
" Sepertinya ini akal-akalan kak Denis deh Bi...." Ucap Ara pelan, setelah mereka berada di kamar.
" Mungkin juga, kita kan tahu liciknya Denis kayak gimana..." Rangga terkikik sendiri.
" Kok ketawa kaya gitu, ngetawain apa?" Tanya Ara penasaran melihat Rangga terus tertawa dengan membekap mulutnya. Rangga takut twin terbangun saat mendengar tawanya, karena kalau sudah bangun mereka akan membutuhkan waktu yang lama untuk tidur lagi.
" Bi ngetawain apa sih?" Tanya Ara lagi, karena Rangga saat ini justru menenggelamkan kepalanya dibantal dengan tubuh yang bergetar.
" Kamu ngetawain derita Lenox ya?, jahat amat sih kamu Bi...."
" Atau jangan-jangan kamu kerjasama dengan kak Denis hemmm?" Lanjut Ara dengan menjewer telinga Rangga.
" Ha..ha...ha..enggak!, kakak nggak kerjasama sama Denis, cuma kakak langsung konek aja. Ini pasti kerjaan Denis nih..." Rangga kembali bersila di atas kasur.
" Kamu lihat nggak bagaimana menyedihkannya Lenox tadi..." Rangga kembali akan tertawa tapi Ara buru-buru memelototinya.
" Tega banget kamu ngetawain dia kayak gitu, kalau nggak ada dia Lilimu ini udah lama mati tau!!, saat kamu nggak pul---..."
" Ehhhh! Stop!!!" Sambar Rangga cepat. Dicubitnya bibir atas dan bawah Ara dijadikan satu.
" Maaf sayang....., tapi cukup!. Nggak ada lagi ngomongin topik ini, ayo tidur..." Rangga menarik Ara sampai terjatuh dipelukanya, dan dengan cepat didekapnya.
"Wanita itu ingatan akan kesalahan masalalu pasanganya tajam banget ya, seolah-olah anti lupa..." Bisik Rangga.
" Padahal sudah hampir tujuh tahun yang lalu, tapi kamu masih begitu menyimpannya, apakah sesakit itu kakak menyakitimu...." Rangga mengeratkan pelukanya. Bibirnya mengecupi bahu Ara.
" Kakak merasa malu setiap kali mengingat itu, tapi alasanya hanya karena kakak tidak mau terus bertengkar denganmu...."
" Kakak sedih saat itu.., kau terus ketus padaku, makanya kakak mengambil keputusan untuk tidak lagi menghubungimu..., maafkan aku sayang..." Rangga menciumi bahu istrinya penuh kasih.
" Maafkan Lili juga kak, Lili begitu egois saat itu.."
" Sudahlah..., kita tatap masa depan kita yang sekarang, sesak yang lalu mari kita tinggalkan. Biarkanlah menjadi pembelajaran, love you so much sayang..."
...***...
Lenox benar-benar membuktikan ucapannya. Pemuda itu saat ini sudah di pesawat menuju Berlin dimana Wari menuntut ilmu dari beasiswanya.
Sengaja Lenox tak mengabari Wari ataupun Denis yang saat ini tengah berada disana juga.
Begitu keluar dari bandara, Lenox langsung menuju alamat kampus Wari.
Ini bukan kali pertama Lenox mengunjungi Wari, karena saat awal datang pertama kali Wari kuliah setahun lalupun, Lenox lah yang mendampinginya.
Taxi melesat cepat ke kampus Wari yang saat ini terlihat lengang, hanya beberapa mahasiswa yang nampak berkeliaran di luar ruangan. Mungkin karena saat ini proses belajar mengajar sedang berlangsung.
Lenox duduk di rest area, menatap kelas Wari yang kini ada di jangkauan pandangannya.
Dua jam sudah Lenox berada disana, tampak satu persatu mahasiswa keluar dari pintu yang sedari tadi ia tatap.
Gadis yang ditunggunya keluar juga, dan lagi-lagi hatinya harus ngilu saat seorang mahasiswa berambut pirang merangkul Warinya dari belakang, dan sangat nampak jelas Warinya memberontak dan menolak dengan tegas.
" Brengsek!! Sepertinya gue bisa bunuh orang hari ini.." Geramnya dengan tatapannya mengunci wajah kemerah-merahan ciri khas kulit orang barat yang sedang berusaha merangkul Warinya.
__ADS_1
Lenox berjalan cepat menuju dimana Wari berada dan berdiri tepat di depan keduanya.
Tatapan nya begitu menyeramkan, penuh kemarahan.
" Take your hands!, bastard!!" Bentaknya pada pemuda bule di samping Wari. Dengan wajah yang terlihat begitu murka, Lenox menatap tangan pria bule yang melingkar dileher Wari.
Wari menjatuhkan buku-buku yang berada dalam pelukanya, saking kagetnya melihat keberadaan Lenox didepan matanya.
" Ka....ka kakak, k..kok disini..?" Ucap Wari terbata-bata
" Kenapa?, kaget!!, ketahuan selingkuh!!" Bentaknya lagi.
" Se..se..selingkuh? Siapa?" Wari begitu pucat, melihat kemarahan yang nyata pada guratan di wajah Lenox saat ini.
Pria bule itupun sama, tapi dia tetap maju dan berdiri di depan Wari.
" Who you're?" Tanyanya.
" Me???, ask to her..who am I...." Ucap Lenox dengan tetap menatap Wari yang menunduk.
" Siapa dia Wari?" Tanya cowok bule itu menoleh pada Wari.
" He's my boyfriend..." Jawab Wari.
Lenox tersenyum sinis saat mendapati pria bule itu terlihat kecewa.
" Jangan berani-beraninya mendekati istriku lagi atau kekkk..." Bisik Lenox dengan serta menggesek telunjuknya melintang pada lehernya, lalu menatap mata Wari yang ketakutan.
" Tapi Wari masih ada satu makul lagi hari ini kak.." Wari membekukan tubuhnya, materi hari ini begitu penting untuk perkembangan risetnya nanti. Bagaimana dia harus melewatkannya begitu saja.
"Bolos satu makul apa salahnya sih! kamu nggak appreciate sama kedatanganku, kamu nggak rindu gitu?." Sahut Lenox lagi dengan terus menarik Wari keluar gedung kampusnya.
" Beberapa hari yang lalu juga baru VCan..." Jawab Wari.
" Ck, rupanya itu benar!!, kau sedang punya PIL..." Ucap Lenox lagi penuh rasa kesal dengan menghempaskan tangan Wari.
" PIL??"
" Iya PIL, Pria Idaman Lain.." Sahut Lenox.
" Wari nggak tahu maksud kakak apa, tapi tuduhan selingkuh dan punya pria lain itu terlalu keji buatku kak!!" Wari dengan berani menghempaskan tangan Lenox yang mencengkeram lenganya.
" Hohh..., sudah berani rupanya kamu sama aku Himawari??" Tatap Lenox sinis.
" Luar biasa..., hidup bebas di tempat asing membuatmu lupa diri tenyata wahai gadis kecilku..." Lenox bertepuk tangan pelan.
" Bukan begitu kak!!, masalahnya makul ini penting bagi Wari. Nggak bisa Wari bolos begitu saja...." Wari mengenggam tangan Lenox memohon pengertian kekasihnya itu.
" Aku jauh-jauh dateng loh ini, dan kau mengabaikanku begitu saja..., Wariku benar-benar sudah berubah.." Desis Lenox geram.Sakit hatinya sudah di level teratas.
" Hahhhh, Ya sudahlah...up to you..." Lenox benar-benar kesal saat ini. Diapun mulai berbalik badan dan melangkah pergi.
__ADS_1
Sudahlah..... Buat apa dipaksakan
Memang seperti inilah nasibku...
Dibuang
Pertama Ayahku..., membuangku sejak aku bahkan belum bisa berjalan, lebih mementingkan kekasihnya dari pada putranya.
Bunda...., membuangku saat aku membutuhkan perhatiannya, memilih pekerjaannya dari pada tumbuh kembang putranya yang mulai beranjak remaja.
Araku....., membuangku.....karena lebih memilih cinta masa kecilnya...
Dan sekarang Wariku...., kau membuangku setelah mengenal luasnya dunia....
Tak masalah!!. Aku bisa sendiri...Aku bisa hidup sendiri...
Lenox terus melangkah tanpa menoleh, kaki panjangnya terus melangkah.
" Tunggu kak pleaseee, tunggu satu jam lagi saja, setelah itu aku nurut kamu kak...nurut aku tuh, sumpah.." Wari memeluk Lenox dari belakang.
Tapi dengan sekali tepis saja pelukan itu telah terbuka.
"Aku bilang terserah kamu..."ucap Lenox, dengan tatapan lurus kedepan dan kembali melangkah.
Wari mengusap wajahnya frustasi, mengenal Lenox sejak dia masih duduk di kelas IX jelas membuatnya kenal betul sifat Lenox seperti apa.
Dengan cepat Wari berlari mendahului langkah Lenox dan merentangkan tangan menghadang langkah kaki Lenox.
"Baiklah..., baik!!. Kita pulang...." Wari akhinya mengalah.
Sekolah tidak penting lagi untuknya. Lenox adalah tujuan hidupnya sekarang, dia tidak harus sekolah dan bekerja pun jelas hidupnya sudah sangat tercukupi. Siapa yang tidak kenal keluarga Maha Dafran?. Keluarga yang turun-temurun berprofesi sebagai profesor dan dokter....
Uang bukanlah hal susah bagi mereka, usaha ritel sampingan mereka menjamur di mana-mana.
" Maafin Wari kak..." Wari menghamburkan tubuhnya dipelukan Lenox, walaupun pria kaku itu tak peduli.
Tapi justru Lenox hanya tersenyum sinis, tanpa mau membalas pelukan Wari. Tetapi Wari tidak bodoh, gadis itu meraih kedua tangan Lenox lalu dilingkarannya ke pingganya dan ditahanya di sana.
" Nggak mau cium aku?" Tanya Wari, jemarinya mengelus bibir seksi Lenox.
" Nggak!!" Jawab Lenox.
" Beneran?"
" Udah nggak doyan!!" Jawab Lenox ketus, tanpa mau menatap Wari.
" Masa sih?, baiklah...." Wari tersenyum kecil dan menggelendot manja di lengan Lenox.
Mereka terus berjalan menuju apartemen Wari yang terletak tidak jauh dari kampus.
Lenox terus bersikap dingin, sedangkan Wari masih saja gelendotan dan bertingkah genit.
Beberapa kali terlihat Lenox mendorong wajah Wari yang mendekat pada wajahnya.
" Haissshhh..., udah nakal kamu ya..." Lagi-lagi Lenox mendorong tubuh Wari yang mulai menempel.
__ADS_1