Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )

Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )
07


__ADS_3

Dewangga memarkir mobilnya di depan rumah minimalis berlantai dua . Nisa mengamati lingkungan sekitar .menurutnya tempat itu merupakan perumahan elit menengah ke bawah .


"Turun ." perintah Dewangga tegas .


"Tidak mau ." tolak Nisa ada perasaan takut menjalar di hatinya . Takut kalau pria itu berbuat jahat padanya . Atau mungkin lebih parah . Seperti memperkosanya lalu membunuhnya dengan keji . Nisa bergidik ngeri membayangkan nya .


Dewangga membuka pintu mobil samping Nisa . dan menarik Nisa keluar dari mobinya . Namun Nisa berpegang erat dengan setir mobilnya sehingga Dewangga tidak mudah menariknya keluar .


"Saya tidak mau turun , lepaskan ." teriaknya histeris .Dewangga mendengus , ia lepaskan pegangan nya pada tangan Nisa . Tadinya Dewangga membawa Nisa untuk bicara baik baik .Rumah yang baru ia beli dua hari yang lalu . Rumah yang rencananya akan ia tempati setelah ia mulai masuk kerja di perusahaan papanya nanti .


Dewangga menutup pintu mobil dan menekan tombol lock .kemudian Dewangga meninggalkan Nisa sendirian . Ia masuk ke dalam rumahnya .


Nisa berusaha membuka pintu mobil ia tekan semua tombol yang ada dengan panik . Ia melihat Dewangga masuk ke dalam rumah . Yang ada di dalam pikiran Nisa adalah Dewangga pergi mengambil senjata tajam untuk membunuhnya . Nisa melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan tapi kenapa tak ada satu orangpun yang lewat .


Nisa mengambil ponselnya dan mengetik permintaan maaf pada kedua orang tuanya dan meminta maaf atas kesalahan nya . Nisa juga mengetik semua total kekayaan nya , dan semua aset yang ia miliki , agar di berikan kepada badan amal . Dengan linangan air mata . Nisa menekan tombol kirim .


Nisa menatap pasrah pada Dewangga yang telah keluar dari dalam rumah . Dengan mengenggam sesuatu di tangan nya . Yang tidak dapat Nisa lihat apa itu . Mungkin senjata tajam atau.apa.yang bisa untuk membunuhnya .


"kalau kamu hikss.. Ingin membunuhku , bunuhlah dengan cepat . Dan kalau aku sudah mati kirim mayatku ke rumah sakit atau kuburkan saja dengan layak ." ucap Nisa dwngan linangan air mata .


Dewangga yang baru saja dusuk di kursi kemudinya menatap binggung pada Nisa .


"Siapa yang ingin membunuhmu ." Tanya Dewangga sambil menatap ke sekeliling tak ada seorang pun di sana ."pikir Dewangga .


"Jadi kamu tidak ingin membunuhku ."tanya Nisa ada binar lega di matanya .


Dewangga mendengus ia menarik tangan Nisa dan menyematkan cincin sederhana di jari Nisa .

__ADS_1


"untuk sementara kamu berstatus sebagai kekasih aku , jangan kamu menganggu hubungan Lisa dan Bily , saya akan memantau mu . Jadi jangan coba coba . kalau tidak aku akan melakukan hal yang seoerti kamu pikirkan tadi ." ancam Dewangga denga serius .


Nisa menangis semakin kencang bukan karena takut dengan Dewangga ia ingat dengan pesan yang di kirim nya untuk kedua orang tuanya . Ia pulang pasti akan di gantung oleh Ayahnya . Dan pesan yang ia kirim telah centang biru dua .


"Dasar wanita lemah , belum juga di apa apain , aku juga belum lakukan apa apa kamu sudah nangis sekencang ini ." Dewangga memberikan tisue pada kepada Nisa . Nisa mengambilnya dengan kasar . Dan tanpa malu Nisa membersihkan ingusnya di depan Dewangga setelah itu membuang tisue nya sembarangan .bahkan Dewangga melotot jijik menatap bekas tisue yang di pakai Nisa ada di mobilnya .


"Ya Alloh ingatkan hamba untuk mencuci mobil ini besok ." gumam Dewangga dalam hati .


Dewangga menunggu Nisa sampai berhenti menangis sekitar lima belas menit .


"Aku akan antarkan kamu pulang ke rumahmu . Ingat pesan aku , jangan pernah coba coba merusak hubungan Lisa dan Bily kalau tidak kamu akan tau akibatnya ." Nisa tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Dewangga ia sibuk mencari alasan untuk Ayah dan bundanya nanti .


Mobil Dewangga sudah sampai di depan pintu rumah Nisa . Sudah hampir sepuluh menit Nisa tidak turun dari mobilnya tapi ia sibuk mengigit gigit kuku jari nya . Mencari alasan untuk kedua orang tuanya .


"Kamu tidak mau turun ." tanya Dewangga jengah .


"Ini semua karena kamu ." ucap Nisa kesal . Ia menunjuk tepat di depan mata Dewangga yang belum Nisa ketahui namanya .


"Kalau bukan karena kamu , aku tidak akan membuat pengakuan seperti itu pada Ayah dan bundaku ." ucap Nisa . Dewangga meraih tangan Nisa dan menurunkan nya .


"Pengakuan apa ." tanya Dewangga penasaran yang sejak tadi ia lihat wanita itu gelisah dan ketakutan .


Nisa memicing , ia melihat tatapan Dewangga dengan curiga .


"Bukan urusan kamu ." ucap Nisa memilih untuk bungkam .ia membuka pintu mobil itu dan segera turun keluar dan menutupnya lagi dengan membantingnya dengan keras .


Nisa hendak melangkah tapi. Kembali mengetuk kaca jendela mobil Dewangga . Dewangga menurunkan kaca jendela mobilnya .

__ADS_1


"Siapa nama kamu ." tanya Nisa dwngan gaya angkuh . Dagunya terangkat sedikit ke atas . Dia hanya ingin menunjuk kan pada Dewangga kalau dia bukan wanita yang mudah di tindas .


"Dewangga ." jawab Dewangga pendek .


"Nama say..


"Saya sudah tau ." ucap Dewangga langsung menaikan lagi kaca mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan Nisa seorang diri di depan pagar rumahnya .


Setelah kepergian Dewangga Nisa ragu untuk memasuki rumah kedua orang tuanya . Kalau sudah begini ia merasa menyesal tidak membeli rumah sendiri atau apartemen sendiri . Karean ia sudah memutuskan akan tetap tinggal bersama dengan orang tuanya hingga ia menikah nanti .


Karena seorang anak perempuan setelah menikah hanya akan menjadi tamu unyuk orang tuanya . Karena kelak ia akan mengikuti kemana suaminya pergi .


Setelah berjalan melewati halaman yang cukup luas .kin Nia ragu menatap pintu rumahnya . Dengan pelan ia membuka pintu rumah nya sambil melonggok kanan dan kiri . Mencari keberadaan kedua orang tuanya .


"mbak, Ayah dan bunda di mana ." tanya Nisa karena rumahnya keadaan sangat sepi . Hanya ada pelayan yang sedang bersih bersih .


"Ada non . Bapak dan ibu baru saja naik ke atas ." ucap pelayan .


"Terimakasih bi ." ucap Nisa dan mencari ancang ancang untuk lari secepat mungkin masuk ke dalam kamarnya sendiri .


"Iyesss ," ucap Nisa setelah sampai di dalam kamar sambil menyalakan lampu kamarnya .


"Astaga ." teriak Nisa saat membalik kan badan nya ,ia melihat kedua orang tuanya telah berada di kamarnya dan duduk di ranjangnya .


"Sore menjelang malam.sayang ku ." ucap Ardy sambil tersenyum penuh makna .sementara sang istri Tiara menatapnya dengan mata melotot . Dan tangannya di lipat di depan dada .


"Sore juga Ayah ." Balas Nisa sambil nyengir .

__ADS_1


"Jafi ada yang ingin kamu ceritakan sayang ku ." tanya Ardy tetap dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya .


__ADS_2