
Rangga mengambil jemari Ara untuk digenggamnya.
" Sayang..., kakak nggak bisa bawa kamu bukan berarti kakak ngga cinta, bukan berarti kakak nggak sayang..." Ucapnya pelan, berharap kali ini Ara mau mengerti.
" Jangan kami pikir kakak tidak hancur dengan semua ini, kakak sama seperti mu..., kakak juga berat meninggalkanmu..."
" Sayang...., kata orang cinta yang indah adalah cinta yang penuh akan kerinduan apa kau percaya?" Rangga mengecupi jemari itu gemas.
" Kurang rindu apa lagi, aku menanti-nanti pertemuan kita selama hampir sepuluh tahun lho.., lupa ya?" Jawab Ara ngegas.
Rangga tersenyum bangga, seolah dialah Arjuna yang selalu dinantikan kehadirannya oleh Radha.
" Apaan senyum kaya gitu, GR tuh pasti.." Lanjut Ara.
" Ya iyalah, GR dan bangga, mahkluk manis seperti ini nungguin aku, rasanya kakak pengen joget-joget dan koprol-koprol saking senengnya.." Jawab Rangga dengan masih disertai senyuman manisnya yang khas.
Suasana bus yang tenang semakin membuat Rangga tak tenang.
Tangan Rangga perlahan-lahan menelusup ke punggung Ara dan berlabuh dengan cantik di pinggang ramping itu dan mencubitnya gemas.
Ara yang terkejut, menatap Rangga dengan melotot.
Tapi Rangga justru tersenyum dan menarik turunkan alisnya.
Plakk!!
Tepisan kuat Ara mengagetkan beberapa anak disana.
" Ih..sorry ada nyamuk.." Ara cengiran saat ditatap horor oleh beberapa mata.
Sedangkan Rangga hanya bersedekap di dada dengan pura-pura memejamkan mata.
Tapi begitu mata-mata yang menatap Ara lengah, Rangga kembali berulah, dengan santainya dia menarik kepala Ara dan dibawanya ke dadanya dengan pelukan yang erat.
Dan tanpa sungkan-sungkan Rangga mengecupi pucuk kepala itu.
Sementara tanganya yang lain bergerak nakal kemana-mana.
" Ough...." Teriak Ara saat tangan Rangga dengan tidak sopannya meremat sesuatu dibalik jaketnya.
Dengan cepat Ara menarik dirinya menjauh dari Rangga.
" Jangan rusuh!!!, kalau rusuh Lili pindah ni..." Ancam Ara
" Ya gimana dong, kakak tuh pada dasarnya bisa tahan, tapi tangan kakak yang nggak bisa diem..."
" Sama aja, tangan bergerak karena perintah otak, emang dasarnya aja mesum tu otak"
" Mesumin istri kan ibadah sayang..."
" Ibadah sih ibadah, ya nggak disini juga kali..."
" Hufttt, nggak setuju!!!, prinsipku, dimana ada kesempatan di situ ada jalan.." Ucap Rangga tegas.
" Sanaan..gerah..." Usir Ara dengan sedikit mendorong Rangga.
Tapi Rangga semakin menempel, dan malah semakin bertingkah seduktif.
" Kakak jangan gila ya.. " Bisik Ara saat kini tangan Rangga mulai menjalar kemana-mana.
" Mau ya kakak tinggal..." Bisiknya dengan tangan yang meremas aset Ara, tak ada yang tahu dengan yang mereka lakukan saat ini.
Posisi Ara yang menyempil di samping kaca, dan Rangga yang besar menyembunyikanya, tanganya melingkar di punggung dan sampai pada sebelah aset Ara.
Sentuhan dalam diam Rangga semakin membuat Ara kalang kabut. Rangga memejamkan matanya, tapi tanganya sibuk beraksi kemana-mana.
Apalagi sekarang tangan itu pindah ke paha Ara, pemuda itu terus-menerus meremat kecil.
" Uhhhh...iya tinggal aja iya.." Desis Ara, menahan sesuatu yang bergejokak.
Rangga tertawa devil dalam hati, bahkan dengan coolnya dia tetap memejamkan matanya.
Saat rematan itu semakin menjadi-jadi Arapun tak mampu tetap diam.
" Aaagghhh...."
" Kenapa Ra?" Tanya Natasha dengan menaiki kursinya menoleh pada Ara.
" I..ini ada nyamuk..." Ucap Ara pura-pura, menepuk udara.
__ADS_1
Natasha masih menatap Ara dengan tatapan menyelidik, karena dia melihat bibir Rangga sedikit melengkung keatas, dan Ara yang gelisah.
" Apa..?" Tanya Ara pada Natasha yang malah tersenyum melihat Ara yang salah tingkah.
" Nyamuk apa nyamuk?" Natasha mengerlingkan matanya bahkan saking malunya Ara juga malah menabok pipi Rangga.
Sontak Rangga terkejut dan langsung memeluk Ara gemas, mereka tak mampu lagi menahan tawa mereka karena telah kepergok, dan akhirnya tawa mereka diikuti oleh yang lainya.
Seisi bus pun menatap dua pasangan yang tersenyum malu-malu.
" Iya.., nyamuknya gede banget sumpah.." Timpal Denis.
" Wah..kita kayaknya bakal jadi kambing congek deh.."
" Hawa-hawanya lain banget di bus ini sumpah, haredang....haredang...panas "
" Ye kita nih apa atuh, bus serasa milik berdua, dan kita semua nyamuknya ha..ha.."
" Cie-cie...kak Rangga, nggak kering tuh gigi dijemur mulu..." Sindir Meta.
" Iya nih, jadi kangen muka jutek lo Ngga..."
" Si jutek udah upgrade kayaknya.."
Sindiran demi sindiran dari penghuni bus membuat Rangga semakin melebarkan bibirnya.
" Ye..., muka jutek gue mah udah masuk museum, udah ada yang ngoleksi senyum gue soalnya..., dunia gue penuh senyuman sekarang asal lo tau..." Ucap Rangga panjang lebar dengan tetap ditemani senyumnya dan lirikan matanya manis tertuju pada pemilik hatinya yang nenunduk malu.
" Beruntung banget lo Ra"
" Bukan dia yang beruntung, tapi gue..., dari puluhan kesatria hanya gue satu yang dipilihnya..." Sahut Rangga dengan cepat.
Tiba-tiba Rangga berdiri dan kemudian berjongkok dibawa Ara dengan kaki ditekuk bak pangeran ingin mendeklarasikan cinta.
" Ishh...kakak apaan sih...,bangun ayok!!"
Rangga malah tersenyum dan manatap Ara dengan binar cinta.
Semua siswa dalam bus bersorak dan bersiul-siul.
Bahkan Meta mengambil video live streaming confession didepanya itu.
" Lailia Nafesaa Anara my lovely...
" Wuhuuuu.....yeay...yeeaayyy..." Teriak Natasha, Hana dan Meta. Diikuti beberapa siswa lainya.
" Wah ajoor...ajoor juumm.., si bisu udah mulai bicara!!" Teriak Beno, teman sekelas Rangga.
Rangga bergegas mendekatinya dan mentuel kepalanya keras.
" Lo kata gue bisu??"
" Ya iyalah..., tiga tahun jadi teman sekelas lo, gue cuman denger suara lo itu saat presentasi makalah dan saat lo ngomong selaku ketua OSIS aja Ga..., selebihnya emang lo bisu gue lihat..." Ujar Beno santai.
Rangga termenung sesaat, dan langsung menepuk pundak Beno dengan bersahabat.
" Lo bener, dan seratus persen bener...., mulai hari ini lo dan kalian semua bakal inget, kalo gue adalah Rangga yang ramah dan asyik, gue janji guy's...." Rangga berjalan kembali ke tempat duduknya.
Suasana di bus semakin hangat, Natasha mulai memamerkan suara merdunya sementara Denis menemaninya dengan gitar Ara yang dipetiknya.
Meta juga sedang asyik bersama Chandra. Sedangkan Hana...
Gadis itu sibuk membalas chat dari Adnan yang rusuh, mengadu tak sanggup terpejam tanpa ada dirinya disisi Adnan.
Drttt..drrtt..ponsel Rayya berdering saat empunya ke toilet bus.
Hana bingung, diangkat nggak sopan, kalau nggak diangkat kasihan yang nelp.
Hana melongok ke belakang, tapi pintu toilet tak juga terbuka.
Mau tak mau Hanapun mengintip siapa yang dalam panggilan itu.
Tapi saat ponsel telah berada di tangannya, deringan itu tah berhenti.
12 Panggilan tak terjawab
Rayya datang dengan wajahnya yang telah segar.
" Ponsel kakak bunyi terus dari tadi.."
Hana menyerahkan ponsel Rayya.
__ADS_1
" Nggak kamu angkat dek?" Tanya Rayya.
" Nggak berani Hana..." Jawab Hana.
" Angkat aja, itu Hanum..." Ucap Rayya sendu.
" Hanum???" Kini wajah Hana penuh tanda tanya besar.
" Iya, Hanum bilang abbynya..... ahh..susahlah..." Rayya mengusap wajahnya berulang kali.
" Paman kenapa?" Tanya Hana semakin kepo.
" Abby Hanum sudah mendapatkan calon untuknya..., sepertinya lulus ini mereka akan menikah, dan Hanum akan di bawa ke Mesir..." Rayya menyandarkan kepalanya di punggung bangku.
" Cintaku layu sebelum bertunas Han..."
" Tapi apakah Hanum setuju kak?"
" Hanum anak yang berbakti Han, dia akan selalu menuruti ucapan orang tuanya..."
" Sabar kak, kata orang cinta akan tau dimana tempatnya pulang, walau Num tak mengatakannya, tapi Hana tau Num ada rasa sama kakak..." Ucap Hana.
" Kakak tahu, dan Hanumpun berusaha menunjukanya, tapi itu semua percuma..., hati kakak akan tetap merana..."
Hana sedih menatap Rayyan yang menutupi wajahnya dengan handuk kecilnya.
Rayya itu ember mulutnya, tapi pribadinya baik dan sopan.
Sekalinya jatuh cinta dan kebetulan ceweknyapun merespon, malah nasib harus seperti ini.
Ya nasib...ya nasib mengapa begini..
Baru pertama bercinta sudah menderita..
Jerit hati Rayyan Athaya.
Sementara itu Rangga semakin gencar merusuh, membuat Ara beberapa kali spot jantung.
" Kak...ihhh, tangannya di kondisikan!!" Geram Ara untuk yang kesekian kali.
" Nggak bisa..., udah terprogram dari sononya emang maunya kesitu mulu ya gimana dong..." Jawab Rangga asal.
" Ishhh kak, Ara teriak nih!!" Ancam Ara geram, saat tangan Rangga telah berhasil masuk ke dalam kaos Ara.
" Teriak aja, mereka juga ngerti lah, orang pacaran itu kaya gimana, tuh Chandra ama Meta aja santai pelukan begitu.." Tunjuk Rangga dengan dagunya pada pasangan baru itu yang asyik kusyuk berpelukan.
" Dan tuh, si playboy tengil itu, Natasha aja santai tuh tidur dibahunya..., nah kita juga dong..., kita legal, mau ngapain aja udah sah.."
Ara merinding melihat senyum devil Rangga.
" Sshhhh.., kak....." Desah Ara tubuhnya sudah bergetar tak karuan. Tangan Rangga benar-benar sudah tak bisa dikondisikan, tanganya memang sudah harus segera disekolahkan, karena benar-benar meresahkan.
" Hemmm..." Rangga tenang menyahuti Ara sementara tanganya terus nakal mainkan aset Ara.
" Lepas...nggak tahan Lili kak..." Desis Ara dengan menarik paksa tangan nakal itu.
Grep!!!
Dipeluknya Rangga dan diciuminya seluruh wajah Rangga.
Denis melongo melihat keberanian Ara, begitupun Rayya dan Chandra, untung saja hanya mereka bertiga yang lihat, kalau nggak pasti heboh dunia persilatan satu bus.
" Diem, tangannya jangan rusuh!!, kalau nggak tanggung aja akibatnya..." Ancam Ara geram dan segera memasang bantal lehernya.
" Apa akibatnya??" Tanya Rangga kepo, tangannya mulai maju.
" Simpan tanganya ihhhh, bikin orang marah aja kakak mah..."
" Kakak cuma penasaran mau nanggung akibatnya, apaan sih?, bilang dong..."
" Kalo tangan ini masih rusuh juga, Lili perkosa kakak disini!!!" Geram Ara.
" Wah kalau itu sih jelas mau dong....sepenuh hati dan setulus jiwa ragaku berserah padamu sayang..., silahkan perkosa saya tuan putri..." ucap Rangga dengan pasrah.
" Hahh...Astaghfirullah...ya Allah..., bojoku gendeng!!!!" Ara mengelus dadanya.
" Ojo ngedumel pake bahasa Jawa, jangan kira aku gak ngerti..."
" Sakarepmu lah..." jawab Ara dengan geram sambil memanyunkan bibirnya geram.
Cetik!!
__ADS_1
"Ahhh..sakit..." teriak Ara saat Rangga menjentik bibir pink itu gemas, rasanya Rangga udah sangat ingin menyedotnya saking gemesnya.
Bersambung...