
" Kumpul-kumpul...." Teriak Yuda Pradana beserta beberapa pengurus pramuka lainya. Dan para peserta camping berhamburan melingkar berkumpul di depannya.
Rangga berjalan mendekati Yuda dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celananya. Rambutnya yang godrong menambah kesan macho dan laki banget. Aura pemimpin dan aura maskulin menguar kental dari sikapnya yang berwibawa.
Rangga Bayu Wijaya walaupun statusnya kini milik Lailia Naffesa Anara tapi ketenaran dan damage kerennya nggak kaleng-kaleng. Masih banyak siswi SMU Bhakti yang rela berdukun-dukun demi putusnya Rangga dan Ara.
" Gila!!, badas amat laki lo Ra?" Bisik Natasha di telinga Ara, tatapannya menatap intens pada Rangga. Yang justru mata Rangga tajam menatap pada Ara yang menunduk malu untuk mengakui betapa kerennya suaminya itu.
"Husst..., apaan sih Nat" Ucap Ara dengan wajah merahnya. Ara sangat mengakui bagaimana badasnya seorang Rangga, apalagi saat mereka berdua saja. Sentuhan Rangga selalu membuatnya melayang-layang keluar dari dunia.
Apalagi kalau sudah di mode gilanya, Rangga bisa membawa Ara berulangkali menerjang tingginya Nirwana.
" Astaghfirullah...." Lirihnya saat sadar akan apa yang difikirkan nya, ditepuk-tepuknya pipinya pelan untuk mengusir fikiran mesum yang berseliweran di otaknya beberapa saat lalu.
Rangga yang melihat tingkah Ara yang menggemaskan itu menggigit bibir bawahnya, ada rasa geli bercampur bahagia di hatinya saat melihat betapa salah tingkahnya Ara setiap kali ditatap olehnya.
" Ya Tuhan, otak mesumnya udah nular ke gue nih hiiihh..." Ara bergidik ngeri, diketok-ketoknya keningnya dengan punggung tangan dengan gemas karena bisa-bisanya dia membayangkan kebersamaannya bersama Rangga hanya karena melihat vibes keren Rangga yang menatapnya tajam didepan sana.
Ditatap terus seperti itu membuat Ara semakin salah tingkah, gadis itupun melangkah mundur untuk meninggalkan kumpulan itu karena dia sudah tau peraturan permainan selanjutnya.
" Mau kemana?" Suara berat dan sangat dia kenal, mengagetkan Ara yang melangkah menuju sungai. Rangga berdiri tegap dibelakangnya.
" Ngadem sebentar " Jawabannya dengan sedikit menoleh.
" Ayo, kakak antar..." Rangga segera melangkah disamping Ara. Tanganya melingkar indah dipinggang Ara dengan santainya.
" Hayoo, tanganya jangan rusuh.." Ucap Ara mengigatkan.
" Ckkk, nggak papa sayang...udah halal juga" Ucap Rangga dengan semakin menarik pinggang itu agar merapat padanya.
" Ini ditempat umum, banyak teman dan guru...." Ucapnya sambil melepas paksa belitan Rangga.
" Issshhh!!!, ah elah..sayang, nyesel ikut kemping kaya gini!!, mending dirumah aja seharian kelonan ama kamu..." Ucap Rangga dengan tangannya yang genit mencolek dagu Ara.
" Idih!!!, ganjen amat kakak!!, kesambet apa sih??, dari pagi nggak bener aja kelakuannya!!" Seru Ara geram dengan menyodorkan tinjunya di depan wajah Rangga.
" What ha...ha...ha..." Tawa Rangga pecah melihat itu semua.
Dengan pelan Rangga meraih kepalan tinju Ara dan mengecupnya sayang.
" Habis subuh tadi baca Ayat Kursi ngga sih?, berasa horor Lili tuh..., kok malah ketawa.."
" Yee.. ganjenya juga cuma sama kamu aja..., nggak diobral murah pada sembarang cewek kok ". Sahut Rangga mengacak gemas jilbab Ara dan menariknya dalam pelukan hangatnya.
"Ekhemm.." Deheman Bapak Kepala Sekolah mengagetkan mereka berdua, Ara segera melepaskan diri dan sedikit mendorong Rangga menjauh darinya. Sontak membuat Rangga melotot marah.
" Selamat pagi pak..." Sapa Rangga sopan.
" Selamat Siang..." Jawab Pak Kepsek.
" Eh...iya udah siang..." Ucap Rangga kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia menggigit bibirnya gemas, antara malu dan canggung.
Ara mengangguk hormat pada Pak Kepsek.
" Sa..saya kembali ke lapangan Pak, mari..." Pamit Ara.
__ADS_1
Rangga dan Pak Kepsek saling menatap, ada rasa malu yang luar biasa menyerang Rangga saat ini.
Pak Kepsek memergokinya mojok dengan Ara. Padahal selama hampir tiga tahun jadi anak muridnya Rangga terlihat sempurna tanpa cela.
" Sebelum ditinggal harus diikat dulu aja Ga, biar nggak was-was ninggalinnya..." Ujar Pak Kepsek saat berlalu meninggalkan Rangga dengan tepukan dua kali di bahu Rangga.
Yaelah Pak..
Bahkan gue udah mengikatnya saat dia baru umur 9tahun pak...
Acara terus berlanjut, mulai dari test kepekaan suara untuk mengasah indera pendengaran.
Berlanjut ke test penciuman pada beberapa daun dan bumbu dapur.
Dan yang terakhir adalah test pada indera peraba atau kulit.
Tapi tiba-tiba langit berubah warna begitu cepat, mendung datang berarak menyelimuti bukit dimana lokasi kemping berada.
" Semua harap masuk ke tenda masing-masing"
" Siap laksanakan "
" Panitia tolong parit sekitar tenda di cek lagi"
"Siap"
Semua bergerak cepat mengantisipasi, masing-masing mengecek parit disekeliling tenda masing-masing.
" Sayang..." Panggil Rangga diluar tenda Ara, tubuhnya terbalut jas hujannya. Gerimis sudah mulai mengguyur camp.
" Ini nasi kotaknya untuk makan malam " Ara menerima empat kotak nasi dari Rangga.
" Makasih kak..." Ucap Ara dengan senyuman termanis menghiasi bibirnya.
" Ckk, sial bibirnya membuatku ingin..." Desis Rangga dengan meremat jas hujanya geram.
***
Malam datang tanpa bintang, terpaksa sholat Maghrib dilakukan sendiri-sendiri di tenda masing-masing, karena gerimis kecil masih setia menyirami bumi.
Dari tenda Ara terlihat sosok gadis dengan jas hujanya, mengayun-ayunkan ponselnya tinggi-tinggi.
" Aduh!!, kemana nih sinyal " Gumam Ara geram.
Kakinya terus melangkah mencari dimana ada sinyal. Bahkan tanpa sadar dia menaiki meja jaga dengan terus mengangkat tangan tinggi-tinggi.
" Ya Allah..., kok cuma sebatang sih, gimana nih..." geram Ara yang tak menyadari seseorang tengah menatap nya tajam.
Dari tenda Rangga mata Beno menatap Ara tak percaya, bahkan berulangkali pemuda itu mengucek matanya, memastikan.
" Ga!!, itu cewek lho ngapain tuh, naik-naik ke meja tuh..." Tunjuk Beno pada sosok Ara yang kini sibuk mengayun-ayunkan ponselnya tinggi-tinggi.
" Iya tuh ngapain tu Ga?" Tanya Rayya kepo
Rangga mengernyitkan dahinya heran.
__ADS_1
" Tanggal berapa nih?" Tanya Vino dan Hanan berbarengan.
" Kenapa emang?, ada apa emang?" Tanya Rangga penuh rasa khawatir.
" Tenang aja Ga, cewek lho pasti sibuk cari sinyal, secara lima belas menit lagi Liga Champions main, Chelsea vs Real Madrid..." Sahut Denis yang juga gelisah tidak bisa nonton final hari ini.
" Hahhh!!! What???, ya Ampun istri gue, makin gemes aja gue sama dia Ampun deh" Ucapnya dengan menyambar jas hujannya untuk menemui Ara yang semakin parah, gadis itu kini sibuk melompat-lompat diatas meja demi mencari sinyal.
" Istri katanya beuh!!!, gue do'ain juga cepetan putus mereka..." Sahut Beno.
" Beno mulut lo jaga!!!" Teriak Denis
" Ember..." Sahut Rayya
" Ya, gue embernya dan lo gayungnya..." Timpal Beno geram.
" Lo pada gak denger apa Rangga bilang kalo Ara tuh istrinya, gue gak rela kali, gue aja nunggu giliran..." Lanjut Beno.
" Gila lo!!!, lo kata Ara piala apa digilir, dasar teman lucknut lo!!, ya emang Ara istrinya Rangga lo mau apa hah!!" Bentak Vino geram.
" Apa?"
" Ya Ben, mereka udah menikah hampir dua bulan lalu.." Kini Hanan yang sedari tadi diam ikut bicara.
" Hah kok bisa?"
" Ya bisalah, Sultan mah bebas. Lo nggak tau aja besarnya pengaruh uang di birokrasi, ada uang urusan mah gampang.." Timpal Rayya.
" Rangga diusia yang sudah bisa menikah gue tau itu, trus gimana dengan Ara?" Tanya Beno.
" Ngapain lo yang repot mikirin sih Ben, papa Ara aja nyantai tuh, kok lo yang mumet.." Sahut Denis
" Gini Ben, Menikah itu ibadah seumur hidup, apapun yang lo lakuin buat pasangan lo itu akan bernilai ibadah."
" Lagian di UU perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan diijinkan apabila pihak prianya sudah mencapai 19 tahun, sementara yang perempuannya berusia 16 tahun.."
"Oke gue bacain dalilnya ya guys : Hai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian sudah memiliki kemampuan, segeralah menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara ********. Dan barangsiapa yang belum sanggup menikah, berpuasalah, karena berpuasa akan menjadi benteng baginya( HR. Muttafaq'alaih), gitu guys?" Penjelasan Hanan panjang lebar.
" Trus apa untungnya nikah muda, apa Rangga nggak takut bosan gitu sama Ara?" Tanya Beno lagi.
" Alasan Rangga apa?, ya Rangga sendiri yang tahu.., tapi banyak keuntungan nikah muda Ben, diantaranya: mempersempit kenangan patah hati, bisa saling mengenali lebih dalam, bersama melewati hal sulit sejak awal semakin mendewasakan secara bersama, menenangkan hati, dan yang lebih penting mau ngapain aja sama pasangan sah nggak ada yang larang" Ucap Hanan dengan mata menyorot tajam menatap Vino.
" Bergaul dengan wanita yang sah sebagai istrinya sendiri tentu lebih nikmat daripada mencuri-curi kan Ben?" Tanya Hanan pada Beno, tapi mata menusuk tajam pada Vino.
Akhhh!!! Sial si Hanan kenapa nyindir gue mulu sih...
Iya deh...iya, gue sanggup kok dicambuk...sanggup gue...
Astaghfirullah...Astaghfirullah...
Ini dia guys...babang Hanan.
Bersambung...
__ADS_1