
Rangga baru membuka pintu kamar bertepatan dengan Marvel yang juga baru keluar dari kamarnya.
Tatapan mereka saling beradu.
Marvel tidak berubah, pria muda itu begitu geram dengan kebodohan Rangga yang mengakibatkan Ara mengalami hal-hal seperti itu.
Rangga mengurungkan niatnya untuk keluar, bukan karena takut kepada Marvel, hanya saja Rangga sedikit mengulur waktu agar Marvel mampu menata hatinya.
Rangga kembali masuk dan mendekati ranjang dimana Ara sedang membaca buku disana.
Hujan semakin deras membuat Ara semakin malas juga. Dari tadi dia hanya bergelung selimut. Bahkan berbaju pun tidak.
Entah apa yang diperbuat Rangga padanya semalam. Yang jelas saat ini Ara terlihat malas berangkat. Hanya membaca buku sambil tiduran.
" Sayang, minta bi Marni antar sarapan ke atas aja ya..." Ucap Rangga dengan merebahkan kembali tubuhnya, mengecupi punggung Ara yang masih terbuka.
" Hemmm.." Ara mengangguk, tetapi tidak menolehkan kepalanya sama sekali.
Rangga terus saja mengecupi punggung mulus itu rakus.
" Belum cukup yang semalam ya?" Ara membalikkan tubuhnya.
Rangga mematung seketika, saat pandangannya tertuju pada dua buah benda kenyal yang sedikit tersingkap. Jakunnya naik turun mengisyaratkan isi hati dan isi otaknya.
Rangga mengusap wajahnya kasar.
"Emmmmppp, jelas belum sayang...rindu kakak belum cukup terobati.." Jawab Rangga dengan mencubit bibir Ara gemas.
" Terus maunya gimana, ini Lili udah nurut nggak keluar kamar, nggak pakai baju, padahal hujan itu...." Ucap Ara bete.
Rangga tertawa kecil dengan menggigit genggaman tangannya sendiri agar tidak tertawa terbahak-bahak.
Semalam setelah memuaskan keinginannya dengan bantuan Ara.
Rangga akhirnya terlepas dari belenggunya selama kurang dari empat bulan itu.
Tapi pagi tadi Rangga resek lagi, penyakit mesumnya kambuh. Dia tak memperbolehkan Ara keluar, dan juga tidak membiarkan Ara memakai atasan.
Dan Ara nurut saja, asal sang raja senang.
...*** "Mmy....mmy.....mmy...huwee..huwwaa.." Bianca menangis saat mendapati...
Azura tidak berada di kamar.
Ardi yang kamar nya memang bersebelahan itu mendengar tangisan Bianca dan segera masuk begitu saja.
" Kenapa sayang...cup cup jangan nangis, mmy lembur hari ini sayang.."Ardi langsung mengangkat Bianca, dan dibawanya keluar. Tak enak juga berada di kamar gadis lama-lama. Kalau dulu sih biasa saja, tapi sekarang entah kenapa Ardi sedikit tak nyaman.
Cafe Nathaniel malam ini ada acara ulang tahun, jadi tadi Azura sudah mengabarinya agar menjemputnya pukul 23.00 wib.
"Bian mau cucu..." Pinta Bianca setelah Ardi membawanya ke kamarnya.
Ardi merapikan rambut Bianca dan mengecup keningnya.
" Om buatin dulu ya?, tapi janji nggak boleh nangis.." Ardi menyodorkan jari kelingkingnya dan Bianca menautnya dengan tersenyum.
Bianca akan selalu patuh pada satu-satunya pria yang disayanginya itu.
Ardi mengusap air mata Bianca, lalu mengecup kedua mata gadis itu lembut.
Ardi beranjak ke dapur, setelah sebelumnya membaringkan Bianca di tempat tidur Ara, disamping ranjangnya.
Gradak..gruduk..
Ardi membuka-buka kitchen table, tapi tetap tidak mendapati susu Bianca.
Kalengnya kosong, dan stokpun tidak ada. Ardi mengingat-ingat apakah dia lupa transfer ke Azura, atau Azura yang lupa beli susu?
" Ya sudah beli dulu deh" Gumamnya.
__ADS_1
Ardi bergegas ke kamar dan mendapati Bianca sudah kembali lelap.
" Sebelum dia terbangun, gue udah harus dapetin susunya." Lirihnya lagi lalu berlari kecil ke parkiran setelah dengan cepat menyambar kaos oblongnya.
Karena Ardi punya kebiasaan hanya memakai singlet saat malah hari, tepatnya di kamar saja.
Brummm...
Motor Ninja hijau Ardi melesat membelah gelap.
" Bos...target keluar sangkar..." Sosok hitam yang sejak tadi bersembunyi dibalik pohon seberang rumah Syakieb tersenyum sinis dengan ponsel menempel di telinganya.
Setelah mendapatkan susu Bianca dan membayarnya, Ardi melirik arlojinya. 45menit lagi waktunya menjemput Azura.
Baiknya pulang dulu atau ditungguin aja ya?
Oh..iya..
Ardi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Ara.
" Yahhhhh...." Suara Ara terlihat aneh di pendengaran Ardi.
" Beb, tolong lo ke kamar bawah. Bianca ada di kamar kita, gue lagi beli susu sekalian jempu Zura. Bisa kan beb??" Tanya Ardi.
" I...iya. Bis...bisakkhhhh.."
Tur..tut..tut...
Ardi mematung menatap ponselnya. Dada Ardi berdebar tak karuan. Orang bodoh juga tau Ara lagi ngapain sekarang, apalagi pasanganya Aga si cengeng mesum itu.
Tiba-tiba terlintas wajah Azura dalam benaknya.
" Akhhh!!!, sialan!!!" Ardi berteriak kesal saat ingat betul bagaimana indahnya bibir Azura. Apalagi rasanya, pasti manis semanis gula.
Dengan mengusap wajahnya berulang-ulang Ardi segera meluncur menuju cafe Nathaniel.
Sementara itu di kamar Ara beberapa menit yang lalu.
Rangga terus saja bermain-main di dada Ara, seperti anak bayi yang tidak mau lepas dari ibunya.
Ponsel Ara bergetar di samping bantal.
Panggilan dari Ardi.
Baru saja Ara membuka mulutnya, Rangga dengan sedikit kuat menghisap pucuk gunungnya...
" Yahhhhh..." Ara segera menutup ponselnya dengan telapak tanganya.
Matanya melotot pada Rangga yang malah tertawa melihat nya malu luar biasa pada Ardi yang pasti mendengar des*hannya.
" Kak, bang Ardi nelpon ini, berhenti dulu"
Ucapnya dengan mendorong wajah Rangga menjauh.
Ara lalu fokus mendengarkan kata-kata Ardi selanjutnya, tapi lagi-lagi. Saat Ara akan menyanggupi permintaan tolong Ardi.
Kembali Rangga membuatnya menjerit karena kini giliran lehernya disesap kuat, dengan tangan Rangga yang terus mer*mas dadanya.
Otomatis Ara langsung mematikan ponselnya, tak ingin abangnya yang masih fresh itu terkontaminasi kemesuman Rangga.
" Kakak apaan sih!!!, kan malu sama bang Ardi!!" Seru Ara emosi.
" Kenapa malu sih?, Ardi juga paham lah"
" Paham apa, bang Ardi itu masih polos!"
" Akhhh, itu sih kata kamu aja sayang, kenyataan ya enggak lah.."
" Yang jelas bang Ardi tidak semesum kamu!!" Ucap Ara tak mau kalah.
" Kamu nggak tau aja fikiran cowok seusia Ardi sayang.."
__ADS_1
" Kayak kamu tahu aja" Ara menyolot geram.
" Ya jelas kakak tahu sayang, kakak udah ngalamin..."
Ara menatap Rangga dengan mata membola seakan ingin keluar.
" Ngalamin apa saat kakak kelas X hah!!!" Ara berkacak pinggang, bahkan selimut yang menutup dadanya merosot.
" Ha...ha...ha.." Rangga tertawa gemas, dilingkarkanya selimut melilit tubuh istrinya dan disimpulkan di tengah dada Ara.
" Ya, kalau aku ngalamin jatuh cintanya di awal tahun naik kelas XII, dan punya fikiran gila juga mulai dari saat itu, tapi Ardi saat ini sepertinya sedang jatuh cinta sayang.., dan pasti juga sama seperti aku dahulu...fikiranya cuma kissing, bayangin bentuk yang tertutup kacamata dan....."
" Dan???" Ara penasaran dengan kalimat selanjutnya.
Rangga mendekatkan bibirnya di telinga Ara.
" Dan pasti Ardi juga penasaran rasanya sesuatu yang ada di antara dua paha..."
" Ihhhhhhhh" Teriak Ara dengan memukuli lengan Rangga yang kini tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang sedikit keram.
" Bohong..., nggak mungkin Ancaku seperti itu!!!, kalau kamu iya aku percaya!!" Ara menyembunyikan wajahnya dalam selimut. Rasanya geram juga Rangga menjelekkan saudaranya begitu.
Dia sangat kenal Ardi, melebihi siapapun mengenal Ardi.
Jelas Ara nggak mau Ardi dituduh-tuduh sepeti itu.
" Ardi itu memang kembaramu sayang, tapi Ardi itu juga laki-laki seperti ku.., fikiran laki-laki rata-rata sama kok.., percaya deh..." Rangga mencoba membuka selimut Ara, tapi tetap tak terbuka, Ara mencengkeram dengan sangat kuat.
" Bang Adnan juga, pasti mesum kayak aku kalau deket-deket Hana. Tampangnya aja cool saat di kampus atau di kantor, tapi pasti berubah jadi kucing manis saat di kamar bersama Hana, percaya deh..."
" Nggak, nggak!!, Lili nggak percaya ah..."
Rangga tertawa kecil dan nenggelitik pinggang Ara, mau tidak mau Ara akhirnya membuka selimutnya.
" Kakak kebawah dulu liat Bianca, nih..air jahenya mumpung hangat...". Setelah menyerahkan cangkir berisi air jahe pada Ara, Rangga menurunkan kakinya dan memakai baju atasannya.
Ara kembali bersembunyi di dalam selimut, matanya silau.
" Langsung tidur aja sayang..., kakak langsung ke ruang kerja papa. Mau ngecek email.."
Ara mengacungkan cangkir dan jarinya yang berbentuk oke pada Rangga.
" Tolong matiin lampunya kak, silau.."
" Oke sayang..."
Ranggapun berjalan menuju kamar Ardi untuk melihat Bianca.
Bianca masih terlelap dalam tidurnya saat suara benda jatuh diruang keluarga membuatnya menjerit menangis memanggil Ardi.
" Huwaaaa....om Arldi...huwwaa..."
Rangga segera mengangkat Bianca dan sedikit berlari ke arah suara.
Nampak mama Neela yang sedang menangis dengan tangan bergetar memunguti pecahan kaca foto Ardi yang jatuh.
Pertanda apa ini?
" Kenapa mah?, kok bisa jatuh?" tanya Rangga.
" Nggak tahu sayang, mama baru buat kopi untuk papa tahu-tahu foto Ardi jatuh begitu saja.." Raut khawatir menyelimuti wajah wanita cantik imut versi Ara dewasa itu.
" Om Aldi...hu...hu..huwaaaa, Bian mau om Aldi..momo..." tangis Bianca semakin menjadi...
" Cup..cup sayang..., om Ardi masih beli susu.." Rangga menimang Bianca dengan sayang.
Bi Marni yang baru datang langsung membantu nyonya nya membersihkan pecahan kaca pigura.
Dalam hati mama bertanya-tanya, ada apa ini??.
__ADS_1
Tapi mama Neela berusaha membuang fikiran buruk yang melintas, dan terus beristighfar memohon keselamatan untuk putra keduanya.
Mama Neela jelas wanita cerdas yang tidak percaya takhayul, tapi entah kenapa sudut hatinya saat ini merasa gelisah.