Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )

Benang Merah (Cinta Tiada Tara 2 )
48


__ADS_3

"kamu mau ngapain ." tanya Nisa melihat Angga mengikutinya masuk ke kamar mandi .


"kamu mual lagi ." tanya Angga balik bertanya.


"sudah engak , aku mau mandi , badan aku bahu muntahan ." ucap Nisa menjelaskan .


"Benar sudah tidak mual lagi ." tanya Angga sekali lagi memastikan keadaan istrinya . Nisa menggelengkan kepalanya .


"Ok ." Angga pun keluar meninggalkan istrinya di kamar mandi dan memilih menunggu nya di tempat tidur .


...****************...


Nisa naik taxsi menuju ke restoran milik suaminya . Karena kedua wanita yang sangat dia hormati telah menunggu nya di dalam sana . Tadinya Nisa ingin mengendarai mobil sendiri , tapi Angga melarangnya , dalam kondisinya yang hamil muda dan masih sering pusing dan mual tanpa melihat waktu akan sangat berbahaya bagi keselamatan nya . Karena Nisa seorang istri yang patuh dan berbakti pada suami ia menuruti perintah suaminya agar naik taxsi .


Begitu memasuki restoran Nisa melihat bundanya dan mama mertuanya telah duduk di meja dekat dengan jendela dan berhadapan langsung dengan AC , dan tempat duduk mengarah ke luar sehingga bisa menatap hiruk pikuk jalanan di luaran sana .


Nisa tersenyum kepada bundanya yang melambaikan tangan nya . Nisa mempercepat langkahnya . Saat langkahnya tinggal dua meja lagi tiba tiba seseorang menjulurkan kakinya keluar membuat Nisa hampir jatuh ke lantai bila kedua orang tuanya tidak segera menangkapnya .


"Nisa ." teriak putri dan Tiara .


"kamu baik baik saja sayang ." tanya putri membantu Nisa berdiri . Nisa tidak menjawab pertanyaan mama mertuanya . Ia menatap orang yang sengaja menjegalnya .setelah tau siapa orang itu , Nisa langsung menarik rambut wanita itu , sekuat tenaga .


"Akh ." teriak Devina yang rambutnya telah di !cak acak oleh Nisa .ya wanita itu adalah Devina . Ia berteriak kesakitan . Ia juga tidak menyangka kalau Nisa mempunyai keberanian , akan membalasnya .


"Apa kamu kira , aku wanita bodoh yang akan diam saja setelah tau kamu akan mencelakai aku ha ." gerutu Nisa .


"Sayang , sayang sudah lepaskan ." lerai putri tidak tega melihat wanita yang telah di acak acak oleh menantunya . Tiara juga membantu putri untuk menarik Nisa .

__ADS_1


Nisa akhirnya melepaskan tangan nya dari rambut indah Devina yang telah berubah jadi seperti tumpukan jerami .


"Wanita sialan ."maki Devina sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut nyeri karena bekas jambak kan Nisa .


"He.. , apa katamu , kamu hampir saja mencelakai menantu dan calon cucu aku , dan sekarang kamu malah memakinya , apa kamu tidak pernah di ajari oleh orang tua mu ." bentak putri dengan telak .


Mendengar kata menantu membuat wajah Devina pucat seketika , ia selama berpacaran dengan Angga memang belum pernah di pertemukan atau di kenalkan dengan orang tuanya .Dan sekarang mereka di pertemukan dalam keadaan dirinya sebagai orang jahat .


"Maaf tante . Tapi dia yang mulai lebih dulu ." elak Devina .


"Tapi jelas jelas kamu yang menghadang langkah putriku ." ucap Tiara ikut membela putrinya .


"Kalau kamu mengira aku mudah di tindas , maka kamu salah memilih lawan ." ucap Nisa sambil menyingsingkan lengan bajunya yang terbuat dari kain sutra yang ia pakai .


" Sini maju kalau berani ." tantang Nisa .


"sudah Nisa jangan di kejar ." ucap Tiara menghalangi putrinya yang akan mengejar Devina .


"Sekarang kita ke rumah sakit dulu , kita periksakan kandungan kamu ya , takutnya kenapa napa."ucap Tiara .


"Benar mbak , kita harus ke rumah sakit sekarang juga , tadi perut dia kebentur apa tidak , walau kita berhasil menangkapnya ." tambah putri .


"Makan dulu ma , bun . Kemarin Nisa baru periksa bun , ma . Kita makan dulu ya , Nisa sudah sangat lapar lo , dari tadi belum makan apa apa ." ucap Nisa bernegosiasi dengan kedua orang tuanya .


Tiara dan putri saling pandang dan mengangguk setuju .


Nisa pulang ke rumah setelah di antar kedua ibunya periksa ke dokter kandungan . Dokter mengatakan kalau kandungan nya baik baik saja , tidak ada yang oerlu di khaqatirkan .ia cukup banyak banyak istirahat saja .

__ADS_1


"Kamu sudah pulang ." ucap Nisa basa basi , saat melihat suaminya telah duduk di atas ranjang mereka . Pria itu diam hanya menatap dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Nisa . Terkadang Angga susah di tebak . Terkadang dia bisa hangat dan lembut . Terkadang diam tanpa sebab . Suaminya memang sangat labil .


" Bukankah Aku sudah katakan , kalau aku tidak ada hubungan Apapun dengan Devina ." Angga membuka suara dengan datar .


"Iya , terus .? Tanya balik Nisa , yang belum mengerti arah pembicaraan suaminya . Tapi ia menebak pasti ada hubungan nya dengan kejadian siang tadi di restoran milik suaminya itu .


"Lihat ini ." Angga menyerahkan ponselnya kepada Nisa dengan sedikit kasar . Sebenarnya nisa kesal dengan sikap suaminya itu , tapi tak urung ia tetap menerima ponsel suaminya itu .


"Putar vidionya ." perintah Angga kembali . Dengan sabar Nisa mengikuti perintah suaminya dan menekan tombol play . Di layar ponsel Angga .


Nisa mengeryitkan keningnya . Dalam vidio itu di mana Devina menjegalnya telah di potong yang muncul adalah vidio saat Nisa sedang menjambak rambut Devina .


"ini..


"kenapa ..kamu terkejut aku mengetahui sifat kamu yang bar bar ." potong Angga . Sambil berdiri di depan Nisa , menunjuk kan sikap.tidak sukanya pada sikap kasar istrinya .


"Apa kamu kira aku lakukan itu tanpa sebab " dengan tenang Nisa balik bertanya .


"Apapun itu , tidak seharusnya kamu bertindak sekasar itu . Biar bagaimanapun Devina masih sepupunya Rangga . Dan Rangga itu sahabatku dan seharusnya kamu menjaga sikap sebagai istriku ." Angga kembali duduk di ujung ranjang nya .


Nisa menatap tajam pada suaminya itu ."Kamu tau aku istrimu , tanpa mencari tau lebih dulu kejadian yang sebenarnya . Kamu percaya begitu saja dengan potongan vidio itu , hanya karena sahabatmu dan mantanmu sepupunya ." Nisa masih bersikap sabar tidak ingin buru buru terpancing emosi .


"Aku dan Rangga sudah lama bersahabat tidak mungkin dia akan membohongiku ." ucap Angga yakin , karena mereka telah bersahabat lebih dari Lima belas tahun . Dan tidak mungkin Rangga akan membohonginya .


"Jangan kan sahabat , saudara kandung saja masih bisa menikam saudara sendiri . Lebih baik kamu cari dulu bukti yang sebenarnya , sebelum kamu terus menghakimi aku seperti ini ." ucap Nisa dengan kesal dan marah . Ia sudah mencoba untuk bersabar , tapi sepertinya Angga ingin mengajaknya ribut .


"Kenapa tidak kamu saja yang mencari vidio fullnya untuk menyakinkan aku ." tantang Angga .

__ADS_1


"Baik , memang aku bukan wanita yang kamu cintai , anak dan istrimu di tindas kamu tidak berusaha mencari tau kejadian yang sebenarnya ." tanpa mengatakan apapun lagi Nisa peegi meninggalkan kamar mereka .


__ADS_2