
Singapore, Minggu pukul 06.00
Aroon, Adam dan Elliot saat ini telah berada di depan kamar Rangga.
" Seperti nya ini kamar Rangga deh" Ucap Aroon.
" Yes, that's right..." Elliot memastikan lagi.
Adam mengetuk-ketuk pintu itu berulang-ulang, bahkan dengan ketukan yang sangat keras.
Ceklek.
Kepala Rangga menyembul dari balik pintu dengan rambut yang berantakan. Matanya sembab, wajahnya juga terlihat bengap. Entah pukul berapa semalam pemuda itu baru bisa terlelap.
Belum sadar betul atas keberadaan teman-temanya, Elliot segera mendorong Rangga dan menerobos masuk ke dalam kamarnya, diikuti oleh Arron dan Adam.
" Heii...apaan sih asal nyelonong masuk aja!!" Rangga geram dengan ulah teman-temanya ini.
Mata Adam dan Aroon memindai sekeliling, seolah sedang mencari sesuatu.
" Kamu mencari apa??" Tanya Rangga
" Where's your girlfriend?" Tanya Adam dengan menaikan alisnya sebelah.
" She's not here..." Jawab Rangga cepat.
" So ???" Tanya Adam lagi.
" So what???" Rangga kembali melemparkan tubuhnya ke kasur, matanya sangat berat untuk dibuka.
" So, kamu tidak bersama pacarmu, kamu tidak tidur denganya?" Tanya Adam heran.
" Tidak, dia ada dikamar lain.." Jawab Rangga dengan mata terpejam.
" But why??, she's your girlfriend right?" Aroon kini terlihat lebih kepo.
" Bukan pacar, tapi dia istriku.." Ucap Rangga dengan mengangkat jari yang terdapat cincin kawinya bersama Ara disana.
Sukses membuat mereka melongo tak percaya.
" Dia tidak mau bersama ku karena teman-teman yang lain tidak tau kalau kami sudah menikah, dia menjaga nama baikku.."lanjut Rangga.
" Gila, aku mau satu yang seperti dia, apa masih ada?" Tanya Adam.
" Nggak ada!!!, player iblis seperti mu jangan pernah mengharapkan malaikat!!" Timpal Aroon.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Aroon yang tegas dan seratus persen benar, sementara Adam hanya mengumpat kesal.
" Bukan salahku berwajah tampan dan digemari banyak cewek kan, ini anugrah " Adam berusaha membela diri.
Sedang Elliot sudah duduk disofa dengan tangan sibuk memainkan ponsel Rangga.
" Ckck...ckck.. Gila bro cantik banget istrimu ini?" Ucap Elliot.
Rangga yang terkejut melihat Elliot mengotak-atik ponselnya langsung segera merebutnya.
" Ellie nggak sopan kamu!!" Bentak Rangga.
" Untung saja foto Lili yang nggak pakai jilbab semua ku privasi..huuffft" Gumam Rangga seraya mengelus dadanya.
Mereka bercakap-cakap seputaran rencana kuliah mereka, dan ternyata mereka bertiga sama-sama telah lolos sebagai calon mahasiswa Boston University, kecuali Aroon.
" Agenda kita ke pantai pagi ini Ga, kamu siap- siap aja, bawa pacarmu.."Ucap Adam setelah beberapa lama mereka ngobrol.
" Ya.., aku bersiap dulu. Tunggu aja di lobby bawah.." Ucap Rangga.
...**...
" Sayang, kita akan jalan ke pantai pagi ini..." Ucap Rangga saat mereka berada di restoran untuk sarapan.
" Apa boleh..Lili nggak usah ikut kak..?" Ucap Ara datar.
Rangga menatap Ara yang sangat terlihat menjaga jarak denganya sejak semalam.
" Please sayang sekali ini saja, ini yang terakhir..." Ucap Rangga penuh permohonan, semalam Rangga sudah menceritakan semua.
Sebagain dari mereka memang tak layak untuk dijadikan teman.
Untuk selanjutnya Rangga akan benar-benar hati-hati dalam memilih teman.
Setelah sarapan mereka masuk kekamar Ara karena disana baju ganti mereka berada.
Rangga duduk di kasur, menatap Ara yang bersiap.
" Sayang nanti balik ke Jakartanya agak malam nggak papa ya?" Tanya Rangga ragu-ragu.
Karena dia baru dapat chat dari teman-temanya kalau acaranya bakalan mundur.
" Besok Lili ujian, hari pertama matematika dan fisika..." Ara menolehkan kepalanya pada Rangga yang ada dibelakang nya.
" Ya udah, nanti kita sebentar aja disana, kita balik ke hotel duluan," Ucap Rangga berikutnya.
Rangga beranjak berdiri, dan menatap keluar jendela, sebenarnya dia malas turun.
Rangga merasa mengantuk karena kurang tidur.
" Nggak usah pergi aja deh sayang..." Kata Rangga dengan masih menatap luar jendela.
Ara menoleh tak percaya.
" Nggak pergi gimana nih?"
__ADS_1
" Kita disini aja, kakak mengantuk....." Rangga memeluk Ara dari belakang, meletakkan kepalanya dipundak Ara.
" Pergi aja ayoo, bentar aja, nggak enak lho, teman kakak jauh-jauh udah datang ke sini"
Rangga selalu nyaman setiap bersama Ara seperti ini.
" Terimakasih " Bisik Rangga tiba-tiba.
" Untuk apa?"
" Untuk keluasan hatimu yang terus-terusan memaafkan semua kesalahanku sayang..."
...**...
Singapore Pukul 10.00, Pasir Ris Beach
" Rangga kita foto bareng yuk.." Beberapa teman cewek menarik-narik lengan Rangga kesana sini.
Yang lain masih punya adap kesopanan saat melihat keberadaan Ara, tapi tidak dengan Sarah.
Ada Ara ataupun tidak, Sarah memperlakukan Rangga bagai pemuda singel.
Sementara Ara hanya cuek tak peduli.
" Ara, kamu sudah lama kenal Rangga?" Tanya Elliot mendekati Ara yang memilih berayun dibawah pohon sendirian.
" Sangat lama....." Jawab Ara, dengan pandangan menerawang masa lalu, dimana pertama kali bertemu Aga kecil.
Elliot pria melambai itu menatap wajah mempesona Ara dengan intens.
Tak ada rasa apa-apa, hanya kagum saja.
" Pantas Rangga tergila-gila padamu, sampai-sampai menerobos salju hanya untuk menelpon mu, kau patut di perjuangan Ara, kau sangat cantik..."Ucap Elliot jujur.
" Terimakasih Ellie, kau terlalu memuji.."
Mereka terlibat percakapan yang seru. Bahkan sesekali mereka tertawa terbahak-bahak.
Elliot pribadi yang ramah, walaupun sedikit memiliki orientasi menyimpang. Bertemu dengan Ara yang cerewet dan cuek maka akan jadi perpaduan yang klop saat bersama Elliot yang ember dan ceplas-ceplos.
" Apa kau mau menjadi temanku Ara?" Tanya Elliot dengan menyerahkan ponselnya.
Ara menatap mata biru Elliot dengan tatapan bingung.
" Line ID atau alamat email please.." Lanjut Elliot lagi.
" Oh...oke.." Ara meraih ponsel Elliot dan mengetik sesuatu disana.
" So we are best friends right now.." Tanya Elliot.
Ara tersenyum lebar dan mengangguk.
Ara mengeluarkan maskernya dan memakainya.
Entah kenapa Alliot merasa nyaman dengan keduanya.
"Ara aku dengar kamu akan ikut Rangga ke Boston?" Tanya Elliot.
" InshaAllah..." Jawab Ara lugas.
" InshaAllah???" Tanya Elliot heran.
" Ya, jika Alloh menhendaki, aku akan ikut kakak.." Ara terus tersenyum setiap berbicara dengan Ellie. Entah kenapa wajah tampan yang cenderung cantik milik Elliot selalu membuat orang yang memandangnya ikut happy.
Elliot menatap Ara yang sedang menikmati semilir angin pantai. Dia mengeluarkan kamera dari dalam tas nya.
"Ara...." Panggilnya.
Saat Ara menoleh kamera sudah mulai menyala.
Jebret...jebret..jebret..
" Heiii, pencuri kamu Elliot. Hapus!!!" Teriak Ara.
Elliot tertawa-tawa saat Ara berusaha mengejarnya ingin merebut kamera ditangannya.
" Ada apa sayang..." Tanya Rangga menengahi Ara yang sibuk menarik kamera Elliot.
Sedangkan Elliot tertawa keras karena berhasil mengerjai Ara sampai segitunya.
" Dia mencuri foto Lili tuh..." Adu Ara kesal.
" Siniin Elliot!!" Rangga merebut kamera Elliot.
" Wuihhh, bagus nih, aesthetic banget Ga...!!" Ucap Aroon di belakangnya saat ikutan melihat foto-foto Ara yang didapatkan oleh Elliot.
Rangga mensave file itu dan mengirim lewat Blouthoot pada ponselnya.
Beberapa foto Ara yang terlihat cantik dihapusnya, disisa kan yang tak terlalu nampak wajahnya.
Rangga melempar kamera Elliot, dan pemuda cantik itu segera sigap menangkap nya.
" Dasar pria licik!!!, kenapa fotonya tinggal ini!!!" Maki Elliot.
Rangga hanya menggendikkan bahunya dan merangkul Ara untuk pergi.
" Kakak lihat kamu akrab dengan Ellie?" Tanya Rangga saat mereka kini duduk diatas pasir pantai yang putih.
" Dia baik, lucu, wajahnya enak dilihat...antara cantik dan ganteng hi...hi.." Ara tersenyum saat mengingat wajah Elliot yang unik.
" Kalo aku..??"
__ADS_1
" Kakak kenapa?" Tanya Ara bingung dengan pertanyaan Rangga.
" Aku ganteng?, enak dilihat juga nggak?"
Rangga bertanya dengan serius.
Ara terbelalak tak percaya. Rangga cemburu dengan pria setengah masak itu?
" He hemmpp ha..ha..ha.." Ara tak dapat menahan tawanya.
Jujur kalau mau nurutin nafsunya dia ingin marah pada Rangga dan mendiamkan Rangga atas kesalahannya semalam.
Tapi melihat imutnya hari ini membuat Ara lupa akan rasa kesalnya.
Ara masih terus saja tertawa dan menutup mulutnya, sementara Rangga malah semakin menggelitik perut Ara.
" Pulang ke hotel yuk.." Bisik Rangga dengan menarik tangan Ara agar bangkit.
"Ayok..., ngantuk Lili.." Ara segera menjatuhkan tubuhnya di dada Rangga yang lebar.
" Ngantuk banget ya..?"
Pertanyaan Rangga tak disahutin oleh Ara.
Rangga pun merasa ngantuk luar biasa, semalam dia bersujud lama, mungkin baru terlelap setelah subuh. Dan Arapun sama.
Setelah pamit dengan teman-temanya Rangga membawa Ara kembali ke hotel.
Brugh!!!
Rangga menghempaskan tubuhnya di kasur.
Ara geleng-geleng kepala, diraihnya sepatu suaminya dan dilepaskanya satu persatu.
Rangga telah tepar, bahkan suara dengkuran halusnya terdengar.
Ara telah selesai bersih-bersih di kamar mandi dan duduk di samping Rangga.
Beberapa kali Ara menguap, rasanya malas kembali ke kamarnya.
Gadis itupun membaringkan diri di samping Rangga.
" Jadilah manusia yang berakhlak baik sayangku.." Doanya dengan kecupan yang dalam di kening Rangga.
Dan tak butuh waktu lama, Ara pun ikut menyusul Rangga yang terlelap lebih dulu.
Satu jam berlalu.
Drrtt...drrrttt...drrrtt
Ponsel Rangga bergetar di celana jins nya.
Dengan mata yang masih berat untuk dibuka Rangga meraba-raba celananya.
Tapi tak sengaja sikunya menyenggol sesuatu.
Matanya mau tak mau langsung terbuka.
Oh ya Tuhan..
Ada makhluk manis begini kok di anggurin.
Senyum smirk dari bibir Rangga tersungging penuh kelicikan.
Dengan gerakan pelan dan penuh strategi, Rangga memulai aksinya.
" Emmm..akkhhh..." Ara yang merasakan sesuatu pada dadanya segera membuka mata.
Dilihatnya kepala Rangga telah di sana.
Oh ya Tuhan kakak...
Kamu tidak membiarkanku istirahat dengan tenang....
Beginikah nasib seorang istri...
Jerit Ara dalam hati.
Setelah meninggalkan kamar Rangga semalam.
Ara banyak berkonsultasi pada mama dan mertuanya.
Rangga memang harus selalu di pantau dan di pandu.
Rangga pribadi yang loyal terhadap pertemanan.
Memang sulit masuk ke circle Rangga, karena Rangga sangat pemilih teman.
Tapi kadangkala Rangga juga bisa kecolongan.
Rangga kombinasi komplit dalam satu tubuh, Jenius dan Bodoh dalam satu casing.
" Kak...lepasin...Lili masih marah ..." Ara berusaha melepaskan diri.
" Nanti aja marahnya sayang..., marahnya dilanjutin kalau udah selesai 'ini' nya...please..." Jawab Rangga tanpa berhenti dari aktivitasnya.
" Kak...lep---emmppp" Rangga segera membungkam bibir Ara dengan rakus.
Rangga tidak akan bisa diajak ngomong kalau sudah mode tempur seperti sekarang, Ara hanya bisa pasrah.....
Bersambung....
...*****...
__ADS_1
Yuk...vote yuk....senin...senin....😍😍😍😍