Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ganyang Pelakor...


__ADS_3

Menjadi suami seorang dokter memang sudah diperkirakan oleh Rangga akan seperti ini repotnya. Tapi apapun itu asal dilakukan dengan sepenuh hati dan iklas tentu akan berbuah manis.


Seperti sore ini, Rangga hanya kekampus tidak sampai lima jam tadi pagi, setelah itu dia ke kantor dan mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat.


Pukul 15.00, pria muda itu sudah menjemput putra-putrinya dari rumah mommynya.


" Sudah mommy bilang, tinggal disini saja. Sama saja sayang..., mandiri juga" Mommy Tara mengelus bahu putra tunggalnya yang sedang menggendong twins di kanan kirinya.


" Nggak usah mom, Rangga nggak mau ngerepotin mommy dan daddy.."


" Ngerepotin apa sih?, malah seneng dong kami..." Sahut mommy Tara.


" Iya, nanti kalau Rangga semakin sibuk juga akan sering Rangga titipin mom, tapi saat ini biarkan kami mencoba mengurus semampu kami..." Jawab Rangga sopan, mengecup pipi mommy Tara lalu melangkah keluar.


" Rangga pulang dulu mom, thanks very much...love you..."


...***...


Sepulangnya dari rumah mommynya Rangga langsung meletakkan twins di matras lantai yang empuk, mereka tidak bisa lagi diletakkan diatas tempat tidur, karena mereka sudah mulai merangkak.


Almeer si boy jelas lebih aktif daripada Almaeera adiknya.


Jika Almaeera selalu nyaman dengan bermain jempol tangan dan jempol kakinya, justru Almeer selalu bergerak kesana kemari.


Seperti saat ini, Almeer terus saja mengintil daddynya yang sedang menuju wastafel untuk cuci muka.


" Bentar boy, daddy bersih-bersih dulu okey..."



Ting tong...


Suara bel pintu membuat Rangga dengan cepat mengangkat Almeer dan membawanya ke depan.


Biasanya jam segini istrinya pulang, beberapa minggu ini Ara memutuskan untuk membawa mobil sendiri. Agar Rangga tidak terlalu repot kesana kemari.


Ara membesarkan matanya saat pintu terbuka, penampakan dada terbuka suaminya membuatnya silau.


Walaupun sudah halal untuk dilihatnya, Ara masih juga terlihat malu-malu untuk menatap secara langsung tubuh suaminya itu.


" Assalamualaikum....,heyy Almeer sayang...kenapa gendongan daddy terus hemmm" Ara mengelus pipi Almeer dengan lembut, lalu meraih tangan Rangga untuk dikecupnya seperti biasa, lalu beralih pada bibir Rangga sekilas.


"Kenapa telanjang dada begini berani buka pintu Bi..., kalau ternyata bukan Lili gimana coba?"


" Biar saja, rejeki dia berarti ha..ha..ha..ha.." Rangga mencubit bibir Ara yang cemberut karena mendengar jawabanya itu dengan gemas.


Sebelah tanganya merangkul pundak istrinya sayang, mengecup pucuk kepala dengan penuh cinta.


" Iihhh...Itu maunya kamu Bi, pamer kalo dadanya bagus begitu...." Ara semakin mencebik marah.


" Ha...ha..ha .., ya enggak lah sayang, kakak ngintip dulu tadi kok, baru buka setelah tahu itu kamu..." Rangga mengecup bibir istrinya itu singkat.


" Capek sayang?" Tanya Rangga saat melihat istrinya terduduk lemas di sofa, disamping Almaeera. Ara nampak mendongakkan kepalanya dengan mata tertutup rapat.


" Nggak capek karena kerjaan sih, cuma capek ngadepin ulat keket yang beberapa hari lalu datang kesini..." Sahut Ara dengan mata masih terpejam.


" Ulet keket?"


" Si Sheyla...." Lanjut Ara.


" Sheyla?, ada urusan apa dia?" Tanya Rangga penasaran, tanganya menyodorkan Almeer yang terus melengkung minta gendong mommynya.


Lalu segera meraih Meera yang sudah mulai merangkak kemana-mana.


" Dia terang-terangan bilang sama Lili kalau dia suka sama kamu Bi..."


" Hahh!!! Udah gila dia, berani nantangin Singa betina gue...ha ..ha...ha..." Tawa Rangga pecah begitu saja.


" Kok kamu kayak happy banget Bi!!, seneng ya kamu!!" Seru Ara kesal.

__ADS_1


Cepp!!


Rangga langsung menutup mulutnya, ditepuknya bibirnya sendiri berulang-ulang.


" Sorry sayang, keceplosan. Sebenarnya bukan karena sukanya kakak tertawa, lebih tepatnya menertawakan kebodohan Sheyla yang berani mengusik istriku yang galak ini..."


" Jadi menurutmu Lili galak Bi?"


" Ehhh, bukan itu maksudnya..." Sekali lagi Rangga menepuk-nepuk bibirnya.


" Jangan ditepukin Bi..., punya Lili itu..." Ucap Ara pelan.


" Jelas! punyamu semua yang ada pada diriku sayang...., coba ceritakan ada apa tadi.." Rangga duduk disamping Ara dan mulai memijit pundak istrinya setelah menaruh twin di baby walkernya masing-masing.


Flasback on.


Ara sedang istirahat di kantin siang ini, Lenox dan beberapa rekan Koasnya juga ada.


Tap..tap..tap..


Dengan anggun Sheyla mendekati Ara dengan angkuhnya. Rupanya Sheyla adalah salah satu dokter kulit di rumah sakit ini. Beberapa bulan kemarin dia menempuh pendidikan di luar negeri dan baru beberapa hari lalu come back.


Dan baru kemarin pula dia tahu bahwa Ara yang dikiranya adik Rangga ternyata adalah seorang dokter, saat tanpa sengaja melihatnya diparkiran saat dijemput Rangga.


" Siang..., bisa gue gabung disini?" Ucapnya sok ramah pada gerombolan Ara.


" Wuihhhh lo Shelpa bukan sih, yang ketemu di rumah Ara beberapa hari yang lalu ya?" Seru Lenox genit.


" Gue Sheyla, bukan Shelpa. Btw ternyata lo seorang fokter juga...., keren.." Sheyla dengan tak tahu dirinya duduk disamping Lenox.


"Lo dokter juga kan?, berarti lo juga keren...." Sahut Lenox.


Mata Sheyla begitu sinis dan meremehkan saat menatap Ara.


Nggak cantik gini aja kok Rangga suka ya..


Dih nggak level!, nggak ada tantangannya buat rebut Rangga dari dia. Secara dari segi manapun masih jauh dibawah gue..


" Lenox, lo suka cewek yang kayak gimana?" Tanyanya sok akrab pada Lenox.


" Cewek!!, kalau ngomongin cewek pandangan gue sih rata-rata saja seperti cowok pada umumnya sih, yang jelas harus cantik!, montok!, mulus, putih, intinya yang bisa membuat sesuatu bangkitlah!!" Lanjut Lenox.



Beberapa cowok yang ada disana juga mengangguk setuju.


Sheyla melirik remeh pada Ara sekilas, semua ciri-ciri yang disebutkan Lenox adalah dirinya. Baginya Ara kalah telak.


" Tapi itu pandangan suka gue ya, bukan berarti pilihan untuk istri juga begitu..." Lanjut Lenox.


" Kalau dulu masih awal-awal puber sih, iya. Suka yang kayak diawal tadi, tapi untuk mencari istri gue mentingin ke akhlaknya..."


" Mencari istri diibaratkan memilih buah, yang segar, fresh tapi begitu manis karena benar-benar masak dipohon. Dia adalah buah yang dibungkus rapat agar tidak satu lalatpun bisa menyengatnya"


" Gue bangsat, gue tahu dan sadar diri!!, makanya gue cari istri yang bisa bimbing gue ke jalan yang lebih bener.."


" Jadi selera lo yang pakai hijab ya Lenox?" Sambar Dilan, teman koasnya.


" Nggak haruslah, gue nggak maksa. Pacar gue sekarang belum tergerak untuk pakai hijab, nggak masalah, tapi dia nggak pernah berpakaian terbuka dari awal gue kenal sampai sekarang, tapi kalau cuma kita berdua, malah gue paksa dia buka baju...ha...ha..ha..." Cubitan maut Ara dilenganya membuat Lenox tertawa lepas.


Jadi Lenox udah ada pacar?, halah baru juga pacar.


Ehh...tapi kok Ara deket bener sama Lenox, kemarin dulu juga keluar masuk rumah Ara begitu saja.


" Emmm, kalian...?" Sheyla menunjuk keduanya bergantian.


" Dia mantan terindah gue..., kenapa?" Ucap Lenox dengan lagi-lagi semakin tertawa keras karena giliran kakinya diinjak dengan keras oleh Ara.


Mantan?

__ADS_1


Dih apa yang dilihat mereka dari si Ara ini.


Jereng kali mata kedua orang itu.


Dihhh, kayak ada yang nggak beres, fix ini!!, mereka kena pelet Ara.


" Pacarmu anak mana Lenox?" Tanya Sheyla dengan sedikit menempel ke arah Lenox.


" Masih kuliah, beberapa hari yang lalu balik ke Jerman dia kuliah disana. Kenapa?"


" Ya nggak kenapa-kenapa sih, tapi pasti cantik banget ya..."


" Sure!!!, cantik dan selera gue banget. Yang penting dia nurut! mau gue apain aja dia mau ha..ha..ha..." Sambung Lenox lagi.


" Kalo lo...lo udah punya pacar atau suami?, btw looks lo dewasa sekali.." Tanya Lenox basa-basi.


" Belum ada, tapi mantan gue ratusan asal lo tau" Jawabnya dengan bangga.


Cih!! Sampah ! Udah jebol pasti, tinggal ampas doang. Batin Lenox.


" Terus lo sendiri cowok yang lo sukai yang seperti apa?" Lenox balik bertanya.


" Yang macho, kuat gagah dan seksi, seperti Rangga Bayu Wijaya!!, dan sepertinya nggak ada lagi yang kayak dia. Berarti selera gue mentok ke dia.." Sahutnya cepat tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Semua mata yang ada disana melotot kaget mendengarnya. Karena mereka tau betul nama yang disebut oleh Sheyla adalah suami Ara teman mereka.


" Hey Sheyla, lo nggak ada adab ya!! Lo terang-terangan bilang kayak gitu di depan istrinya!!, sinting lo"


" Kenapa?, bukankah rasa suka harus diungkapkan, dari pada terjangkit radang otak!!" Sahut Sheyla balik.


" Dihh!!, lo terang-terangan menempatkan diri lo jadi pelakor disini???"


" Nggak masalah!!, dan gue yakin gue pasti berhasil!!. Lihat aja, gue lebih cantik, lebih seksi, dan service an gue pasti lebih memuaskan, dan itu sudah terbukti dari ucapan mantan-mantan gue, yeah i'm must be better than papan triplek seperti dia " Ucap Sheyla dengan sesumbar.


" Jaga mulutmu!!, jangan menghina myAra!!" Bentak Lenox penuh aura kebencian.


Para dokter muda yang ada dikantin melotot tak percaya dengan tingkah murah Sheyla saat ini. Mereka menatap Ara dengan penuh rasa iba.


Jika mereka melihat kemarahan Lenox, mereka pun sama marahnya. Tak rela teman sebaik Ara di remehkan seperti itu.


Ara dan Lenox saling tatap. Lenox meraih tangan Ara yang berada di atas meja, dibawanya ke pangkuannya, lalu meremasnya memberikan semangat yang dibutuhkan Ara saat ini.


" Ulet nangka itu udah berani remehin lo!!, Ganyang Ra!! seperti lo mengganyang Jessica dulu..." Bisik Lenox.


" Nggak perlu, suamiku nggak akan sudi direbutnya!!, kak Rangga nggak minat yang modelan dia" Bisik Ara pula. Dan Lenoxpun mengangguk setuju.


" Sheyla, gue nggak kenal lo sama sekali kecuali tahu nama lo doang"


"Lo bangga amat jadi pelakor. Dan lo terang-terangan banget ngomong didepan gue lo menginginkan suami gue, salut gue!!"


" Padahal ibu kita Kartini berjuang keras loh buat mengangkat derajat wanita. Lo yang ngakunya dokter kok malah merendahkan harga diri lo sebagai pelakor antara gue dan suami gue, nggak menghargai banget lo..." Ucap Ara panjang lebar.


" Maksud lo ngoceh kaya gitu apa?, jadi lo takut?, karena lo merasa kalah cantik dari gue?" Sahut Sheyla cepat


Ara tersenyum gemas, dan menoleh menatap Lenox, lalu ke Dilan dan ke Anggara.


" Apa menurut kalian gue nggak cantik?" Tanya Ara pada ketiga teman semasa kuliahnya itu.


" Cantik, Cantik, Cantik banget" Ucap mereka kompak.


" See..... Mereka bilang gue cantik tuh, tapi gue b' ajah, nggak perlu membesarkan kepala, takutnya malah jatuh tersungkur saking beratnya kepala kita. Ingat Sheyla, jadi wanita itu jangan murahan. Masa baru dibilang cantik aja udah mau ngasih service an. Mahalin dikit harga diri lo napa, masa kalah sama harga cabe"


Ucapan Ara membuat semua teman-temannya sesama koas menyunggingkan bibir mereka puas. Puas karena teman baik mereka mampu melawan pelakor dengan cara yang elegan. Dan tidak perlu jambak-jambakan.


Flasback off.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_1


Yuk kepoin yuk....


Cerita tentang Sunny putra Marvel dan Dian bersama Shanum putrinya Vino dan Vera...


__ADS_2