Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )

Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )
42


__ADS_3

"Sayang jangan begitu , aku tau kamu marah padaku ...


"Hei anda penipu ya .? Ngaku ngaku sebagai suami saya . Tidak lama lagi nanti bilang anak kita ada di kantor polisi dan minta tebusan dua ratus juta . Yang kreatif dong mas kalau mau nipu ." Angga menjauhkan layar ponselnya dari telinganya dan memeriksa kembali nomor yang ia pencet tadi .


Angga langsung menutup sambungan telepon nya ,setelah ia tau nomor yang ia hubungi salah . Hanya beda satu nomor pantas suaranya juga terdengar berbeda . Angga segera mengembalikan ponsel Andrian ,ia tidak jadi menghubungi istrinya .


"pak sudah sampai ." ucap Andrian saat sudah sampai di depan rumah Angga .


"Terimakasih An kamu boleh langsung pulang ." ucap Angga .Dan langsung turun dari mobil dan setengah lari masuk ke dalam rumah yang pintunya di biarkan sedikit terbuka .


"Sayang ." Angga pergi mencari Nisa dan langsung masuk ke dalam kamar . Angga melihat Istrinya sedang tidur . Ia angkat tangan dan menempelkan punggung tangan nya di kening istrinya .


"Tidak panas ." gumam Angga .


"Sayang ." Angga mengguncang pelan bahu Nisa . Ia ingin membawa istrinya ke dokter seperti saran mamanya .


"Hemm ." Nisa membuka matanya perlahan .


"loh kok kamu sudah pulang ." tanya Nisa dengan suara serak menyapa telinga Angga ,Nisa berusaha bangun untuk duduk .ia menekan kepalanya yang terasa pening dan berdenyut .sejak pulang siang tadi ia merasakan kepala pusing .Angga mengangguk .


"Mana yang sakit sayang ." tanya Angga sambil duduk di samping Istrinya .ia khawatir melihat wajah cantik milik istrinya yang kelihatan sedikit pucat . Nisa menggeleng pelan .


"Hanya pusing ." ucap Nisa sambil membaringkan kan lagi badan nya .


"Coba buka laci dan ambil kotak yang berwarna coklat ."ucap Nisa . Angga segera melaksanakan perintah istrinya . Tanpa menunggu perintah istrinya yang kedua kali .


"Ini , yang ." ucap Angga sambil menyodorkan kotak itu .

__ADS_1


"coba kamu buka ." ucap Nisa lagi .


Angga membuka kotak itu . Isinya ada tiga dengan bentuk yang sama ." Apakah ini yang di namakan tespeck ya ." tanya Angga sambil mengeluarkan benda itu .


"menurut kamu ." nisa balik bertanya .


"kamu hamil yang ." raut wajah Angga sedikit berubah . Nisa mengangguk satu kali , Angga segera meletak kan kotak itu , dan pergi meninggalkan Nisa seorang diri di dalam kamar mereka . Angga masuk kedalam kamar mandi tanpa bicara sepatah kata .


Nisa tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Suaminya . Pria itu diam tak mau bicara apapun , setelah keluar dari kamar mandi juga belum mau bicara , dia menganti bajunya .


"Aku pergi dulu , masih ada pekerjaan di restoran ." ucap Angga tanpa melihat ke arah Nisa . Nisa tidak bisa terima dengan reaksi suaminya . Ia menyibak selimutnya dan mengejar suaminya .


"Kamu tidak bisa terima kehamilan aku ." tanya Nisa dari belakang punggung Angga .


" Sebaiknya Kamu kembali ke kamar dan istirahatlah dulu ." ucap Angga dengan datar dan pergi meninggalkan Nisa tanpa menghiraukan panggilan istrinya .


"Angga , tidak bisakah kita bicara baik baik ." ucapnya lembut , salah satu di antara mereka harus ada salah satu yang mengalah . Dan Nisa dengan berani mengambil langkah itu .


"Aku harus mengurus masalah di resto dulu , setelah itu kita bicara baik baik ." nada bicara Angga masih terdengar datar .


"apakah pekerjaan mu lebih penting dari masalah ini ." tanya Nisa .


"Istirahatlah .kalau kamu mengantuk , pergilah tidur lebih dulu jangan menunggu aku ." Nisa tidak lagi mengejar suaminya itu . Ia biarkan suaminya itu pergi . Nisa mengusap wajah nya dengan kasar , dan air matanya mulai bercucuran .ia teringat nasib nya saat berada di dalam kandungan bunda nya dulu . Haruskah nasib nya terulang lagi pada anak dalam kandungan nya juga . Dia kecewa dengan reaksi yang di perlihatkan Angga tentang kehamilan nya .


Nisa duduk di sofa dengan lemas . Ia sandarkan punggungnya di sandaran sofa , ia lelah , lelah hati dan lelah jiwanya . Kepalanya kembali berdenyut lagi , rasa sakit dan mual yang tadi sudah hilang kini datang kembali .


"Bi sarijem ." panggil Nisa pada pembantunya yang sejak tadi mengamati pertengkaran kecil majikan nya itu , ia juga ikut merasa sedih .

__ADS_1


"Iya nyonya ." jawab Bi sarijem . Dengan cekatan ia menghampiri Nisa .


"Bi saya merasa mual dan ingin muntah . Tapi aku tidak kuat untuk berdiri dan jalan ke kamar mandi ." ucap Nisa lemah tangan nya juga menutup mulutnya .


"Bentar nyonya bibi ambilkan ember dulu ." ucap bi sarijem langsung berlari membawa ember dan handuk basah .bibi sarijem meletak kan ember itu di pangkuan Nisa dan membantu Nisa untuk mengurut tengkuk Nisa agar bisa memuntahkan isi perutnya .


Seharian Nisa tidak makan sesuatu . Sehingga dia tidak mengeluarkan begitu banyak sesuatu . Sekarang hari hampir gelap Nisa juga belum makan . Bibi sarijem tetap setia menmijit tengkuk Nisa dan sambil mengusap punggung Nisa .


" sudah bi , terimakasih ." ucap Nisa sambil menyenderkan kembali tubuhnya sambil menutup matanya lelah .bibi sarijem menatap Nisa dengan iba .


Bibi sarijem membawa ember kotirnya ke belakang tak lama kemudian ia datang lagi dengan Air teh hangat .


"Nyonya , minumlah dulu teh Hangat ini , biar lebih enak kan sedikit ." ucap bibi sarijem .


Nisa menerima gelas dari tangan bi sari jem dan berlahan lahan ia minum teh itu dengan pelan hingga tersisa setengah .


"Terimakasih bi ." ucap Nisa kembali.sambil menyodorkan gelasnya.kepada bi sarijem .


"Sama sama nyah , biar bibi bantu pijitin kepalanya ya , biar ringanan dikit ." ucap bi sarijem . Nisa hanya mengangguk pelan . Rasanya ia benar benar lelah dan capek hanya untuk mengatakan kata "YA "


"Bi sarijem menekan nekan kening Nisa . Gerakan tangan bi sarijem menekan sambil memutar .


"Ngak apa apa ya bi , kalau Nisa ketiduran ." bisik Nisa , Bi sarijem mengangguk walau ia tau Nisa sedang menutup matanya . Setelah hampir lima belas menit Nisa benar benar tertidur dengan nyenyak . Bi sarijem pergi mengambilkan selimut dan menyelimuti badan majikan nya itu .


Bi sarijem menarik sofa di sampingnya untuk menaruh kaki Nisa dengan pelan . Bi sarijem meninggalkan Nisa di ruang tamu sendirian dan pergi ke dapur melanjutkan pekerjaan nya . Ia beeharap masalah majikan nya itu cepat selesai . Dan Angga menerima kehamilan pertama sang istrinya dengan lapang dada .


Sementara Angga , ia mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit yang masih di naungi oleh keluarganya , yang di kelola oleh sepupunya dari Bilyam . Sebenarnya Angga sangat bahagia dengan kabar kehamilan Nisa tapi ia tidak mau menunjukan itu di depan Istrinya . Sejak keluar dari rumah nya senyum nya tidak lepas dari sudut bibirnya .

__ADS_1


__ADS_2