Childhood Love Story

Childhood Love Story
Detik-detik..


__ADS_3

Hampir dua minggu tanpa dipedulikan oleh Ara benar-benar membuat Lenox serasa ingin bunuh diri. Rasa sesak yang dirasakan begitu menjadi-jadi.


Ingin rasanya untuk berlari lagi ketempat maksiat seperti dulu. Dugem di kelab malam misalnya, main perempuan kek, atau meneguk beberapa botol minuman beralkohol sekedar untuk menghilangkan pusingnya. Tapi sudut hatinya terus menentang.


Nilai-nilai yang di ajarkan Ara padanya begitu menancap kuat.


" AAAAHHHHHHHH" Teriak Lenox di rooftop Rumah Sakit.


" ARAAAAAAAAAA" Teriak Lenox lagi.


" Apa? Gue disini....berisik!, gue nggak budeg kali..."


Lenox terjingkat tak percaya mendapati siapa yang ada di belakangnya. Dengan cepat Lenox memutar tubuhnya.


Gadis yang selama hampir dua minggu ini mendiamkanya telah berdiri di depanya saat ini.


" R..ra...." Gumamnya.


" Ya ini gue, gue cuma mau pamitan..."


Deghhh


Mati gue tuh kan mereka akan pergi jauh dari gue....


" Dua hari lagi gue ambil cuti melahirkan, dan itu bisa sampai tiga bulanan..." Ucap Ara.


" Gue cuma mau minta maaf sama lo jika ada kesalahan yang pernah gue perbuat ke lo, gue nggak mau karena sakit hati lo ke gue membuat gue kesusahan dalam melahirkan twins...." Lanjut Ara.


Ara sebenarnya ingin bertanya kabar Lenox, karena penampilan Lenox sedikit memprihatinkan saat ini..tapi karena Rangga berada di ujung tangga, maka Ara mengurungkanya.


" Ya sudah gue pulang..., jaga diri baik-baik Le, stay with imam islam..." Ucap Ara pelan ditelinga Lenox.


Tiga tepukan lembut di pundaknya membuat Lenox seolah hidup kembali. Tepukan lembut Ara seolah air yang menumbuhkan seluruh semangat untuk kembali menata hidup dengan baik.


Ara berbalik dan kembali melangkah kearah pintu keluar rooftop.


" Ra.....tunggu..." Bisiknya bergetar.


" Maafkan aku Ra....., jangan tinggalkan aku Ra, aku bagai layangan putus jika terlepas oleh mu...."


" Aku bagai buih yang terseret ombak dilautan Ra, terombang-ambing kemanpun tanpa tahu arah...."


" Ha..ha...ha..kau ini lebay, arah tujuanmu itu jelas Wari...!!" Tukas Ara dengan tawa kecilnya, walau sebenarnya hatinya ingin menangis melihat keadaan Lenox.


" Tetaplah menjadi setidaknya temanku, walaupun kau tak sudi lagi menjadi sahabat ku Ra, karena maaf aku telah merusak nya....."


" Aku butuh kamu setidaknya menjadi orang yang selalu melihatku walaupun kau tak sudi lagi menjadi temanku Ra...."


" Tolong aku...., jangan tinggalkan aku....aku akan hancur jika kau benar-benar pergi Ra.."


Lenox terduduk di lantai begitu saja.


" Kami tidak akan pergi kemana-mana Lenox! Kami tidak akan meninggalkan mu, kami mengundangmu datang jika kau benar-benar sudah bisa move on dari istriku!!" Suara Rangga mengagetkanya.



Lenox tersenyum tipis, jelas Rangga tak akan membiarkan Ara sendirian menemui dirinya begini.


" Ya...InsyaAllah...akan gue usahakan..." Ucap Lenox dengan mata terpejam. Memantapkan hati untuk berusaha melepaskan cintanya. Lebih baik menghapuskan rasanya dari pada harus kehilangan kesempatan untuk terus bisa bersamanya.


" Kami pulang..." Pamit Rangga dengan merengkuh pinggang Ara dalam dekapanya.


...****...


Hari kedua cuti melahirkan, Rangga dan Ara memutuskan untuk pindah ke rumah Wijaya, karena Ara sudah sangat sering mendapatkan kontraksinya.

__ADS_1


Kebetulan juga Natasya telah kembali dari acara peragaan busana yang diikutinya di Perancis dua bulan lalu.


Hari ini mommy, Ara dan Natasya sedang berkumpul di dapur untuk membuat beberapa kue yang rencananya akan dibawa oleh Denis saat berkunjung ke Jogja esok hari.


Seperti kesepakatan, pernikahan mereka akan digelar setelah Natasya menyelesaikan peragaan busana yang di rancangannya.


Ara yang hanya duduk dan mengaduk adonan dengan mixer mulai merasakan sakit diperutnya. Tapi gadis itu terus tetap tenang dengan mengambil nafas dan membuangnya secara berulang.


Jelas Ara tahu yang dialaminya ini adalah kontraksi awal, maka dengan penuh ketenangan diapun menahan rasa sakitnya dengan terus beristighfar.


" Lili, kau kenapa sayang...?" Tanya mommy karena melihat wajah Ara begitu penuh dengan keringat yang mengucur.


Oma yang ada disamping Ara juga langsung menoleh, begitupun Natasya.


" Lili....Lili seperti sudah waktunya melahirkan mom..." Bisik Ara pelan, rasa sakitnya membuatnya tak dapat lagi banyak bicara.



" Hah..., tapi prediksinya kan masih seminggu lagi..."


" Nggak tau my aughhhh...." Ujar Lili dengan terus menahan rasa sakit yang kadang timbul kadang tenggelam.


" Rangga...Rangga...., Natasya telpon Rangga cepat Nat.." Mommy mulai panik karena melihat Ara begitu tersiksa.


Rambut yang dicepolnya diataspun telah basah oleh keringat.


" Mom...sakit, mom...." Ara mulai terlihat gelisah dan pucat.


Dia sebenarnya telah paham betul tahap-tahap proses persalinan memang diawali kontraksi seperti ini. Tapi mengingat ini pengalaman pertama nya jelas Ara menjadi gugup dan tiba-tiba terserang sedikit rasa panik karena mommy Tara dan Natasya juga menunjukkan reaksi kepanikan itu.


Melihat menantunya mulai panik mommy segera berlari untuk memanggil supir.


Sementara Natasya yang melihat sahabatnya begitu kesakitan itu ikut pucat pasi.


" Hallo..." Suara Rangga dari seberang ponselnya.


" Pulang??, nggak bisa lah!, kakak masih ada kelas" Jawab Rangga tegas.


" Tapi kak ini...ini...aduh.." Natasya meringis kesakitan karena Ara tiba-tiba meremas lenganya saat tiba-tiba kontraksi itu datang lagi.


" Kak...cepatlah pulang..." Teriak Natasya lagi.


" Bentaran, palingan setengah jam lagi udah kelar kelas pertama..." Ucap Rangga lagi.


Ara yang merasa geram langsung merebut ponsel itu dari tangan Natasya.


" Rangga Bayu Wijaya, cepat pulang!!, anak-anakmu udah mau lahir ini!!" Ucap lembut Ara, berusaha mati-matian menahan rasa sakitnya.


" Jangan bercanda deh sayang, nggak lucu tau!!, prediksinya aja masih seminggu lagi..." Sahut Rangga lagi.


" Habibie ku..., cintaku..., sayangku.., hufft...hufttt...cepat pulang tolong. Twins benar-benar...ahhhh" Ucapan lembut Ara kini berubah jadi erangan kesakitan.


" Sayang!!, sayang...benaran?, beneran mau lahir??? Oh ya Allah...ya Allah.."


Rangga langsung meninggalkan kelas dan berlari ke arah parkiran seperti orang kesetanan.


Para mahasiswa yang mendengar kata melahirkanpun langsung faham apa yang sedang terjadi saat ini.


Rangga memacu mobilnya seperti orang gila, main tikung sana sini, main salip sana sini. Bahkan suara klakson dan kata-kata umpatan sesama pengguna jalanpun tak ia hiraukan lagi.


" Sayang...sayang...." Teriak Rangga saat memasuki rumah.


Disana telah ada mama Neela dan papa, daddy Hen juga.


Rangga terpaku ditempat melihat penampakan Ara yang begitu kacau.

__ADS_1


Wajah pucat pasi, keringat mengucur di dahi, dan wajahnya yang terus mengernyit kesakitan yang teramat.


" Bi....." Suara lemah Ara membuatnya tersadar dari keterpakuannya.


" Sayang..ayo!!" Rangga langsung membopong Ara untuk kembali menuju mobilnya.


" Sakit Bi....akkhhhh, astaghfirullah...astaghfirullah..." Desis Ara.


" Sabar sayang, sabar...." Tak terasa air mata Ranggapun ikut luruh.


" Jilbabnya mana ini!!" Teriak Rangga lagi saat istrinya telah berada dalam mobil diapit oleh mertua dan mommynya.


" Ini..." Natasya berlarian dari dalam dengan jilbab instan Ara ditanganya.


Setelah memasangkan jilbab istrinya Rangga segera bergegas meluncur duluan ke RS meninggalkan mobil daddy dan papa.


" Natasya ayo masuk!" Ucap Daddy Hen.


" Tidak om, Nat nungguin kak Denis..."


" Oh gitu, kami duluan kalau gitu..." Ucap daddy Hen dan tak lama mobil itupun menyusul mobil Rangga.


Sesampai di RS, Ara sudah di sambut oleh tim-nya.


" Ssshhhh, Ma....sakit..." Bisik Ara lagi.


" Iya sayang iya..., sabar sayang. Yang kuat sayang..love you..." Mama Neela terus menggosok punggung Ara.


Ara mulai didorong menuju ruang persalinan.


" Bi......"


" Iya sayang, yang sabar...istighfar trus, Astaghfirullah..." Ucap Rangga dengan bibir yang terus bergetar. Rangga merasa ngilu sebadan-badan melihat begitu tersiksanya seorang ibu yang akan melahirkan.


Tatapannya tertuju pada mommy nya, rasa sesalnya begitu besar saat ingat bagaimana ia pernah mengabaikan mommy dan istrinya hanya untuk fokus pada pendidikannya.


Ucapan-ucapan semangat terus Rangga bisikkan pada istrinya dengan penuh kasih.


Setelah diperiksa dan masih pembukaan 4, maka Ara masih harus menikmati rasa sakitnya sekitaran 3 sampai 4 jam lagi.


Dan itu sungguh membuat Rangga melotot tak percaya.


" Apa???, selama itu istri saya harus terus kesakitan begitu hahhh!!" Jerit Rangga frustasi.


" Ssttttt, Bi....." Ara mengelus lengan Rangga.


" Memang seperti ini prosesnya..." Ucap Ara lagi.


" Tapi sayang, kamu kesakitan begini..., obat, kenapa tidak biberi obat!!!"


" Twins sedang mencari jalan keluarnya sayang.... Tidak harus diberi obat..." Mama Neela mencoba menenangkan Rangga yang benar-benar kalut saat ini.


" Kau tunggu saja di sofa, istirahat lah. Kumpulkan tenagamu untuk menemani Lili nanti 4 jam lagi. Biar sekarang Lili bersama mama da mommymu..."


Mama Neela mendorong Rangga untuk duduk di sofa bersama daddy dan papa.


" Hufftt....." Rangga memejamkan matanya, memohon kelancaran untuk persalinan istrinya.



" Akkhh...akhhh..." Semakin mendekati pembukaan penuh, kontraksi semakin sering dan Arapun semakin kesakitan.


Membuat Rangga begitu kalut luar biasa.


Ara begitu merasakan sakit yang luar biasa dibanggian pinggang bawah dan pinggulnya. Rasa panas yang menjalar luar biasa.

__ADS_1


Rangga terus disamping Ara dengan mengusap keningnya sayang. Terus mengecupinya dan membisikkan kalimat penyemangat.


" Bi...sakit, Bi.....akkhhhh sshhhhh astaghfirullah...." Hanya kalimat itu yang terus terucap. Ara mencoba untuk tetap tenang, dan mulai bersiap setelah mendapatkan petuah dari sang mama beberapa saat lalu.


__ADS_2