
Di rumah keluarga Syakieb.
Ara yang mendengar lengkingan suara tangis Bianca segera menyambar kaos panjangnya.
Ara mengira Rangga tak mampu mengatasi tangis Bianca yang mencari Ardi.
Gadis itu mengenakan kaos panjang turtle neck untuk menutupi bekas-bekas kebrutalan Rangga di lehernya.
Ceklek..
Suara pintu Ara terbuka berbarengan dengan suara pintu kamar Marvel yang juga terbuka.
Dian keluar dengan tangan yang mengelus perut besarnya.
" Kenapa Bianca menangis seperti itu?" Tanya Dian yang juga merasa janggal dengan tangisan Bianca.
" Mungkin mencari bang Ardi, Azura lembur dan bang Ardi keluar untuk mencarikan dia susu.."
" Ohhh...." Dian mengangguk dan masih terus mengusap-usap perutnya, sesekali dia mengernyit.
" Kenapa kak?" Tanya Ara khawatir.
" Nggak papa dek, cuma mereka beberapa hari ini aktif banget.." Sahut Dian.
Ara mencoba mengelusnya dan benar saja..
Dug..dug..
Tendangan-tendangan kecil terasa jelas disana.
" Sepertinya mereka sedang latihan perang ha...ha..ha.." Tawa Ara yang lucu membuat Dian menatapnya lekat.
Memang cantik...
Memang pantas kalau Marvelku tak bisa move on darinya...
Rangga yang menggendong Bianca segera mendekati Ara dan Dian yang menuju ruang keluarga.
Sementara Bianca terus menangis minta Ardi.
" Coba hubungi ponselnya sayang, barangkali Ardi ketemu temanya trus lupa lagi.." Seru mama pada Ara.
Ara mengangguk dan menuju telp rumah. Karena Ara turun tanpa ponsel.
" Nggak diangkat ma..., iya nih sepertinya dia langsung nongkrong deh..." Tuduh Ara.
Ara beranjak mendekati Rangga dan mama yang telah kualahan mendiamkan Bianca.
" Bian ayo sama aunty Ara yuk..." Ara menyodorkan kedua tanganya.
Tapi tepisan yang diperoleh Ara, Bianca tetap menangis memanggil-manggil Ardi.
" Om Arldi....hu..hu..huwee.."
Deghhh!!!
Nyut.....nyut...
Tiba-tiba Ara merasa ada yang meremat jantungnya.
" Akkhhhhh...sshhhhhh" Desisnya menahan rasa rematan yang semakin menyiksanya.
" Kenapa sayang?, ada apa?" Tanya mama melihat gelagat aneh putrinya.
" Aduuhhh...mama, sakit...." Ara meremat jantungnya yang tiba-tiba sakit.
Mama Neela yang melihat wajah pucat Ara semakin panik, sementara Bianca tak mau diam.
" Kenapa?, sayang kamu kenapa!!!, LILI!!!" Teriak Rangga saat Ara tiba-tiba jatuh dalam dekapan mama.
Teriakan Rangga membuat papa dan Marvel berlarian ke ruang keluarga.
" Sayang..., sayang.." Mama menepuk-nepuk wajah pucat Ara.
" ANCAAAAAAA!!!!" Teriak Ara tiba-tiba.
Mama Neela yang masih terbelenggu dengan fikiran takhayul nya beberapa saat lalu mematung sesat.
" Ma...Anca ma...., mama Ancaku ma..." Tangis Ara dalam ketidak sadarannya.
Kringg....kringgg...
__ADS_1
Papa Syakieb yang berlarian menuju mereka dan kebetulan melintasi telpon rumahpun segera menyambarnya.
" Hallo---"
" Ommm.....tolong om!!, kami di se----akkhhhhh" Suara Azura mengagetkan papa.
" Rangga!!, dimana alamat cafe Azura kerja!" Seru papa Syakieb dengan wajah yang menegang.
" Marvel tahu om, memangya ada apa?" Tanya Marvel bingung melihat suasana kacau di sini.
"Ayo cepat!!! Ikut omm"
Melihat papa yang berlarian seperti orang kesetanan. Rangga dengan cepat menyerahkan Bianca kepada bi Marni dan ikut menyusul papa dan Marvel.
Mobil dikendarai oleh papa sendiri dengan sangat kencang. Marvel dan Rangga saling pandang.
" Depan pertigaan belok kiri om, ada stadion lurus aja.."
Papa Syakieb tak menyahut apa-apa, dan justru malah menambah laju mobilnya.
Beberapa kali mobil- mobil di depan atau di belakangnya membunyikan klakson tanpa marah. Tapi papa menulikan pendengarannya.
Masuk arah stadion yang terbilang sepi, mata papa menangkap beberapa motor tergeletak dijalan.
Dan disana juga terdapat motor Ninja Hijau milik putranya teronggok mengenasksn disamping sebuah mobil.
Papa Syakieb mengerem mendadak mobilnya dan dengan cepat melompat keluar.
Disusul Marvel dan Rangga.
Papa melihat Ardi sedang mencekik seorang gadis, tapi saat akan mendekat kedua kalinya di peluk seorang preman membuat papa pun terjatuh dan harus meladeni preman itu.
Begitu juga Marvel dan Rangga. Saat baru turun dari mobil, mereka langsung diserang oleh beberapa preman yang telah bangkit.
Pertarungan sengit kembali terjadi.
" Akkkhhhh" Suara erangan Ardi mengagetkan semua.
" MATI LO!!! " ucap Milano dengan terus memukuli kepala Ardi.
Duakkkk!!!
Tendangan Rangga membuat Milano terpental kearah Marvel, dan langsung dieksekusi Marvel tanpa belas kasihan.
...***...
Ardi terbaring lemah di ICU, sementara Azura berada di ruang perawatan.
Ara berulang kali pisang karenanya, begitu pula mama.
Beberapa bulan ini kehidupan keluarga Syakieb benar-benar menanggung ujian berat yang luar biasa.
Sementara Marvel semakin memupuk bencinya pada Rangga. Tapi bukan Dian namanya yang tak mampu berusaha mengikis penyakit hati yang kini menggerogoti suaminya.
Rangga semakin hari juga semakin merasa tak nyaman, secara tidak langsung, dia yang anggota baru di keluarga baru ini.
Tapi dalam kurun waktu yang hanya beberapa bulan telah membawa badai yang memporak-porandakan.
Sebenarnya itu hanya fikiran negatif Rangga sendiri. Karena tidak terbersit sedikitpun ada di benak keluarga Syakieb akan apa yang ditakutkan Rangga.
...***...
3 minggu berlalu.
Selama tiga minggu ini keadaan Azura telah membaik. Dan Azurapun bisa memberikan kesaksiannya di kantor polisi.
Tetapi keadaannya bertolak belakang dengan keadaan Ardi. Bahkan Ardi dinyatakan koma setelah 3 minggu tidak menunjukkan perkembangan.
Bianca setiap hari hanya berada di ruangan Ardi, bahkan tidurpun selalu mau di dekat Ardi. Azura dan yang lainnya tidak dapat berbuat apa-apa selain menurutinya.
Atas permintaan papa Syakieb, Azurapun resign dari cafe Nathaniel. Karena harus ikut terlibat dalam merawat Ardi. Mengingat kerjaan papa dan mama menumpuk di dalam atau pun di luar negeri.
Seperti pagi ini, dengan berat hati mereka harus meninggalkan Ardi untuk pekerjaan mereka di Jepang.
Suasana gaduh terjadi di kamar rawat Ardi.
Bianca yang belum mengerti betul apa yang terjadi ini sepertinya sudah dibatas yang tidak sabar lagi ingin digendong Ardi.
" Om..nanun omm" Rengeknya menyedihkan. Bahkan Dian tak mampu lagi menahan air matanya.
Sementara seperti yang lain, Ara juga terus membisikkan kata-kata semangat untuk Ardi.
__ADS_1
"Sayang, kita pulang yuk.. Itu kak Leon udah ada. Kamu juga perlu istirahat sayang..." Rangga mengelus punggung Ara untuk tabah.
Leon bergantian dengan mereka, nanti malam giliran Brian dan begitu setiap hari.
Kadang-kadang Denis Cs pun ikut andil juga. Dan begitulah gunanya punya banyak teman. Tapi satu yang tidak berubah, yaitu Bianca. Siapapun yang menemani Ardi di malam datang, maka Bianca juga ada disana.
Ara melangkah dengan malas-malasan menuju kamar Rangga. Jalanya merayap seperti siput saat menaiki tangga. Tak ada satupun yang berkomentar dengan perilaku Ara akhir-akhir ini, karena mereka sangat paham apa yang dirasakan oleh Ara
Huppp
Rangga dengan sabar mengangkat Ara dalam gendongnya.
Ini berat bagi Rangga karena beberapa hari lagi dia sudah harus kembali.
Tapi hidup harus terus berjalan seperti biasa. Ada atau tidaknya masalah, hari akan terus berganti tanpa mau menunggu.
...****...
Tak..tak...tak..
Rangga menuruni tangga dengan berlari, sore tadi daddy dan mommy pergi ke Singapura mengantarkan oma untuk balik kesana.
" Sayang....Lili..." Panggil Rangga.
" Iya kak, di dapur...." Sahut Ara.
" Masak apa hemmm, aromanya nikmat banget.." Rangga melingkarkan pelukannya di perut Ara dari belakangan yang sedang memasak untuk makan malam. Bi Sarni ijin pulang kampung karena salah satu saudaranya ada yang menikah.
" Mie goreng bakso, kemaren bukanya kakak bilang pingin makan ini ya kan?"
" Hemmm, iya...terimakasih.." Rangga menciumi rambut Ara yang wangi..."
" Sayang..." Panggil Rangga lembut sambil membaringkan kepalanya dipundak Ara.
" Hemm" Sahut Ara.
" Itu......, emmmm. Ahhh nggak jadi.." Rangga melepaskan pelukannya dan ikut membantu Ara mengangkat masakan yang telah dipindahkan Ara ke mangkuk.
Ara tersenyum, sangat tau apa yang membuat Rangga gelisah dua hari ini.
Ya, Ara telah bersih dari nifas nya. Dan Rangga sepertinya ingin menjaga suasana hati Ara dengan tidak berusaha memaksakan kehendaknya.
Ara menatap punggung tegap di depanya itu dengan bibir yang terlipat menahan senyuman.
Tak dapat Ara bayangkan betapa hebatnya Rangga menahan diri untuk tidak menyentuhnya berlebihan selama beberapa hari ini karena kondisi Ardi yang seperti itu. Rangga berusaha menjaga perasaan istrinya.
Dan bagi Ara saat ini waktunya telah tepat untuk memberikan hidangan buka puasa yang manis untuk Rangganya.
Gadis itu melirik jam dinding di dapur. Waktu masih pukul 20.00 wib.
" Sayang.." Ara menduduki pangkuan Rangga begitu saja. Tanganya melingkar pada leher Rangga.
" Hemmm " Rangga menoleh menatap pada Ara disela kunyahanya.
" Emmmm, habis makan kakak mau kemana?"
" Ketemu Denis dan kak Bagas sayang, ada urusan dikit, mau ikut?"
" Nggak sayang, pulang malam kah?"
" Diusahakan nggak..., tapi kalau terlalu malam kamu tidur aja dulu sayang.." Jawab Rangga.
" Okelah kalau begitu, tapi sepertinya akan rugi kalau pulangnya malam.." Bisik Ara tepat di depan telinga Rangga, bahkan gadis itu meniup-niup telinga Rangga pula.
" Nakal..." Rangga mencubit hidung Ara gemas.
Untuk memintanya, Rangga belum berani. Takut Ara menolak, tapi lihatlah gadis ini justru memancingnya seperti ini.
" Jadi nggak suka aku nakal?"
Rangga membesarkan matanya menatap Ara, bahkan kunyahanya berhenti seketika.
" Aku bisa nakal lebih dari ini tau..." Ara memasukkan jemarinya ke balik kaos Rangga dan mengusapnya pelan.
" Sayang...ssshhhh, jangan mancing-mancing dong..." Rangga mencekal tangan Ara untuk berhenti.
" Nggak mau dipancing??, nggak nyesel??" Ara mengedipkan sebelah matanya genit.
Rangga masih syok, ini kode nyata dari Ara tapi Rangga hanya takut salah sangka.
__ADS_1
" Mau nggak buka puasa?" Tanya Ara blak-blakan.
" Ap...ap..apa?, beneran???, seriously???"