Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rangga galau...


__ADS_3

Rangga mengusap wajahnya yang tampan, tampak pemuda itu sedang memikirkan sesuatu yang serius saat ponselnya berdering.


" Hallo, Assalamu'alaikum " Sapa Rangga sopan, sebuah nomor asing membuatnya mengeryitkah dahinya.


" Waalaikumsalam, gue ada di Roman's cafe, kita perlu bicara empat mata sebelum lo nikahin adek kembar gue" Suara tegas dari seberang membuat Rangga langsung notice siapa yang sedang berbicara dengannya sekarang.


" A..Ardi??"


Rangga segera bergegas menyambar jaketnya dan berlari menuju motornya.


Tidak sampai tiga puluh menit motor Rangga sudah terparkir di parkiran Roman's cafe.


Seorang pemuda yang wajahnya sepintas mirip dengan Ara, telah duduk sambil ujung jarinya memutari bibir gelas minumannya.


"Udah lama Di..?" Sapa Rangga sambil mendudukkan tubuhnya di depan Ardi.


"Lumayan lah, gue sempetin kesini, ada yg ingin gue bicarain sama lo..."


Rangga menegakkan tubuhnya, bersiap dengan apa yg akan disampaikan oleh calon kakak iparnya ini.


Ardi menarik nafas dan menghembuskan, dari raut wajahnya tersimpan kekhawatiran dan kecemasan.


Matanya tajam menatap pada Rangga dengan tatapan penuh arti.


"Huftt...." Lagi-lagi pemuda itu menghembuskan nafasnya berat.


" Gue selama hidup nggak pernah memohon pada siapapun Ga, tapi hari ini gue memohon sama lo buat bener-bener jagain adek gue" Ucap Ardi dengan mata yang mulai memburam.


"Selama enam belas tahun, bersama kami adek gue nggak pernah cengeng. Dia nggak pernah mengeluarkan air matanya sia-sia, kecuali saat dia terluka waktu lo dorong dia di perosotan dan saat si bangsat Lenox menjamahnya..., bahkan saat dia jatuh dan kakinya patahpun dia tidak menitikan air matanya" Ardi menjeda kalimatnya.


" Besok dia akan jadi istri lo, walaupun begitu dia tetaplah bagian hati gue, dia tetap sebelah jantung gue, dia tetap hidup dan mati gue, dia senang gue juga senang, dia sedih gue juga sedih, apapun yang dia rasakan, gue juga merasakan nya, jadi gue mohon jangan sekalipun lo bohongin dia, jangan sakitin dia baik perbuatan ataupun perkataan lo ke dia, kalo gak gue..." Ucapan Ardi tercekat di tenggorokan. Dan tidak mampu meneruskan ucapanya.


Sejatinya usia Ardi lebih muda dua tahun dari Rangga, tapi pengalaman hidup yang berwarna telah banyak dialami oleh Ardi.


Sedangkan Rangga yang putra tunggal, tentu tidak tahu suka duka rasanya memiliki kakak dan adik yang sering ditinggalkan tugas seminggu dua minggu, bahkan berbulan.


Bahkan Rangga tak pernah tahu, bagaimana beratnya berbagi tugas Adnan dan Ardi saat Ara sakit disaat orang tuanya ke luar negeri. Dan itu tentu berlangsung dari saat mereka kanak-kanak.


Rangga menundukkan kepalanya, memikirkan dan mencerna baik-baik semua ucapan Ardi. Pria muda ini memejamkan matanya.


" Gue minta sama lo jangan sekalipun lo buat air mata adek gue jatuh, kalau sampai itu terjadi, gue jamin saat itu juga lo kehilangan dia, camkan ini bro!!!"



Ucapan Ardi terhenti saat suara Bianca memanggilnya.


" Om daddy...om daddy cayang...." Teriak Bianca sambil berlari-lari mendekati Ardi.


" Om daddy..???" Tanya Ardi bingung.

__ADS_1


"Iya..om tan daddy Bianta..." Jawab gadis kecil itu dengan mata bulat yang menggemaskan.


Sedangkan Ardi menatap Azura yang berjalan di belakang Bianca dengan sinis.


Matanya mencerminkan isi hatinya yang tidak suka dengan panggilan Bianca padanya saat ini.


"Maafkan Zura mas, Bianca nggak bisa dikasih tau..." Ucap Azura saat telah sampai di depan Ardi.


" Cih..., lalu harus gue gitu yang kasih tahu" Ucap Ardi geram.


"Enak aja!!!, gue masih otw tujuh belas tahun kok di panggil daddy" Geramnya dan hanya bisa didengar oleh Azura.


" Bian..., panggil om Ardi saja ya sayang, om Ardi bukan daddy Bian..." Ucap Ardi sambil meraih Bianca dalam gendongan nya.


Ardi menciumi seluruh wajah Bianca dengan rakus, karena jujur Ardi sangat rindu dengan gadis kecil ini.Ardi sungguh-sungguh mencintai gadis kecil ini, tapi untuk menjadi daddy??, jauh dari fikiran Ardi.


Mendengar ucapan Ardi yang tak ingin dipanggilnya daddy Bianca tampak terlihat sedih, hampir dua minggu gadis kecil ini kangen berat dengan Ardi dan berharap bertemu. Tapi sikap Ardi hari ini seperti pisau yg menyayat hati Bianca.


Azura pun terlihat canggung dan tak enak hati. Sudut hatinya teriris mendengar penolakan Ardi. Bukan maunya seperti ini, bukan maunya dia harus terjerumus di sangkar emas Al Ghifari.


" Sini sayang..., om Brian mau kok jadi om daddy nya Bian..." Brian datang terlambat karena harus memarkirkan mobilnya dahulu, dan hatinya tercubit mendengar ucapan Ardi, apalagi melihat perubahan wajah Bianca membuatnya sedih. Segera diraihnya Bianca berniat untuk menggendongnya.


Tapi Ardi segera menepis tangan Brian sebelum tangan itu menyentuh Bianca.


Mendengar ucapan Brian yang ingin menjadi daddy bagi Bianca membuatnya tiba-tiba merasa tak rela.


Dengan gemas Ardi menciumi perut Bianca, membuat gadis itu berteriak dan tertawa bahagia.


Mereka kini duduk mengelilingi meja, tampak Azura sangat tak nyaman dengan posisinya yang sedikit terlalu dekat dengan Brian.


Seorang pelayan cafe datang dengan membawa pesanan mereka.


Bianca langsung turun dari pangkuan Ardi dan berlari memeluk kaki pelayan tersebut.


" Uncle Nathan telja di cini...?"


" Eh ada Bian..., sama sia----" Pelayan cafe bernama Nathan itu melihat satu persatu pelanggan yang ada dimeja yang dituju. Tatapannya terkejut melihat Azura duduk bersama tiga cowok, tak pernah Nathan melihat ini sebelumnya.


" Zur..., disini juga, tumben.." Ucap Nathan setelah menghampiri meja mereka, dan meletakkan pesanan.


" Ah iya Nath, kenalkan ini brothy Brian, itu mas Ardi, dan yang itu kak Rangga.., mereka anggota keluarga Al Ghifari" Ucap Azura.


Nathan mengangguk sambil menyalami satu persatu pria muda dimeja itu.


" Perkenalkan gue Nathaniel, teman kecil, eh sahabat Azura Paramitha " ucap Nathan dengan senyumnya yg sangat manis.


Nathan segera menggendong Bianca karena gadis itu terus mengulurkan tanganya minta gendong.


Ardi merasakan hawa panas saat melihat Bianca dekat dengan pria lain selain dirinya.

__ADS_1


Apalagi Bianca terlihat sangat dekat dengan pelayan cafe yang berwajah oriental Asia itu.


Ada rasa egois dalam dirinya untuk memiliki gadis kecil itu untuk dirinya sendiri.


Setalah mengobrol mereka kini berpencar, Rangga pulang dengan motornya, Ardi kembali bersama Brian dalam satu mobil.


Tadi saat turun dari pesawat, Ardi langsung menghubungi Brian untuk memberi kejutan pada keluarga dengan merahasiakan kedatangannya.Ardi hanya mendapat ijin dua hari untuk menghadiri hari bahagia saudara kembarnya itu.


*


" Sayang sudah siap untuk besok?" Tanya mommy Tara pada putra tunggalnya yg kini meletakkan kepalanya pada pangkuan mommy Tara.


" Entahlah mom..." Jawab Rangga galau.


" Kok entahlah son!!!, gimana sih kamu!!!" Bentak daddy Hen.


" Rangga galau dad, mom..., Rangga ragu bisa membahagiakan Lili atau nggak untuk selanjutnya..." Jawab Rangga jujur.


Fikiran Rangga kini menerawang jauh, memikirkan kata-kata Ardi, padahal ini baru Ardi, belum Adnan, belum papa Syakieb, belum Marvel...


" Kamu lupa, usahamu dengan kak Bagas berkembang pesat, bahkan hotel kalian berdiri di beberapa negara kini.." Tepukan daddy Hen sedikit mengurangi beban beratnya.


Tapi masalah membahagiakan keluarga tak terletak pada materi semata bukan?.


Rangga takut akan menyakiti Ara dengan perilakunya, atau kata-katanya yang terlalu jujur dalam mengekspresikan isi hatinya.


Satu lagi, Rangga masih tersangkut masalah dengan Jessica.


Flashback on


"Jess maksud lo apa bilang lo hamil sama gue, gak nyangka gue lo tega fitnah gue seperti ini..." Rangga membentak Jessica saat Ara pergi meninggalkan nya di depan UKS beberapa minggu yang lalu.


" Bukan niat Jess begitu kak, tapi ayah bayi ini gak mau bertanggungjawab hil..hik.., Jessi diperkosa kak.., gak ada yg peduli Jessi kecuali kakak" Tangisan buaya Jessica sungguh membuat, Denis, Rayya dan Vino muak.


Rangga terlihat melunak, membuat ketiga sahabatnya geram dan meninggalkan Rangga begitu saja.


" Tolong temui Ara dan bilang yang sejujurnya, gue nggak mau dia salah paham sama gue" Ucap Rangga.


" Iya, tapi kak Rangga janji ya tidak membenci Jessi, kakak kan tau Jessi ini anak yatim piatu yang diadopsi, hanya kak Rangga yg baik sama Jessi..hikk..hik..."


Rangga meraup wajahnya pusing, dia memang tau siapa Jessica yg ternyata hanya anak adopsi dari kakak kandung ibu Sasti.


Selama mengenal Jessica dia juga sangat tahu bagaimana perlakuan keluarga Jessica pada gadis malang itu.


Gadis malang????, benarkah???


-----


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2