
"Sekarang kamu mengerti, kan?" tanya Zayn pada Irfan.
"Sungguh, saya tak mengerti dengan pikiran orang seperti mereka, Tuan." Irfan menggeleng.
"Sudah gila orang kaya gitu." Timpal Zayn.
Irfan menerima pesan dari seseorang. Beberapa waktu Irfan berbincang di telepon, sampai akhirnya Irfan masuki ke dalam mension. Dengan niat bertemu dengan Laras, sang majikan.
Zayn pun menyusul Irfan dengan niat menemui Ibra. Keduanya berjalan beriringan, di obby sudah kosong yang ada cuma beberapa asisten yang sedang beberes. Sepertinya sang majikan sudah berada di ruang keluarga yang ada di lantai dua.
Keduanya memilih berjalan menaiki anak tangga. Sambil berbincang santai. Namun setelah sampai di lantai dua cuma mendapatkan bu Rahma dan sang suami yang turut bersih-bersih.
Akhirnya Irfan memilih chat sang majikan untuk mengobrol kan sesuatu. Tidak lama Laras datang bersama Ibra, mereka duduk di sofa.
"Ada apa Mas?" tanya Laras menatap ke arah Irfan.
"Begini Nona. Besok ada kunjungan sosial ke luar kota. Acara syukuran rumah itu, kan Nona sudah berjanji mau datang, terus ada lagi, anak-anak panti mekar asih menunggu kunjungan anda."
Kepala Laras mengangguk-anggukkan tanda mengerti dengan yang Irfan katakan, lalu menatap ke arah Ibra yang tengah berbincang dengan Zayn. "Abang, boleh gak besok aku ke luar kota? kunjungan sosial, aku lupa kalau aku dah janji." Menatap penuh harap pada Ibra.
"Sayang, gimana dengan baby kita? aku sih ijinkan. Tapi kebetulan baby Satria habis sunat, apa gak akan rewel?" menatap dalam istrinya.
"Iya sih, tapi masalah nya kalau di undur lagi. Kita mau ke Bali kan? jadi lama lagi, aku gak enak sama janji aku, kalau Abang ijinkan. Baby boy aku ajak, atau sama Abang juga ikut, ya?" Laras menggenggam tangan Ibra.
"Gimana Zayn aku bisa gak ikut acara istri ku? besok. Ada acara penting gak di kantor?" pandangan mata Ibra beralih ke arah Zayn.
"Besok, ada agenda ke kantor cabang di Bandung dan itu sangat penting karena saat ini sedang ada sedikit masalah di sana. Apalagi kita mau ke Bali jadi sebelum kita pergi semua masalah harus kelar--"
"Bener itu yang dikatakan Zayn, kita pergi, jangan sekali-kali meninggalkan masalah. Biar tenang." Laras membenarkan perkataan Zayn yang belum tuntas.
"Sayang, maaf Mama ganggu briefing nya? masalah baby boy, biar Mama yang urus. Gak usah di bawa, toh di sini juga banyak orang yang akan membantu Mama." Saran bu Rahma.
Sang suami mengangguk tanda setuju dengan yang bu Rahma bicarakan.
Laras dan Ibra saling bertukar pandangan, kemudian Laras menaikan alisnya. "Gimana sayang?" sambil mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Baiklah, biar nanti kita pergi benar-benar tak ada yang harus kita pikirkan lagi. Oke, besok kita selesaikan masalah kita masing-masing. Hati-hati ya sayang!" Ibra meremas jemari sang istri dengan lembut.
Obrolan pun selesai, Zayn pamit pulang, dan Irfan keluar dari tempat itu. Tinggal Ibra, Laras dan pasangan suami istri lainya. Ya itu pak Marwan dan istri.
"Besok kalian selesaikan urusan kalian masing-masing, lusa kita ke acaranya Dian. Setelah itu barulah kita terbang ke Bali," ujar pak Marwan, menatap ke tiga orang di depannya.
"Jangan khawatir. Mama akan jaga baby Satria dengan baik. Kamu pergi saja, tak apa tenang saja." Bu Rahma mengusap bahu Laras.
"Makasih, Mah ... aku malu kalau ingkar lagi, walaupun dana sudah aku kucurkan, tetap saja mereka ingin bertemu dengan ku."
"Iya, pergi saja. Mama dan Papa ada kok." Bu Rahma tersenyum, penuh dukungan.
"Kalau saja tak harus ke Bandung. Aku pasti menemani kamu sayang." Ibra menatap sang istri.
"Iya, gak pa-pa. Makasih aku sudah di ijinkan pergi." Laras menunjukan senyum bahagianya.
Setelah itu, mereka pun bubar ke tempatnya masing-masing. Kini Laras sedang bersih-bersih, mumpung baby boy masih tidur.
Ibra duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat baby boy tidur, tengah sibuk dengan layar laptopnya. Mendengar suara pintu kamar mandi, Netra matanya menoleh. Tampak sang istri keluar mengenakan bathrobe, dan handuk yang membalut rambutnya yang basah. Pikirannya mulai traveling ke mana-mana.
"Sudah sayang."
"Mau mandi gak?" tanya Laras sambil mengambil piyama buat Ibra.
"Mau, bentar lagi." Jawabnya.
Selesai mengganti pakaian, ia segera menjalankan salat maghrib. Selepas itu ia berdiri menyimpan bekas salatnya.
Kemudian melangkah maju mendekati cermin. Berdiri menatap wajahnya sebentar lalu menyisir, sedang anteng menyisir. Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya.
"Aku lagi menyisir nih, susah." Gumamnya Laras. Menatap wajah Ibra dari pantulan cermin.
"Sini, aku yang menyisir rambutmu," ucap Ibra sambil mengambil alih sisir dari tangan Laras.
Dengan hati-hati, Ibra menyisir rambut Laras yang basah dan wangi shampo kesayangannya, sesekali manik mata Ibra memperhatikan wajah Laras dari cermin.
__ADS_1
Setalah selesai. Tangannya kembali memeluk perut Laras dengan sangat erat. "Aku kangen kamu." Bisik nya di telinga Laras.
Membuat bulu kuduk Laras sedikit meremang. "Tiap hari ketemu. Bobo bareng juga masih bilang kangen."
"Ck, ck. Nggak ngerti sih kangen aja terus." Sedikit menghembuskan napas di sekitar telinga dan leher samping sang istri.
"Gombal." Bibir Laras tertarik membentuk senyuman.
"Biarin gombal juga, sama istri sendiri kok. Bukan sama istri orang." Jawab Ibra. Terus membalikkan tubuh sang istri agar berhadapan dengan dirinya.
"Kamu tambah cantik aja sayang." Tatapan Ibra terkunci menatap manik mata Laras yang juga membalas tatapannya.
Jari Ibra menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening sang istri. Tangan Laras pun melingkar di leher sang suami, kakinya berjinjit naik.
Kepala Ibra menunduk, sebab ia terlalu tinggi untuk sejajar dengan Laras. Dengan hidungnya mencium aroma parfum yang Laras pakai. Lalu mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri dengan lama. Pipi kanan dan kiri pun tak luput dari kecupannya, terakhir mendarat di benda kenyal yang merah natural. Bikin gemas Ibra tuk menyentuh dan melahapnya.
Perlahan, tubuh Ibra menyeret sang istri ke atas tempat tidur. Dan menjatuhkan tubuh mereka berdua di sana, tanpa sedikitpun melepas ****** penuh gairah itu. Kini tangan Ibra leluasa jalan-jalan ke tempat-tempat yang ia suka.
Yang terdengar hanya suara napas yang sama-sama memburu. Degupnya jantung yang lebih cepat dari normal. Dag dig dug dan darah yang berdesir hangat naik ke ubun-ubun. Dorongan keinginan tuk melakukan yang lebih dari itu pun semakin besar.
"Aku menginginkan mu saat ini," bisik Ibra tepat di telinga Laras. Seketika membuat jiwa Laras melayang ke angkasa.
"Oak, oak ... oak ... oak ...."
Suara baby boy terbangun. Sontak Ibra yang sudah mengungkung tubuh Laras menatap kecewa wajah sang istri yang juga menatap sayu. Seketika pisangnya miliknya layu tidak segar lagi. Lalu membaringkan tubuhnya di samping sang istri, baru aja pemanasan sudah terganggu, napasnya yang tak tersengal-sengal terdengar jelas di telinga Laras.
Laras bangun, duduk sambil merapikan piyama nya. Lalu mendekati sang baby boy yang terbangun nangis-nangis kelaparan. Netra mata Ibra hanya menatap penuh kecewa punggung sang istri, yang tengah memberi asi putranya.
Ibra bangun, dengan bertelanjang dada pergi ke balkon. Membawa hati yang kecewa. Walau sudah berniat ingin melakukannya nanti di Bali saja, tapi ketika sudah begitu ia mana tahan? sangat sulit untuk meredam napsu nya itu.
Netra mata Laras menoleh menatap sendu kepergian sang suami ke balkon, ia tahu betul kalau saat ini Ibra kecewa. Karena keinginannya belum sempat terpenuhi ....
****
Semoga reader semua dalam keadaan sehat wal'apiat ya. Bila ada yang sakit. Semoga cepat sembuh, makasih ya kalian semua masih setia di sini. Aku mohon dukung juga "BUKAN SUAMI HARAPAN" 🙏 semoga kalian akan menyukainya.
__ADS_1