Childhood Love Story

Childhood Love Story
Nyaman...


__ADS_3

" Kau!!!, dimana sopan santunmu!!, Ada suamimu disini dan kau menghubungi selingkuhanmu di depanku???" Bentak Rangga.


" Ingat sayang aku ini masih suamimu!!" Lanjutnya.


" Suami? Siapa? Kau ?" Jerit Ara emosi.


" Kau mengaku sebagai suamiku begitu!!!, setelah kau permalukan papa dan mamaku, Hahhh!!!, dan karena kau juga kakekku stroke!!"


" Kau itu brengsek yang menjijikkan!!!"


" Aku BENCI padamu Rangga Bayu...., BENCI!!!, BENCI!!!, BENCIIIII....." Ara meluapkan semua rasa sesak yang selama ini terkumpul penuh memenuhi hatinya.


Jarinya menusuk-nusuk dada Rangga sampai-sampai pemuda itu terus menerus mundur.


Tangis Ara pecah, tangis pilu yang sangat menyedihkan.


Rangga terpaku, hatinya hancur melihat Ara yang meringkuk di bawah ranjangnya dengan tangisnya yang tersedu-sedu.


Rangga berulang kali berusaha memeluknya, tapi gadis itu selalu memberontak tidak ingin disentuh.


Tidak mudah bagi Ara menyimpan tangisannya di depan semua orang. Rasanya pasti sesak dan menyakiti dadanya.


Itulah alasannya Ara terus tergantung pada Lenox, karena Lenox tidak pernah menyinggung nama Rangga sama sekali.


Dan itu membuat Ara nyaman.


Tapi lihatlah sekarang, suaminya menuduhnya selingkuh dengan Lenox karena terbakar cemburunya.


" Sayang....maafkan aku, sayang ketahuilah yang sebenar-benarnya terjadi adalah....."


Flasback on.


Rangga bersiul ceria dengan tangan yang cekatan melipat beberapa bajunya untuk dibawa pulang ke Jakarta malam ini.


Rencananya dia akan cuti kuliah selama sebulan. Beberapa hari lagi adalah pesta pernikahannya dengan Ara. Gadis kecil yang sangat dicintainya dahulu...


Apalagi jika mengingat kenakalan Ara di akhir pertemuan mereka yang lalu.


Rasanya Rangga tak sanggup lagi dan ingin segera berlari pulang.


Menikah sudah, saatnya mereka mengumumkan pada dunia bahwa mereka adalah pasangan suami istri.


Dan Rangga juga telah mempersiapkan jurus rayuan pada mertuanya untuk bisa membawa Ara serta kembali ke sini.


Rangga sungguh yakin bahwa mertuanya akan mau melepaskan Ara padanya kali ini.


" Ga..., kami boleh ikut kan...?" Tanya Adam dan Elliott berbarengan.


" Boleh, tapi sudah pesan tiket belum...?" Tanya Rangga tanpa menoleh.


" Cepat cari Ell" Seru Adam.


" Siap..." Ucap Elliott dengan tangan lihai mengetik sesuatu dilaptopnya.


Tok..tok..tok..


" Apa disini benar kamar Rangga Bayu Wijaya?" Tanya seorang gadis cantik berambut hitam legam, berwajah oriental Indonesia. Saat pintu dibuka oleh Zeehan.


" Ga...ada yang cari nih..." Teriak Zeehan.


Rangga menekan kopernya buru-buru dan menutupnya.


Lalu beranjak ke ruang tamu.


" Ya?, bisa dibantu?"


" Emmm, maaf sebelumnya. Sa...saya dengar kamu sudah ada tiket ke Jakarta untuk malam ini.."


" Iya kenapa?" Tanya Rangga datar.


" Ayah ku sekarat.., maksudku.... Ayahku sedang sakit parah saat ini hiks..hiks..apa..apa boleh aku memakainya, maksudku tiketmu untukku lebih dahulu..."


" Hahh...tidak!!!," tolak Rangga tegas.


" Karena mulai besok bandara ditutup karena badai salju. Tidak tau lagi kapan dibukanya!" Sahut Rangga cepat.


" Tolong aku Rangga..., aku hanya mempunyai ayah... Ibuku sudah tidak ada sejak melahirkanku...tolong aku Rangga hik..hik..hik..." Gadis itu menangis bersujut di kaki Rangga.


Rangga langsung ingat bahwa Elliot sedang mencari tiket juga.


" Baiklah sebentar..." Rangga melangkah menuju kamarnya.


" Siapa Ga?" Tanya Elliott yang tak lepas menatap laptopnya. Tatapanya terlihat serius, seolah-olah sedang meneliti sesuatu.


" Arumi.." Jawab Rangga, dan berlalu keluar kamarnya dengan amplop ditanganya.


" Nih..., sebaiknya kau pergi ke Bandara sekarang dan urus pergantian namanya..." Ucap Rangga datar.

__ADS_1


" Terimakasih Ga, boleh aku tahu alasan mu pulang?"


" Aku akan menikah, sebenarnya sudah. Tinggal acara pesta pernikahannya saja" Jawab Rangga.


" Baiklah, semoga kalian berbahagia sampai akhir, terimakasih banyak untuk ini, dan sampaikan salamku untuk istrimu..." Do'a Arumi.


Setelah kepergian Arumi, Rangga masuk ke kamar kembali. Dan mendapati Elliott dan Adam yang terlihat lesu.


" Kalian kenapa?, nih Arumi membayar tiketku dua kali lipat harganya..." Rangga tersenyum manis.


" APA!!!!" Bodohnya kamu!!!" Teriak mereka berdua.


" Apa kau tahu?, tidak ada satupun tiket tersisa untuk hari ini Rangga, dan bandara akan tutup selama 3 minggu selama badai salju ini.."


Flashback off.


" Sejak saat itu aku tidak bertemu Arumi, aku dengar ayahnya meninggal saat dia masih dalam perjalanan..." Rangga menutup ceritanya dengan sendu.


"Sekarang terserah padamu.... Kakak pasrah.., jelas aku yang salah. Kau boleh membenciku"


Rangga duduk di sofa dengan mata yang menunduk.


" Aku mau pulang..." Lirih Ara.


" Tidak!!!"


" Aku mau pulang titik!!!" Kembali Ara berteriak di depan Rangga.


" Sssttttt, jangan berteriak di depan suamimu!!!, apa kau tidak takut dosa, hemmm?" Rangga membekap bibir Ara.


" Aku sudah nggak tahan lagi, ini sudah penuh!" Gumam Ara gelisah.


" Apanya?" Tanya Rangga bingung.


Ara diam dengan mengigit-gigit jarinya cemas. Berulang kali mengurut keningnya.


" Kau mandi sayang, biar kakak siapkan air panas.." Rangga melangkah ke kamar mandi tapi sebelum sampai pada pintu..


" Aku butuh pembalut..." Gumaman Ara pelan.


Rangga mengulum senyumnya. Dan masuk kekamar mandi untuk mempersiapkan air mandi Ara.


" Mandilah..., kakak akan keluar sebentar. Kau butuh apalagi sayang..."


"Nggak..." Sahut Ara masih bernada jutek.


" Ya sudah, ini baju gantinya..." Rangga mengambil baju yang memang sudah dia beli untuk Ara sejak dua tahun yang lalu dari dalam koper, dan diletakkan nya diatas kasur.


...***...


Ara merajuk sedari pagi tadi. Seharian ini Rangga benar-benar mengurungnya bagai tahanan di dalam kamarnya.


Sejak semalam mereka saling diam tanpa kata.


Bahkan Rangga harus menanggung rasa sakit luar biasa di pinggulnya karena tendangan maut Ara.


Sebenarnya Rangga hanya ingin berbaring saja di sisi Ara, tapi rupanya gadis itu benar-benar berhati batu.


Dengan teganya dia menendangnya sampai jatuh terjerembab di lantai.


Cekrek..


Ara keluar kamar mandi dan langsung duduk di atas tempat tidur.


Sementara Rangga terus menatap gerak-geriknya sedari pagi.



" Mau makan apa sayang?, bakso tahu mau?. Kakak buatin ya..."


" Nggak!!, aku mau pulang titik!!"


Rangga menghela nafasnya sekejap.


Gadis di depanya ini sungguh imut, marah begini aja masih cantik, apalagi kalo lagi nakal-nakalnya.


" Huuufffttt..." Rangga menghembuskan nafasnya berat.


Kangen masa lalu..


Masa dimana Lilinya selalu manja padanya. Sekarang Lilinya terlihat mandiri dan dewasa. Seolah tak butuh dirinya lagi.


Apa semua ini karena Lenox?



Rangga gatal ingin mencubit bibir Ara yang manyun itu.

__ADS_1


Tapi bibirnya melengkung melihat Ara mau memakai kaosnya, walaupun sangat kebesaran.


Dia bertambah cantik...


Tapi tetap imut..


Dia semakin dewasa...


Tapi tetap kekanakan..


" Hahaha...." Rangga tertawa sendiri saat mengingat betapa Ara nyaman tidur di dekapanya semalaman, tapi saat bangun begini gengsinya luar biasa.


Flasback on.


Setelah mandi dan berganti pembalut yang di berikan Rangga semalam, Ara keluar dari kamar mandi lengkap dengan jilbabnya.


Kemudian langsung menuju ranjang dan berbaring begitu saja memunggungi Rangga yang sedang duduk di sofa.


" Setelah mendengar ceritaku, apa tidak merubah apapun?" Tanya Rangga.


Tak ada jawaban dari Ara.


Rangga menghembuskan nafasnya berat.


" Sayang..." Panggil Rangga pelan, dan melangkah menuju bibir ranjang.


Tak ada pergerakan dari Ara, sepertinya gadis itu benar-benar sudah tidur.


Dan Rangga yang sudah begitu rindu dengan istrinya itu langsung membaringkan tubuhnya di belakang Ara.


Rindu yang menggebu membuat Rangga berdebar sampai berkeringat dingin. Dan rasanya ingin menangis meraung-raung saja saking bahagianya bisa dekat lagi dengan cintanya.


Dengan pelan Rangga memiringkan badanya dibelakang Ara.


Dibelainya kepala yang masih dengan jilbab itu.


" Sayang...." Panggil Rangga pelan.


Ara masih tak bergeming.


Rangga menggeser tubuhnya untuk lebih merapat pada Ara. Pelan tapi pasti Rangga ingin melabuhkan pelukannya pada pinggang ramping Ara tapi belum juga menempel, Ara langsung berbalik dan menendang keras Rangga hingga terjungkal ke bawah lantai.


" Oughhhh." Teriak Rangga kesakitan.


Dengan cepat Ara melompat ke bawah dan membantu Rangga berdiri, dan memapahnya ke sofa.


" Sini lihat mana yang sakit" Ucap Ara dan Ranggapun membuka kaosnya, menunjukkan pinggulnya yang memerah.


Ara mengambil obat cream di tasnya dan mengoleskannya pelan.


Rangga terus menatap setiap gerak gerik Ara dengan senyumnya yang terkembang.


" Ini juga sakit sayang..." Tunjuknya pada bibirnya.


Bughhh!!


Ara melemparkan bantal dengan keras kearah wajah Rangga. Jelas tawa Rangga pecah begitu saja.


" Jangan pernah naik kesini!!, awas kamu!!" ancam Ara dan langsung kembali berbaring.


Beberapa jam berlalu tanpa sedetikpun Rangga memejamkan matanya.


Ara tetap diposisi nya, menghadap arah yang berlawanan agar tidak saling pandang dengan Rangga.


Rangga kasihan melihatnya, pasti badan Ara sakit semua esok hari.


Pelan Rangga pun mencoba membetulkan posisi Ara agar terlentang.


Ara benar-benar telah terlelap.


Rangga membuka phasmina Ara dengan pelan, takut penitinya menyakiti Ara.


Rangga terkesima melihat cetakan bidadari di hadapannya saat ini.


Wajah cantiknya lebih terpancar, benar-benar beribu kali lebih cantik dari lima tahun lalu. Bibirnya yang merekah indah membuat Rangga mematung ditempatnya.


Untuk mencurinya rasanya Rangga masih belum ada nyali. Sekali kecup saja pasti Rangga akan menggila, sesuatu dibawah telah lama mati rasa. Dan lihatlah saat ini.


Dengan melihat Ara sedekat ini membuatnya aktif dan bereaksi dengan tidak tahu diri.


" Hufffttt...." Rangga pelan berbaring disamping Ara.


Tangan kirinya menyangga kepalanya sedangkan tangan kirinya membelai rambut Ara.


Rangga terus mengelus rambut panjang Ara dengan senyumnya yang terus mengembang.


Tapi siapa sangka tiba-tiba Ara memiringkan tubuhnya dan mendusel- duselkan wajahnya di dada Rangga.

__ADS_1


Rangga seolah bagai mendapat hembusan angin surga, dipeluknya gadis itu mendekat padanya.


Nyaman...sungguh nyaman...


__ADS_2