Childhood Love Story

Childhood Love Story
UGD RSUD Bandung...


__ADS_3

Rangga tak mempedulikan perselisihan antara sahabatnya dan Lenox, pemuda itu segera masuk ke dalam bilik untuk menemui Lilinya.


Ara terlihat terkulai lemah dengan jilbab yang telah terbuka di lehernya, tapi ciput masih menutup mahkotanya.


" Sayang.... , bagaimana keadaanmu?" Rangga langsung menghambur memeluki dan menciumi Ara tanpa menyadari kehadiran Pak Kepsek dan seorang dokter disana.


" Kak....." Ucap Ara lemah, dengan sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Rangga agar sadar kondisi dan sadar tempat.


" Ahhh, maaf Pak..., maaf dok.." Ucap Rangga dengan canggung dan salah tingkah sendiri, sebelah tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pak Kepsek dan dokter jaga hanya tersenyum dan meneliti penampilan Rangga yang semrawut dari atas kepala sampai kakinya.


" Sepertinya kamu yang lebih harus ditangani di sini Ga! " Ucap pak Kepsek lagi.


" Iya, mari saya bantu, lukanya bisa infeksi kalau tidak segera ditangani " Timpal dokter yang menangani Ara tadi.


Rangga hanya diam dan tak bergeming, matanya terus berkaca-kaca sementara tanganya mengusap pucuk kepala Ara.


"Jangan khawatir, pasien sudah ditangani dengan baik, Alhamdulillah berkat anggota PMR yang hebat itu, keadaan pasien tertolong dengan cepat" Ujar sang dokter dengan matanya memberikan isyarat pada perawat yang ada disana untuk menangani Rangga lebih dahulu.


" Salut saya dengan tindakan cepat dan berani dari murid bapak.." Lanjut dokter itu lagi.


" Iya dok Terimakasih.., namanya Lenox Maha Dafran dok, murid kelas sepuluh dan kebetulan anggota PMR sekolah kami. Saya juga terkejut anak itu punya pengetahuan luas tentang penanganan kecelakaan, bahkan dia juga mengetahui ramuan penawar racunya gigitan ular berbisa juga.." Balas pak Kepsek.


Rangga mendengar pembicaraan mereka dalam diam, sementara seorang perawat sedang membersihkan luka-lukanya.


" Bahkan Lenox juga mencuci area bekas gigitan itu dengan sangat bersih, dan sepanjang perjalan ke sini pun, dia tak membiarkan Ara untuk tertidur, anak itu terus membuat Ara terjaga..." Lanjut Pak Kepsek sambil mengingat betapa Lenox berubah menjadi Lenox yang lain semenjak tadi.


Bahkan Pak Kepsek sempat lupa bahwa Lenox ini adalah Lenox yang sama yang selalu jadi trouble maker di Sekolah.


" Selama siang dok...." Suara papa Syakieb membuat Rangga dan Ara segera menoleh ke pintu.


Rangga segera bangkit dari duduknya dan sedikit berlari menuju papa Syakieb.


" Pa...., maafkan Rangga...." Rangga segera mencium tangga papa Syakieb dengan sopan dan memeluknya erat.


" Sudahlah, bukan salahmu.... Semua musibah..." Papa Syakieb menggosok pundak Rangga yang sangat terlihat tidak baik-baik saja itu. Papa Syakieb sangat paham ini sangat berat untuk Rangga saat ini, disaat dua hari lagi keberangkatannya ini semua terjadi.


" Maafkan kelalaian kami pak, kami masih menyelidiki, bagaimana belut itu bisa berganti dengan ular, dalam hal ini kami juga telah berkerjasama dengan kepolisian daerah pak.." Pak Kepsek menjelaskan bagaimana kejadian yang terjadi pada papa dan papapun manggut-manggut paham.


" Lenox ya?, bukankah dia yang mengantarmu pulang waktu itu sayang?"


" Iya pah...." Jawab Ara lirih.


" Sekarang apa yang kamu rasakan sayang?" Tanya papa dengan menciumi kening putrinya.


" Mual pah..., pusing juga masih ada.." Jawab Ara lemah.


" Istirahat saja dulu, papa temui dokter dulu sayang...., Ayo sayang.." Papa menepuk punggung Rangga mengajaknya serta.


Rangga pun berjalan bersama papa keluar bilik.


" Rangga sudah sangat dekat dengan papamu ya Ra?, bahkan udah dipanggil sayang aja..ha..ha.." Ucap pak Kepsek.


" He em..., begitulah pak..." Jawab Ara dengan senyumnya yang mengembang.


" Kalo belum jadi pacar Rangga pasti sudah bapak jodohkan dengan anak bapak kamu Ra..." Lanjut pak Kepsek lagi.


Dan sontak merekapun tertawa bersama, pembicaraan mereka ternyata didengar oleh seseorang di depan bilik.


" Ekhemm..." Deheman Lenox membuat mereka menoleh arah pintu.

__ADS_1


" Lenox Maha Dafran..., sini nak..." Panggil pak Kepsek.


" Bapak ucapkan banyak terimakasih untuk semua tindakan mu yang patut diapresiasi hari ini, kau pahlawan hari ini Lenox.."


Ucapan tulus pak Kepsek tidak serta merta membuat Lenox merasa bahagia atau tersanjung. Pemuda itu sama saja seperti aslinya dingin dan cuek.


" Saya hanya melakukan apa yang saya mau.." Jawabnya datar, matanya menatap keadaan Ara saat ini.


" Lo belum makan Ra?, ini gue beliin bubur, ayo...makan.." Ucap Lenox tak mengindahkan keberadaan bapak Kepsek.


Lenox dengan cepat meracik bubur ayam yang dibelinya lumayan jauh dari lokasi Rumah Sakit.


Dengan pelan Lenox membantu Ara untuk duduk dan menumpuk dua bantal di belakang punggung Ara sebagai penyangga.


" Minum air putih dulu " Ucapnya sambil menyodorkan air putih kemasan gelasan pada depan bibir Ara.


" Bismillahirrahmanirrahim..." Bisik Ara dan menerima sodoran minuman itu dan meminumya ada beberapa teguk.


" Aa...buka mulutmu..." Ucap Lenox.


" Nanti ajalah Le..., nunggu papa atau kak Rangga, Hana juga bisa kok suapin aku.."


"Diam Ra, aku nggak butuh bantahan, cukup buka mulut!, aa...." Kata-kata Lenox terdengar padat, jelas dan penuh paksaan.


" Kalau dokternya macam kamu, pasien mati berdiri semua Le..." Olok Ara dengan ketawa kecilnya, dan gadis itupun membuka mulutnya untuk menerima sodoran sendok Lenox yang terdapat telor puyuh disana.


Seorang Ara takkan mampu menolak telor puyuh yang tersaji di depan mata dong.


"Emmm enak, ini beneran enak.. Le, pak itu masih ada satu box, bapak mari makan pak..." Ucap Ara pada pak Kepsek yang memperhatikan mereka di ujung brangkar.


Ucapan Ara mendapatkan pelototan dari Lenox, susah payah dia berjalan puluhan kilo meter untuk mencari bubur, karena uang yang dibawanya pas-pasan cukup untuk beli bubur doang, tidak cukup untuk bayar ojol. Karena terlalu buru-buru Lenox lupa tidak membawa dompetnya. Eh malah di tawarkan ke pak Kepsek pula, dan sialnya pak Kepsek menerimanya pula, beliaupun dengan lahap menghabiskan bubur itu dengan cepat.


Muka Lenox terlihat garang, muka manis beberapa jam lalu telah lenyap tiba-tiba.


" Kamu kenapa?" Tanya Ara.


Lenox diam saja dan melirik pak Kepsek yang berdiri meninggalkan ruangan.


" Kenapa kamu berikan padanya hemmm?" Geram Lenox


" Itu bisa untuk kamu makan lagi nanti.." Lanjutnya.


" Nggak usah khawatir Le, mamaku nanti juga kesini bawa bubur kok..." Jawab Ara santai, tak tau apa jawabanya menyakiti hati Lenox, seolah-olah Ara tak menghargai usaha Lenox demi mendapatkan bubur itu, sedangkan pegal dikakinya aja belum ilang.


" Apa masih mual Ra?"


" Nggak tadinya sih, tapi sekarang mual lagi.."


" Kok bisa?"


" Tadi kamu manis banget, sekarang jutek jadi mual ini mah hi..hi..hi.." tawa Ara membuat Lenox menarik ujung bibirnya keatas, senyum tipis setipis-tipisnya.


" Gombal!!!, manis aku atau kak Rangga?" Pertanyaan Lenox membuat Ara melototkan matanya tak percaya.


" Sorry Ra, nggak usah dijawab.." Lanjut Lenox dengan berdiri, merapikan sampah bubur itu dan membuangnya ketempat sampah.


" Terimakasih banyak Le..." Lenox menolehkan kepalanya menatap intens kepada Ara.


" Untuk?"


" Semua yang kau lakukan untukku, aku sungguh-sungguh berterimakasih.."

__ADS_1


" Tidak usah berterimakasih Ra, aku melakukannya karena aku ingin.."


" Le..." Panggil Ara.


" Hem..." Sahut Lenox tanpa menoleh karena saat ini dia sedang membaca chat dari group sekolah yang sedang heboh membicarakan tentang belut yang berubah jadi ular. Dan namanya yang disangkutkan sebagai pelakunya.


" Le..." Panggil Ara lagi.


" Apa...?" Sahut Lenox jengah.


Ara terkejut dengan perubahan sikap Lenox yang begitu cepat, suasana hatinya sangat cepat berubahnya.


Ara mengernyitkan dahinya heran melihat pemuda yang berdiri di depanya itu.


" Kamu marah?, kenapa?, ada apa?, dan wajahmu itu kenapa biru?, kamu jatuh dimana?"


" Kepo!!" Sambar Lenox dan segera pergi keluar bilik, dia tak habis fikir. Susahnya memperbaiki nama baik yang sudah terlanjur hancur.


Nyesel gua begajulan dulu...


Giliran mau ambil hati gadis shalehah..


Kebusukan gue jadi halangannya..


Saat Lenox keluar, terlihat papa Syakieb, Hana dan Rangga berjalan menuju mereka.


Pak kepsek yang duduk diruang tunggu berdiri saat papa dan Rangga mendekat, sementara Lenox malah santai duduk, tak peduli.


" Mohon maaf Pak, sepertinya anak-anak saya tidak bisa melanjutkan kegiatan kemping ini, dokter sudah memperbolehkan putri saya pulang hari ini, rencananya habis sholat Ashar saya akan bawa mereka pulang" Kata-kata papa Syakieb terdengar sopan dan tegas, setelah beliau sampai di depan pak Kepsek.


" Anak-anak?" Tanya pak Kepsek bingung.


" Iya pak anak-anak saya mereka adalah Rangga, Hana dan Lailia.." Lanjut papa Syakieb.


Kalau Rangga pak Kepsek tahu posisinya, tapi kalau Hana?.


Dan sepertinya papa Syakieb tahu akan kebingungan pak Kepsek saat ini.


Sambil tersenyum beliau pun berkata,


" Hana ini calon Mantu saya juga pak, sama seperti Rangga..."


Lenox mendongak kan kepalanya sesaat saat mendengarkan ucapan papa Syakieb, lalu menunduk kembali, dadanya serasa di hujam ribuan belati, sakit..sakit yang tak berdarah.


" Baiklah kalau begitu kami juga harus segera kembali ke camp. Lenox kamu kumpulin semua untuk bersiap, kita segera kembali ke camp.." Perintah pak Kepsek pada Lenox.


Papa Syakieb langsung mengalihkan pandangannya pada sosok pemuda yang duduk di depan ruang tunggu UGD.


" Jadi kamu yang namanya Lenox nak?" Tanya papa Syakieb dengan lembut.


Ingat papa Syakieb itu seorang psikolog yang nyasar ke dunia bisnis.


Jadi papa Syakieb sangat bisa menilai seorang Lenox Maha Dafran dengan sekali tatap saja.


Dari awal kasus video pembullyan Ara dan saat kasus keserempet nya Ara, baru kali ini beliau bertemu dengan Lenox.


" Iya Pak, saya Lenox.., Lenox Maha Dafran..." ucapnya sambil meraih kedua tangan papa Syakieb untuk disalimnya.


Pak Kepsek terlongo melihat itu.


Ini beneran Lenox atau gendruwo yang nyamar jadi Lenox?

__ADS_1


Bersambung...


Maaf telat update guy's...baru pulang ngampus🤭🤭🤭, mom...maaf he..he...he..


__ADS_2