
---Happy Reading---
"Adam, oper bolanya kepadaku!" teriak temannya.. Adam pun langsung mengopernya lalu temannya itu mengoper kembali saat ada lawan menghadangnya, tak sengaja bolanya sangat tinggi sampai tidak bisa ia tangkap. "Ah, maafkan aku adam, aku terlalu tinggi melemparnya. Ambil gih bolanya, sepertinya bola itu berada ditangan gadis yang selalu kau lihat sejak ia pindah kekomplek kita." ujar temannya yang langsung segera mereka mendorong punggung adam dengan paksa.
Adam yang merasa kaku tubuhnya tidak bisa menolak karena memang saat ini ia ingin mendekati gadis yang selalu menjadi perhatiannya sejak pertama kali ia melihat gadis itu bergandeng dengan kakeknya. "Maaf itu bolaku."
Gadis itu melirik kearahnya lalu ia berdiri dihadapannya entah kenapa tubuhnya menegang kembali dan mengkaku seperti tadi, "Untung saja bolamu tidak mengenai istana kecilku." ucapnya dengan suara menggemaskan membuat adam menahan senyuman kepada gadis itu, rasanya ia ingin tertawa mendengar suara itu.
Adam yang tidak tau harus apa langsung menggaruk tengkuk lehernya yang merasa tak gatal dengan pipi merona hanya karena menatap wajah imut gadis didepannya yang belum ia ketahui namanya siapa. "Maaf aku tidak melihat ada yang duduk dipasir ini, bolehkah aku meminta bolaku kembali?" tanya adam dengan ragu.
"Tentu saja boleh, bola inikan milikmu." ucap gadis kecil itu sembari memberikan bolanya kepada tangannya yang sudah terbuka dan mengambil bola itu. Adam bisa melihat gadis itu ingin kembali duduk namun ia tahan dengan mengulurkan tangan kanan, ia memberanikan dirinya untuk perkenalan diri didepan gadis kecil yang saat ini ia merasa dia adalah gadis yang ditakdirkan untuknya.
"Namaku Adam, Muhammad adam. Siapa namamu?" tanya adam yang langsung dibalas gadis itu dengan senyuman manis, sangat manis. "Namaku Aluna, Aluna Nada. Salam kenal ka adam." ujarnya sembari membalas uluran tangan adam dengan lembut. Membuat adam malu dan ingin rasanya cepat cepat pergi dari sini karena ia merasa diperhatikan oleh orang dewasa yang sudah memperhatikannya dengan gadis itu, gadis yang bernama luna yang sudah membuat debaran hati aneh didalam dadanya.
Kemudian adam melepaskan uluran tangannya dengan gadis itu lalu pamit pergi karena dipanggil oleh semua teman main bolanya, namun bukan bermain kembali dirinya langsung diledekki habis habisan oleh temannya. "Cie! Adam pipimu sangat merah!"
"Apa kau sednag jatuh cinta kepada gadis mungil itu?"
"Gadis itu sangat imut dan menggemaskan aku yakin kalian berdua akan sangat serasi jika di berdiri berdampingan."
"Berisik kalian! Aku pulang saja." ujar adam lalu berlari keluar taman diikuti oleh teman temannya. "Tunggu kami adam!"
❣❣
"Memangnya apa yang kamu harapkan?" tanya aluna yang masih menatapnya dengan tatapan penasaran namun adam hanya membalasnya tersenyum lebar lalu ia merangkul erat gadisnya. "Kamu akan tau nanti."
"Nanti kapan?"
"Mungkin setelah kita menikah." ujar adam yang langsung diangguki oleh aluna, adam berpikir kembali tentang masa kecilnya yang gadisnya masih sibuk memandang pemandangan yang semakin cantik karena bintang bintang yang penuh dilangit menemani bulan yang berdiri disana.
❣❣
Keesokkan harinya, adam dipanggil lagi oleh semua temannya untuk bermain ditaman lagi. Tak lama adam yang masih sibuk dengan temannya langsung peka kedatangan aluna, "Adam sepertinya gadismu memiliki teman laki yang sama usianya dengan kita."
"Ya, dan bocah laki itu tidak pernah kulihat sebelumnya."
__ADS_1
"Apa dia bocah laki yang membuat gadis kecil itu jarang bermain ketaman karena bocah laki itu, eh? gadis itu menghampirimu sepertinya."
"Hai ka adam! Hai semua!" sapa aluna dengan ramah membuat semuanya tersenyum kearahnya dengan ramah, "hai juga aluna."
"Aku boleh minjem ka adam dari kalian?" tanya aluna membuat semua teman adam mengangguk serempak lalu aluna tersenyum dan menarik lengan adam, lagi lagi tubuh adam mengkaku tidak bisa menolak jika berhubungan dengan gadis kecil dihadapannya itu walaupun dirinya masih penasaran mengapa dirinya diajak kearah dimana bocah laki itu berada.
"Abang, kenalin ini ka Adam teman baru luna. Ka Adam kenalin ini abang Aksa, ayo dong berjabat tangan masa diam aja." ujar aluna membuat adam mengerjapkan matanya dan melihat aksa yang tak lain adalah abang kandung gadis mungilnya namun ia bisa tau bagaimana raut wajah tidak suka yang diberi oleh bocah laki itu.
Adampun mengulurkan tangan kanannya dan mengucapkan namanya dihadapan bocah laki itu. "Adam." dan ia bisa melihat wajah kesal dari bocah didepannya itu, diterimanya oleh aksa dengan menyebutkan namanya dengan tak sudi. "Aksa."
“Nah kan enak kalau gini, ayo bang kita main bersama.” Ajak luna dengan semangat, Adam yang melihat wajah luna pun tersenyum manis sedangkan Aksa hanya menatap dalam diam kearah Adam. Adam yang merasa ditatap oleh aksa berpikir sepertinya memiliki adik kecil yang menggemaskan seperti aluna akan sangat sulit jika aksa masih setinggi dirinya. "Apa abang gadis ini, ingin cepat segera tumbuh dewasa agar menjaga adiknya dari hidung belang sepertiku? Memangnya diriku hidung belang?" batin adam namun ia diam saja saat aluna menarik lengannya yang meninggalkan aksa yang masih terdiam ditempatnya.
"Abang! Ayo kok masih diam disana?" teriak gadis kecil ini membuat adam dan aksa terperanjat, adam tidak menyangka gadis kecil didepannya ini jika berteriak seperti gadis seumurannya. Aksa pun langsung berlari kearahnya dan melepaskan cekalan tangan adiknya dilengannya. Adam hanya diam, seperti melihat aluna gadis itu mengomeli abangnya lalu tak lama aksa berjalan menghampirinya dengan tatapan kesal.
Lalu ditariknya lengan adam menuju adiknya yang tersenyum menatap abangnya yang sedari menatapnya kesal. "Udah senang?" aluna mengangguk riang lalu tertawa manis membuat lagi dan lagi kepada adam untuk terpana dan terpesona oleh kecantikkan dan keimutan dari gadis kecil yang mungkin baru berusia 5 tahun.
“Gak usah liatin adikku kayak gitu." geram aksa kepadanya adampun yang mendapatkan perkataan itu langsung tersenyum manis lalu mendekatkan bibirnya dekat telinga aksa, "luna manis, buatku boleh?" pinta adam sengaja menggoda aksa dan aksa memberi balasan untuknya melotot. "Gak! Apa- apaan itu?" bentak aksa kepada adam membuat luna kaget dan menatap bingung kearah keduanya yang langsung digelengi oleh keduanya setelah luna bertanya.
Disaat itu juga, adam bertekat untuk semakin mendekati aluna karena ia merasa aluna adalah takdirnya. "Aku akan membuat aluna menjadi pendamping hidupku kelak."
❣❣
Betapa terkejutnya dirinya melihat penampilannya yang sangat berbeda dengan dandanan sehari hariannya. "Yaampun! Anak mama cantik banget!" puji mama yang baru saja masuk bersama tary, kaka adam, rizka, dan citra kedua sahabatnya itu.
Rizka dan citra menganga tidak menyangka sahabatnya ini benar benar sangat sangat cantik dari biasanya mereka berdua dibuat pangling oleh riasan aluna. "Kamu cantik banget luna, ya ampun kamu udah berubah wujud menjadi wanita dewasa. Kaka rias memang hebat!" ucap citra dan rizka yang heboh dengan sedikit memuji kepada kaka perias yang tersenyum malu karena hasilnya dipuji.
"Ini adik iparku? Kenapa kamu mau dengan adam, adikku yang tidak tampan itu." ujar tary membuat aluna tertawa kecil, "kaka jangan seperti itu, kau tidak tau saja apa yang dia lakukan agar diriku jatuh kedalam pesonanya."
"Apa itu?"
"Rahasia." balas aluna membuat tary mendengus kesal. "Kalau dirahasiakan mengapa kau membuatku penasaran?"
"Memang sengaja aluna ka, kaka cari saja pria yang sama persis seperti adam pasti kau akan menemukan beberapa hal yang membuat kaka terjatuh dalam pesonanya."
"Ribet sekali, lebih baik tidak perlu. Aku juga tidak akan menikah."
__ADS_1
"Tidak mungkin, kau pasti akan menikah disuatu hari mungkin dua tahun kemudian atau tiga tahun kedepan." celetuk rizka yang disetujui oleh citra, mereka sejak bertemu sudah sangat akrab apalagi sikap tary yang sangat humble itu.
"Pasti, kan kau wanita dewasa namun dalam dirimu sangat labil." saut mama juga yang sepertinya sudah tau sikap dari tary sebenarnya, tary yang merasa dipojoki langsung menghentakkan kakinya kesal. "Kalian benar benar! Memojokki diriku yang disini sudah tua namun belum menikah juga." kesal tary.
"Lebih baik aku keluar dari ruangan ini sekalian." ujarnya melangkah pergi keluar. Mama mengangguk, "ya jangan lupa sekalian panggil adikmu adam untuk menggandeng istrinya."
"Baiklah.." balas tary dengan lemas, tidak tau mengapa dirinya sangat kekanak kanakkan padahal hanya diledek segitu saja oleh keluarga baru adiknya, tidak separah teman temannya yang berada dinegeri seberang.
Setelah memanggil adam untuk segera bertemu dengan seluruh tamu undangan yang tak lain adalah teman adiknya dan adik iparnya namun ternyata yang datang kebanyakkan teman kakeknya dan papa ranz.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan luna diketuk dan tampillah adam dengan jaznya yang sudah sangat keren itu berjalan melangkah mendekat kearah istrinya yang baru saja resmi 30 menit yang lalu. Adam tersenyum kearah rizka, citra, dan mama anzel.
Mama membalas senyuman itu dengan memeluknya, "baiklah saatnya kita tinggalkan terlebih dahulu pasangan suami istri yang baru saja resmi ini." ajak mama diikuti dengan kedua sahabatnya serta perias yang juga turut meninggalkan keduanya.
Adam fokus menatap gadisnya yang saat ini sudah menjadi istri resminya selama 30 menit. "Kau sangat cantik, dan wajah imut dan manismu tertutup oleh riasan diwajahmu itu." bisiknya membuat aluna menatap adam lewat kaca juga dengan senyuman yang sangat manis.
"Tapi senyumanku masih manis seperti biasa kan?" tanya luna dengan tersenyum melebar, lalu diangguki oleh adam dibelakangnya. Aluna berdiri dari duduknya lalu menghadap kedepan suaminya ini, dia setinggi dada adam maka dari itu ia harus mendongak begitupun adam yang harus menunduk untuk melihat wajah cantik istrinya.
Cup!
Dikecupnya dengan pelan bibir manis milik istrinya, "tapi bibirmu tetap manis seperti biasanya. Dan bibirmu semakin hari semakin membuatku candu." Aluna tersipu mendengar perkataan suaminya yang menurutnya sangat manis. "Kau menggombal, apa kita akan terus menerus berdiri didalam ruangan ini?" tanya aluna yang dibalas gelengan. "tentu saja tidak, aku akan memperkenalkanmu dengan teman kecil kita yang dulu juga pernah kamu lihat mereka ditaman."
"Benarkah? Kamu masih berhubungan dengan mereka semua?" Adam mengangguk, "tentu saja, mereka semua sahabatku sejak kecil."
---Bersambung---
Terima kasih sudah mengikuti kisah aluna dan adam cerita mereka sebentar lagi akan segera berakhir..
Klik tanda suka, klik tanda hati jika ingin dimasukkan kedalam perpustakaan kalian, dan follow diriku jika kalian ingin.
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi, sampai jumpa!