Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Mengulur waktu


__ADS_3

Dengan malas, Ibra turun dan berjalan menuju pintu. Walau hati jengkel. "Ck. Ganggu saja nih orang."


Blak!


Pintu terbuka lebar. Tampak Zayn menyeringai melihat Ibra cuma mengenakan handuk di pinggang. Mata Ibra menatap tajam seakan ingin menerkam yang ada di hadapannya.


"Maaf Bos ganggu?"


"Sudah tahu ganggu, masih dilakukan juga." Ketus Ibra. Dengan tangan melipat depan dada.


"Ha ha ha ... sorry Bos, sorry. ada yang ingin saya bicarakan tentang kerjaan," ucap Zayn dibarengi dengan tawa lepas.


"Apa?"


"Masa mau bicara di sini?" Zayn menautkan keningnya. Matanya celingukan ke dalam.


"Baiklah, tunggu sebentar di ruang kerja ku. Minta minuman hangat pada Susi atau siapa lah. Saya mau pakai baju dulu.


Brug!


Ibra menutup pintu yang hampir menyapu hidung Zayn kalau dia tak segera mundur beberapa langkah. Zayn menggeleng.


Langkah Ibra yang lebar mendekati tempat tidur. Mengambil pakaiannya. "Sayang?" Mata Ibra mencari keberadaan sang istri.


"Ada apa?" suara Laras yang muncul dari kamar mandi.


"Aku ada yang harus di bicarakan dengan Zayn di ruang kerja."


"Oh," gumamnya Laras sambil maju beberapa langkah mendekati Ibra dan membantu berpakaian.


"Kalau perlu sesuatu panggil Abang aja ke ruang kerja ya?" tangan Ibra mengelus pipi Laras yang halus.


"Aku mau istirahat aja, lelah." Menatap sayu sang suami.


Kedua pasang mata mereka saling pandang dengan tatapan yang dalam. Ibra menangkupkan kedua tangannya di wajah sang istri lalu menundukkan wajahnya tuk bisa menangkap bibir Laras yang selalu merona natural. Sesaat wajahnya terkunci di sana.


Hening!


Yang terdengar hanyalah suara napas yang memburu. Terengah-rengah bak habis lari maraton. Bibir Ibra terus menyapu permukaan bahkan sampai ke dalam-dalamnya.

__ADS_1


Perlahan telapak tangan Laras Laras mendorong dada Ibra. "Zayn menunggu kasihan."


"Em ..." kemudian Jari Ibra mengusap bibir Laras yang basah. Lalu mengusap bibir milik nya, detik kemudian membawa langkahnya keluar kamar membiarkan Laras di sana.


Netra mata Laras menatapi punggung Ibra sampai hilang di balik pintu. Kemudian membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Sebelumnya melihat baby boy yang tertidur pulas.


Di ruang sebelah. Zayn dan Ibra berbincang sangat serius tentang sesuatu yang sangat penting.


****


Di bunga low milik Dian, pasangan pengantin yang tengah berbahagia itu sedang berada di kamar. Berganti pakaian. Ferdi sedang bermain di lantai anteng dengan mainannya.


Dian mengganti gaunnya dengan gaun tidur yang agak tipis. Permana pun mengenakan piyama. Tadinya Dian mau pakai lingerie namun Permana cegah dengan alasan gak enak di lihat Ferdi. Anak itu tidak mau jauh dari papanya.


Ferdi minta bobo dekat mama Dian. Gak mau bobo sendiri katanya. Permana memeluk Dian dengan erat dan mendaratkan kecupannya di kening dan pipi sang istri. Dian pun dengan agresif membalas perlakuan Permana, menyatukan bibir keduanya yang lama haus dengan belaian dan sentuhan. Apalagi dengan kasih sayang.


Keduanya anteng bercumbu di Wardrobe. "Nanti Ferdi lihat gimana?" gumamnya Dian menatap cemas pada sang suami.


Permana menyeret sang istri ke dekat pintu Wardrobe. Dia kunci dengan perlahan supaya sang putra tidak curiga, kemudian melanjutkan mencumbu sang istri dengan lembut penuh kasih sayang dan penuh gairah. Merasakan darah yang berdesir hangat ke seluruh tubuh.


Hasrat pun naik, tubuh mereka bergetar penuh damba. Keduanya terus saja saling cumbu untuk menaikan libidonya masing-masing.


Kemudian jemarinya menari-nari di atas bukit yang lama tak pernah terjamah oleh pelancong. Bukitnya yang indah dan masih terjaga belum turun mesin soalnya. Permana makin asyik bermain di tempat favoritnya.


Dian semakin menikmati pemainan Permana yang berbeda dari Ibra dulu. Permana lebih lihai memanjakan Dian sehingga belum sampai intinya saja Dian dibuat melayang, sudah sangat menikmati dan pastinya akan selalu ketagihan dengan sentuhan suami baru nya ini.


"Masa mau melakukannya di sini sih?" bisik Dian yang sudah merasa tak tahan.


Permana melirik ke arah sofa. Ia gendong Dian dan di bawanya ke sana. Permana baringkan dan langsung melanjutkan cumbuan nya. Sampai-sampai Dian terlihat sudah sangat menginginkan nya. Bibir Permana tersenyum bahagia melihat ekspresi sang istri, gerakannya seolah meminta lebih.


Keduanya membuka penutup tubuh mereka berdua. Sehingga kedua benar-benar polos.


Dian menggigit bibir bawahnya ketika melihat pemandangan yang amat menggairahkan untuknya. Gairah Dian sudah hampir memuncak. Namun Permana malah seakan mengulur waktu dan membuat Dian tersiksa.


"Sayang?" panggil Dian dengan suara bergetar.


"Iya, sayang! kenapa?" bisik Permana tak kalah bergetar suaranya. Napasnya menyapu leher samping Dian yang memejamkan matanya. Napas Dian tak karuan, dadanya naik turun dan jantungnya berdebar begitu kencang.


Dian sedikit kecewa dengan sikap Permana yang mengulur waktu. Namun dengan lembut ia terus mencumbu Dian, dan pada akhirnya Permana mengeluarkan jurus terakhir. Memanjakan benda pusaka nya di lembah madu yang sedari tadi menunggu di kunjungi.

__ADS_1


Akhirnya Dian tersenyum puas. merasakan pusaka Permana masuk menyelinap ke dalam gua surgawi miliknya. D****** dan ke****** dari keduanya saling bersahutan. Pertanda saling menikmati satu sama lainya.


Mereka terus menikmati pergulatan yang hebat di atas sofa yang ada di Wardrobe tersebut. Hingga peluh menghiasi di sekujur tubuhnya yang bermandikan cahaya. Mau melakukan nya di kamar, gak mungkin sebab ada Ferdi tengah bermain. Akhirnya ada kesempatan bermain di dalam wardrobe ini. Permana terus menikmati mangsa yang ada di depan mata.


Ferdi yang anteng bermain dengan semua mainannya, merasa sepi dan mencari papa dan mamanya yang tidak terlihat dari sejak lama. Namun ia ingat kalua tadi terakhir melihat papa dan mamanya masuk wardrobe.


Anak itu beranjak berjalan mendekati pintu. Ia putar handle nya namun terkunci, kemudian memasang telinganya ia tempelkan di daun pintu. Dia heran sepi tak ada suara papa & mamanya, namun yang ada itu suara rintihan kecil dan de*****. dari dalam.


"Papa, Mama?" panggil anak itu memanggil orang tuanya.


Yang berada di dalam wardrobe, saking asyiknya dengan permainan mereka yang dahsyat. memanas dan menggairahkan, sampai tak terdengar suara Ferdi yang memanggil papa dan mamanya. Pada akhirnya sayup-sayup suara Ferdi terdengar dan semakin kencang.


Dian menoleh ke arah sumber suara. "Sayang. Ferdi cari kita."


"Biar aja sayang. Lagi nanggung nih." Permana tak perduli sebab lagi nanggung-nanggung nya. Merasakan nikmatnya. Atau ke puncaknya.


Ferdi terus memanggil dan anak itu yakin kalau papa dan mamanya tadi masuk ke wardrobe makanya ia terus mengetuk dan memanggil dari balik pintu.


"Akh ... capek." Permana melepaskan kungkungan nya seraya memberikan kecupan mesra di kening Dian.


Bibir Dian menyungging puas sangat puas. Dengan permainan barusan, mendengar suara Ferdi yang terus memanggil. Dian segera mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai, setelah memakainya dengan rapi Dian berniat menghampiri pintu untuk membukanya.


"Tunggu sayang, aku belum nih." dengus Permana sambil mengenakan pakaiannya.


Kemudian Dian membuka pintu setelah sang suami rapih berpakaiannya. "Sayang. Mama di sini," sambil membuka pintu.


"Kok lama sekali. Emang kalian sedang apa di sana?" anak itu menatap ke arah Dian dan papanya terheran-heran.


"Em, kami ... ngobrol saja," jawab Dian sambil tersenyum. Permana pun tersenyum ke arah anak itu.


"Ngobrol, kok. Lama banget dan gak ada suaranya sih? sampai-sampai gak dengar suaraku segala."


"Oh, dengar sayang. Dengar kok cuma kamu aja gak dengar suara Papa. Iya, kan Mam?" menoleh pada Dian. Dian langsung menanggapinya dengan anggukan dan senyuman.


"Kami berbincang lalu ketiduran di sofa." Permana meyakinkan.


Anak itu tertegun, matanya menatap intens ke arah orang tua nya seolah mencari kebenaran yang sesungguhnya. Apalagi dengan suara rintihan tadi membuatnya penasaran ....


****

__ADS_1


Apa kabar reader ku yang baik hati semua🙏 jangan lupa dukung karya ku yang berjudul "Bukan Suami Harapan" semoga suka.


__ADS_2