yang setiap harinya bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Wanita itu sesungguhnya ular berbisa yang suatu saat akan menelan dirimu. Dari sekarang mereka sudah menyusun rencana untuk mendapatkan yang mereka mau, jadi jika kamu terlambat satu atau dua tahun lagi! bisa-bisa kamu--"
"Cukup! jangan diteruskan lagi. Aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Masih untung! dia tidak mau hamil anak ku, kalau saja kebalikannya? saya tidak bisa membayangkan itu." Ibra menggeleng.
Zayn mengangguk-anggukan kepalanya. "Ngomong-ngomong kapan kau akan bertindak?"
"Sebentar lagi, sampai aku menemukan waktu yang tepat. Saya tidak ingin terburu-buru dalam membuat keputusan," ucap Ibra.
"Oh." Zayn mengangguk.
"Tolong pesankan saya bunga mawar yang indah dan beri ucapan happy birthday! yang ke 25 tahun tanggal 22 februari besok. buat seseorang."
Zayn mengernyitkan keningnya! heran. "Buat siapa tuh? apa kau mau memberi kenangan yang terakhir pada istrimu itu!"
"Mau tau saja! nanti aku chat lewat WhatsApp saja," sahut Ibra sambil menarik sudut bibirnya.
"Oke."
****
Di kebun buah. Laras dan Susi sedang memetik buah mangga yang baru mengkal. "Itu Sus! yang masih muda, kayanya enak tuh bila di rujak." Laras menunjuk mangga muda.
"Yang ini juga! yang mengkal, enak Nyonya bila di rujak," sahut Susi.
"Oke! sambal kacang ya Sus?" Laras berkali-kali menelan ludahnya yang hampir keluar. Sudah tidak tahan membayangkan makan rujak itu.
"Iya. Nyonya, nanti Susi buatkan sambal yang enak."
"Makasih?" sambil memakan buah yang masih segar-segar! hasil metik dari pohonnya langsung.
__ADS_1
"Em ... enaknya ... manis ... sekali!" gumam Laras sambil memejamkan matanya betapa sangat menikmati buah tersebut. Tambah angin yang semilir nikmat menyapa kulit. "Hem ...."
"Sudah cukup buahnya Nyonya, baiknya kita pulang saja. Nanti keburu panas nih," ungkap Susi sambil menjinjing keranjang buah.
"Yuk!" sahut Laras sambil mengunyah buah apel.
"Nyonya?" panggil Susi dari belakang.
"Iya, ada apa Sus?" Laras menoleh ke belakang.
"Boleh! saya bertanya?"
"Em ... boleh. Mau tanya apa itu?" sahut Laras sambil terus berjalan.
"Eh ... Nyonya betah di sini?" tanya Susi.
"Be-betah lah, kalau gak betah pasti saya minta di pindahkan. Ke kutub utara hahaha," timpal Laras sambil tertawa.
"Ah. Nyonya bisa saja. Jauh dong kalau pindah ke kutub utara? ada-ada saja." Susi nyengir dan menggeleng.
Setelah beberapa waktu berjalan akhirnya mereka sampai di dapur. Susi langsung mencuci buah dan memotong nya kecil-kecil. sementara Laras ke kamar mau bersiap! sebentar lagi Ibra pulang untuk makan siang.
Dering ponsel berbunyi tanda notifikasi masuk, dan itu dari Malik Ibrahim.
^^^Ibra: "Apa kamu mau saya bawakan sesuatu?"^^^
^^^Laras: "Tidak. Tuan, aku tidak mau apapun!"^^^
^^^Ibra: "Yakin?^^^
^^^Laras: "Yakin, Tuan, aku gak mau apa-apa."^^^
^^^"Ya, sudah." Ibra menutup sambungan teleponnya.^^^
"Apa coba? bingung! toh semua tersedia kok." Laras membuka pintu kamar, menuju lift untuk menyambut kepulangan Ibra.
Rupanya di lobby. Sudah ada Mery dan Yulia sepertinya sedang menunggu kepulangan Ibra. "Tumben! jam segini sudah ada di mension? biasanya juga paling ketemu bila waktunya malam datang saja," batin Laras.
"Tumben dua serigala itu sudah ada di mension Nyonya! biasanya juga paling malam saja lihat mereka," suara bu Rika lirih.
Laras melirik bu Rika yang berdiri di dekatnya. "Iya, bener BuRik! pikiran aku juga sama begitu."
"Sepertinya ada udang di dalam wajan nih," sambung bu Rika lagi.
"Hahaha! di goreng dong BuRik?" Laras mengukir senyumnya.
__ADS_1
"Em ... maksud saya ada maksud tertentu," timpal bu Rika. Matanya mengawasi kedua majikannya yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Jangan begitu BuRik! wajarlah, kan mereka istri tuan. Jadi mungkin mereka ingin lebih baik dari sebelumnya. Pengen jadi istri yang baik." ujar Laras berpikir positif saja.
Bu Rika menatap Laras sangat lekat, seraya berkata dalam hati. "Ini orang pikirannya lurus ... gitu ya. Padahal dia tahu kalau mereka suka nyinyir! dan saya tahu siapa mereka itu sebenarnya."
Di tempat Yulia dan Mery berdiri. Mereka saling adu argumen.
"Tumben kamu ada di rumah jam segini? gak ada pemotretan apa! atau sudah gak laku?" suara Yulia agak sinis.
Mery mendelik. "Hi ... maksud kamu apa? Tumben juga ada di mension! biasanya juga sibuk di univ! dan kamu sendiri buat apa siang bolong pake baju tipis gitu? gak pada tempatnya kali ... ah."
"Aku sih lagi ngambil kuliah setengah hari saja. Makanya sudah siap menyambut suami, lihat penampilanku menggoda bukan?" jelas Yulia, sambil memperhatikan penampilannya sendiri.
"Kamu ... pasti sudah gak laku ya? makanya jam segini sudah ada di mension! apa mau mengambil hati suami juga?" tanya Yulia memandangi Mery.
"Enak saja, kamu bilang aku sudah gak laku segala! masa iya sih. Jelas-jelas aku cantik, manis. Menarik, body bohai. Apa sih yang kurang hem?" ketus Mery sambil memperlihatkan body nya yang memang bohai.
Iringan mobil memasuki halaman yang luas, yang paling depan! tentunya mobil Ibra yang dikemudikan oleh Zayn.
Ibra berjalan dengan gagah, berwibawa. memancarkan kharismanya, memasuki lobby. Melihat Laras dan buRik itu sudah biasa! tapi ketika melihat Yulia dan mery ada di situ hendak menyambut dirinya. Jelas Ibra merasa heran.
"Tumben mereka ada di mension, dan menyambut ku segala? kemana saja selama ini!" gumam Ibra dalam hati.
Laras yang lebih dulu menyambut Ibra dan mencium punggung tangan Ibra. Diikuti Yulia dan Mery! ikut-ikutan menirukan tingkah Laras bila menyambut kepulangan Ibra.
"Tumben kalian berdua ada? biasanya juga entah di mana?" tegas Ibra menatap keduanya tanpa ekspresi.
"Aduh, sayang ... emangnya cuma Laras saja yang boleh ada di mension dan menyambut mu pulang?" sahut Yulia sambil memegangi tangan Ibra sebelah kanan.
"Iya nih, memangnya aku gak boleh ya menyambut suami tercinta dan melayaninya?" sambung Mery bergelayut mesra di tangan kiri Ibra.
Ibra merasa muak dengan ucapan keduanya. Namun dia harus jaga imeg ketika berada diantara koleganya.
"Ehem," dehem Zayn yang berjalan di belakang Ibra.
Ibra menoleh ke belakang. "Kau temani yang lain! saya mau mandi dulu."
Zayn mengangguk dan berlalu mendahului Ibra bersama yang lainnya.
Kemudian melirik kearah Laras yang berjalan bersama buRik. "Laras! seperti biasa siapkan keperluan saya!" tegas Ibra sembari melepas tangan dari Yulia dan Mery.
"Sayang! biar aku saja yang menyiapkannya ya?" Yulia menghadang langkah Ibra ....
,,,,
__ADS_1
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis.