Childhood Love Story

Childhood Love Story
Vino Vera pamitan


__ADS_3

Lenox dan Wari datang belakangan. Semua anggota genk somplak, plus para sahabat mereka kini berkumpul di taman belakang rumah Vino dan Vera. Tepatnya rumah peninggalan mendiang orang tua angkat Vera.


Brian berjalan mendekati Wari yang kini sibuk menyiapkan beberapa hidangan yang sudah dibuatnya di panti tadi.


" Prameswari..." Panggil Brian.


" Ahhh, iya brothy.. Mau dibikinin minum?" Tanya Wari sembari menoleh.


" Ohh, nggak terimakasih. Ini loh Wari, ada beberapa teman brothy titip donasi untuk panti, tapi kata Ardi transfer ke kamu aja. Boleh brothy minta nomor rekening kamu?"


Wari mengangguk antusias dan tersenyum cerah. Gadis itu merogoh ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


" Okelah nanti brothy transfer..." Ucap Brian saat melihat telah ada notif masuk dari nomor Wari. Tangannya terjulur untuk mengambil kue yang sedang ditata oleh Wari saat matanya tanpa sengaja melihat Ardi dan Azura beserta Bianca memasuki rumah Vera.


Brian terpaku ditempatnya, dengan tangan masih menggantung begitu saja.


Matanya menatap Azura dengan tatapan yang seakan belum ikhlas.


Tapi mata itu begitu terkejut saat melihat seseorang dibelakang Azura. Penampilanya mirip, dan memakai penutup wajah juga.


Dibelakang gadis misterius itu kini masuk juga Nathaniel, bos cafe tempat Azura dan Vino selama ini mengais rezeki. Dan tentu saja sebagai tempat tempat para genk somplak nongkrong di sela-sela jadwal kuliah mereka saat gabut.


Hari ini semua berkumpul, karena sepertinya pemilik rumah memiliki tujuan tertentu.


Dan benar saja, saat ini Vino berdiri di depan bersama Vera dan Saga dalam gendongannya.


" Oke, apakah sudah berkumpul semua..." Tanya Vino.


Semua terlihat tersenyum, sementara dipojok ruangan Natasya dan Denis tak terlepas sama sekali, mereka menempel lebih lengket dari pada perangko.


" Oke pertama-tama Vino panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, dikesempatan kali ini kami, saya dan Vera. Akan memberikan pengumuman penting yaitu, .." Vino menjeda ucapannya dan meraih Vera yang mungil dalam pelukanya.


Vino bahkan tak malu-malu mengecup kening Vera sangat lama.


" Alhamdulillah.., telah ada hilal untuk anak ketiga kami, dan menurut dokter, kandungannya telah berusia 3bulan..." Ucap Vino dengan mata berbinar bahagia dan disertai senyumnya yang sungguh manis.


" Alhamdulillah...." Ucap mereka semua serempak. Dan bahkan Hana dan Natasya bertepuk tangan dengan antusias.


" Dan juga..." Sambung Vino.


" Kami juga mohon pamit, karena mulai bulan depan. Saya harus menggantikan papa untuk mengurusi perusahaan keluarga Malik yang berada di kota Surabaya.." Lanjutnya sedih.


Begitupun kesedihan tergurat dari wajah-wajah para sahabat mereka. Persahabatan 4 sekawan yang telah terbangun sejak biru putih, apalagi Vera. Dia terlihat sangat murung.


Dia pernah berpisah dengan temannya sekali. Tentu dia tak ingin berpisah lagi. Tapi jelas takdir harus dijalani. Persahabatannya dengan Ara, Natasya dan Hanum sudah sangat lama.


Bahkan dari sejak mereka memakai seragam merah putih.

__ADS_1


" Aku ucapkan terimakasih banyak pada kalian semua, yang dari tangan kalianlah kami mampu bangkit dan menjalani hidup rumah tangga diusia yang...yah...kalian tau sendirilah awalnya" Ucap Vino malu mengingat masa lalunya.


" Double brothy, bang Adnan, terimakasih banyak support kalian, dari rumah sampai ekonomi kami. Kak Bagas, Denis, Rangga, Rayya thanks a lot.." Vino menitikkan air mata di sudut matanya dan para sahabatnyapun berhambur memelukknya.


" Persahabatan kita kekal, InsyaAllah bro..." Bisik Rayya.


" Bos Nathaniel..., thanks you very much. Kau benar-benar bos idola, dan untuk Azura, my partner.. Terimakasih sudah sangat loyal untuk menggantikan tugas-tugas ku di cafe saat kedua bocilku nggak mau ditinggalin papahnya kerja...ha..ha.." Vino tertawa geli saat Saga mengusap-usap rahangnya.


" Lenox, thanks. Mobilmu seakan berpindah kepemilikan karena saking seringnya berada disini daripada dirumahmu sendiri..." Ucap Vino dengan mata menatap Lenox penuh persahabatan. Lenox hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


Orang yang dulu awalnya dimusuhinya karena sikap buruknya pada Ara kini begitu dekat dihatinya.


" Hanan, terimakasih atas pengajaran yang kau berikan, nilai-nilai agamis yang kudapatkan darimu, ataupun dari abimu, InsyaAllah akan aku turunkan untuk putra-putriku...Amiiin" . Mereka seluruhnya mengaminkan do'a Vino.


Kini mata Vino menatap pada Ara yang sedang memangku Shanum putrinya.


" Dan untukmu, istri keduaku...ha...ha..." Tawa Vino pecah saat Vera mencubit pinggangnya. Apalagi ditambah tatapan mematikan Rangga yang mengerikan kini tertuju padanya.


Sedangkan yang lain hanya tertawa menanggapi gurauan Vino.


" Sorry, soalnya dari Shanum bayi sampai ada Saga, dia ada di sekitar gue mulu, bahkan beberapa dokter dan suster taunya istri gue Ara bukan Vera, dia benar-benar seperti istri bayangan...." Ucap Vino terkekeh.


Sementara Rangga rasanya mual mau muntah.


Marvel terlihat puas melihat wajah pias Rangga. Entah dendam apa yang dimiliki Marvel pada Rangga.


"Dan lagi dialah yang merawat putra-putriku saat aku harus mengalami baby blues sindrom sampai berbulan setelah melahirkan kedua anakku..." Sahut Vera.


Sementara Ara tidak dapat bergerak karena kini di pangkuannya telah terbaring rapi tiga kepala, si kembar double S dan Shanum.


" Terima kasih banyak Ra....perjuanganmu membantu merawat putra-putriku semoga menjadi catatan kebaikan, dan semoga Allah secepatnya memberikan pengganti twins untuk kalian..." Ucap Vera lagi.


Ara hanya mengangguk, disertai jatuhnya air matanya yang terus berderai, dan tangan Ranggalah yang senantiasa mengusap air mata kekasihnya.


" Aamiiin..." Suara mereka semua kompak mengaminkan doa Vera.


" Assalamualaikum, apakah acaranya sudah selesai?, terlambatkah aku? " Suara seseorang mengagetkan semua yang ada disana.


Seorang gadis cantik, dengan jilbab panjang yang rapi. Ayu, anggun dan terlihat kesolehahan dari raut wajahnya ya teduh, berdiri di pintu samping rumah Vino.



Rayya menjatuhkan gelasnya karena melihat siapa yang datang saat ini.


Ingatanya langsung tertuju pada surat yang diberikan Ara padanya saat malam pertemuan mereka di Birdman Cafe satu bulan setengah yang lalu.


" Ha...Ha...Hanum, di dia kembali..." Bisiknya.

__ADS_1


Hanan yang duduk tak jauh dari Rayya mengangguk mendengar bisikan Rayya.


" Ta..ta..tapi..." Rayya menatap Hanan dengan tatapan kebingungan.


" Kami membebaskan pilihannya bro..., kami tidak mau mengekang Hanum. Dia sudah dewasa, sudah bisa memutuskan mana yang terbaik untuknya.." Ucap Hanan bijak.


Hanan sangat tahu ada sesuatu antara Rayyan Athaya dan Hanum adiknya. Walaupun keduanya tak mengungkapkan apa-apa.


Hanan yang sangat tahu betapa sakitnya memendam cinta dan tak terbalas akhirnya menceritakan semua yang di perhatikannya dari interaksi antara Rayya dan Hanum kepada orang tuanya.


Apalagi tanpa sengaja sekitar dua bulan lalu sebelum Hanan pulang ke Indonesia. Saat dirinya mampir ke apartemen adiknya di Kairo, Hanan mendapati sekotak surat yang tersusun rapi dan dibingkai sangat indah. Dan semua surat-surat itu adalah surat dari teman semasa SMUnya..yaitu Rayyan untuk adiknya.


Hanan melirik pada Rayya yang menunduk saat Hanum menatapnya.


Sementara melihat Rayya yang membuang muka saat ditatap olehnya membuat Hanum kecewa.


Gadis itu berfikir bahwa kembalinya saat ini sangat terlambat.


Mereka belima kini berpelukan layaknya para teletubbies.


Karena ketiga bocil yang ada dipangkuan Ara kini telah berlarian di taman belakang.


" Ekhemm..." Deheman Rangga membuat mereka melepaskan pelukannya.


"Loh kamu masih sama dia Ra?" Tanya Hanum dengan jempol menunjuk pada Rangga.


" Orang yang nggak datang di acara penting kalian ini masih kamu terima? Aku kira kamu udah cari ganti!!, minimal abang aku lah Ra..." Bisik Hanum. Kata-kata Hanum yang jujur dan benar itu sungguh membuat hati Rangga nyeri-nyeri sedap.


Dan Marvel bertepuk tangan setuju dengan ucapan pedas Hanum.


" Num, gue aja yang jagain dia sampai jungkir balik siang malam selama ini nggak diliriknya, apalagi kakak lo yang jauh diujung sana..." Ucap Lenox.


" Semua ada alasanya Num, nggak ada niatan dalam hatiku untuk menyakiti sahabatmu..., aku tahu kamu sangat sayang Ara Num..., tapi kata-katamu sungguh menyakiti ku Num, sumpah...." Ucap Rangga sembari mengusap dadanya. Dia jelas nggak Terima kesalahannya diungkit-ungkit terus.


Kesalahan yang susah payah ia coba perbaiki sedikit demi sedikit itu.


" Begitukah, dan kau semudah itu untuk luluh Ra?" Tanya Hanum pada Ara.


" Ntah lah Num.., tapi aku merasa memang dia patut diberikan kesempatan untuk berubah .." Ucap Ara bijak.


" Kau terlalu baik Ra..., salut padamu..." Hanum menarik Ara dalam pelukanya. Sahabatnya dari tk bersama Hana. Mereka jelas sangat tahu isi hati


masing-masing.


" Kak Rayyanmu gimana?, dia semakin oke loh" Bisik Ara di sela pelukan mereka.


" Iya, aku juga terkejut. Dia makin kyut.." Bisik Hanum.

__ADS_1


" Heyy.., kalian ngerumpiin apa?" Tanya Natasya kepo.


" Ah nggak..." Jawab keduanya kompak.


__ADS_2