Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 11


__ADS_3

---Happy Reading---


Seorang gadis berjalan santai dikoridor kampusnya dengan buku tebal ditangan kirinya, tiba tiba dari arah berlawan ada seorang gadis juga sedang bermain hape dan.. Bruk!


Semua buku terjatuh dari tangan gadis itu. Sedangkan yang menabraknya hanya terdiam dan menyeringai kecil dibibir tebalnya. "Butuh bantuan gak lo?" tanyanya dengan nada menyebalkan. Belum dijawab gadis yang sedang memungut bukunya terpanggil.


"LUNA!" panggil seseorang dari arah belakangnya, luna, gadis yang membawa buku itu menoleh setelah mengambil semua bukunya yang berserakan dilantai. Dan ia bisa melihat dua orang yang tak lain Karel, sahabatnya dan Kevin, kaka tingkatnya (Part 2).


Karel mendekati luna dengan tatapan tajam kearah Laura dan Jenny. Orang yang selalu iri dengan Aluna dan kawan kawannya karena kecantikkan aluna, laura menjadi benci kepada sahabatnya, cinta pertama karel dikampus.


"Kamu gapapa?" Aluna tersenyum manis lalu menggeleng. "Gapapa kok, dia juga gak sengaja nabrak." Balas aluna yang tidak ingin memperbesarkan masalahnya. Karel menatap laura dengan tatapan sengit. "Kau! Kalau jalan liat kedepan, orang buta saja bisa jalan dengan benar. Masa kau kalah."


Aluna menahan lengan karel yang ingin menghabisi laura, Laura dan Jenny sudah malu karena ucapannya Karel. Mereka dibandingkan dengan orang buta secara tidak langsung ia dibilang seperti orang rendahan dibawah orang buta.


"Udah udah, karel. Lebih baik kita pergi, aku ada kelas soalnya."


Karel mengiyakan lalu menarik lengan aluna, meninggalkan katingnya kevin bersama Laura dengan Jenny. "Inilah yang selalu tak disukai oleh banyak orang, kalian adalah orang pengecut yang hanya bisa membuli orang. Dan aku tidak menyukai orang yang sok berkuasa seperti kalian."


"Lebih baik kalian pergi jauh jauh seperti sampah saja." ucap pedas Kevin dan meninggalkan Laura yang sudah menahan nangis karena perkataan kevin cukup pedas untuknya padahal dia hanya menabrak aluna. Dan laura menyalahkan luna saat itu juga.


"Ini semua salah Luna! Gara gara dia, aku sudah diklaim menjadi gadis tak berguna dan sampah."


"Gara gara dia, ka kevin menjadi tak menyukaiku. Padahal aku sangat menyukainya." Ucapnya dengan tangisan diwajahnya. Jenny langsung merangkul sahabatnya supaya laura tidak menangis lagi karena cowo yang ia cintai mengatainya 'sampah'.


'Aku akan membalasnya, awas kau luna!'


❣❣


"Lun, katanya kamu tadi di tabrak sama cabus ya?" tanya rizka yang sudah duduk manis didepan luna dikantin. Luna mendongak lalu mengangguk. "Cuman nabrak doang sih, gak ada apa apa lagi." santainya.

__ADS_1


"Lun, kamu tuh harusnya lebih tegas lagi sama tuh cabus, dia tuh gangguin kamu terus gara gara dia-"


"Dia iri sama kamu, orang luna cantik dan dikelilingi oleh cowo yang dia suka semacam ka kevin." sambung citra yang baru datang dan duduk disamping Rizka. Rizka menatap citra dengan melotot, "Kenapa?" tanya citra membuat rizka mendengus kesal. "Ngagetin tau gak sih."


"Gak tuh, but sorry."


Aluna menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kedua sahabatnya. "Kalian bisa diam gak sih? Jangan berisik bisa?" tanya luna yang merasa terganggu. Keduanya langsung terdiam menatap luna yang sangat fokus dengan bukunya. Luna memang sering begitu karena setiap ia sedang belajar ia selalu merasa kelaparan. Dari pada ia duduk diperpus bulak balik kekantin lebih baik ia mengerjakannya didalam kantin sekalian.


"Kau, mengerjakan apa sih lun?"


"Iya, sedari tadi kau sangat sibuk dengan buku tebal ini."


Tanya kedua sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan bingung, luna menghela nafas lalu menatap sahabatnya. "Apa kalian lupa kalau hari ini akan ada pengumuman lomba untuk membuat desain pakaian olahraga?" tanyanya. Membuat kedua mata sahabatnya melotot tak terpercaya. "Oh iya lupa! Mana mana buku aku pinjem." ucap mereka dengan kebut.


"Lagian kenapa sih, fakultas desain harus ada lomba lomba begitu?" gerutu Rizka, luna berdecak. "Eiy, masa kau tidak tau? Jika kita menang dilomba ini kita akan dapat hadiahnya yang lebih untung. Karena diperlombaan ini seluruh perusahaan yang mencari anak desain berbakat akan mendapatkan kesempatan bekerja diperusahaan mereka. Jadi kita gak perlu susah susah mencari perusahaan untuk kerja lagi. Keren kan?"


"Hah? Seriusan! Kalau gitu aku harus berupaya mendapatkan perusahaan dalam Australia. Aku harus mendapatkannya." ucap semangat citra dan diangguki oleh rizka. Sedangkan aluna hanya tersenyum melihat semangat kedua sahabatnya yang terkadang mereka akur kadang mereka bertengkar. Itulah persahabatan, dan pasti ada satu orang yang menengahi keduanya.


"Baik, hari ini saya akhiri disini. Semangat untuk kalian! Semoga desain kalian menarik dimata mereka semua, kalian boleh bubar." Ujar dosen yang tampan dan baik. Dosen ini sangat populer, Arkana Belledi.


Aluna dan dua sahabatnya belum keluar dari kelas karena Rizka ingin menanyakan sesuatu ke dosen tersebut, rizka berjalan pelan kearah pak Arka disampingnya citra. Sedangkan aluna menunggu kedua sahabatnya didepan kelas dan memandangnya dari jendela kelas.


Saat sedang menunggu sahabatnya, aluna dikagetkan oleh suara dua sahabat prianya. Stefan menyipitkan matanya walaupun matanya sudah cipit ia menyipitkan lagi menatap gadisnya. Aluna yang peka langsung menghela nafas. "Citra hanya menemani Rizka bertanya sesuatu hal kepada pak Arka tidak lebih dari itu. Jadi gak usah lebay bisa? Mata ilang tuh."


Stefan berdecak menatap kesal kearah aluna. Gadis ini sungguh tidak mengerti perasaannya yang sudah diubun ubun. Aluna menatap citra dan rizka yang berjalan pelan keluar kelas bersama pak Arka didepan mereka. Pak Arka membalikkan tubuhnya lalu tersenyum menatap rizka yang sudah menatapnya dengan tatapan binar lucu. "Nanti saya kabari kamu, rizka. Saya pergi dulu kalau begitu, duluan ya semua." ujarnya dengan ramah membuat rizka terus terusan menatap punggung pak Arka dengan kepala miring dan senyuman diwajahnya.


Aluna berjalan mendekat lalu menggodanya. "Senangnya bertemu doi ya? Senyumnya lebar banget gak takut kesempitan itu deket pipi?"


Rizka menyubit lengan aluna dengan gemas. "Seperti tidak pernah merasakan aja rasa cinta. Padahal kamu sudah lebih dulu mempunyai gebetan."

__ADS_1


"Eh?"


"Masa kamu tidak peka? Banyak sekali, ah bukan, ada tiga orang yang suka sama kamu." Aluna mengernyit pelan dengan menatap rizka dengan tanya. "Satu, dia yang ada dinegara orang, dua yang ada disamping kamu, dan ketiga keting yang ngejar kamu terus menerus kayak penguntit tau gak?" tanyanya dengan berbisik agar opsi kedua tidak mendengarnya.


Aluna menggelengkan kepala. "Gak mungkin, tapi yang dinegara orang bener sih." Rizka semangat sambil menepuk kedua tangannya. "Tuh kan! Apaku bilang, apa lagi kamu udah merasakan bagaimananya dilamar. Walaupun itu masih kecil tapi sama saja jika diingat kembali bukan, sama sama gemas." ujarnya membuat keduanya tertawa bersama sedangkan citra sibuk berbicara dan menjelaskan kepada cowonya yang sangat cemburu terhadap semua pria didunia ini.


"Kan aku udah bilang aku cuma nemenin rizka doang gak lebih, tanya rizka." ucap citra dengan kesal. Rizka yang merasa terpanggil langsung menatap stefan lalu menempeleng kepala cowo itu dengan keras. "Jadi cowo boleh posesif tapi bisa tidak sedikit percaya sama pasangannya sendiri? Kau cemburu seperti iini sudah terlihat bahwa kau tidak percaya pada pasanganmu sendiri, bodoh!"


Ucapan rizka benar, jika pasangannya terlalu cemburu dengan pasangan sendiri berarti tandanya ia tidak percaya kepadamu disaat orang ketiga sedang masuk didalam hubungan kalian. Citra yang mendengar penjelasan sahabatnya langsung menatap haru dan menatap cowonya dengan tajam.


"Jangan bilang kamu beneran gak percaya sama aku? Kalau gitu kita gak usah tunangan, batalin aja didepan dua keluarga besar!" Citra marah dan langsung pergi dengan menarik lengan kedua sahabatnya meninggalkan stefan yang masih terpasku dan mencerna perkataan gadisny diotaknya.


Stefan yang sudah mengerti langsung mengejar gadisnya yang entah dimana gadis itu lari. Yang penting ia kejar terlebih dahulu, stefan sudah pergi meninggalkan seseorang yang sedang bingung dengan semua situasi terdekatnya. Dan ia juga bingung dengan dirinya mengapa dirinya ditinggal oleh semua orang? Apa salahkku?


"Citra, plis kita berdua capek, bisa berhenti sebentar gak?" tanya rizka dengan sedikit menahan agar citra tidak menarik lengannya lagi, begitupun dnegan luna yang sudah kelelahan karena lari dan lengannya di tarik oleh sahabatnya ini.


"Argh aish! Aku benci! Kenapa dia gak percaya sama aku?" tanyanya dengan nada kesal setelah menghempaskan kedua lengan sahabatnya. Aluna mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah dan berdiri didepan citra. "Udahlah cit, kalau kamu kayak gini juga masalahnya gak akan kelar. Aku yakin stefan akan nyusulin kamu, kamu juga harus tau stefankan cemburunya diluar batas, jadi pahami aja lah."


Rizka mengangguk setuju. "Iya cit, maafin mulutku ya yang tidak disaring membuat kalian bertengkar." ujarnya dengan memukul bibir tebalnya. Citra menghela nafas agar amarahnya meredam, tak lama suara stefan terdengar dari arah belakangnya. Aluna dan Rizka pergi terlebih dahulu meninggalkan citra yang harus menyelesaikan kesalah pahaman yang dibuat oleh sepasang kekasih tersebut.


"Kita duluan ya, selesain masalah kamu dengannya." ujar aluna.


"Kita tunggu kabar baiknya ya cit, dadah~." lanjut rizka.


 


---Bersambung---


Jangan lupa like dan mampir keceritaku yang lain.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2