
Dan begitulah akhirnya, hari ini dilalui Rangga dan Ara dengan manis.
Hari ini Rangga meminta ijin pada Ara untuk pulang duluan, pertama karena memang dia pulang cepet, yang kedua dia bilang mau pulang ke rumah daddy Hen untuk mengambil bukunya.
Dan akhirnya Ara berencana pulang dengan Hana dan Adnan, tapi rupanya Adnan ada sidang skripsi dadakan hari ini, jadi mereka nebeng Natasya dan Vera.
Mereka telah ada di parkiran untuk bersiap pulang sekolah, rencananya mereka akan nge mall, kalo kata Natasya buat jinakin otak.
Baru akan melangkahkan kaki menuju pintu mobil Natasya, suara ponsel Ara terdengar berbunyi.
" Iya, Assalamu'alaikum.." Sapa Ara dengan sopan dan sedikit menyingkir ke tempat sepi.
Hana mengikutinya, ngintil dibelakang Ara.
" Waalaikumsalam, ini nak Lailia? " Suara seorang wanita baya terdengar dari seberang.
Hana yang disamping nya bertanya tanpa suara.
" Siapa?"
Ara menggelengkan kepalanya.
" Iya bu?, bisa dibantu bu?"
" ......................................."
" Iya bu, InshaAllah kalau saya sempat ya bu.."
"............................................"
" Iya bu.., Waalaikumsalam warahmatullah..."
Hana menatapnya tak sabar ingin tahu siapa yg sedang menelpon sahabat sekaligus adik iparnya ini.
" Mama Lenox..." Jawab Ara lirih.
" Hah!!!, mau apa nelp kamu??"
" Katanya Lenox ingin ketemu aku.."
Natasya melongokkan badanya keluar kearah mereka.
" Ada apa beb?"
" Nat aku pake taksi online aja deh..." Ucap Ara.
" Nah emang lo mau kemana?"
" Emmmm, itu..."
" Mama Lenox nelpon dia, katanya Lenox ingin bicara sama Lili.." Jawab Hana
" Trus lo mau?" Tanya Vera.
Ara mengangguk pasti.
" Yuk, aku temenin kamu ya...," Vera meraih tangan Ara.
" Terimakasih Ver, tapi ngga usah deh Ver, soalnya nanti aku langsung ke rumah daddy Hen, kak Rangga disana "
"Beneran nggak papa?" Tanya Natasya meyakinkannya.
" Ntar kalo Lenox ngapain kamu gimana dong?" Tanya Hana.
" Emang Lenox mau ngapain aku dengan tangannya yg patah" Sela Ara.
" Aku perlu kabarin bang Adnan nggak?" Tanya Hana lagi, dari wajahnya terlihat sangat cemas.
" Nggak usah dong, bang Adnan lagi diujung hidup dan mati loh sekarang, jangan dibuat spaneng..." Ara mencubit pipi kakak iparnya dengan sayang.
"Ya udah, sok pesan taxi.., ntar kami jalan kalo kamu udah jalan.." Ucap Vera.
Tak berapa lamapun taxi yg ditunggu Ara datang juga, Ara mengecupi sahabatnya dan segera masuk mobil dengan lambaian tanganya.
__ADS_1
" Kabarin kak Rangga nggak guys?" Tanya Natasya.
" Nggak perlu lah, palingan juga Ara udah ijin sama suaminya.." Jawab Hana.
" Iya udah deh, yuk cabut, nge mall kita kan...lets go!!!" Ucap Natasya sambil memegang stang kemudi.
" Nggak papa ya ini, kok aku berasa nggak enak ya..?" Vera sedikit gelisah saat menoleh kebelakang melihat taxi yang ditumpangi Ara yg berjalan berlawanan arah dengan mereka.
" Nggak papa lah, jangan lupa Ara itu siapa?, dibogem aja Lenox sampai pucat gitu..." Natasya berbicara seolah santai, tapi nyatanya hatinya sangat khawatir dan resah.
Taxi yang ditumpangi Ara kini telah berhenti di depan RS yg pernah dihuninya selama dua bulanan ini.
Bibirnya tersenyum saat mengingat kenangan dua bulanya disini, dua bulan kebersamaannya bersama cowok cool dan jutekly, yg ternyata adalah kekasih kecilnya.
Kakinya melangkah menuju lantai dua, dimana ibu Lenox beberapa saat lalu telah memberikan nomor kamarnya lewat pesan.
Saat matanya tak sengaja mengarah ke pintu lift yg hampir tertutup, sosok yang sangat dikenalinya ada disana bersama seorang gadis.
Walaupun posisinya memunggungi Ara, tapi gadis itu sangat hafal tas yang tersangkut pada punggung sosok itu.
Ya sosok itu adalah Rangga.
"Ngapain kakak kerumah sakit?"
" Siapa yang sakit?"
"Itu..lantai tiga ruang maternity???"
Berbagai tanya berseliweran dalam benak Ara saat ini.
Ara berusaha berfikiran positif saja, palingan Rangga nganterin kawanya.
Ara merogoh kantong roknya dan mengeluarkan ponselnya.
" Assalamu'alaikum sayang..." Ucap dari seberang dan itu adalah Rangga.
Ara yg cerdas tak mau terbebani dengan pemikiran yang penuh prangsaka, Ara tak mau menduga-duga karena hanya akan membuat hatinya luka.
" Kenapa sayang, kangen ya..?"
" Kak..kakak dimana?" Bukanya menjawab pertanyaan Rangga, Ara malah balik bertanya.
" Oh..te..tentu saja di rumah mommy sayang?, kenapa emang?" Suara Rangga terdengar bergetar.
" Oh..ya nggak papa sih, Ara minta ijin jenguk kenalan sakit boleh?"
" Boleh sayang nggak papa, sama siapa?"
" Sendiri, ini udah sampai"
" Ya udah nggak papa, bye sayang..., kakak ada perlu nih, Assalamu'alaikum..."
Belum sempat Ara menjawab salam, Rangga sudah menutup ponselnya duluan.
Nyut!!!!
Sudut hatinya terasa dicubit, sakit, sesak , rasa mual menderanya tiba-tiba.
" Dia bohong???, kak Rangga bohong???"
Ara hanya menggeleng kan kepalanya pelan, dan melanjutkan ke lorong ruangan, menuju ruangan Lenox dirawat.
Setetes air bening merembes dari sudut matanya.
Tok..tok..tok
Ara mengetuk pintu setelah menemukan nomor ruangan dimana Lenox berada.
Seorang wanita baya, dengan jilbab panjangnya tersenyum membuka pintu ruangan.
Ibu itu meneliti penampilan Ara dari atas sampai bawah.
" Mencari siapa nak?"
__ADS_1
" Maaf bu..betul ini ruang rawat Lenox, SMU Bhakti?"
" Oh betul nak, kamu...kamu nak Lilia?" Tanya ibu itu tak percaya.
Karena dikiranya Lailia yang di bully Lenox anak yg biasa aja, maksudnya ya seperti remaja umumnya, yang berpenampilan seksi, rambut dicat, rok pendek masih dipendekin, baju lengan pendek masih dilipat biar semakin pendek, bahkan pinggang samping dijahit biar semakin terlihat montok.
Bahkan dalam hati ibu Lenox bertanya-tanya, kok bisa gadis selembut ini membuat Lenox melayangkan tanganya, dan bahkan melecehkannya. Apa yg dilihat Lenox darinya, tak ada yg terbuka dari tubuhnya, semua tertutup, lalu kenapa putranya bisa hilang akal???.
" Betul ibu.., saya Lailia Nafeesa Anara" Ara menyodorkan kedua tanganya untuk mengecup punggung tangan ibu Lenox.
Ibu itu nampak tercengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bahkan Lenox yg diatas ranjangpun merasa malu melihat itu.
Gadis yg dipukulnya, dimakinya, diludahinya dan dilecehkan nya kini menyodorkan tangan untuk mengecup tangan ibunya, ibu dari seorang bangsat seperti dirinya.
Mata ibu Lenox berkaca-kaca melihat ini semua, dengan sayang beliau membawa Ara pada Lenox yang terbaring diatas ranjang.
Penampakan Lenox sungguh memprihatinkan, tangan disangga di dada karena patah.
Wajahnya tampak di penuhi luka lebam yang membiru, kedua sudut bibir pecah, dan membengkak.
Ara bergidik saat membayangkan bagaimana Marvel mengeksekusi Lenox.
Walau bagaimanapun, Ara manusia yang memiliki hati nurani, melihat keadaan Lenox seperti ini diapun tak sampai hati.
Air bening luruh dari kedua sudut matanya, ibu Lenox dan Lenox sendiripun melihat itu. Mereka pun saling mengalihkan pandangan demi menjaga perasaan masing-masing.
" Maafkan gue, karena gue lo jadi sep----" Ucap Ara pelan, tapi Lenox dengan cepat menyelanya.
" Jangan membuat gue semakin malu Ar, harusnya gue yang minta maaf sama lo.." Ucap Lenox dengan menyembunyikan wajahnya dalam.
Melihat situasi canggung ini membuat ibu melangkah keluar ruangan untuk memberikan ruang untuk mereka berbicara.
"Jangan pergi bu.., disini saja.." Cegah Ara.
" Lo masih takut sama gue Ra?" Lenox masih menundukkan kepalanya.
" Nggak, tapi gue nggak bisa berduaan dengan lawan jenis di ruangan tertutup "
Jawab nya.
"Bun, disini aja..." Pinta Lenox pada ibunya.
Ibu Lenox pun kembali duduk disamping kepala putranya dan mengelus sayang rambut Lenox dengan berulang-ulang.
Sangat terlihat jelas ibunya sangat menyayangi pemuda ini.
Ara merasa sedih melihat kesedihan seorang ibu, yg menangis melihat keadaan putranya yg seperti ini.
" Sekali lagi gue minta maaf sama lo Ar.., walaupun gue sendiri malu untuk memintanya dengan segala yg telah gue perbuat pada lo.."
" Sudahlah yang lalu biar berlalu, gue udah maafin lo.."
Ara melangkahkan kakinya ke depan ibunya Lenox, kedua tanganya mengatup didada.
" Bu maafkan apa yg telah diperbuat kakak saya pada putra ibu, saya tidak pernah membayangkan kakak saya menghukum Lenox sampai seperti ini, mohon juga maafkan saya..hik..hik.."
" Ra...gue mohon jangan seperti ini, gue yang salah!!, gue yang salah!! Gue Ra!!, Gue!!!, jangan buat gue semakin malu!! gue mohon Ra..."Lenox sangat malu dengan apa yg dilakukan Ara. Dia frustasi luar biasa. Segera disembunyikannya wajahnya didada ibunya.
" Kakakmu tidak salah sayang, kakak mu sangat menyayangimu, memang pantas Lenox dihukum dengan apa yg telah dilakukanya padamu.." ucap Ibu Lenox lembut.
" Ibu tidak apa-apa sayang, ibu tidak dendam, ibu ikhlas, semoga dengan ini putra ibu kembali menjadi Lenox yang patuh seperti dulu..." Lanjutnya, matanya menatap mata putranya yg penuh dengan air mata.
Kecupan sayang diberikan ibu yg terlihat kurang tidur itu pada kening putranya.
...****"""""""****...
Bersambung.....
Hayoo...Rangga ngapain tu ke lantai maternity sama cewek????
Eeng ing eeng......
__ADS_1