Childhood Love Story

Childhood Love Story
Tenanglah..., brothy akan mematahkan tangannya.


__ADS_3

Brian berlarian memasuki gerbang rumah Syakieb, bahkan langkah kakinya yang terlalu terburu-buru membuatnya beberapa kali terjatuh dan segera bangkit lagi. Dadanya berdebar tak karuan, beberapa kali menghubungi telpon rumah, selalu saja suara isakan yg di dengarnya.


Saat memasuki pintu rumah, langkah kakinya disambut oleh gadis kecil yang berlarian dengan air matanya yang berderai. Melihat wajahnya yg terlihat sembab, dapat dipastikan gadis kecil ini sudah menangis dalam waktu yg sudah lama.


Brian segera meraih gadis itu dan menggedongnya.


" Cemua onty nanis..hik..hik.., pipi nty Ala melah diputul olang om...hik..hik.."


Brian membelalakan matanya terkejut, dengan setengah berlari pria muda itu menuju ruang tengah.


Matanya menatap pada empat gadis yg kini sedang menangis terisak.


Nampak Vera dengan masih diiringi isakannya sedang mengompres pipi Ara, sedangkan Azura terlihat membuka kotak P3K untuk mengobati sudut bibir Ara yg pecah karena tamparan Lenox.


Natasha, gadis itu sepertinya sedang sibuk dengan ponselnya. Terlihat dia sedang mondar mandir dengan ponsel yg menempel di telinganya. Bibirnya sesekali menggigit ujung jempolnya, badannya terlihat bergetar karena isakannya.


Brian mematung sesaat, berusaha mencerna apa yg terjadi.


Bi Marni yg melihatnya datang dan segera mengambil alih Bianca dari gendonganya. Bi Marni terlihat menunduk menyembunyikan wajahnya.


Brian dapat melihat mata bi Marni yang basah, membuatnya semakin kalut.


"Princess......" Desis Brian pelan.


Suara Brian membuat keempat gadis yg belum menyadari kehadiran itu menoleh ke arahnya.


Natasha dan Vera berlari menghamburkan diri memeluknya.


" Maafkan kami brothy, kami tidak bisa menjaga Lili..hik..hik..." Ucap mereka.


Ada apa ini?, Brian bingung.


Minta maaf??, minta maaf untuk apa??.


Brian tak mempedulikan ucapan duo gesrek itu, matanya menatap tajam pada Ara.


Ditatapnya gadis yg sedari tadi hanya menundukkan wajahnya. Brian melangkah dengan mata yg fokus pada Ara. Azura beringsut memundurkan dirinya ke belakang Brian.


Brian berjongkok didepan Ara yg kini duduk di sofa sambil menunduk dalam.


Brian mengangkat wajah Ara yg tertunduk dengan menggunakan telunjuknya.


Saat matanya melihat pipi putih yang memar tergambar cap tangan yg masih sangat merah, hati Brian bagai disayat sayat oleh pisau yang sangat tajam.


Kini matanya tertuju pada sudut bibir yg nampak pecah dan membiru. Mata pria muda itu memerah dan tampak berembun.


" Siapa pelakunya???" Tanya Brian dengan jari tangan yg terkepal sempurna.


Ara membisu, air matanya berderai.


Bukan tamparan yang membuatnya menangis.


Bukan perihnya yang membuatnya meringis.


Tapi sentuhan tangan kotor Lenox padanya yg membuat Ara hancur sehancur hancurnya.


Brian berdiri dengan kedua tangan mengepal sempurna. Badannya berbalik menatap kepada ketiga gadis yg kini menunduk sambil terisak.


" Apa yg terjadi!!!???" Bentaknya pada ketiga gadis didepannya yg kini terjingkat karena mendengar suara keras Brian yg menggelegar memenuhi ruangan.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar Vera menyerahkan ponsenya pada Brian.


Brian menatap Vera dengan tatapan tak mengerti.


Vera mengambil ponselnya lagi dan membuka folder skandal Ara disana.


Mata Brian melotot melihat foto-foto Ara yg kini bahkan tidak hanya tersebar di group chat sekolah, tapi seseorang telah mengunggahnya ke permukaan. Dan dalam beberapa menit saja videonya telah banyak ditonton orang.


Bahkan sedari tadi Natasha sibuk meminta tolong pada Denis dan kenalan nya untuk mengurus ini.


Jujur para gadis ini bingung harus berbuat apa sekarang ini.


Sejak tadi mereka merasakan tertekan dan frustasi yg luar biasa.


Brian segera membalikan badan dan menjatuhkan tubuhnya di depan Ara.


"Maafkan brothy sayang...., gara-gara brothy kau jadi seperti ini..." Ucapnya sambil matanya terpejam mengecupi kedua pipi dan kedua mata Ara dengan sangat lembut.


" Rangga sudah tahu..?" Tanyanya pelan.


Ara menggelengkan kepalanya lemah.


Brian mengangguk paham.


Brian melangkah menuju kamarnya yg ada dilantai bawah. Tak lama pria muda itu membawa ponsel dan laptop canggihnya keluar ke taman samping. Disana tampak dia sedang duduk di kursi balkon dan berbicara serius dengan seseorang di ponselnya.


****


Ara membaringkan tubuhnya ditempat tidur Ardi malam ini, entah kenapa dia sangat merindukan saudara berbagi rahimnya itu.


Dia merindukan bagaimana Ardi selalu meninju siapa saja yg menyenggolnya saat mereka masih SD. Dia rindu bagaimana proteksi Ardi padanya saat teman-teman SMP Ardi main kerumah dan suka menggodanya. Matanya basah oleh air mata yg tak mau berhenti sejak siang tadi.


Dengkuran halus terdengar dari lelapnya.


Cekrek.


Pintu terbuka dengan pelan, tampak tiga pria muda memasuki kamarnya yg temaram.


Ya, mereka adalah Marvel, Adnan dan Brian.


Mereka berdua sudah datang beberapa saat lalu, tapi mereka memberi waktu untuk Ara beristirahat.


Karena Brian menceritakan bahwa sedari tadi Ara hanya menangis, bahkan gadis itu, atau lebih tepatnya mereka semua melupakan makan siang mereka.


Marvel meremas kepalanya saat melihat memar di pipi princess nya. Pemuda beristri itu segera menjatuhkan tubuhnya disamping ranjang.


Tanganya mengelus pipi memar dan merah itu pelan, dielusnya rambut hitam Ara.


" Maafkan brothy, princess..." Bisiknya lembut.


Marvel meraih sofa bantal angin Ardi dan dibawa ke dekat ranjang Ara, dan diapun duduk disana.


Marvel sangat menyesal karena telah menarik semua pengawasan yg selalu ia tempatkan untuk menjaga Ara.


Dia mengira Ara akan baik-baik saja dalam lindungan Rangga dan sahabat-sahabatnya.


Sedangkan Adnan hanya bisa mengelus dadanya yg perih.


Adnan tak habis pikir, siapa yg tega melakukan ini semua pada adik kecilnya ini.

__ADS_1


Kenapa orang ini bisa bergerak tepat disaat semua panglima Ara sedang tidak ada ditempat??


Brian menepuk pundak Adnan, mengingatkan bahwa keadaan Hana saat ini juga tidak baik-baik saja. Adnan mengangguk, dikecupnya pelan pucuk kepala Ara dengan sayang.


Tepukan halus pada pundak Marvel membuat pria muda itu menggeleng.


" Tinggalkan aku disini dulu, aku ingin bersamanya...." Ucap Marvel dengan mata tak lepas menatap wajah Ara yg terlelap.


Brian dan Adnan mengangguk mengerti dan berlalu dari kamar Ara dan Ardi.


Sebenarnya Ara memiliki kamar pribadi di atas, tapi karena Ara ataupun Ardi sering tidak bisa tidur sendiri, maka papa membuatkan satu kamar untuk mereka berdua dibawah. Tentu saja dengan dua tempat tidur.


Dian mengintip Marvel yg terus mengelus kepala Ara. Perlahan-lahan wanita muda itu menghampiri suaminya.


Marvel yg menyadari kehadiran istrinya segera menarik Dian dalam pangkuan nya.


" Apa kau cemburu wife?" Tanya Marvel sambil mengendus leher Dian.


" Tidak.." Jawab Dian jujur.


" Alhamdulilah, thank you for all your understanding my wife " Ucap Marvel dengan mengecup kening Dian dalam.


" Tidurlah dulu, aku disini dulu" Lanjut Marvel.


Dian diam saja tak bergeming, malah dengan santainya dia membaringkan kepalanya di dada Marvel.


" Kenapa..?" Tanya Marvel heran melihat istrinya terlihat manja.


" Aku tidak bisa lagi tidur tanpamu..." Ucap Dian pelan di ceruk leher Marvel.


Senyuman terbit dari bibir Marvel. Perlahan Marvel pun beringsut berdiri, diikuti Dian yg terus menggengam erat lengannya.


Marvel menunduk untuk bisa mengecup pucuk kepala Ara dengan pelan.


Tapi pergerakan nya justru membuat Ara terbangun.


" Brothy sudah pulang...?"


" Iya princess...ini brothy..."


"Hik..hik..brothy..dia..dia..telah...telah.." Ara tak bisa melanjutkan kata-katanya.


" Sshhtt...sshhtt.., sudah..sudah...tidak apa-apa, brothy akan mematahkan tangannya, tidurlah princess..." Marvel mengelus kepala Ara agar tertidur kembali. Dian duduk disamping Ara, tanganya ikut mengelus lengan Ara agar kembali tenang.


*****


Rangga berlarian di bandara internasional Toronto, Kanada. Setelah rangkaian acara Olimpiade nya selesai. Rangga segera mohon ijin untuk pulang, dan melewatkan acara tournya bersama seluruh peserta dari penjuru dunia.


Setelah membaca pesan Ara, hatinya merasa tak tenang. Tapi tak bisa menghubungi satupun nomor dari mereka. Mungkin jaringan ataukah ponsel Rangga yg bermasalah, entahlah.


Saat ini yg dipikirkan Rangga adalah segera pulang dan segera bertemu dengan kekasih pujaan hatinya.


Kekasih yg selalu dirindukan nya.


Baik dahulu, sekarang, dan masa depan.


...***""""""*""**""""""""""""""""**""*""""""***...


Bersambung....

__ADS_1


Like...like...like..😍😍😍


__ADS_2