
"Lepasin kak, sakit tangan Natha!!" Teriak Natasya berusaha lepas dari cekalan Denis.
Tapi Denis hanya diam dan terus menyeretnya seolah-olah menulikan pendengarannya.
Brugh
Denis mendorongnya masuk ke markas begitu saja.
" Kenapa tidak mengangkat telponku!!!,
kenapa tidak menjawab pesanku hah!!!" Geraman Denis sungguh menakutkan. Kedua tanganya mencengkeram erat kedua pundak Natasya
Natasya terlihat memundurkan dirinya sampai mentok ke tembok.
Tapi bukan gadis cabe namanya kalau diperlakukan begitu saja takut.
" Natha rasa, Natha nggak ada kewajiban untuk membalas pesan kakak, ataupun mengangkat telpon dari kakak, kakak nggak cukup penting untuk Natha prioritaskan.."Jawabnya santuy yang justru melukai hati Denis.
" Natasya??" Denis tak habis pikir, kenapa gadis ini cepat berubah. Berangkat ke kemping kemarin masih baik-baik saja.
" Minggir.." Ucap Natasya dingin dan cuek.
Digesernya tubuh Denis ke samping, dan melepaskan kedua cekalan dipundaknya dengan kasar. Natasyapun berlalu begitu saja meninggalkan markas.
" Dia kenapa?, Astaghfirullah..." Denis meraup wajahnya kasar, dia bingung setengah mati, kenapa gadisnya berubah drastis begini?. Ditatapnya punggung Natasya yang semakin menjauh itu dengan tatapan penuh keheranan.
" Aku fikir, selama ini dia tertarik padaku, oh sial!!, ternyata aku dilingkaran cinta sendirian!!" Denis dengan geram meninju dinding markas dengan membabi buta.
Hatinya sakit, disaat dia bisa jatuh cinta, si cewek justru mempermainkan perasaan dan hatinya.
" Apa salahku?, kenapa kamu tiba-tiba berubah Natasya??" Lirihnya.
...*...
Natasya berlari ke kantin untuk menemui Vino, Rayya dan Ara. Hari ini jam pelaksaan upacaranya hari Senin molor waktunya, karena tiba-tiba hujan deras. Dan sepertinya Yuda berinisiatif untuk menggelar upacara di aula sekolah andaikan hujan masih terus mengguyur sampai batas waktu yang ditentukan.
" Maaf kak lama menunggu" Ucap Natasya begitu mendaratkan tubuhnya di kursi samping Vino.
" Denis mana?" Tanya Rayya heran. Ara juga terlihat menatap pintu masuk kantin mencari keberadaan Denis.
" Mungkin masih dibelakang.." Jawab Natasya acuh.
" Bagaimana kabar Vera kak?" Tanya Natasya tak sabar.
" Dia sehat, tapi..." Vino menghentikan ucapanya saat Denis datang dan duduk di samping Rayya, jauh dari Natasya.
Ini tidak biasanya begini. Biasanya Denis akan duduk disamping Natasya atau kalau tidak pasti di depannya.
" Tapi?" Tanya Natha lagi dengan tatapan tak sabar.
Vino menghela nafasnya berat, dan menatap para sahabat nya.
" Vera terancam dikeluarkan, karena saat ini Veraku sedang ha...hamil.."Ucapnya dengan kepala menunduk dalam.
" Hahh...apa??" Mereka syok dengan kabar ini.
Ara terlihat menunduk dalam, sementara Natasya menggosok punggungnya pelan.
" Jadi??" Tanya Denis.
" Jadi...., ya gue jadi pusing bro.." Vino mengusap wajahnya kasar lalu mengatuk-atukan kepalanya di meja kantin, pusing!!, sungguh pusing.
Tanganya meremas rambutnya geram. Disaat dia butuh banyak uang guna biaya les tambahanya di akhir semester begini demi mengejar beasiswa untuk kuliahnya dan harus mendapatkan kabar seperti ini.
Sebenarnya dalam hal ini, Vino sangat bersyukur Brian bermurah hati untuk menampungnya di apartemen milik Brian, tetapi sampai kapan?. Apalagi dia harus menjemput Vera dan tentu juga harus ekstra usaha untuk membiayai hidup mereka berdua.
__ADS_1
Untuk tinggal dirumah peninggalan orang tua Vera rasanya itu tidak mungkin, mengingat rumah itu juga masih dalam pantauan papa dan mama Vino.
Sampai saat ini hubungan Vino dan papa mamanya belum ada kemajuan ke arah yang baik.
Vino sangat sadar ini semua adalah buah dari kesalahan yang dilakukannya malam itu.
Tubuhnya telah kembali pulih setelah harus terkapar beberapa hari lalu karena menerima hukum cambuk oleh ustadz Abqori, abby Hanan.
Tapi pembalasan atas dosanya tak cukup sampai situ. Buktinya adalah kabar ini.
Memang benar pepatah bilang bahwa pembalasan lebih kejam dari kesalahan yang dibuat dan ini jugalah buktinya.
Astaghfirullah...
Astaghfirullah...
Vino terus beristighfar dalam hati.
Denis paham betul dengan keresahan hati sahabatnya. Kepalanya menunduk seolah-olah tengah memikirkan sesuatu.
Pemuda tampan dan jenius itu berfikir sejenak, dia sungguh prihatin dengan keadaan sahabatnya saat ini.
" Kita mungkin sudah harus memikirkan bisnis bersama...." Desah Denis.
" Iya, gue setuju..." Sahut Rayya
" Berarti kita harus kumpul nih, kita jemput Vera dulu gimana?" Usul Natasya. Gadis ini sungguh sangat kangen dengan Vera.
" Kak Bagas pasti bisa bantu, kamu mau ikut ke kantor nggak pulang sekolah ini, Vin. Kita konsultasi dulu sama dia.."Tanya Denis pada Vino.
Vino terlihat mengangguk dengan antusias.
" Kak Denis mau ke kantor kak Bagas juga hari ini?" Ara menghadap Denis dengan kening berkerut.
" Iya, kakak dan Rangga harusnya. Oh!! Ara juga ya..?" Denis melebarkan matanya.
Denis semakin melebarkan matanya, senyum terbit dari bibirnya yang tipis.
" Welcome to the jungle beib....ha...ha.." Ucapnya menyeringai dengan menyodorkan tangannya didepan Ara.
" Apa?" Tanya Ara dengan mematap tangan Denis yang menggantung.
" Oh iya lupa, kamu nggak salaman" Denis menarik tangannya yang menggantung dan beralih menggosok rambutnya.
" Maksudnya apa tadi kak??" Tanya Ara bingung.
" Lihat saja nanti beib, kak Bagas pasti akan jelaskan sejelas-jelasnya. Sampai ketemu di sana..." Jawab Denis dengan masih tertawa kecil.
" Yuk kumpul, kita mulai upacara, hujan udah reda..." Tepuk Yuda pada punggung Denis yang kebetulan melintas di belakang mereka.
Semua siswa terlihat beranjak menuju lapangan upacara, beberapa sudut masih terlihat tergenang air. Tapi dengan cepat petugas kebersihan segera mengatasinya.
Lenox, Chandra dan Meta kini mendekati Ara dan Natasya yang sudah pada barisannya.
" Nat, tolong dasi aku..." Ara menyodorkan dasinya pada Natasya.
Tapi secepat kilat Lenox menyambarnya.
" Sini gue aja"
" Ih dasar lo!!" Bentak Natasya. Tapi dasar Lenox si brandal brengsek gak bisa dilawan.
" Sini Ra..." Lenox segera mengalungkan dasi di leher Ara.
" Jangan..., sini aku pinjam dasi kamu aja.." Ucap Ara dengan mengelak dari Lenox.
__ADS_1
" Maksudnya??" Tanya Lenox bingung.
Ara meraih dasi di leher Lenox dan melepas dasi yang telah terpasang di leher Lenox tanpa merusak simpulnya, dengan mengankatnya ke atas kepala Lenox.
Lalu memakai dan tinggal mengeratkan saja.
" He...he...he.." Tawa kecil Ara membuat Lenox mematung sesaat.
" Dasar licik!!" Decih Lenox yang akhirnya melilitkan dasi Ara pada lehernya dan menyimpulnya dengan cepat.
" Masih belum bisa kamu Ra?" Bisik Natasya.
" Gue juga heran Nat, kok gue bego amat ya?, pasang dasi pada leher gue sendiri aja gue nggak bisa.."
...***...
" Lailia, tutup mata dulu kamu" Perintah Chandra saat kini mereka telah ada di mobil Gama yang meluncur menuju kantor BRD corporate.
" Kenapa? Akkhh..!!!" Ara menoleh kebelakang tepat saat Chandra melepaskan seragamnya begitu saja di kursi belakang. Dada bidangnya terbuka sempurna.
Ara menutup matanya dan langsung menyempil di samping kaca pintu.
Sementara dua kakak beradik itu tertawa terbahak-bahak melihat ulah Ara.
" Kalian gila!!!" Teriak Ara geram.
" Ha..ha..ha.., bukan gila Ra. Lebih tepatnya dikejar waktu..." Gama masih tertawa sementara tangannya mengelus kepala Ara.
" Iya Ra, nggak keburu kalau mesti berhenti untuk ganti baju dulu.." Sahut Chandra.
" Nah Ra, buka matamu. Sudah selesai.." Ucap Chandra beberapa saat kemudian,
dan Arapun menoleh kebelakang.
Matanya terpaku sesaat melihat tampilan Chandra yang lebih dewasa dari biasanya.
" MashaAllah!! ini Andra petak itu kan?, keren amat" Puji Ara.
" Aduhh...sakit!!" Teriak Ara ketika sentilan Chandra mendarat di keningnya.
Sementara Gama terus tertawa dengan tingkah kedua adiknya ini.
Hari ini mereka serasa kembali ke beberapa tahun lalu.
" Chandra mah kalah keren dari Rangga, suamimu jauh lebih keren dengan baju kerjanya Li..." Ucap Gama dengan tatapan mata tetap fokus ke depan.
"Kak Rangga kerja?" Tanya Ara bingung.
" Yupp!!, dan sekarang, mulai hari ini dan detik ini. Semuanya berpindah padamu.."
Ara mencoba memahami ini, Rangga sangat lihai membantu masalah Ardi mengatasi pemberkasan kantor saat papa dan kak Adnan tidak ada saat itu.
Rangga juga pernah menyebut usaha joinannya dengan Denis dan Gama.
Mobil mulai memasuki gerbang sebuah hotel berbintang lima yang sangat indah.
Dan Ara terlihat syok melihat nama hotel tersebut.
" Blue Sky Hotel and Resort " Bisiknya lirih...
" Iya Li..., hotel milikmu... Mas kawin dari suamimu.." Ucap Gama mantap.
" Dan perkenalkan saya, Chandra Bagaskara. Manajer Pemasaran di hotel ini nyonya Bayu Wijaya.." Bisik Chandra di belakang telinga Ara.
" Selamat datang bu Anara Bayu Wijaya..." Kini Denis membuka pintu mobil dengan menundukkan tubuhnya sopan.
__ADS_1
Bahkan di sana juga telah ada, mertuanya, orang tuanya dan juga abang tersayangnya Adnan Syakieb Al Ghifari.