Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )

Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )
15


__ADS_3

Angga menatap Nisa dengan serius bahkan ponsel nya pun ia singkirkan .


"kamu pasti sudah dengar kabar Lisa dan Bilyam akan menikah dalam waktu dekat ." Angga memulai pembicaraan .


"Ya dan aku ada di sana , saat Bilyam melamar Lisa . Bilyam sangat mencintai Lisa , begitu pula Lisa ." ucap Nisa dengan tersenyum mengenang momen itu .


"Kamu masih ingat kan tentang perjanjian kita beberapa waktu lalu di restoran itu ." ucap Angga . Nisa mengangguk dan ia tau sekarang kemana arah pembicaraan pria itu .


Angga merogoh kotak beludru dari dalam sakunya . Ia meraih tangan kiri Nisa . tanpa bicara apa apa ia menarik kembali cincin yang pernah ia pasangkan di tangan Nisa dan mengantinya dengan yang baru . Nisa tersenyum senang ternyata ia salah menerka . Ternyata hubungan nya masih berlanjut .


"Cincin ini adalah cincin turun temurun dari keluarga aku . Tiga tahun yang lalu mamaku memberikan nya ini padaku . Dan ini aku membelinya tiga hari yang lalu , saat aku berada di singapura ." ucap Angga sambil memasukan kembali cincin warisan turun temurun dari keluarganya ke dalam kotak beludru itu . Dan menyimpan nya kembali ke dalam saku jasnya .


"Tapi kenapa harus di ganti ." ucap Nisa . Jujur ia lebih suka dengan model cincin yang pertama , modelnya simpe sederhana l dan tidak mencolok .


Angga mengangkat alisnya menatap Nisa ." tentu saja ,aku tidak akan memberikan cincin itu pada mu , karena cincin itu hanya akan aku berikan kepada calon istri aku nanti ." jawab angga dengan santai .


"sesuai dengan perjanjian kita waktu itu , kalau Lisa dan Bilyam menikah otomatis hubungan kita juga akan berakhir ."ucap Angga lagi .Nisa hanya bisa diam , ia tidak tau harus bicara apa lagi . Perasaan nya seperti di terbangkan setinggi tingginya dan langsung di hempaskan begitu saja . Dia juga tidak tau kalau perlakuan manis Angga hari ini juga akan berakhir dengan pahit .


"Iya , sudah seharusnya hubungan tidak jelas ini berakhir ." ucap Nisa sambil melepas cincin pemberian Angga dari jarinya .


"Dan ini aku tidak bisa menerimanya . Karena aku bukan siapa siapa kamu , jadi kamu tidak perlu memberiku cincin seperti ini ." ucap Nisa dan meletak kan cincin itu di hadapan Angga .Nisa melakukan dengan terpaksa ia berharap Angga akan memaksanya pula agar tetap memakai cincin itu dengan kata kata yang manis . Tapi nyatanya tidak malah sebaliknya .


"Ok ." Angga malah mengambil lagi cincin itu dan menyimpan nya kembali ke dalam saku jasnya .


"Astaga , laki laki tidak peka sekali ." sungut Nisa dalam hati dan memasukkan ponselnya ke dalam tas dan langsung berdiri .


"Aku pulang duluan ." ucap Nisa dengan nada sedikit kesal yang tertahan .

__ADS_1


"Tunggu ." Angga menangkap tangan Nisa .


"Biar aku antar kamu pulang ." ucap Angga .


"Tidak perlu , biar aku naik taksi aja ." Tolak Nisa dengan nada sedikit ketus , sungguh Nisa benar benar kesal dengan pria itu , jika hanya ingin mengakhiri hubungan mereka , seharusnya cukup ia katakan saja saat dia datang ke butik , sekalian meminta kembali cincin nya .


Tidak perlu perlakukan dia dengan penuh harapan , dengan perlakuan begitu manis dan pada akhirnya dia juga menyuguhkan kepahitan .


"Aku yang menjemput kamu , maka aku juga yang harus mengantar kamu pulang ." ucap Angga dengan tegas . Nisa semakin meradang , bila hubungan mereka baik baik saja , mungkin ia akan sedikit terharu , dengan ucapan pria itu .


"Aku bilang tidak , ya tidak ." ucap Nisa dengan suara ketus sambil menghempaskan tangan Angga dan berjalan keluar menuju ke loby restoran . Dan menyetop sebuah taxsi .


Saat ia akan membuka pintu mobil sebuah taxsi , Angga datang menahan pintu taxsi hingga tak dapat ia buka .


"maaf pak , tidak jadi ." kata Angga pada sopir taxsi . Angga menggenggam tangan Nisa dengan erat tanpa melukai wanita itu .


Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani keduanya . Radiopun tidak mereka nyalakan , seakan keduanya menyukai kesunyian dan nyaman dalam keadaan itu .


Semalaman Nisa tidak bisa memejamkan mata , air matapun engan untuk berhenti .pukul 5 pagi Nisa baru bisa pejam kan mata .sehingga pagi ini Nisa bangun sedikit siang . Kepala nya terasa pusing dan matanya juga bengkak .


Nisa segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya .berharap dengan guyuran air hangat akan mengurangi rasa sakit di kepalanya .


Nisa menghabiskan waktu mandi dan berendam selama empat puluh lima menit , untuk merilekskan badan nya .memang rasa sakit di kepalanya sedikit mereda .tapi perasaan nya tak kunjung membaik , apalagi saat ingatan nya tidak sengaja kembali lagi pada kejadian semalam .


Selesai mandi Nisa mencoba mengintip akun instragram Dewangga .


"Dewangga brengsek ... , Dasar Dewangga sialan ." maki Nisa dengan kasar . Ia membanting ponselnya saat tidak menemukan aktifitas baru di akun , Dewangga . Terakhir yang di bagikan adalah saat Dewangga peegi ke singapura .

__ADS_1


Tiara mendengar teriakan putrinya dari dalam kamar ia segera mendekati kamar Nisa . Ia takut putrinya terjadi sesuatu .


Tok ....Tok....tok..


"Nisa , kamu baik baik saja sayang ." teriak Tiara dari luar .Nisa segera bangkit dan membuka pintu kamarnya .


"Nisa tidak apa apa bun .Nisa baik baik saja ." ucap Nisa sambil tersenyum manis .


"kamu yakin sayang , karena tadi bunda dengar kamu berteriak ." ucap Tiara memastikan .


"Oh tadi Nisa teriak karena ini bun ." Nisa menunjuk kan tas branded yang mahal di ponselnya kepada bundanya .


" Akhirnya merek yang aku ikuti mengeluarkan prodak barunya , aku ingin membelinya bun ." Ucap Nisa . Setelah mendengar ketukan di pintu , Nisa segera mengambil ponselnya yang ia lempar ke ranjang tadi . Dengan cekatan ia membuka oficial acount tas merek yang terkenal .


"Coba bunda mau lihat ." ucap Tiara dan mengambil alih ponsel Nisa . Dan mengeser model model tas yang ada di sana .


"Bunda juga mau yang ini . Tolong sekalian pesan kan ya ." ucap Tiara dengan semangat .


"Ok bun , tapi Ayah yang bayarkan ,"ucap Nisa , bukan ia tidak mau membelikan bundanya tas , tapi keuangan nya sedang menipis .


"Iya , nanti bunda bilang sama Ayahmu , sekalian bayari punyamu juga ." ucap Tiara sambil tersenyum .


"Benar bun , serius . Matur suwun ." ucap Nisa sambil memeluk bunda tersayang nya .


"Kamu bicara bahasa apa ." tanya Tiara yang merasa janggal dengan bahasa putrinya .


"Bahasanya ulfa bun ,bahasa jawa maksudnya terimakasih ." jelas Nisa .

__ADS_1


"Oh , sama sama sayang , kalau ada sesuatu cerita dengan bunda , jangan di simpan sendiri ." ucap Tiara yang seakan tahu apa yang sedang di alami oleh putri nya . Putrinya menyimpan sesuatu di hatinya .


__ADS_2