Childhood Love Story

Childhood Love Story
Vino & Vera


__ADS_3

Plak!!! Plak!!! Plak


Tamparan keras mendarat di pipi Vino, membuatnya terhuyung ke belakang.


Adnan segera membantunya, menangkap agar tidak sampai terjatuh ke lantai.


Tak ada tangis atau perlawanan apapun karena Vino sudah mempersiapkan diri untuk ini. Dan diapun sangat tahu dia PANTAS mendapatkan ini.


Sebelum menghadap papanya, Vino sudah sangat mempersiapkan seluruh mental dan fisiknya.


" Papa tidak pernah mengajarmu mejadi bejat seperti ini Vin!!!" Bentak papa tak dapat lagi menahan emosinya.


" Om..sabar dulu om, duduk om, kita bicara baik-baik.." Brian memegang lengan papa Vino agar duduk.


" Tidak Brian, anak ini harus diberi pelajaran!!" Tolak papa Vino.


Kedua tangannya terkepal disisi kiri dan kanan tubuhnya, wajahnya memerah, matanya nyalang, nanar dan berkaca-kaca.


Bugh...Bugh...


Tinjuan keras melayang pada pipi kiri dan kanan Vino, yang mengakibatkan sudut bibirnya pecah dan darah segar mengucur dari sudut bibirnya.


" Apa ini hasil didikan papa selama ini padamu Vino?, apa papa pernah mengajarimu menjadi pria brengsek yang menyentuh gadis sesukamu?, dan apa papa pernah mengajarimu melakukan kebejatan seperti yg kau lakukan!!! Katakan Vino!!!" Teriak papa dengan wajah yang memerah padam.


" Apa lagi ini pada adikmu sendiri!!!!, Astaghfirullah Vino!!! Papa malu...papa malu" Tangisan papa dengan meremas rambutnya kasar.


Brian segera sigap berdiri dibelakang papa Vino saat pria paruh baya itu terlihat terhuyung kebelakang.


" Istighfar om..., tarik nafas.." Brian menggosok punggung papa Vino untuk menyalurkan ketenangan.


" Pa..maafkan Vino.., Vino benar-benar khilaf pa..." Tangis Vino di bawah kaki papanya yang kini terlihat tak berdaya.


Wajah Vino saat ini sungguh sangat mengenaskan, bahkan kedua belah pipinya sudah sangat merah dan kebiruan.


Papa Vino menghembuskan nafas kasar. Kepalanya terlihat ditelengkan ke kiri dan ke kanan. Pria baya itu terlihat sangat tertekan dan peluh mengucur di pelipisnya.


" Bagaimana papa harus bicara pada papa Darren tentang ini..." Papa Vino meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan kasar.


" Mereka sudah setuju tentang perjodohan Darren dan Vera...." Gumamnya lirih, tapi masih bisa didengarkan oleh semua yang ada di sana.


Vino menundukkan kepalanya dalam, pemuda itu menggigit bibirnya yang remuk dengan gigitan yang kuat, yang justru semakin memperparah lukanya.


Hatinya hancur mendengar gumaman papanya.


Rasa sakit gigitan pada bibirnya sendiri tak sebanding dengan sakitnya hati Vino saat ini.


" Ketika kau lahir ke dunia, bersyukurnya papa atas semua karunia yang Alloh berikan pada papa saat itu, tapi lihat lah sekarang...bahkan papa tidak berhasil mendidikmu Vin." Desah papa Vino lagi sambil memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit.


"Pa.., maafkan Vino pa...Vino melakukannya karena Vino sangat mencintai Vera pa..." Vino beringsut merapatkan dirinya pada papanya tapi tepisan keras membuatnya terjengkang kebelakang.

__ADS_1


"Jangan membela dirimu!!!, apapun alasannya, yang kau lakukan tetaplah salah!!" Bentak papa.


Vera yang sudah tidak lagi sanggup melihat keadaan Vino yang mengenaskan segera berlari menolong Vino. Sedangkan Adnan yang sejak tadi berasa di belakang Vino segera beringsut mundur dan segera berlari kearah mama Vino yang terlihat pucat pasi.


" Papa..maafkan Vera.., dalam hal ini Vera juga salah..hiks..hiks..." Vera bersujud di kaki papanya.


" Vera tidak bisa menjaga kehormatan Vera pa..., Vera khilaf pa..., kak Vino tentu tidak melakukannya sejauh itu kalau Vera tidak meresponnya hikss...hikss..." Vera menangis tersedu-sedu.


Mama menangis meraung-raung di pelukan Adnan, wanita baya itu sejak tadi mencoba manahan tangisnya, tapi rupanya tidak sanggup lagi beliau membendungnya.


" Vin, pergilah... Papa tidak bisa lagi menerimamu ada disini untuk menjadi bagian dari keluarga Ramdani Malik, karena kau telah mencorengnya..." Ucap papa dengan suara lirih dan bergetar, tapi tetap tegas dan dingin.


Semua mata langsung tertuju pada papa, mereka sebenarnya sudah menduganya, tapi tak menyangka secepat ini kata-kata itu terlontar.


" Vin, maafkan papa jika selama ini kurang memperhatikan mu, papa sebenarnya sangat bangga dengan prestasi basket mu, papa selalu memperhatikan mu nak, walaupun mungkin cara papa tak seperti cara mamamu..." Ucap papa Vino dengan suara yang bergetar, saat ini pria itu berdiri memunggungi mereka.


Vino menangis tergugu mendengar kata-kata papanya.


Ya.., selama ini papa Vino terlalu kaku padanya. Papa Vino terlahir di keluarga dengan dua belas saudara lelaki semua.


Sehingga didikan keras dan disiplin yang selalu didapatkan nya. Bahkan saat Vino beranjak tumbuh dewasa tak pernah sedikitpun dia melihat senyum di bibir papanya yang sangat persis seperti bibirnya itu.


" Pergilah!!, menjadi pria harus bijak dalam bersikap, bertanggungjawab dengan semua yang dilakukan. Karena seorang pria nantinya akan menjadi kepala keluarga..." Lanjut papa.


" Pa.., jangan pa....Biarkan kak Vino yang tetap disini pa, Vera saja yang pergi pa" Vera memeluk kaki papanya.


" Kakakmu harus belajar cara nya menjadi pria yang bertanggung jawab, dan jika dia sudah berhasil, dan pantas, maka Ramdani Malik akan kembali menjadi namanya..." Ucap papa dan segera beranjak pergi dari sana.


Papa segera masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengunci diri di dalam sana.


" Nak Adnan..., bagaimana ini?" Mama Vino terlihat kacau, wajahnya pucat dan terlihat seputih kapas.


Mama sangat syok dengan ini semua, apalagi kondisi jantungnya yang bermasalah dan dia berusaha menyembunyikan dari suami dan putra putrinya.


" Tante tidak apa-apa?" Tanya Adnan menyelidik. Adnan bisa menangkap keganjilan pada pucatnya wajah sahabat mamanya ini.


" Tante tidak apa-apa sayang, hanya sedikit syok saja..., Vino sayang, mama akan bicara sama papa sayang..., kau jangan pergi.." Mama Vino segera memeluk Vino yang berjalan menghampiri nya.


" Vino salah ma..., Vino harus dihukum, Maafkan Vino ma.., tapi Vino tetap harus pergi.." Vino mengecupi seluruh wajah mama tercintanya.


" Kau akan tinggal dimana sayang..." Tangis mama semakin terdengar memilukan.


"Vino bisa tinggal di apartemen saya bu, kebetulan kosong dan jarang saya tempati.." Ucap Brian.


" Ma...maafkan Vera..." Vera menghambur diantara keduanya, wajahnya di desakkan di pundak wanita yang telah merawatnya setelah kematian mama yang belakangan ia ketahui ternyata hanya mama angkat saja.


Hampir lima belas menit mereka berangkulan untuk saling berusaha menguatkan.


Vera mundur selangkah dan menatap pada mata Vino yang terus menatapnya..

__ADS_1


" Ma, kak..ijinkan Vera pergi..." Bisik Vera lirih.


Wajahnya tertunduk menatap lantai ruangan itu.


Duarrr!!!


Semua mata disana menatap pada Vera yang kini tertunduk dalam.


" Pergi ke mana hah!!" Bentak Vino terkejut luar biasa.


Begitu pula mama, Adnan dan Brian.


" Vera akan ke Jawa Timur, Vera akan masuk pesantren disana, Vera ingin membersihkan diri, Vera ingin menjadi lebih baik...hik...hik.." Tangisnya semakin menjadi-jadi saat Vino memeluknya erat dari belakang.


Bahkan Vera merasakan pundaknya basah karena air mata Vino.


Ya, Vera telah memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. Membuang semua kenangan buruk dan segala kebejatan yang dia sendiri bagian dari pelakunya.


Ya, Vera menyadari dengan sadar sepenuhnya bahwa peristiwa itu tak akan terjadi jika dia menolak. Tapi nyatanya saat itupun dia menikmati segala sentuhan nikmat yang diberikan Vino padanya.


Jadi kenapa harus hanya Vino sendirian yang dihukum untuk itu. Padahal dia pun sama bejatnya dengan Vino.


Selama seminggu ini dia sudah berkonsultasi dengan Ara, Hanum dan Azura. Dan gadis ini memutuskan untuk meninggalkan semua.


Semua...


Vera bertekad menjadi manusia baru yang membanggakan papa dan mama.


Menjadi Vera baru yang lebih baik dari Vera sekarang.


Vera bertekat hanya akan kembali saat dirinya benar-benar menjadi manusia yang layak disebut sebagai wanita yang sholehah.


Walaupun tentunya, tubuh kotornya tak akan kembali bersih.


Walaupun tentunya, jiwanya yang rusak tak akan kembali utuh.


Dan walaupun penyesalan seluas samudera yang tak akan habis untuk disesalinya.


Setidaknya Vera sudah ada niat berusaha.


Berusaha membersihkan tubuh kotornya.


Berusaha membangun kembali jiwanya.


Dengan penyerahan diri secara totalitas kepada Tuhannya, pemilik sejati atas dirinya.


Bersambung....


...******...

__ADS_1


Episode besok haredang...haredang...panas panas panas...


Tarik bro LukmanπŸ‘ˆπŸ‘ŒπŸ‘ˆπŸ‘ŒπŸ‘ˆπŸ‘ŒπŸ‘ˆπŸ‘Œ


__ADS_2