
...⚠⚠⚠Warning!!!!, bocil-bocil di harap skip episode ini!!! ⚠⚠⚠Warning!!!!, ...
...***...
Keputusan Vera mengagetkan semua keluarga besar Ramdani Malik.
Tapi keputusan itu sudah bulat. Vera tetap akan pergi.
Mendung hitam menyelimuti hati semua yang mengenal Vera pagi ini.
Entah kapan Vera mutuskan ini dan kapan pula dia mengurus semuanya.
Tau-tau saja surat menyurat kepindahan sudah ada.
Bahkan Ara, Hanum dan Azura sebagai tempat curhatnya saja tak pernah menyangka Vera akan memutuskan memilih jalan ini.
Lihatlah, bahkan Verapun telah rapi mengepak seluruh pakaian tertutup nya di dalam koper.
" Kenapa kau memutuskan ini tanpa melibatkan kami Ver?" Tanya Natasya yang saat ini menangis tergugu di kamar Vera.
Hana, Ara dan Natasya langsung menuju ke rumah Vera saat pulang sekolah setelah Vino menceritakan semua yang terjadi semalam.
" Assalamu'alaikum" Suara Hanum mengagetkan mereka berempat.
Mereka berlima pun berangkulan dengan diselingi isak tangis yang menyayat hati.
" Aku sudah mutuskanya, ini yang terbaik.." Ucap Vera.
" Apa orang tuamu setuju?" Tanya Ara, jemarinya menghapus air mata yang berderai di pipi Vera.
" Awalnya tidak, tapi aku memaksa, ini yang terbaik untuk semua.." Lanjutnya.
" Bagaimana ini bisa, aku tak pernah berpisah denganmu Ver..." Natasya mengeratkan pelukanya pada Vera.
Diantara kelimanya Natasya memang lebih dekat dengan Vera.
" Sekarang kita sama, dulu Ara dan Hanum jauh dari kita, sekarang aku dan Hanum akan jauh dari kalian.., maka akan impas rasanya..." Vera berkata dengan memaksakan senyum dibibirnya.
" Kau juga akan berhijab?, jadi sekarang hanya aku yang gundulan?" Tanya Natasya dengan cengiran khasnya.
" Kau juga boleh mencoba kalau kau mau.." Ucap Hana.
Natasya menatap pada Hana dan Vera, mereka terlihat lebih cantik dengan penampilan tertutup nya.
Tapi hidayah tidak bisa dipaksakan bukan, dan Natasya belum sampai ke titik itu.
" Btw Ver, maaf sebelumnya.., apakah kak Vino juga setuju?" Tanya Hanum tiba-tiba.
" Tidak, dia tidak setuju, bahkan dia marah dan mendiamkan aku.." Jawab Vera, matanya menatap lurus kedepanya.
" Lalu seperti apa perasaan mu pada kak Vino Ver?" Kali ini Hana yang bertanya.
" Aku menganggapnya sebagai kakakku.., tak lebih dari itu?" Jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.
" Apakah ada seseorang dihatimu?" Tanya Ara.
Ya ada!!, dan itu abangmu Ra...bang Adnan.
Suami dari sahabatku sendiri..
Hana maafkan aku yang menyimpan nama suamimu di hatiku..
***
" Sayang hari ini kita pulang cepat ya, nanti kakak yang minta ijin. Ini bajunya udah cukup ini aja kan?" Ucap Rangga dengan menekan-nekan baju yang telah dimasukkan ke dalam koper.
" Iya itu aja, kan cuma semalam kita nginepnya " Jawab Ara yang masih sibuk mematut wajahnya di kaca.
"Udah ihh, jangan cantik-cantik lah mau sekolah juga ini.." Rangga mulai sewot.
" Kakak nggak rela banget Lili dilihat orang, heran deh.." Ara meletakkan bedak nya dan berdiri menghadap pada Rangga.
" Lihat ini, dari sini sampai situ, punya kamu semua, apa yang kakak takutin?" Ara menunjuk kepada sampai kakinya untuk memperjelas maksudnya.
" Iya nggak takut sih, kakak maunya hanya kakak yang bisa menikmati kecantikan wajahmu, dan kemolekan tubuhmu sayang..." Bisiknya sensual dengan gigitan kecil ditelinga Ara, dan sukses membuat Ara merinding.
" Akhhh!!" Lenguhan Ara membuat Rangga menggila. Serangan bertubi-tubi dia labuhkan pada leher Ara.
" Sayang..., kapan? apa kita bawa kon**m ya...?, kita bulan madu disana..." Bisik Rangga dengan suara yang serak.
Ara terlonjak kaget, matanya membola seketika, tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa membeku.
Ya, ini persis seperti yang di bilang Adnan semalam, belajar dari kasus Vino dan bahkan dirinya sendiri pun, Adnan sangat paham kebutuhan pria usia rawan seperti dirinya dan Rangga memang tidak jauh-jauh dari 'itu'.
Dan hanya seorang pria yang tau rasa sulit dan sakitnya menahan hasrat yang telah menggebu-gebu tapi tak tersalurkan. Dan tentu itu juga pasti dialami oleh Rangga saat ini.
Ara mendorong sedikit dada Rangga, membuat bibir yang sedang asyik mengekspor dada atasnya terlepas sempurna.
" Kenapa?" Tanya Rangga dengan pandangan matanya yang sayu dan nafasnya yang naik turun.
__ADS_1
" Kita ijin nggak sekolah aja hari ini, kalau kakak mau hak kakak pada Lili, Lili siap memberikanya sekarang..." Ucap Ara dengan mata terpejam.
Dengan bicara begitu saja wajah Ara sudah terasa panas terbakar bagai tersulut api yang menyala.
Rangga berusaha mencerna kata-kata Ara barusan. Dadanya bertalu-talu tak dapat di kendalikan. Seolah merontokkan semua organ dalamnya.
" A..apa? sayang...., I..ini.., mak.. maksud..nya..apa?" Rangga benar-benar syok dengan hasil pemahamannya akan kata-kata Ara.
Sejauh ini dia paham hanya saja butuh pembenaran atas yang ia fikirkan.
" Iya, lakukan yang kakak mau pada Lili, Lili ikhlas..." Ara segera berjinjit dan meraih tengkuk Rangga dan dengan lembut menyesap bibir Rangga yang manis.
Rangga merasakan ledakkan luar biasa dalam hatinya. Lagi-lagi dia merasakan debaran hebat yang menghantam dadanya saat ini.
Ciuman Ara yang lembut membuatnya tidak bisa menahan diri.
Diangkatnya gadis itu ke untuk digendong diperutnya, mempermudah Ara untuk mengeksplor bibir Rangga.
Haruskah sekarang???
Tidakkah tunggu dua bulan lagi, saat Ara sudah berusia tujuh belas.
"Sayang...." Bisik Rangga ditelinga Ara, dia takut tidak bisa berhenti jika harus memulai.
Dibawanya Ara ke kasur, diletakkan dengan pelan.
Tanganya melepas kancing seragam pramuka yang tadi pagi di pasangkanya.
Matanya menatap pada mata Ara yang terlihat indah dan berseri.
Apakah dia menginginkannya sekarang???
" Sayang..., apa kamu tidak akan menyesal nanti.." Tanya Rangga.
Sumpah!!! Rangga takut dia tidak bisa berhenti, karena sungguh sakit menahan ditengah jalan.
Tapi Ara hanya diam saja, tangannya ikut-ikutan membuka seluruh kancing seragam pramuka Rangga.
Tangan lentik Ara juga sudah mulai nakal meraba-raba dada Rangga, membuat Rangga gelap mata dan segera menyambar bibir Ara dan tanganya beraksi di dada Ara yang kini telah terbuka.
Mereka menggila saat ini, entah apa yang merasuki keduanya.
Ara tidak lagi malu-malu, dia terus saja membalas semua sentuhan Rangga.
Pagi disaat anak seusianya sibuk mempersiapkan keperluan sekolahnya.
Mereka justru sibuk bergerilya di tubuh pasanganya.
Ya Tuhan bagaimana ini!!!!
Ya Tuhan...aku bisa gila!!!
" Sayang...tolong aku..." Rangga meremas rambutnya kasar. Air matanya merembes dari sudut matanya. Dia tidak bisa menahan lagi, karena kali ini Ara meresponnya, biasanya hanya dia yang beringas dan kali ini sesuatunya terlanjur bangkit.
Ucapan papa, daddy, dan Ardi berputar-putar diotaknya kini.
Dorangan rasa ingin melanjutkan ke intinya telah menguasai seluruh syarafnya saat ini. Rangga tak bisa lagi menahan. TIDAK BISA!!!
Tanganya bergetar membuka gespernya, dan dengan gerakan cepat Rangga melepas celana coklatnya.
Sesak, ada yang sesak di dalam sana.
Melihat keadaan Rangga yang kacau, bahkan melihat air mata yang luruh di pipi kekasihnya membuat Ara sangat iba.
Ara mencintai nya, sebesar apapun yg besar di dunia ini.
Dengan tangan yang tak kalah bergetar dari Rangga, Arapun juga membuka gespernya. Dan dengan bantun Rangga Arapun melepaskan roknya. Ara yang malu segera meraih selimut.
Mereka saling tatap, lama...hingga Rangga kembali melabuhkan cumbuanya dengan brutal.
" Shhhh..Ahhhh" Rangga tak sanggup lagi menahan dia tak dapat berhenti, seperti orang kesetanan Rangga melepas celana kolor dan celana segitiga nya, sesuatu didalam nya sudah sangat sakit saat ini.
Dengan pelan dia menarik leging Ara dan terpampang lah penampakan polos istrinya.
" Sayang....bagaimana ini, aku akan gila..." Rangga mengacak-acak rambutnya gemas.
Pemuda tampan yang telah polos total itu rasanya ingin menangis karena frustasi. Sesuatu mendesak ingin meledak dalam tubuhnya.
" Lakukanlah mas Aga..., Lili ikhlass Akkhhhhhhh.." Suara Ara tenggelam saat sesuatu menerobos dibawah sana. Matanya terbelalak.
Rangga pun juga sama, pemuda itu juga syok luar biasa.
Tapi rasa asing yang nikmat tak dapat ia lewatkan begitu saja.
Rangga memang baik, tapi tak sebaik harus melewatkan rasa nikmat istrinya ini juga kan.
Perlahan-lahan Rangga meneruskan semua sesuai instingnya saja.
Terus memacu dan memacu, Ara tampak terlihat kacau dibawahnya.
__ADS_1
Rangga terlihat serba salah saat melihat beberapa kali Ara meringis kesakitan atas ulahnya.
Tapi bagaimanapun keadaanya dia tidak akan bisa berhenti, dia pasti gila!!!.
" Maafkan aku sayang... jangan menangis, Akhhh...Akhhhh" Rangga terus mencumbu dan memacu tubuh Ara berharap gadis itu melupakan rasa sakitnya dan hanya merasakan nikmat dari sentuhannya.
Saat dorongan rasa asing yang akan meledak menguasai seluruh tubuhnya Rangga memacu dengan kecepatan yang lebih.
" Akhhh..sa...sayang...Akhhh...Akhhh" Rangga semakin menggila bahkan dia merasa lupa akan dirinya sendiri.
Ara yang terlena juga semakin menggeliat kan tubuhnya tak karuan, diapun ikut menggila bersama. "
"Mas...Aga..Aku...aku...maa..mauuu..
Akkhhh...akkhhh....akhhh..." Desah Ara saat sesuatu dari dirinya terasa meledak, ledakan yang luar biasa. Rasa nikmat yang membawanya serasa terbang ke awan. Rasa asing yang baru didapatinya saat ini, rasa asing yang melenakannya.
Rasa asing yang disebut orang sebagai SURGA DUNIA.
Rangga tak lagi bisa berfikir jernih..mendengar ******* Ara saja rasanya sudah luar biasa gilanya...
Tak tau lagi apa yang terjadi, hingga ******* panjang dan berat Rangga menghentikan semua.
"Akhhhhhhhh....Ahh..Ahhh.." desahnya penuh kepuasan.
Tubuhnya penuh peluh, begitupun juga Ara.
Dikecupnya kedua mata terpejam dan berderai air mata bahagia itu.
Inilah akhirnya, akhir penantian singkat Rangga. Yang awalnya dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukanya sebelum Ara ulang tahun.
Janji hanya tinggal janji, janji yang manis yang tak mampu ia tepati.
Rangga menatap wajah lelah Ara yang ada dibawahnya.
Diciumnya seluruh wajahnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Terimakasih sayang...., dan maafkan aku..."
Ara hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tanganya membenahi rambut Rangga yang berantakan tak karuan.
" Lili bahagia, sudah bisa memberikan hak kakak yang tertunda, aku yang seharusnya minta maaf.."
" Apa kau sayang aku?" Tanya Rangga tiba-tiba. Tubuhnya masih berada di atas Ara dengan bertumpu pada dua lutut dan kedua tanganya.
" Tentu saja, pertanyaan apa itu?" Ara tersenyum geli mendengar pertanyaan Rangga barusan.
" Apa kau juga cinta aku?" Tanya Rangga lagi.
Ara menyentuh kalung di dadanya.
" Kalau tak cinta, kenapa aku memakai ini sampai selama ini sayang..."
"Dan kalau tak cinta, dari tadi aku sudah menendang pisangmu itu sayang...." ucap Ara dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.
Rangga menggesekkan hidungnya pada hidung Ara.
" Kakak hanya ingin mendengarnya sayang..., karena kau tak pernah mengatakannya"
Rangga menatap mata Ara lekat, senyum tipis terbit dari sudut bibirnya.
" Sayang...lagi yuk...." Bisiknya lirih.
" Apaan?" Tanya Ara bingung.
" Bercinta...sekali lagi yukk..."
Ara segera mendorong dada Rangga hingga terpelanting ke sampingnya. Wajahnya terlihat memerah karena malu mengingat sesuatu yg terjadi barusan.
" Nanti aja ya...masih sakit ini..." Ucap Ara.
" Kata orang semakin sering, nggak sakit lagi kok.." Rangga berusaha meyakinkan dengan tangan mulai nakal meraba-raba Ara.
" Kakak mau sekali lagi pokoknya...."
Rangga segera menaiki kembali tubuh Ara......
Bersambung....
...*******...
Rangga : Terimaksih thor, othor baik deh...., akhirnya gue tau rasanya...
Othor : Sippp...
Ara : Thor kok nggak kasiahan sama Ara sih?, kalau Ara hamil gimana?
Othor : Lo hamil kan ada lakinya Ra😝😝😝
__ADS_1
Special thanks buat brother Lukman Ansori atas bantuanya hingga terbitlah episode termanis RanggAra.
Lufyu Luk...🙏🏼🙏🏼🙏🏼😍😍😍