
Sebulan telah berlalu dengan cepat, tiap hari selalu diwarnai dengan suara Rangga yang menghoek di kamar mandi. Tapi untungnya rasa mualnya tidak lagi sepanjang hari, tetapi hanya pagi hari dan pada saat penciumannya menangkap bau yang tidak bisa diterimanya.
Rangga salah satu Asdos fresh graduated yang sangat mumpuni. Kecekatan dan kemampuannya sangat diakui oleh jajaran dosen senior dan para rektor.
Bahkan saat harus menggantikan dosenpun dia sangat jelas dan lugas dalam memberikan materinya.
Beberapa mahasiswi dengan terang-terangan menunjukkan kekagumannya pada Rangga.
Bahkan setiap hari loker Rangga penuh dengan surat cinta.
Tapi bukan Rangga namanya yang akan mudah goyah. Bahkan gadis secantik Cinta Laura saja tidak akan bisa menggeser nama Laila dari hatinya.
Seperti saat ini, Rangga sedang duduk di kursi santai depan kantor dekan.
Tangannya sibuk mengetik pesan pada Ara untuk menunggunya satu jam lagi karena ada rapat dadakan dengan dekan.
Segerombolan gadis dengan pakaian luar biasa sekseh mendatanginya.
" Siang Pak..." Sapa mereka ganjen.
" Siang..." Sahut Rangga.
" Boleh minta Line IDnya pak?" Ucap salah satunya.
Rangga tersenyum dan mengeluarkan ponselnya.
" Maaf untuk Line ID, saya nggak bisa kasih. Tapi kalau nomor ponsel bisa.." Jawab Rangga ramah.
" Wechat, Whatsapp bisa ya pak..."
Rangga lagi-lagi tersenyum manis, membuat beberapa dari mereka tidak tahan untuk mengambil gambar Rangga.
" Saya akan kasih tahu nomor ponsel saya, tapi.... Saya tidak janji bisa mengangkat telpon atau membalas chat, karena jika di rumah ponsel saya selalu dipegang oleh mommy..." Ucap Rangga.
Para gadis itu saling tatap tak percaya. Gila asdos keren ini rupanya anak mommy. Tapi gak papalah untung-untung pas nelpon yang ngangkat calon mertua kan asyik juga, fikir mereka.
" Wah rupanya bapak anak mommy ya pak..." Ucap salah satu gadis.
Rangga mengangguk antusias.
Tentu saja, gue anak mommy Tara..
" Tapi mommy yang saya maksud bukan mommy seperti yang kalian kira, mommy yang saya maksud adalah mommy dari putra-putri saya..."
Ucapan Rangga membuat beberapa mahasiswi yang memang berotak cerdas itu langsung konek.
" Ba...ba..bapak su..sudah beristri?" Tanya salah satunya.
" Nah itu pinter!!!, iya sudah. Dan dia juga mahasiswi sini. Kalau jadi mau nomor saya, boleh. Tapi nomor istri saya saja mau?" Ucap Rangga dengan menahan tawanya.
" Eeemmm, nggak jadi deh pak. Buat apa nomor istri bapak..." Ucap salah satu gadis yang tampak syok dan kecewa.
" Kalau boleh tau istri bapak di Fakultas mana pak?, angkatan berapa?" Tanyanya lagi dengan sinis.
" Buat apa?, istri saya itu kalau hotel kelasnya presidential, nggak semua bisa bergaul dengannya---"
" Pak Rangga..., mari masuk pak, rapat sudah mau dimulai.." Ucap Asdos lain membuat Rangga menghentikan ucapanya.
" Mari..saya masuk dulu.." Pamit Rangga pada beberapa gadis itu.
Sepeninggal Rangga para gadis terlihat mengeratkan genggaman tangan mereka.
" Sialan !!, gue penasaran dengan istrinya, tinggi amat dia menempatkan kelas istrinya itu.."
__ADS_1
" Iya gila!!"
" Menurut lo nih ya, selain gue emangnya siapa lagi yang cantik di kampus kita ini?" Ucap Tammy, si bunga kampus.
" Nggak ada Tam, lo paling cantik!!" Jawab para temannya.
"Gue penasaran sampai mati kalau sampe gue nggak tahu wujud dari istri pak Rangga!!" Ucap Tammy
" Nggak usah penasaran lah Tam, yang jelas dia level nya di bawah kamu!!"
" Cihh...sok-sokan menempatkan istrinya di presidential, palingan kelas ekonomi aja nggak nyampai..hi..hi..hi.."
Sepanjang lorong para gadis itu terus menggosip tetang asdos keren yang telah beristri.
...***...
Hari ini adalah hari ulang tahun Rangga. Sementara Ara sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan skripsi bab akhirnya.
Beberapa malam ini Lenox ditemani Wari datang kerumah Ara dan Rangga untuk sama-sama menggenjot skripsi mereka.
Tapi rupanya Rangga tidak suka, oleh karena itu beberapa malam ini, setelah Ara tidur Rangga mengerjakan skripsinya sampai selesai.
Pagi ini Ara yang memang sudah tidak ada materi lagi memutuskan untuk tidak datang ke kampus. Rencana nya dia akan menyelesaikan skripsinya, karena dia tidak tahu kalau sudah selesai.
Sesudah sholat subuh, Ara bergegas membuka laptopnya.
" Hah!!, kok bisa?" Ucapnya terkejut saat mendapati bab terakhirnya telah beres.
" I..ini.., pasti ulah Habibiku..., kak Rangga memang the best..." Gumamnya dengan senyumnya yang mengembang cerah.
Ara mengusap wajahnya sendu, gadis itu menghembuskan nafasnya pelan.
Sebulan ini Rangga benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengganggunya. Sama sekali tidak, bahkan dalam sebulan inipun Rangga tidak pernah menyentuhnya berlebihan.
Paling-paling hanya berciuman, dan bercumbu kecil sebelum tidur.
Ara berdiri di depan cermin, mengamati seluruh tubuhnya.
" Nggak seksi sih, dada juga kurang besar. Bokong juga kurang besar...ahhhhhh....." Ara mengacak-acak rambutnya.
" Gimana nih??, kakak bosan sama aku...." Desahnya.
Brugh..
Ara melempar tubuhnya ke kasur.
Rangga saat ini sedang ke masjid untuk sholat jamaah.
Karena kepalang membuka laptopnya, Arapun membuka game untuk merilekskan otaknya yang penuh prasangka buruk.
Dettt..dett..dett...dar..dar..dar..
Suara tembakan dari laptop Ara membuat Rangga yang ada di depan pintu dengan dua gelas susu ditangannya sangat penasaran.
Pintu terdorong pelan, dan sepertinya Ara tak menyadari itu.
Rangga mematung ditempatnya, siluet istri tercintanya yang menggoda membuat sesuatunya menggila.
Sebulan ini dia tak bisa menyentuh istrinya, demi memenuhi janjinya. Tapi tentu selama itu pula dia harus jungkir balik menahan 'his something' yang dengan setengah mati harus dia taklukkan setiap malam.
Jelas itu berat bro!!. Bahkan rasanya Rangga pernah merasa ingin gantung diri di pohon toge( sama aja bohong).
" Sayang...." Panggil Rangga pelan setelah meletakkan kedua gelas susu dimeja nakas.
__ADS_1
" Hemmmm" Sahut Ara yang sedang fokus dengan gamenya.
" Kamu...emmm" Ucap Rangga kikuk.
" Skripsinya Lili udah kakak selesaikan, jadi waktunya nge game kan..." Sahut Ara.
" Bukan itu sayang, hari ini kan---"
" Ah iya, hari ini Lili ijin nggak ngampus. Tolong kamu buatin ijinya ya Bi...." Sahut Ara lagi tanpa menoleh.
Rangga mendekati Ara dan duduk dibelakang nya.
" Kayaknya asyik banget sampai-sampai nggak pedulikan suaminya" Sindir Rangga.
" Peduli kok, itu air jahenya udah Lili bikin. Obat mualnya juga udah ada.." Tunjuk Ara dengan dagunya pada meja sofa disudut kamar.
" Hemmm, apa cuma itu peran istri?" Sindir Rangga lagi.
" Aku bisa apa kalau suamiku saja sudah bosan..." Ucap Ara dengan menunduk, menyembunyikan matanya yang berembun.
Otomatis game yang sedang online di laptopnya terbengkalai sesaat. Bahkan karakter Lolita hero counter markmannya, Khufra sampai harus terpukul mundur.
" Ra...ra....Ara!!!" Suara Lenox dalam laptop mengagetkan Rangga.
" Kamu sepagi ini udah online esport solo sama Lenox sayang!" Bentak Rangga dengan tangan menutup laptop dengan kasar.
" Iya.." Jawab Ara dengan beranjak berdiri, Ara terus menunduk, sehingga wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya.
" Mau kemana?" Tanya Rangga pelan, dia sangat tahu istrinya sedang menyembunyikan tangisnya.
Ara diam saja dan mulai melangkah.
Srettt...brugh!!!
Rangga menarik tanggan Ara hingga gadis itu kembali terlempar di kasur.
Dengan cepat Rangga merangkak ke atas tubuh Ara sebelum gadis itu kembali beranjak.
" Kamu tidak rindu kakak sayang?" Bisik Rangga di telinga Ara. Kini hidungnya mulai menjelajahi wajah Ara, menciumi mata basah itu dengan lembut.
Dadanya bergetar hebat, bukan mudah menahan hasratnya sebulan ini. Rasanya saat ini dia tak sanggup menahan lagi.
Sesuatunya sudah sangat keras ingin segera bebas.
" Kenapa menangis?, nggak papa kalau mau nge game. Maaf kakak bentak kamu..." Rangga terus mengecupi leher dan pundak Ara yang terbuka.
Arapun merasakan hal yang sama, lama tak disentuh seperti ini membuatnya tak mampu menahan rasa inginya. Rasa ingin dijamah oleh suaminya.
" Kakak hanya cemburu kenapa selalu Lenox!!" Ucap Rangga dengan nafas semakin memburu. Tanganya telah berhasil meloloskan kacamata di dada Ara.
" Memang siapa lagi temanku selain dia, Hana dan Vera telah sibuk dengan anak-anaknya, Natasyahhh daan Hanumhh sibukhh de..nganhh ke...kasih.nya. Hanyaahh adah Lenoxhhh..." Ucap Ara dengan nafas yang naik turun karena mulai terbakar nafsunya setelah Rangga mulai mer*mas sesuatunya.
" Kan ada aku, Habibimu...kenapa Lenox???" Rangga menggigit geram ceruk leher Ara dengan gemas.
" Ahhhh" D*sah Ara.
" Kamuhhh, sudahhh bo...san...ak..uhh.." Jawab Ara jujur. Dengan terus menggeliat kepanasan karena ulah tangan Rangga yang nakal.
Rangga tersenyum licik dan dengan cepat melancarkan aksinya yang telah tertahan selama sebulan ini.
Pagi itu mereka kembali menyatu, setelah drama mereka satu bulan ini. Rangga hampir terlambat berangkat kekampus karena terlalu rakusnya menggasak istrinya. Apalagi Ara terlihat sangat agresif, membuat Rangga kualahan.
" Bi...ini hadiah ulang tahun dariku.... Dibukanya kalau udah sampai kampus aja.." Ucap Ara yang masih besila di kasur dengan tampilan yang masih acak-acakan dengan selimut menutup dadanya.
Rangga yang telah rapi itupun menerima kotak kecil itu dan mengantonginya.
__ADS_1
" Terimakasih sayang, kakak berangkat ya... Sarapanmu udah ada itu, air mandi juga udah kakak siapin. Bye sayang, Assalamualaikum..." Rangga mengecup kening istrinya lama. Tanganya mengelus rambut Ara sebelum melangkah keluar kamar.