
Pintu kamar terbuka dan masuklah Jodi menghampiri pak Mulyadi. "Sedang apa Yah?" tanya Jodi. Ekor matanya melirik ke arah pintu kaca, ia yakin barusan ada seseorang keluar dari tempat tersebut.
"Ah, baru selesai salat Nak. Ada apa?" tanya balik pak Mulyadi menatap Jodi yang matanya mengitari semua ruangan tersebut.
"Nggak, pengen ke sini aja sudah lama aku gak tiduran di sini." Jodi menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur pak Mulyadi. Sekilas matanya mendapati cctv yang tersembunyi di sana.
"Oya, Yah. Kapan-kapan main yu ke panti tempat Laras dibesarkan?" Melirik sang ayah yang sedikit bengong.
"Ha, Boleh." Singkat.
"Yah. Aku ingin mengatakan sesuatu, kira-kira--"
"Kira-kira apa?" tanya pak Mulyadi tampak penasaran.
"Kira-kira mau gak kalau aku jodohkan dengan bu Rosa? biar Ayah ada yang nemenin gitu, ya ... agar tak kesepian lah."
Nyess!
"E, eh ... kamu bicara apa sih Jodi. Ayah sudah tua gini." Sambil memalingkan wajahnya.
Jodi memperhatikan reaksi pak Mulyadi yang agak kikuk. "Iya, Yah. Apa salahnya? Ayah masih perkasa kok. Masih kuat, masa sih gak mau punya istri lagi? ibu sudah tiada dan Ayah pasti membutuhkan pendamping."
"Tapi, Ayah ..." Jawab pak Mulyadi tampak serba salah.
"Kenapa Yah. Apa Ayah punya pilihan? biar aku yang lamar kan." Desak Jodi. Pengen tahu jawaban sang ayah.
Pak Mulyadi jadi kebingungan. Jujur atau lanjut merahasiakan, ia takut Jodi akan menentang pernikahan siri nya dengan mbok Darmi. Tapi mau sampai kapan akan menjadi rahasia baginya.
"Gimana Yah, aku rasanya lebih setuju kalau Ayah menikahi bu Rosa dan beliau juga sepertinya gak akan nolak permintaan ku deh." Jodi dengan yakinnya.
"Tapi Ayah. Ayah ..." pak Mulyadi makin bingung dan ragu tuk mengatakan yang sesungguhnya. "Sebenarnya Ayah ...."
"Kenapa Yah?" lanjut Jodi menatap tajam Dan terus memancing supaya sang Ayah mengakui sesuatu.
"Sebenarnya Ayah--"
"Maaf Tuan, makan malamnya sudah siap." Suara mbok Darmi berdiri di samping pintu.
__ADS_1
"Sial, gagal deh ngorek sesuatu dari ayah." Batin Jodi sambil netra matanya melihat pada mbok Darmi dengan tatapan yang taham seolah ingin menghunus jantungnya. Mbok Darmi melempar senyumnya, kemudian membalikkan badan kembali pergi.
"huuh ... makan dulu yu Ayah." Jodi berdiri dan hendak membantu sang ayah berdiri.
"Ayo, kebetulan Ayah sudah lapar sekali," sahut sang ayah dengan semangatnya berjalan menggunakan tongkat.
Keduanya berjalan menuju ruang makan yang masih kosong. Caca entah masih di kamarnya atau entah dimana?
Namun pada akhirnya Caca muncul dengan tangan basah. Rupanya dia habis mencuci. "Malam Tuan. Eh Ayah." Lantas menarik kursi tuk dirinya duduk.
"Dari mana?" tanya Jodi menatap wanitanya itu.
"Itu, habis mencuci." Jawab Caca santai.
"Oh, baju suami mu ini di cuci juga?" goda Jodi.
"Oh, belum." Caca mesem sambil mengambil makan malamnya.
Ketiganya makan malam dengan sangat lahap. Sambil makan, Jodi melamun dengan yang tadi sang Ayah ingin katakan, sesekali menatap sang ayah yang begitu lahap makannya.
Sekitar pukul sepuluh malam, lagi-lagi mbok Darmi melipir, menyelinap masuk kamar pak Mulyadi dengan mudahnya. Ia mengunci semua pintu kamar pak Mulyadi dari dalam, pak Mulyadi masih membaca buku, duduk bersandar di bahu tempat tidur. Melihat kedatangan mbok Darmi, pak Mulyadi menghentikan kegiatannya itu.
Setelah sampai. Mengusap rahang pak Mulyadi dengan lembut. Kontan tubuh pak Mulyadi berasa tersengat aliran listrik seketika dan menjalar ke sekujur tubuhnya, dengan tidak membuang waktu. Darmi naik ke atas tempat tidur mencumbu pak Mulyadi yang sudah minta dimanja lebih. Bibir keduanya menyatu saling menyapu dan memperdalam ciumannya.
Dengan cekatan, tangan mbok Darmi menarik satu persatu kain penutup tubuh pria yang kini pasrah padanya. Mbok Darmi tersenyum puas dan mende-sah ketika merasakan sesuatu yang memasuki miliknya yang perlahan tapi pasti.
Setelah puas bermain. Kini mereka berada dalam satu selimut yang menutupi tubuh, tangan mbok Darmi mengelus dada pria paruh baya tersebut.
"Mas, kapan nih? orang yang mau menjual empang itu sudah nanyain terus. Mau jadi apa nggak? katanya, sayang loh Mas ... kalau gak dibeli." Rayu mbok Darmi.
Pak Mulyadi terdiam sesaat. "Berapa emang harga akhirnya?" tanya pak Mulyadi.
"Katanya 80 juta mentok Mas. Langsung bikin sertifikatnya atas nama ku, ya ... kira-kira 90 juta lah kurang lebih." Mbok Darmi mengeratkan pelukannya.
"Saya harus melihat dulu lokasinya, barulah di bayar. Sementara Jodi belum ijinkan saya pulang barang sebentar sabar aja dulu lah," ungkap pak Mulyadi.
Darmi mendongak. "Mas gak percaya sama saya? Mas cukup transfer ke no rekening ku. Nanti saya yang urus semuanya kan beres! ngapain repot-repot?"
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi saya hanya ingin cek lokasinya aja--"
"Ah, bilang saja gak percaya sama aku, Mas itu ragu. Iya kan?" ucap mbok Darmi tampak kesal. Dia menjauh dari tubuh Pak Mulyadi.
"Bukan begitu sayang ... jangan merajuk ah. Seperti anak kecil saja," bujuk pak Mulyadi, tubuhnya menggeser merapatkan dengan tubuh gempal mbok Darmi. Di peluknya erat.
Darmi berontak, namun dekapan pak Mulyadi begitu kuat. Mbok Darmi marah sebab pak Mulyadi meragukannya. "Lepas ah, kamu Mas tidak percaya sama saya."
"Bukan gitu sayang." Bujuk pak Mulyadi sambil mengelus sesuatu yang bikin mbok Darmi mengeluarkan de-sa-han kecil yang lolos dari bibirnya.
Kini berbalik pak Mulyadi yang berada di atasnya tubuh mbok Darmi dan bersiap bertempur kembali. Tentu mbok Darmi menyambut bahagia dan langsung tidak membuang waktu lagi. Keduanya mengulang kembali ritual yang bikin panas ini dingin. Pergulatan semakin memanas sampai-sampai kecapean dan terkulai, pak Mulyadi me****** buah yang tampak subur itu.
Pergulatan pun berakhir, keduanya terkulai layu. Berbaring saling berpelukan. "Kapan mau transfernya Mas?" penuh harap.
"Iya, nanti aku kirimkan." Mulyadi mengecup kening mbok Darmi. Bujuk rayunya wanita yang berada dalam pelukannya ini membuat pak Mulyadi klepek-klepek.
Malam semakin larut dan akhirnya keduanya tertidur nyenyak sekali.
****
Setelah kunjungan, Laras dan rekan-rekan berhenti di rumah makan, pinggir jalan. Di sana Laras bersama Irfan dan Ruswan juga seorang wanita lainya.
Selesai makan, teman wanita Laras pulang duluan. Dan Laras masih di sana kebetulan ada orang baru yang tampaknya sangat membutuhkan bantuan dari tangan seperti Laras. Laras pun mendekati dan ngobrol-ngobrol. Kemudian Laras memberikan bantuan seperti belanjaan serta uang tunai kepada mereka.
Tiba-tiba kepala Laras merasa pusing, berat banget. Akhirnya Laras di beyeng Ruswan ke mobilnya, sementara Irfan sedang ke swalayan untuk belanja buat orang tadi.
Kepala Laras begitu berat dan ia tak bisa menahan lagi. Akhirnya ia tak sadarkan diri, Ruswan yang sedang menyetir melirik ke arah Laras menyunggingkan senyuman penuh arti. Mobilnya terus meluncur yang entah kemana tujuannya.
Selang beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah halaman yang luas, ya itu sebuah halaman rumah mewah namun terlihat kosong, tiada penghuni.
Ruswan menepuk tangan Laras dengan niat membangunkan. Namun Laras begitu berat tuk membuka mata. Dengan celingukan, Ruswan menggendong Laras ke dalam rumah tersebut. Tepatnya ia baringkan Laras di sebuah kamar yang lumayan luas.
Sambil menunggu Laras terbangun, Ruswan duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari Laras berbaring. Wanita cantik yang masih berkerudung itu tampak lelap sekali.
Bibir Ruswan tidak berhenti tersenyum. Lalu menghampiri memandangi Laras dari jarak dekat ....
****
__ADS_1
Hem ... terima kasih reader ku semua yang sudah setia di novel ini, jangan lupa kunjungi BHS ya semoga suka, BHS masih sepi loh.