Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 3


__ADS_3

---Happy Reading---


Selesai sudah pembelajaran dengan dosen. Aluna yang sudah berjanji main dengan kedua sahabatnya berniat mengembalikan motor milik abang kesayangannya tapi niatnya diurung saat ia melihat abangnya sudah berdiri didepan kelasnya dengan menatapnya tajam sambil melipat kedua tangannya didada. Aluna meringis pelan segera ia berjalan mendekati abangnya ragu.


"Abang ternyata udah didepan kelas luna, baru aja luna mau nyari abang di ruangan abang." Aksa tidak menjawab dan masih fokus menatap gerak gerik adiknya. Luna yang tidak mendapatkan jawabannya langsung mengeluarkan kunci kesayangan abangnya dan memberinya ke tangan kanan abangnya. "Ini, aluna balikin. Makasih ya abang aksa, kalau gak ada lagi luna mau kekantin udah ditungguin sama citra dan rizka. Assalamualaikum abang." ujar luna dengan cepat, baru mau berbalik badan.


Tangannya dicekal oleh Aksa dengan tatapan tajamnya. Aluna menelan ludahnya karena takut dengan tatapan abangnya yang hampir sama dengan milik tatapan papanya jika sedang marah. "Bagus banget, buru buru banget mau pergi kemana emang? Hem?"


"Ke Mall,.. sama sahabat."


"Kata siapa kamu boleh keluar rumah selain pergi kekampus. Emang udah dibolehin? Emang udah ijin? Sama siapa ijinnya?" tanya aksa dengan menekankan nada suaranya.


"Sama mama yang kata itu."


"Itu kapan?"


"Kemarin kalau gak salah.." lirih luna dengan menundukkan kepalanya.


"Siapa yang menyuruh kamu menunduk!" Bentak aksa, membuat luna langsung menegakkan kepalanya dengan gelengan kepala. "Ga ada, abang tolong jangan kayak gini. Kau menakutkan.." pintanya dengan sedikit air mata keluar diujung matanya. Membuat Aksa yang niatnya ingin keras luluh akibat air mata adiknya. Dia lemah oleh air mata orang tersayangnya, mama dan adiknya.


Aksa menghela nafas kasar, dengan cepat ia menyeka air mata adiknya yang sebentar lagi terjatuh. "Udah jangan nangis, abang kayak gini karena khawatir luna naik kendaraan sendiri, yang khawatir luna bukan abang aja melainkan papa dan mama. Jangan kayak gini lagi kalau bisa, luna boleh ke mall cuman bukan hari ini."


"Abang... Luna udah janji sama Citra dan Rizka."


"Tidak tetap tidak, ke Mall kan juga bisa kapan kapan tidak harus sekarang. Luna harus dihukum oleh mama."


"Abang.." rengek luna dan diacuhkan oleh Aksa, tangan luna pun langsung ditarik pelan dengan cepat ia membawa adiknya kedepan gerbang yang sudah ada sopir pribadi papanya yang sudah menunggu. Dengan terpaksa luna dengan lesu masuk mobil papanya, Aksa yang melihat raut wajah luna yang sedang cemberut hanya bisa menggelengkan kepala. "Jalan terus pak, jangan ada kata berhenti. Kalau dia minta apa apa jangan dihiraukan."


"Baik tuan muda, kalau begitu saya antar nona terlebih dahulu." Aksa mengangguk. "Hati hati, jangan nakal luna."


"Abang!"

__ADS_1


Setelah mobil itu pergi, Aksa segera menemui kedua sahabat adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak bisa menepati janjinya. Setelah itu ia pergi dan meninggalkan kampus adiknya dengan pergi kekampusnya yan berada tepat didepan kampus adiknya. Motor kesayangannya juga sudah berada digenggamannya dengan cepat ia memarkirkan kesayangannya itu di tempat seperti biasa, dan bertemu dengan sahabatnya.


Sedangkan aluna yang sedang gerutu karena kesal kepada supirnya yang tak menghiraukannya untuk berhenti ke supermarket atau mini market. Kesal dengan abangnya yang tau saja apa yang ia rencanakan, sesampai dirumah, luna langsung lari masuk rumah dan menuju kamarnya.


Ia kira mamanya berada diruang keluarga tapi ternyata mamanya sedang bersantai dikasur kesayangannya, dengan lunglai ia berjalan mendekati mamanya. "Luna pulang ma." ujarnya dengan menyalimi tangan kanan mamanya dan mengecup pipi mamanya.


Anzelpun tersenyum manis kepada putri satu satunya. Dengan lembut ia mengelus pucuk kepala luna dengan pelan, "Luna tau kan kenapa mama, papa dan abang aksa posesif sama kamu. Selalu protek sama kamu?" luna mengangguk. "Tahu ma."


"Apa?" Aluna segera memeluk pinggang mama dengan setengah badan berbaring. "Menjaga luna dari semua bahaya."


"Pintar anak mama, dan luna taukan kenapa mama dan papa buat peraturan dirumah ini?" Luna mengangguk kembali. "Tau ma, agar luna dan abang gak melakukan hal dengan semena menanya."


"Good! Jadi luna tau kesalahan luna apa?"


"Tau ma, luna udah melanggar peraturan jalanan yaitu ngebut, luna juga udah melanggar untuk membawa kendaraan sendiri, luna juga udah melanggar tidak meminta izin terlebih dahulu ama pemilik kendaraan abang."


"Bagus kalau luna paham dengan kesalahan luna, jadi sekarang mama akan mengatakan bahwa 3 minggu luna tidak boleh keluar dulu selain kekampus dan kekantor papa, dan 3 minggu itu juga luna dipotong uang jajannya."


"Ya sudah, luna mandi habis itu kebawah makan pagi, masih jam 10 pagi. Mama tunggu didapur ya sayang.."


"Iya ma.."


❣❣


Didalam ruangan khusus milik luna, saat ini gadis itu sedang fokus membuat fashion gaun yang sudah tertata rapih didalam otaknya. Gadis itu mengabaikan benda pipih yang berada di sampingnya yang sedari tadi terus bergetar. Aluna, gadis itu masih fokus dengan dunianya sendiri tidak menghiraukan sosok manusia yang sedari tadi sudah masuk dan duduk di sofa empuk miliknya dengan tangan kanan berisi benda pipih miliknya.


Aluna yang tak menghiraukan orang lain langsung tersadar saat mendengar decakkan disampingnya. "ABANG?!" Pekiknya karena terkejut apa yang sedang dilakukan oleh Aksa kepada hapenya. "Apa?" tanya aksa tampang tak berdosa.


"Abang! Hape luna salah apa sih? Sampai dibanting gitu untung aja luna pake karpet bulu tebel." omelnya sembari berdiri melangkah mendekat kearah abangnya dan hapenya. "Habisnya mereka menyebalkan, apa apaan itu mengajakmu bertemu dimalam hari? Ck. Emang mereka kira kamu gadis panggilan apa yang segampang itu diajak keluar." gerutu aksa karena kesal kepada pria idung belang yang entah tau dari mana nomer adiknya itu.


"Yaudah sih, luna juga gak tanggapin mereka. Buang buang waktu yang sangat berharga bagi luna, lebih baik bikin design gaun baru."

__ADS_1


"Tapi, luna gak pernah mencari tau siapa dalang yang sudah memberi nomer luna ke semua pria idung belang ini?" unjuk abang ke chatan dengan nomer tak dikenal. Luna menghendikkan bahunya lalu duduk disamping abangnya, "Luna gak punya waktu buat nyari pelaku dibalik ini semua."


Hening.. Keduanya tidak ada yang angkat bicara, 30 menit mereka terdiam dengan pikiran masing masing. "Bang.." panggil luna kepada aksa yang masih fokus memblokir nomer tak dikenal dihape adiknya. "Hem.."


"Abang, apa luna pernah lupa ingatan?"


Deg! Aksa terdiam sebentar lalu melanjutkan mengscrol hape adiknya. "Kenapa nanya gitu?" Luna menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Luna suka mimpiin sosok bocah kecil main bola basket sama abang dan luna yang menjadi penontonnya. Gak itu aja, terkadang luna suka denger suara suara yang asing tapi menurut luna itu gak asing." curhat luna kepada abangnya.


"Abang, luna tanya sekali lagi.. Apa luna pernah lupa ingatan?" tanyanya sambil menundukkan kepala, karena takut dengan tatapan abangnya seakan ia adalah mangsa.


Aksa berdiam, lalu menghela nafas.. "Lun,.." panggilnya dan luna pun langsung mendongak menatap abangnya.


Aksa mengangkat tangan kanannya untuk mengelus pelan kepala adik kecilnya. "Kamu akan tau pada suatu hari nanti, pada saatnya abang harap luna tidak terlalu kaget ya. Dan abang harap luna gak memaksakan segala hal yang akan datang kehidupan luna, oke?" Luna yang mendengar ucapan abangnya seketika mengangguk seakan dirinya paham apa yang dibicarakan oleh Aksa.


'Abang tau, adik kecil abang belum mengerti apa yang abang jelaskan tadi. Walaupun luna udah berumur dua puluh tapi tetap saja luna tetaplah adik kecil abang, tuan putri papa dan putri manja mama.' batin aksa sembari menatap lekat adiknya yang sudah fokus kembali kepada pekerjaannya.


Sedangkan aluna, dia sedang fokus pada suatu hal didalam pikirannya bukan fokus kepada sketsanya. Ia bingung apa yang sebenarnya yang telah disembunyikan oleh keluarganya saat ini, apa ini ada hubungannya dengan koma 12 tahun yang lalu? Dimana dirinya hampir pergi lama dari semua orang yang ia sayangi.


Jika ia, tapi apa? Saat ini luna tidak sadar bahwa ada sesuatu yang mengalir dilubang hidungnya, sampai membuat abang tersayangnya panik. "Luna! Darah! Kamu mimisan luna!" teriaknya dengan panik membuat luna tersadar lalu ia mengambil lap yang berada ditangan abangnya. "Kamu mikirin apa luna? Abang mohon jangan berpikir macam macam lagi, cukup jalani saja seperti biasanya ya.." ucapnya dengan nada khawatir, luna bisa melihat bahwa abangnya sangat sayang kepadanya sampai ia mengeluarkan air matanya.


Aluna menyeka air mata itu dengan lembut. " Abang.."


"Luna, jangan sampai mama dan papa mengetahui ini. Jika tidak ingin mereka khawatir dan menangis dihadapanmu luna." Aluna mengangguk, "Iya abang, abang juga jangan nangis.. Maafin luna udah buat abang khawatir." Aksa mengangguk dengan telaten dia membersihkan darah mimisan adiknya hilang tak tersisa dibawah hidung maupun dekat bibir mungil luna.


"Dah, bersih. Luna jangan memikirkan apapun selain tugas kampus oke? Abang tinggal dulu ya." Aluna mengangguk. "Iya abang.."


---Bersambung---


Jangan lupa like dan ikuti ceritaku yang lainnya.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2