
Julia pamit untuk ke toilet ,namun ia berbelok mengikuti pelayan tadi . Julia menunggu di depan pintu dapur . Dan saat pelayan tadi keluar dengan membawa nampan yang di atasnya berisi empat gelas minuman .
"Tadi teman aku meja 40 oesan minuman ." tanya Julia .
" Yang ini bu ."jawab pelayan itu menunjuk kan gelas berisi air putih . Julia kemudian bernegoisasi dengan pelayan itu agar mau memasukan obat kedalam minuman itu dengan imbalan uang satu juta rupiah .
Julia kembali ke meja dengan senyum tertahan di bibirnya . Bayangan kehancuran rumah tangga Nisa telah ada di matanya membuatnya semakin bahagia . Julia kembali duduk dengan mata tidak lepas dari Angga .
Tak lama kemudian pelayan itu datang dan meletak kan minuman di depan Angga .
"Ini minuman anda tuan ." ucap pelayan itu dan segera pergi setelah mendapat ucapan terimakasih dari Angga .
Bibir Angga belum sempat menyentuh gelas itu . Tapi Nisa telah meminum isi nya lebih dulu hingga tandas . Dia menatap ke arah Julia dengan senyum sinis dan tatapan nya seolah berkata , Aku melihat semua apa yang kamu lakukan .
Julia terlihat kesal karena rencananya gagal total . Dia tersenyum pada teman teman yang lain seakan tidak pernah terjadi apa apa . Dan kemudian pulang lebih awal .
Nisa mulai merasakan ada yang aneh di badan nya . Dia merasa Panas dan gerah .
"Ada apa ." tanya Angga yang melihat istrinya gelisah .
"panas ." bisik Nisa dengan suara serak .
"Mau kemana ." tanya jeni melihat sepasang pengantin yang terbilang masih baru itu berdiri . Yang lain juga ikut melihatnya .
"Maaf , sepertinya kami pamit pulang lebih dulu karena istri saya sepertinya tidak enak badan .." ucap Angga . Sedang Nisa tidak memperdulikan mereka karena kepala terasa pusing , sudah terasa berputar putar .ia berpegangan erat di tangan suaminya .
"panas ." erang Nisa saat mereka telah berada di dalam mobil .
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan ." Angga memegangi ujung baju Nisa . Karena istrinya itu akan melepas bajunya .
"Panas , gerah ngak enak ." rengek Nisa manja ia terus menerus menarik narik gaun nya dan berusaha untuk membuangnya .
Angga menarik gorden kaca mobilnya yang belum sempat ia lepas , mobilnya ada gorden karena habis di pakai mamanya . Dan kebetulan ia belum sempat melepasnya . Sekarang sangat berguna saat istrinya kena musibah .
"Tahan ya , aku akan usahakan cepat sampai di rumah ." ucap angga dan langsung menyalakan mesin mobilnya .
Nisa terus merengek pada Angga .
"Angga , panas ." Nisa terus merengek dan ingin melepaskan bajunya . Bajunya sudah berantakan dan p**a putihnya pun kelihatan juga c****a dalam nya juga yang berwarna merah berenda pun kelihatan .
"Angga ." Nisa mendekat dan mengesek gesek kan badan nya ke tangan Angga . Nisa juga tidak tau entah kenapa dengan tubuhnya , yang terasa panas dan gatal , ingin rasanya ia sentuh tapi tidak tau bagian tubuh yang mana .
Namun saat d**anya tanpa sengaja menyentuh lengan Angga ia merasakan enak . Sehingga ia ketagihan dan semakin mendekat dan mengesekkan kan kembali ke lengan Angga .
Nisa tidak menghiraukan peringatan suaminya itu . Ia terus menerus mendesak Angga untuk menuntaskan rasa penasaran nya itu . Angga mendorong Nisa jauh dari dirinya , ia tak ingin mereka berdua berakhir di rumah sakit .
Namun Nisa kembali mendekati Angga bahkan semakin lengket . Nisa mendusel dusel di d**a suaminya .
"sial ." umpat Angga pada pengemudi saat tiba tiba sebuah mobil menyalipnya . Angga menghentikan mobilnya di bahu jalan , dan menjauhkan tubuh istrinya itu dari dirinya dengan kedua tangan nya .
"Kamu diam dulu di sini ya sayang . Sabar sebentar , aku juga tidak tahan kalau kamu sosor terus menerus . " Angga menatap Nisa dengan serius .
Nisa mengelengkan kepala ." aku tidak tau , kenapa bisa begini . kenapa saat dekat denganmu rasa badanku enak sekali . "ucap Nisa dengan tatapan sayu .
"Tahan sebwntar ya . Aku 0asti berikan apa yang kamu mau ." bujuk Angga .
__ADS_1
"Ngak bisa ." ucap Nisa penuh frustasi , ia ingin melepaskan cengkraman tangan Angga yang ada di kedua bahunya , untuk menahan dirinya .
Terpaksa angga mengambil dua buah dasi yang selalu ia siapkan di dalam doasbord mobil sebagai cadangan .tidak tega sebenarnya Angga harus mengikat istrinya seperti ini . Tapi demi keselamatan keduanya ia terpaksa lakukan itu . Ia tak mau berakhir di rumah sakit . Akan lebih parah lagi mungkin nyawanya bisa melayang .
"Anggaaaaa ." Rengek nisa pada suaminya karena Angga telah mengikat tangan dan kakinya .
"Sabar ya sayang , sebentar lagi kita sampai.ke rumah . " ucap Angga dengan lembut dan konsentrasi menyetir . Fokus dengan jalanan saat jalanan lengang angga menaikan kecepatan mobilnya .dan sesekali ia melirik ke arah istrinya .
Nisa bergerak gerak berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya dengan gelisah . Sebenarnya ia tidak tega melihat istrinya seperti itu . Angga ingat akan mencari tau orang yang telah memasukan obat ke dalaman minuman nya hingga membuat istrinya tersiksa .
Angga menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya . Ia turun terlebih dulu dan memutari mobil dan membuka pintu mobil samping Nisa untuk membantu Nisa turun dari mobil . Dia masih belum membuka ikatan di kaki dan tangan istrinya .
Angga membaringkan badan istrinya di atas ranjang mereka . Angga menghela nafas berat , sebenarnya ia tak ingin mengauli istrinya dalam pengaruh obat , tapi ia harus menolong iatrinya agar tidak kepanasan .
Angga melepaskan ikatan di tangan dan kaki istrinya .ia mengusap usap bekas ikatan itu . Pasti Akan meninggalkan luka memar dalam beberapa waktu .
Angga tidak ingin membuat Istrinya menunggu lama . Angga langsung menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya . Nisa menyambutnya dengan terburu buru .
"pelan pelan sayang , kamu pasti akan mendapat kan nya ."bisik Angga lembut .
Tangan Angga bergerak dengan luwes melepas gaun yang Nisa pakai , ia berhenti sebentar tidak ingin melewatkan pemandangan indah milik istrinya .
"Kamu sangat cantik sayang ." ucap Angga dengan tatapan memuja . Nisa yang sudah tidak sabar segera menarik kepala Angga dan menyatukan bibir mereka . Angga meladeni ciuman istrinya yang terkesan tidak sabaran .
Angga mengelus perut rata istrinya tanpa melepaskan ciuman mereka . Tangan Angga semakin naik dan naik hingga sampai di p******a istrinya yang ranum dan mengkal ia rasakan dalam genggaman nya . Dia memberikan remasan lembut di d**a istrinya . Tak mau tangan yang satunya nganggur , kedua tangan Angga bergerak untuk menggoda kedua gunung kembar milik istrinya .
Angga memindahkan ciuman nya ke leher jenjang istrinya . Ia tersenyum saat mendengar ******* kenikmatan dari bibir istrinya itu .
__ADS_1