Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Rasa rindu


__ADS_3

Irfan dan orang itu bersitatap dari kejauhan, Irfan yang duduk sendiri di meja lain. Membuat lebih leluasa mengawasi atau menjaga majikannya dari orang yang jahat.


"Sayang, kapan akan ajak kami ke makam orang tua mu?" tanya bu Rahma di sela makannya.


Laras bengong sejenak, memang benar sudah lama juga ia tidak berziarah kubur orang tua nya. Terakhir ke sana itu sebelum menikah, sampai sekarang belum ke sana lagi. "Besok pagi aja, Mah, kita ke sana. Aku juga sudah lama tidak berziarah," ucap Laras lantas menunduk mengaduk minumnya.


"Besok, siap ya Pa?" bu Rahma melirik sang suami yang langsung balas dengan anggukan. "Mama siap banget. ingin dari lama ke sana."


"Iya, besok aja. Aku juga kangen." Dengan nada haru, jadi ingat kedua orang tua yang telah tiada semenjak ia kecil.


"Jauh gak sayang?" tanya bu Rahma kembali.


"Lumayan Mah paling lambat satu jam," sahut Laras.


"Dari lama ya Nya, beliau--"


"Iya, dari aku masih kecil," suara Laras memotong ucapan Susi.


"Oh." Susi.


"Makanya, aku di titipkan ke panti oleh paman," kenang Laras terlihat berkaca di matanya.


Bu Rahma mengusap punggung Laras. "Paman? apa pernah kami bertemu dengan pamannya kamu, sayang." Selidik bu Rahma. Pak Marwan pun mengangguk penasaran.


Laras menggeleng. "Tidak, aku aja terakhit bertemu jauh sebelum menikah."


"Tahu rumahnya? pak Marwan jadi kepo.


"Tidak juga, Pak." Lagi-lagi Laras menggeleng.


"Loh, kok? tapi ya sudah. Semoga besok atau lusa bertemu lagi." Tambah bu Rahma.


Irfan yang di sebelah hanya mendengarkan obrolan sang majikan.


Di meja yang ada di pojokan Dian dan Jodi sedang menikmati makan malamnya sambil mengobrol. Sesekali Dian melirik Irfan, orang yang menunjukan kelakuannya waktu di Lombok itu.


Jodi, merasa senang bisa melihat Laras di sana. Walau hanya bisa sebatas memandang, rasanya belum saatnya juga untuk membicarakan kalau mereka sepupu'an. Biarlah nanti cari waktu yang tepat. Pikirnya.


"Jodi?" panggil Dian sambil menyedot minumnya.


"Hem, ada apa?" Jodi mengalihkan pandangannya dari Laras ke Dian.


"Sepertinya ... kamu suka sama madu ku?" ucap Dian menatap ke arah Jodi.


"Ah, gak juga. Biasa aja."


"Nggak usah ngelak, aku tahu kamu itu menyimpan perasaan sama dia. Iya sih ... sekarang dia istri orang, tapi siapa tahu suatu saat suaminya lebih memilih aku dan melepaskan dia," ucap Duan begitu ringannya.


Jodi melotot dengan sempurna. Apalagi sekarang setelah tahu kalau Laras adalah saudaranya, semakin jauh pikiran jelek Jodi untuk memilikinya. "Pikiran mu picik, Dian. Kamu tak boleh berpikiran seperti itu, biarlah mereka hidup bahagia. Kamu tersingkir bukan salah siapa-siapa ataupun Laras, tapi salah dirimu sendiri. Ingat itu, jadi jangan bilang begitu lagi." Jelas Jodi.


"Loh, kok kamu marah sih? seharusnya kamu senang dong. Jadi kamu bisa memiliki fia seutuhnya--"


"Cukup, jangan bicara tentang dia lagi. Apapun itu. Kamu harus tahu kalau aku ingin dia bahagia, tanpa ada yang mengganggu sekalipun dirimu." Bentak Jodi menunjuk ke arah Dian. Kepalanya menoleh kanan dan kiri, untung agak jauh dari tempat lain.


Dian heran. Mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa? oke-oke. Dia memang wanita sempurna, bukan seperti aku." akunya Dian. Kesal, marah. Tadinya ingin membantu, eh malah kena bentak dari Jodi. Wajahnya Dian merah.


Dian cemberut, tak membuka suara lagi. Hatunya masih kesal pada Jodi.


Mata Jodi melirik ke arah Dia yang manyun. "Kamu bisa menjadi wanita sempurna. Dicintai banyak orang, asalkan kamu berubah. Rubah semua sipat buruk mu, buang semua pikiran jelek mu. Jangan oeang lain, aku pun pasti mengagumi bila kau menjadi sosok seperti itu." Dengan tatapannya yang tajam.


Dian terdiam, matanya melirik ke arah Laras yang berada jauh itu. Dian juga mengakui Laras sosok wanita anggun, baik hati. Menurut pada suami, ditambah penampilannya yang sering mengenakan jilbab menambah keluar aura cantiknya. Pantas kalau mantan suaminya lama-lama jatuh cinta padanya.


Lantas Dian menunduk. "Seandainya aku mau berubah, kamu mau bantu gak?" tutur Dian lembut.


Jodi menoleh. "Bantu apa?"


"Ya ... bantu, aku harus banyak belajarkan?" tambah Dian dangan lirikan penuh arti.


"Oh, InsyaAllah. Aku bantu sebisanya, kalau memang kamu ada niat untuk itu. Berubahlah lebih baik," sambung Jodi kembali.


"Seandainya aku ingin belajar salat, bisa bantu aku, kan?" ungkap Dian.


"Oke, pasti aku bantu kok, emang kamu gak pernah--"


Dian langsung menggeleng. Dulu dia gak ada niat biarpun sering melihat orang salat, Ibra pun walau jarang tapi salat. Apalagi setelah menikah dengan Laras, Ibra semakin banyak berubah. Sering pula menyuruh Dian salat namun dengan bermacam alasan. Ia ogah-ogahan.


"Emang suami mu dulu, maksudku mantan gak ngajak atau nyuruh kamu salat?" selidik Jodi sambil menatap datar ke arah Dian.


"Dia ... suka ngajak salat. Tapi akunya bandel, gak mau." Akunya Dian.

__ADS_1


Jodi menghembuskan napas kasar. "Punya mukena?"


Dian memperlihatkan gigi putihnya, nyengir. "Aku lupa nyimpennya di mana."


Jodi menggelengkan kepalanya pelan. "Mungpung di sini, belilah."


Dian mengangguk. "Oke. Yu kita jalan?" langsung beranjak dari duduknya.


Jodi pun berdiri. Dan menyimpan sejumlah uang dibawah bil, kemudian. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan tempat tersebut.


Langkah Dian dan Jodi tak luput dari perhatian Irfan. Sebab yang dia tangkap dengan pandangannya. Jodi selalu curi-curi pandang terhadap Laras.


Selesai makan, Laras dan yang lainnya beranjak dari duduknya, hendak pulang. Laras memanggil pekerja resto untuk bayar, setelah bayar. Semuanya pun berlalu meninggalkan Resto tersebut.


Di parkiran, Laras dihampiri oleh seorang yang ibu-ibu yang minta-minta, Irfan langsung menghadang. Namun Laras meminta. "Biar aja, Mas aku yakin dia orang baik-baik," ucap Laras sambil mengambil sejumlah uang dari tas nya.


Orang itu berterima kasih serta mengucap doa-doa segala kebaikan, semua tersenyum bahagia. Melihat Laras yang di doakan orang tersebut.


Selepas itu Laras masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Irfan. Kini semuanya sudah duduk manis dan memasang sabuknya masing-masing.


Irfan melajukan mobi, setalah memastikan semua penumpangnya sudah mengenakan sabuk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang berhiaskan lampu-lampu penerangan jalan, yang berjejer di pinggir.


Sepanjang perjalanan, hanya suara mesin aja yang terdengar. Susi yang biasanya ngoceh, tampak lelah dan kekenyangan. Bu Rahma pun tampak lelah. Sementara pak Marwan di depan tampak menyandarkan kepalanya ke belakang jok. Laras menggeleng kemudian melepas pandangan keluar jendela.


Sesampainya di rumah, Laras langsung masuk kamar. Berganti pakaian dan mengambil air wudu untuk salat isya. Selepas itu ia duduk bersandar di bahu tempat tidur. Mengambil ponsel dengan niat chat Ibra, namun dia sudah manggil duluan. Lewat vc.


Ibra: "Sedang apa sayang?"


"Baru selesai salat. Baru pulang belanja, capek," ucap Laras menatap suaminya yang bertelanjang dada, dan mengenakan bathrobe.


Ibra: "Oh, kasian sekali istriku, ck ck ck. Nanti kalau aku di sana Abang pijitin ya?"


Laras sambil mencebikkan bibinya: "Ah, Abang itu bukannya pijitin. Malah bikin tambah remuk badan ku saja."


Ibra: "Ha ha ha ... tapi nikmat, kan?"


"Apanya? oya. Sudah makan, dan salat," tanya Laras sambil memandangi ke arah suaminya.


Ibra: "Sudah sayang ... gimana kabar baby ku?"


"Baik, Papi," sahut Laras sambil mengusap dan menatap perutnya.


Laras menggeleng. "Nggak. Dah sembuh kok. Oya, besok ijin ya? mau ke makam Orang tua ku sama mama dan papa."


Ibra: "Boleh, ajak Irfan ya?" sekalian dia yang bawa mobil. Jangan sendiri."


"Iya, gak sendiri, mama dan papa mau ke sana katanya." Tambah Laras.


Ibra: "Iya, sayang boleh. Kok aku gak pernah di ajak?"


"Apa pernah kamu bertanya? atau ingin ke sana, nggak pernah." Manik mata Laras berkaca-kaca.


Ibra terkesiap melihat manik mata sang istri menggenang. "Iya, sayang aku yang salah. Jangan sedih. Nanti kalau aku sudah pulang kita ziarah bersama ya?"


Laras mengusap matanya yang basah. Jadi sedih ingat orang tua yang sudah tiada dari semenjak kecil, Ibra yang menyaksikan pun tak tega. Kalah saja dekat pasti akan ia peluk penuh kasih, tapi sekarang berjauhan.


Ibra: "Jangan sedih dong sayang, aku jadi sedih kalau kamu sedih gitu. Nanti baby kita sedih pula lihat Mommy nya nangis."


Lagi-lagi Laras mengusap pipinya. "Aku capek. Pengen tidur."


"Sambil tiduran aja, gak pa-pa. Abang masih kangen, ingin lihat kamu. Dan ingin peluk kamu," rayu Ibra.


Laras mesem. Lantas menarik selimutnya dan berbaring, Ibra tambah geregetan. Coba saat ini bukan sedang di luar kota, ingin rasanya berbaring dan memeluk tubuh sang istri.


Melihat sang istri berbaring memejamkan mata. kancing di dadanya sengaja dibiarkan terbuka, sehingga terlihat jelas kulitnya yang putih mulus. Sesuatu di bawah sana mendadak bangun. "Sial, bangun lagi." umpat Ibra. Segera mematikan sambungan vc nya.


Laras membuka mata dan tersenyum tipis mendengar umpatan sang suami, yang segera mematikan vc nya itu.


Malam pun berganti pagi. Gelap beranjak digantikan dengan datangnya sang surya yang menghangatkan badan. Laras sudah mandi, baru mau berpakaian ponsel sudah berbunyi.


"Ada apa lagi si?" gumam Laras sambil menerima sambungan vc dari Ibra.


Mata Ibra langsung melongo di suguhi pemandangan yang luar biasa. Laras yang hanya mengenakan handuk saja. Dari atas dada sampai atas lutut sedikit.


Laras heran melihat suaminya melongo, dengan mulut menganga. "Kenapa?"


Ibra, hanya menunjuk dirinya dengan jari. Laras gak ngeh, malah kembali bertanya. "Apa sih?"


Ibra: "Kamu, baru selesai mandi sayang?"

__ADS_1


Laras mengangguk dan sadar. Langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ada apa pagi-pagi telepon?"


Ibra: "Nggak, cuma pengen lihat aja," sahutnya sambil tersenyum bahagia.


"Iih ... itu aja?" membuang pandangannya.


Ibra: "Oke, hati-hati ya. Mau pergi, kan?"


Laras hanya membalas dengan mengangguk pelan. Kemudian mengenakan pakaiannya, setelah memastikan sambungan vc dengan Ibra sudah terputus. Baru aja mengambil pakaiannya, ponsel sudah berdering kembali.


Laras memutarkan bola matanya. Dengan malas ia terima kembali. "Apa lagi?"


Ibra: "Sayang. Coba ponsel mu tempelkan ke perut mu sebentar aku ingin menciumnya. Sebentar aja sayang, dan rasakan getarannya."


"Uuh ... aku kira ada apa?" ucap Laras. Namun ia turuti permintaan sang suami. Perlahan ia menempelkan ponselnya tepat di permukaan perut.


Ibra pun segera mencium perut istrinya berkali-kali. Seolah itu nyata di depan matanya. Tubuh Laras pun bergetar, seperti tersengat aliran listrik. Matanya terpejam, ciuman di perutnya berasa benar-benar nyata. Meskipun jelas-jelas yang di lakukan itu dari jauh.


Ibra: "Sudah sayang."


Laras menjauhkan kembali ponselnya, hingga keduanya bisa saling pandang lagi. Sesaat keduanya saling memandang dengan tatapan penuh rasa rindu yang teramat.


Ibra: "Sudah dulu ya sayang. I love you."


Laras terdiam. Kemudian menunduk, lantas meneruskan aktivitasnya yang tertunda. Setelah selesai dan rapi, begitupun kamar sudah rapi. Laras baru keluar mendatangi meja makan.


Di sana sudah ada sang Mama mertua dan Susi. "Yang lain mana? kita sarapan dulu, mau berangkat, pagi-pagi," ucap Laras sambil menggeser kursi untuknya duduk.


"Papa dan Irfan di depan sedang ngopi," sahut bu Rahma sambil menunjuk ke arah depan dengan dagunya.


Pandangan Laras mengikuti yang bu Rahma tunjukkan. "Oh, panggil aja untuk sarapan."


Susi mengangguk, lalu mendatangi kedua orang itu berada. Untuk di panggil sarapan, sesaat kemudian, Susi kembali dengan ekspresi wajah datar.


"Tuan dan Mas irfan, belum mau sarapan Nya. Katanya duluan aja, bila perlu nanti aja di jalan. Sekarang belum lapar, gitu katanya," ucap Susi.


Bu Rahma dan Laras saling pandang. "Ya sudah, biar aja. Kita aja sarapan."


Ketiganya bersiap sarapan. "Kamu mau ikut Sus?" tanya bu Rahma pada Susi.


"Susi ... banyak kerjaan di rumah, Nyonya besar. Jadi gak ikut ah." Susi melirik ke arah bu Rahma dan Laras bergantian.


"Nggak pa-pa, di rumah aja Susi." Laras mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Laras mengakhiri makannya dengan segelas air putih. Lalu mengecek isi tas nya. Susi kamu hati-hati ya di rumah, oya mungkin saja kamu perlu membeli sesuatu. Ini uangnya!"


"Oh, tapi mau beli apa Nya?" Susi menatap sang majikan.


"Ya ... kali aja, ambil aja uangnya." Laras berdiri. Berjalan mendekati wastafel untuk mencuci tangan lalu melap nya.


Sementara bu Rahma ke kamarnya sebentar. Laras mengayunkan langkahnya ke depan. Tampak pak Marwan dan Irfan sedang mengobrol.


"Kalian kenapa gak sarapan dulu?" tanya Laras ketika kedua kakinya sudah berada di teras.


Kedua lelaki itu menoleh ke sumber suara. "Papa sudah minum kopi, Irfan juga. Biar nanti saja kami makan di luar kalau lapar," ujar pak Marwan.


Irfan mengangguk. Membenarkan omongan Pak Marwan barusan. Lantas ia mematikan kuntung rokoknya yang ada di jarinya.


"Ih, Papa gak sarapan dulu? sarapan dulu ya, Mama bawakan ke sini." Suara bu Rahma pada sang suami.


"Nggak, Mah. Nanti saja pulang dari sana, atau makan di jalan aja mungkin," sahut pak Marwan menatap sang istri.


"Baiklah, terserah kalian saja." Timpal bu Rahma.


Irfan sudah membuka pintu mobil untuk Laras dan bu Rahma. Mereka berempat memasuki mobil BMW merah, kemudian mobil tersebut melesat menuju pemakaman. Di mana kedua orang tua Laras. Beristirahat.


"Jalan xx, Mas," pinta Laras ke pada Irfan yang fokus ke jalanan.


"Baik, Nyonya muda." Irfan mengangguk. Dan melajukan mobil tersebut ke tempat tujuan sang majikan.


Selang sekitar kurang lebih satu jam perjalanan. Akhirnya sampai juga di tempat parkiran. Daerah pemakaman yang Laras tuju. Mereka berjalan memasuki pemakaman tersebut.


Ada dua makam yang berdampingan dan bertuliskan nama ibu Yati dan bapak Handi.


"Mah, Pa ... ini kuburan orang tua Laras," ucap Laras. Menunjuk kedua makam itu. Laras berlutut lantas membaca doa untuk mendiang orang tua nya. Tak terasa air matanya berjatuhan ....


****


Sudah. Baca kan reader ku, mana nih dukungannya? jangan lupa ya terus dukung aku dan makasih masih setia🙏

__ADS_1


__ADS_2