
Rangga benar-benar tidak turun dari kamarnya sejak melihat foto-foto kiriman Lenox. Bahkan dia melewatkan sarapan dan makan siangnya.
Sementara dibawah, para sahabat Rangga bersiap untuk kembali ke Jakarta setelah makan siang.
Vera menatap Hana yang sejak pagi terlihat mendiamkan Adnan.
" Kenapa dia?" Tanya Vera pada Adnan.
" Ssshhhh, merajuk Ver..." Jawab Adnan sendu. Semalaman dia harus tidur di sofa tanpa selimut. Ditambah harus melihat Hana yang tidur dengan nyaman tanpa dirinya.
"Hana itu jarang marah, sekalinya marah mengerikan Ver..." Ucap Adnan lagi sambil matanya terus mengikuti gerak-gerik Hana yang sedang mengumpulkan koper dan tas mereka di ruang tengah.
" Abang sih kegenitan sama cewek" Sambar Vera.
" Idih!!!, itu nggak genit. Cuma bantu Brian pdkt aja abang tuh..." Sahut Adnan.
" Cewek kemaren itu polwan magang, akan training pada team Brian. Dia anaknya rame dan ceplas-ceplos, abang rasa akan cocok untuk Brian yang adem dan kalem.." Lanjut Adnan.
" Kalau untuk brothy, kok abang yang pdkt?, Jangan-jangan abang yang memang mau cari ibu tiri buat Rasya!!!" Sambar Hana.
Adnan segera menoleh kearah suara Hana yang ada di belakangnya.
" Sayangku..., bukan gitu...aduh sayang ambyar hati abang!!" Adnan mengulurkan tangannya ingin menyentuh istri kecilnya itu, tetapi Hana terus menolak.
" Terus..., kenapa happy banget sampai ketawa-ketawa begitu kemarin. Hati Hana remuk liatnya tau nggak??" Ucap Hana dengan nada cemburu yang pekat.
" Sayangku....dengar....itu, karena---"
" Karena cewek itu cantik Han, bodynya super bohay, postur tubuhnya keren, tinggi langsing putih, dan polwankan kekar dan tegap. Nah Adnan itu suka yang kayak gitu tuh, yang kuat semalaman..." Sambar Marvel.
Hana melotot mendengar ucapan Marvel. Semua kriteria yang diucapkan Marvel jelas tidak ada pada dirinya.
Dia termasuk pendek, dulu emang langsung tapi jelas sekarang tubuhnya semakin berisi semenjak menikah, dia putih emang iya, tapi tegap dan kekar jelas enggak. Kalau cantik??, Hana menjurus ke manis dan imut sih...
Tes..
Tes..
Tak terasa air mata Hana menetes tanpa disadari nya.
" Sayangku..., nggak!, bukan begitu sayang!!" Adnan segera mendekati istrinya. Tapi Hana justru menatapnya penuh rasa kecewa, dan langsung berlari ke kamar.
Adnan langsung menatap pada Marvel dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
" Marveeeeeel, gue cincang lo!!! Liat aja nanti!!" Teriak Adnan dengan mengacungkan telunjuknya pada wajah Marvel dan segera berlari mengejar Hana.
Sementara Marvel dan beberapa pria yang ada di ruang keluarga tertawa melihat Adnan yang bucin pada Hana.
" Hari ini Adnan dan Rangga benar-benar jadi bulan-bulanan para istrinya ha..ha..ha.." Tawa Marvel, tapi tawa itu berubah saat tatapan Dian tertuju padanya penuh kemarahan.
" W..wife? Kenapa? Ada apa?" Tanya Marvel gagap saat mendapati Dian memegang ponselnya dengan geram.
" Kenapa ada banyak foto wanita di galeri ponselmu hubby!!!" Ucap Dian dingin.
" Waduh..., kabur yok Vin. Sepertinya akan ada banyak perang hari ini. Ternyata daftar peserta yang jadi bulan-bulanan istri bertambah lagi..." Sindir Gama, diapun menarik lengan Vino dan Rayya, sementara Rayya menarik lengan Chandra untuk keluar dari sana.
***
Waktu sudah pukul 17.00 sore. Rangga terus menatap ujung jalan di depan rumah kakek Al Ghifari. Di sampingnya ada 2 koper yang sudah dipersiapkan nya untuk langsung dibawanya bulan madu ke Paris.
Seharian ini digunakannya untuk fitnes, berusaha membuang rasa gelisah dan overthinkingnya.
Dia benar-benar merindukan Ara sampai merasakan merinding sampai ke sumsum tulangnya.
Kebetulan kakek mengingatkannya tentang bulan madu. Dan akhirnya papa dan yang lain mengusulkan secepatnya saja, mengingat Ara sudah masuk semester tujuh.
Cukup dua minggu, karena Ara juga harus mengejar skripsinya.
" Kenapa jam segini belum pulang juga!!" Umpatnya kesal. Wajahnya terlihat kacau sedari tadi, apalagi saat ini suasana langit semakin gelap karena mendung rata menyelimuti daerah sekitar rumah kakek.
__ADS_1
" Daerah arah keraton ke Malioboro sedang hujan deras bro, ada pohon tumbang tadi" Jelas Ardi yang baru datang beberapa saat lalu.
" Hufffttt..." Rangga menghembuskan nafasnya berat.
Rumah kakek kembali sepi, karena hanya tinggal mama papa, Ardi, Azura dan Bianca serta Rangga dan Ara yang juga akan pergi dini hari nanti.
Bresssss..
Akhirnya hujan turun sangat deras. Sederas rasa gundah yang menyerang hati Rangga saat ini.
Istrinya ada diluar sana bersama pria yang sangat mencintainya, ditambah hujan begini.
" Astaghfirullah..., benar-benar bisa mati berdiri gue!!!" D*sah Rangga berkali-kali.
" Duduk sini bro!!, tenang..." Ucap Ardi.
" Lo bisa tenang-tenang..., lo nggak ngerasain sih!!"
" Siapa bilang??, gue lebih dari lo!!. Apa lo tahu rasanya saat tahu tunangan lo dijadiin istri palsu oleh pria lain?" Ucap Ardi dengan meremas tengkuknya geram.
" Maksudnya??"
" Kemarin itu gue nggak bisa kesini karena harus ribut dulu, teman pria Azura, memintanya menjadi istri palsunya agar tidak dipaksa menikah oleh orang tuanya... Gila nggak tuh!!!" Curhat Ardi.
" Nah karena Azura ini orangnya buaiikk banget jadinya dia nggak bisa nolak. Dan nggak mikirin perasaan gue sama sekali.."
" Lo kan tau gue nggak bisa marah sama dia, jadi gue harus gimana menurut lo...?"
Rangga melongo.
" Ini masalah gue aja berat begini Di, sorry Di!, gue nggak akan sanggup mikirin masalah lo juga..., nasib bini gue diluar sana aja gue nggak tau..." Jawab Rangga semakin ngenes..
Sementara papa Syakieb dan mama Neela yang mengurungkan langkah kaki mereka sejak tadi menutup mulut mereka agar tidak pecah tertawa.
Mereka geli mendengarkan curhatan cringe antara dua pria yang tengah galau memikirkan pasangan mereka masing-masing.
" Ini hari apa sih yang..., kok berasa suram benar...?"
" Sebenarnya sih hari Senin, tapi bisa disebut hari ambyar nasional... Adnan, Marvel, Rangga dan Ardi semuanya sepertinya sedang di rundung yang namanya Ambyar to the bone..." Ucap papa dengan sedikit mengangkat ujung bibirnya.
" Kesusahan itu didatangkan sebagai bentuk ujian sayang.., setiap yang di uji dan berhasil lulus itu akan naik kelas sayang.... Nah, Biarkanlah mereka belajar dari ini, untuk menuju masa depan yang tangguh. Kita sebagai orang tua hanya bisa memantau, tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Yakinlah..mereka pasti mempunyai jalan keluar untuk masalah mereka sendiri..."
" Assalamu'alaikum...."
Suara Ara dari pintu depan mengagetkan semua yang ada di ruang keluarga, terutama Rangga.
" Sayang..." Rangga segera berlari menuju pintu dimana Ara berada. Tetapi kakinya segera berhenti melangkah saat melihat Ara yang basah kuyup dan terbungkus oleh jaket Lenox.
Ara terlihat menggigil kedinginan. Lenox berdiri dibelakangnya.
" Gue balikin istri lo utuh, tapi sorry dengan keadaan seperti ini. Di jalan ada pohon tumbang jadi kami memutuskan untuk bawa motor. Nggak tahunya hujan deras. Sorry...." Ucap Lenox panjang lebar.
" Ayo masuk..." Rangga meraih tangan Ara dan membawanya masuk ke kamar, tanpa mempedulikan ucapan Lenox.
Karena sudah menjelang maghrib maka Lenox pun memutuskan segera pamit kepada papa dan mama Ara untuk undur diri.
Di kamar.
" Buka bajunya sayang..." Ucap Rangga dingin dan tegas. Wajahnya kaku tak bersahabat, membuat Ara takut untuk melihatnya.
Pertama udah telat pulang, Kedua bajunya basah, dan jelaslah sudah bentuk tubuh Ara. Ara jelas takut dan menuruti perintah Rangga tanpa membantah.
Dibukanya jaket Lenox, lalu jilbab dan bajunya. Yang tersisa hanya dalamnya.
" Su..sudah.." Ucap Ara sambil terus menunduk.
" Kamu kemana tadi?" Tanya Rangga dengan meneliti setiap jengkal tubuh istrinya, adakah jejak Lenox disana.
" Ke...ke..ke..Vi--" Ara ketakutan saat Rangga terus membolak-balikan badanya seolah sedang mencari sesuatu pada tubuhnya.
" Villa?, trus kamu pamitnya mau kemana?" Rangga meninggikan suaranya.
__ADS_1
" Cafe..."
" Angkat rambutnya " Perintah Rangga.
Ara mengangkat rambutnya tinggi-tinggi.
" Kamu nggak diapa-apain si brengsek itu kan?" Tanya Rangga penuh penekanan.
" Jadi kamu nggak percaya sama aku Bi...?" Tanya Ara sedih saat baru menyadari bahwa Rangga sedang mencari jejak Lenox pada dirinya.
" Aku percaya kamu sayang...., tapi tidak pada si brengsek itu!!"
" Ya Tuhan Bi...., kau it---- emmmppppp"
Rangga menyambar bibir yang dirinduinya sedari pagi.
" Aku kangen kamu..., aku seperti orang gila selama ngga ada kamu sayang...emmpppp" Rangga berbisik di sela cumbuanya.
" Lili mau mandi Bi...gerah...."
" Ditambahin aja gerahnya, nanti tinggal mandinya...yuk..." Bisik Rangga nakal.
Ya Tuhan kak Rangga...
Kamu ini benar-benar..
...***...
Natasya dan Denis saat ini sedang berada di salah satu kamar di rumah kakek Al Ghifari. Mereka sibuk merapikan baju dan barang-barang Denis untuk balik ke Jakarta subuh nanti.
" Jadi gimana kak? Kakak setuju kan dengan syarat Romo?"
Natasya mengedipkan matanya genit penuh misteri. Seiris kue buatan mama Neela berada di tanganya.
Denis berkeringat dingin saat mengingat persyaratan yang diberikan romo Natasya padanya sebelum kepergian beliau kembali ke Australia.
Pertama, Denis harus menyukai masakan pedas, tepatnya semua jenis sambal Jawa. Kedua, saat kepulangan romo ke Indonesia berarti Denis juga harus sudah mahir berbahasa Jawa halus. Yang ketiga, Denis harus ikut merawat ratusan kuda yang dimiliki keluarga Natasya di Sumbawa selama 1bulan. Dari memberi makan, memandikan, sampai membersihkan kotoranya.
" Yahhh, mau gimana lagi.... Apa aku punya pilihan lain? "
" Jika aku nggak setuju takutnya kamu nangis nanti, kamu kan cinta mati sama aku..." Jawab Denis percaya diri.
" OMG! Pede banget!!, siapa yang nangis..??"
" Kamu syayang...." Ucap Denis dengan menekan kata sayangnya.
" Syayang???, gitu amat sih manggilnya.."
" Ya kan Natasya sayang..." Denis menaik turunkan alisnya genit.
" Okey kalau gitu Nath panggil kakak Syadis ya..?"
" Sadis???, serem amat..." Ucap Denis dengan tertawa kecil. Dan menyambar pipi Natasya untuk dicubitnya.
" Ya kan Sayang Denis....hi..hi... Mau kue kak?, aaaa...buka mulut..."
Denis terpaku melihat gadis yang selalu datang dalam mimpinya ini. Sekarang begitu dekat, rasanya sungguh-sungguh nyaman dihatinya. Gadis cabenya yang menggemaskan.
" Enak lho..., mau nggak?" Tawar Natasya lagi saat tak mendapati reaksi Denis.
" Mau....." Bisik Denis pelan tanpa berkedip menatap Natasya. Dengan cepat Denis merebut piring dan sendok yang ada ditangan Natasya dan diletakkan di atas kasur. Dan kembali menatap Natasya intens.
Perlahan Denis mengenggam kedua tangan Natasya.
" Sepertinya manis kuenya..." Bisiknya pelan, dengan matanya terus menatap nanar bibir Natasya yang cemot dengan kue.
" Boleh kak Denis coba?"
" Coba aja tuh..." Natasya memajukan dagunya menunjuk pada kue yang ada dikasur.
__ADS_1
Tapi wajah Denis justru semakin maju mendekat ke wajahnya, membuat Natasya menahan nafasnya yang sesak tiba-tiba.
Wajah Denis semakin dekat dan dekat, bahkan hembusan nafas Denis kini menerpa wajah Natasya.