
Rangga tersenyum melihat ranjang mereka yang benar-benar kacau seperti kapal pecah.
Saat suara Adzan subuh menelusup relung dengarnya, Rangga membuka matanya dan mendapati sebelah jiwanya ada di sampingnya. Memeluknya erat, seolah tak mau lagi terlepas.
Hatinya sungguh bahagia tak terkira saat ini. Rasa sakitnya bertahun-tahun lenyap tak tersisa, semua terserap oleh besarnya cinta diantara keduanya.
Kekhawatirannya beberapa hari ini sirna, berganti rasa lega yang luar biasa.
Cinta pertamanya..
Kekasihnya..
Dedek Lilinya..
Istrinya..
Ternyata masih orang yang sama, dengan cinta yang sama.
Rangga mengigit bibirnya gemas saat mengingat penyatuan semalam. Gadis kecilnya dulu benar-benar banyak berubah, gadis yang dulunya malu-malu dan hanya menurut, sekarang sangat agresif dan gila. Apakah ini hasil didikanya duhulu? Istri seorang Rangga yang gila, tentu ketularan gila bukan?.
" Emmmmhhh" Lenguh Ara saat Rangga mengusap rambutnya pelan.
" Sudah subuh sayang, mandi yuk..." Bisik Rangga ditelinga Ara pelan.
" Iyaaaahhhh..." Gumam Ara pelan, tapi matanya tidak juga terbuka.
" Ya sudahlah, lima menit lagi lah...." Ranggapun kembali mengeratkan pelukanya pada isterinya.
" Tadi bangunin, sekarang malah kaya gini..." Ara membelai rambut Rangga lembut.
" Kakak nggak bisa lagi untuk tidak memelukmu sayang.." Rangga mengecup ceruk leher Ara pelan dengan ikut memejamkan matanya lagi.
" Hemmm, bohong!!. Mengabaikan istri selama lima tahun saja bisa..." Sahut Ara dengan diselingi tawa kecilnya.
" Ehhhhh, sudah!! jangan dibahas yang itulah, jangan diungkit lagi.." Rangga semakin mempererat pelukanya dan semakin gencar menciumi wajah Ara.
Sampai-sampai Ara tergelak tawa karena tangan Rangga tak diam saja. Tangan Rangga nakal menggelitik perut Ara.
" Ihhhh, curang..., Sudah cukup ampun..ha..ha. " Ara berusaha melepaskan diri.
" Yuk ahhh, mandi sama-sama yuk sayang.." Rangga bangkit dari duduknya dan memutari ranjang hendak menggendong Ara.
" Kakak mandi duluan deh, kaki Lili agak keram.." Ucap Ara dengan mengelus pelan kakinya.
"Sakit banget ya?" Rangga ikut mengelus kaki Ara.
" Nggak banget sih, duluan aja kak..." Ara mendorong tubuh Rangga pelan.
Bisa-bisa bakalan jadi mandi plus-plus versi kak Rangga, kalau diturutun ini mah, batin Ara.
" Oke deh, kakak siapin air hangatnya dulu kalau gitu.." Ucap Rangga.
Cup.
Kecupan lembut berlabuh dalam di kening Ara.
Sepeninggal Rangga, Ara terpaku di tempatnya.
Kakak tidaklah berubah..
Cintanya padaku masih sama..
Ara menutup wajahnya yang memerah karena malu.
Mengingat bagaimana semalam Rangga memperlakukanya dengan lembut.
Tidak seperti Rangga lima tahun yang lalu, yang brutal dan penuh akan nafsu.
Semalam Rangga menyentuhnya dengan lembut, seolah-olah Ara adalah sebuah benda yang mudah tergores oleh tanganya.
Tapi justru dengan kelembutan itu mampu membuat jiwa raga Ara melambung tinggi, membuat Ara menggila tanpa disadarinya.
Benar..
Apa yang dikatakan papa semua benar.
Dengan perpisahan yang terjadi kami akhirnya mampu mengelola kesabaranan kami.
Kami bisa memanajemen hati, dan menjaga nafsu menggebu yang bisa menyakiti masing-masing diantara kami.
__ADS_1
Pah...
Yang papa mau dari suamiku sudah terwujud. Walaupun awalnya sempat Lili menganggap papa jahat.., tapi inilah hasilnya pah...
Kak Rangga datang, sebagai kak Rangga baru.
Yang siap secara mental, spiritual dan financial.
Pah...
Terimakasih atas semuanya..
" Kok melamun, air nya sudah kakak siapin sayang..."
Rangga sudah berdiri di didepannya, dengan handuk yang melilit dipingganya. Rambut basahnya menetes di badanya yang padat berisi. Jangan lupakan otot-otot perut Rangga yang kini menyaingi otot-otot perut Ardi.
Serrrr...
Dada Ara rasanya meletup-letup luar biasa.
Ara menatap suami yang telah lama tidak dijumpainya ini penuh kekagumannya.
Dia macho, manly luar biasa. Kenapa dia malah iri dengan kak Vino?
" Wah...ngelamun lagi nih, Jangan-jangan kurang yang semalam ya?" Rangga menjulurkan lidahnya menggoda Ara yang semakin malu dan salah tingkah.
" Ahh..apa sih..." wajah Ara semakin memerah saat Rangga mengangkatnya dan membawanya ke bathup.
" Mau kakak mandiin?" Rangga malah santai duduk di dinding bathup.
" Nggak.., bisa sendiri. Sana ih..." Ara yang sudah sangat malu mendorong tubuh Rangga dan Rangga justru tertawa puas melihat wajah merah Ara yang benar-benar seperti kepiting rebus.
Ceklek.
Ara sungguh lega saat pintu kamar mandi telah ditutup.
Sementara Rangga segera merapikan tempat tidur yang seperti kapal pecah saat ini. Lalu lanjut menggelar sajadah untuk mereka sholat subuh berjamaah.
Drrt..drttt..
Bunyi ponsel Ara bergetar, dan Rangga segera mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelpon istrinya pagi buta seperti ini. Dan tentu saja itu adalah Lenox Maha Dafran.
" Ya hallo..." Sapa Rangga.
Sepagi ini?, Rangga yang angkat! Ahhhhh
Ya, mereka suami istri. Tak mengherankan jika Rangga yang mengangkat ponsel Ara sepagi ini.
Lenox memejamkan matanya, sudah berbulan ini dia mencoba iklas. Dan memang harus iklas. Karena pelan tapi pasti hatinya juga sudah mulai ada yang mengisinya.
" Lenox??" Suara Rangga mengagetkan Lenox dari lamunannya.
" Ekhemm, bilang sama nyonya besar. Tugasnya cepetan di up, gue tunggu paling lama sebelum masuk kampus pagi ini.."
" Nyonya Besar??"
" Itu istri lo!!, si cerewet itu..." Sahut Lenox cepat.
" Oke.." Jawab Rangga singkat.
" Ya sudah, by---"
" Tunggu Lenox!!! " Seru Rangga cepat.
" Ya?" Tanya Lenox penasaran.
" Thanks..., kamu udah jaga Ara buat gue.... Thanks you very much, friend.." Ucap Rangga tulus.
" Ya..." Hanya itu yang keluar dari bibir Lenox. Setelah itu tanpa ada sopan santun nya Lenox segera menutup panggilannya.
" Siapa kak?" Tanya Ara
" Lenox, dia bilang tugas ditunggu pagi ini sebelum ngampus.."
Ara menepuk keningnya dan cepat-cepat meraih mukena yang telah dipersiapkan Rangga.
" Banyak tugas sayang?"
" He emmm" Jawab Ara singkat dan melangkah ke belakang Rangga.
Mereka sholat subuh berjamaah. Sholat berjamaah untuk pertama kalinya setengah lima tahun berlalu.
__ADS_1
...***...
" Nanti pulang kampus kakak yang jemput sayang.." Rangga membukakan pintu mobilnya.
" Kakak mau kemana?" Tanya Ara saat menerima sodoran tangan Rangga dan mengecupnya.
" Kakak ke kantor kak Bagas sebentar, trus nanti agak siangan ada sedikit urusan di kedutaan..." Rangga mengelus jilbab Ara.
Mereka tak menyadari puluhan pasang mata melotot melihat keharmonisan mereka.
" Siapa dia?, yang bersama Ara disana.." Tunjuk mahasiswa yang sedang nongkrong di parkiran kampus.
" Eh..iya, selain Lenox dan Ardi ternyata ada juga yang bisa dekat dengan Ara rupanya..." Seorang mahasiswa dengan kalung rantai melilit di celananya terlihat berkacak pinggang menatap interaksi Rangga dan Ara.
" Wah brengsek!!!, beraninya dia!!!" Teriak mahasiswa itu saat melihat Rangga mengecup kening Ara.
" Kurang ajar!!" Sahut beberapa mahasiswa yang berada disana.
Ara melambaikan tangannya pada Rangga dan berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya.
Sementara segerombolan pemuda saat ini sedang menuju tempat dimana Rangga berdiri menatap punggung Ara yang menjauh.
" Heii, brengsek!!! Siapa lo!!" Bentak Awan salah satu kakak tingkat yang jungkir balik mengejar Ara sejak ospek sampai hari ini.
" Gue??" Tunjuk Rangga pada wajahnya.
" Iya!!! Lo..., berani-beraninya lo ngerayu Ara gue.."
Rangga tersentak terkejut. Aranya?
Cuihhh..
Rangga merinding mendengarnya. Senyum kecut tersungging dari bibirnya. Hatinya mendidih mendengarnya. Berani-beraninya pemuda itu mengakui istrinya sebagai Aranya.
Rangga meraih kaca mata hitam yang tersangkut dihidungnya dan memasukkan nya di saku kemeja.
" Untuk apa anda ingin tahu siapa saya?" Tanya Rangga.
" Ya!!, karena lo udah berani menyentuh milik gue!!" Sahut Awan dengan mata merah menyala.
" Milikmu?, siapa??" Tanya Rangga sinis.
Jelas Rangga tahu maksud orang gila di depanya ini. Enak saja istrinya diaku-akuin jadi milik si bogel ini. Ganteng sih iya, tapi tingginya nggak lebih tinggi dari pohon ciplukan.
"Ara!!!, Anara.., dia kekasih gue asal lo tahu. Jadi gue peringatin lo. Jangan muncul lagi di hadapannya..."
" Ha...ha..ha..., sepertinya anda penghalu ayang tingkat dewa. Bisa-bisa nya anda mengaku-ngaku memiliki barang yang jelas-jelas adalah milik saya yang sah..
Luar biasa, keberanian anda wajib diancungi jempol..." Rangga bertepuk tangan melihat pemuda di depanya itu.
" Apa??" Tanya beberapa mahasiswa yang sempat mendengar keributan di parkiran saat ini.
Beberapa mahasiswi terlihat berbisik-bisik mengagumimu ketampanan seorang Rangga.
Dan mereka juga penasaran dengan apa maksud kata-kata Rangga.
" Maksudnya gimana nih?" Tanya salah satu anggota genk Awan.
" Lailia Nafeesa Anara. Ara yang katamu milikmu itu adalah istri saya, istri sah saya..."
Mereka yang berada di parkiran terkejut tak percaya.
Yang mereka tahu memang Ara tidak terlalu banyak berinteraksi dengan siapapun selama dua setengah tahun kuliah disini.
Ara yang terkenal karena kecerdasan, kecantikan, dan cabikan gitarnya yang fenomenal itu memang sulit didekati. Karena selalu ada Ardi dan Lenox disekitarnya.
" Tapi, setahuku dia pacaran dengan Lenox.." Sahut salah satu cewek dibelakang Rangga.
" Lenox bukan pacarnya, mereka tidak pacaran. Lenox menjaganya untuk saya..." Rangga kembali merogoh kantong kemejanya dan kembali memakai kacamata hitamnya lalu membuka pintu mobilnya.
" Kalau sudah tidak ada yang perlu ditanyakan, saya permisi..." Pamit Rangga dan segera menutup pintu mobilnya.
" Sialan Lo!!, istri gue lo akuin!!! Brengsek!!!" Umpat Rangga kesal dengan meninju setir mobilnya. Matanya tajam menatap pemuda setengah tiang itu geram.
Sedari tadi dia berusaha keras untuk tidak membantai pemuda itu karena emosinya sudah sangat pada puncaknya.
" Gue harus bisa masuk ke kampus ini, sayangku...tunggu...kakak..."
Rangga menyunggingkan senyumnya dan meraih ponselnya. Memasang earphones bluetooth ke telinganya dan melakukan panggilan kepada seseorang.
__ADS_1
" Saya harus bisa mengajar di Universitas XXX bagaimanapun caranya...." Ucap Rangga mantap pada seseorang di ponselnya.