Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ara positif hamil.


__ADS_3

Rangga akhinya memutuskan untuk tidak berangkat kerja hari ini. Hari pertama jadi Asdos di kampus Ara malah diwarnai dengan ijin sakit.


Bagaimana tidak?, sejak bangun subuh dia terus memuntahkan isi perutnya.


" Bi...ini buburnya, ayo aaa...." Ara menyodorkan sendok berisi bubur pada Rangga.


Rangga terlihat pucat dan kuyu, tenaganya telah habis karena terus-terusan menghoek.



" Malas yang...., mau yang seger gitu." Sahut Rangga.


" Rujak kemarin masih ada kan?" Tanya Rangga.


" Masih ada di lemari pendingin, tapi habisin buburnya dulu Bi..,ayo aaa..."


Dengan terpaksa Rangga memakan bubur yang disuapkan Ara padanya.


Dan dengan ketelatenan Ara, akhirnya bubur semangkuk itu habis juga.


Rangga rebahan di sofa depan TV sambil mengemil rujak buah yang dibeli mereka pulang dari kampus kemarin.


" Nggak papa Lili tinggal kan Bi...?" Ara ragu-ragu untuk meninggalkan suaminya.


" Nggak papa sayang, mungkin dengan istirahat sebentar akan oke lagi.."


Ting..tong..


Bel pintu berbunyi.


" Itu Lenox Bi..., bang Ardi ada kuliah umum siang nanti..., nggak papa kan?" Ara menatap Rangga dengan takut-takut, karena awalnya Ardi yang akan mengantarkannya kuliah, tapi ternyata Ardi tidak ada kuliah pagi. Mau tidak mau Ara tetap meminta bantuan Lenox.


Reaksi Rangga yang mengangguk dengan tersenyum membuat Ara mematung di tempatnya.


Dari kemarin dia jinak benar sama Lenox..


Biasanya aja seperti kucing dan tikus


Ara melangkah membuka pintu dengan fikiran yang penuh dengan rasa heran.


" Udah sarapan bro?" Tanya Rangga saat Lenox mendudukkan tubuhnya disofa tak jauh dari Rangga.


" Belum.." Jawab Lenox cuek.


" Mau makan disini?ada bubur ayam tuh, atau mau kopi aja?" Tanya Ara santun.


" Bubur deh.." Ucap Lenox sembari mengulurkan punggung tanganya pada kening Rangga.


" Lo tuh sakit apa sih?, lo nggak demam kok!" Ucap Lenox.


" Ya mana gue tau, gue sakit apa. Kan lo dokternya gimana sih!" Seru Rangga.


" Le..lo ke panti nggak sore ni" Lanjut Rangga.


" Iya, kenapa?"


" Di depan panti ada pohon mangga kan?, ada buahnya nggak?" Tanya Rangga antusias, bahkan mulutnya mengecap serius.


Lenox sedikit berfikir dan mengingat.


" Ah ya, ada..." Sahut Lenox.

__ADS_1


" Putikin beberapa boleh ya..., tapi yang setengah masak.." Bisik Rangga.


" Cihhh!!!, lagak lo kayak orang ngidam aja!!" Sentak Lenox.


Lenox membesarkan matanya, dan menatap Rangga lekat. Matanya terus mengamati Rangga intens dari ujung kepala sampai ujung kaki.


" Apa lo liat-liat!!!, gue ganteng emang iya!. Tapi gue bukan jeruk makan jeruk tau!!" Bentak Rangga.


" Ckk..kau itu bego!!" Gumam Lenox pelan. Dengan melempar bantal sofa ke arah Rangga.


Ntahlah, dua hari ini sepertinya adalah interaksi terlama mereka bisa duduk berdua seperti ini, biasanya pasti keluar otot.


Orang bego ini rupanya nggak ngerti istilah ngidam..


Apa Ara hamil?


Kok tanda-tandanya sama..


Ara dulu juga resek minta mangga setengah masak...


Resek minta rujak..


Resek minta gue bikinin ini itu..


" Ni Le, bubur ayam dengan bawang goreng dan kerupuk yang banyak.."


Ara menaruh nampan berisi semangkuk bubur ayam beserta kecap dan sambal di depan meja Lenox.


" Lo tahu aja kesukaan Lenox yang..." Ucap Rangga penuh rasa cemburu.


" Ya iyalah..., kan gue sering bilang kalo dia mantan terindah gue"


Bukan Ara yang menjawab, tapi Lenox yang menyahuti. Jelas membuat Rangga melotot geram.


" Ckk serah lo lah, yang penting gue mau sarapan " Lenox dengan antusias memakan bubur ayam buatan Ara. Sementara Ara bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


...***...


" Ra, ada yang aneh dengan laki lo.." Bisik Lenox saat mereka sudah di dalam kelas.


" Iya.." Jawab Ara sekilas.


" Kayaknya cauvade syndrome deh..." Lenox berbisik dengan semangat.


" Iya, emang..."


" Jadi!!!, lo benar-benar hamil??" Lenox menggeser duduknya mendekat pada Ara. Pemuda ini benar-benar terkejut.


" Iya, sudah gue tespec. Dan positif, tapi kita rahasiakan dulu, bulan depan kak Rangga ulang tahun. Semoga ini menjadi hadian terbaik untuknya.." Ucap Ara dengan mata berkaca-kaca.


Sedari tadi pagi dia rasanya ingin menari-nari karena terlalu bahagia, tapi untuk memastikannya dia harus menemui dokter kandungan sepulang kuliah.


" Lo bisa antar gue ke klinik kandungan kan Le..." Ucap Ara memelas.


Lenox menepuk kepala Ara dengan pelan .


" Tidak perlu lo minta, gue pasti bersedia.." Lenox menatap Ara dengan penuh rasa bahagia. Pelan-pelan rasa cinta yang menggila itu menipis.


Yang tersisa adalah rasa sayang, entahlah bentuk sayang seperti apa.


Yang jelas Lenox menyayangi Ara, tidak lagi cinta.

__ADS_1


" Apa lo tahu Ra, gue lagi insecure saat ini.."


" Heh...maksudnya?" Ara menghadapkan wajahnya kearah Lenox.


" Wari sepertinya sedang dekat dengan b' Brian Ra..." Lenox mengusap wajahnya kasar.


" Kami semua dekat dengan adik-adik kami Le, semua.... Itu bukan keanehan, jangan su'udzon deh.."


Ara mencoba menjelaskan, tidak hanya double brothy. Ardi dan Adnan juga dekat dengan para adek panti.


" Semoga hanya su'udzon ku saja, tapi kira-kira aku kurang apa ya Ra...?" Lenox meletakkan kepalanya di bangku kursinya.


" Kurang sering-sering cium kening kamu mah!!, yang kamu sosor bibirnya mulu!!" Ara menggeplak pundak Lenox dengan bukunya.


" Percuma Ra gue sering-sering cium kening, karena akan kalah dengan yang selalu isi rekening.."


" Maksudnya?"


" Brothy udah hampir tiga kali transfer ke rekening Wari Ra..." Lenox memejamkan matanya.


Mengurangi sesak didadanya saat mendapati notif m-banking di ponsel Wari dari Brian beberapa hari lalu.


Ara ikut diam, tapi secepatnya gadis itu menggelengkan kepala.


" Mungkin hanya uang jajan Le..."


Lenox menggelengkan kepalanya.


" Tidak, bukan uang jajan. Nominalnya fantastis.."


" Baiklah, aku akan selidiki dulu. Sebelum itu, teruslah memberikan perhatian padanya Le..." Ara menepuk punggung Lenox.


" Percuma Ra, percuma aku memberikan perhatian, karena akan kalah dengan yang memberi kepastian.."


" Lo tahulah siapa brothy, pemuda dengan kehidupan yang stabil, ekonomi yang mantap, good looking, sifatnya yang luar biasa buaaikkk, aku mah apa atuh..." Desis Lenox.


" Lo tuh kenapa sih??, ada apa denganmu Lenox??" Ara mengusap wajahnya bingung.


" Aku kalah dari brothy Ra...." Lenox menutup wajahnya dengan sebuah buku.


" Nggak lucu!!, pasti ini salah paham.." Ucap Ara dengan segera mengemasi buku-bukunya.


Sementara Lenox semakin terlihat sendu.



Ara ingin tertawa melihat Lenox yang seperti ini. Rapuh dan jatuh, seorang Lenox Maha Dafran bisa insecure dari Nanda Briandika.


" Hey.... Kamu itu Lenox Maha Dafran. Masa kamu insecure sampai seperti ini sih!!, go Lenox go!! Spirit!! " Ara mengipasi Lenox dengan bukunya.


" Aku percaya tidak ada apa-apa diantara mereka.., kamu salah paham.." Ara mengumpulkan buku Lenox menjadi satu dan membuka tas Lenox lalu memasukkannya.


" Nah ayo.., kita ke klinik. Kamu nggak mau lihat ponakan kamu launching hmmm..." Lenox tersenyum manis melihat antusiasme Ara.


Semangat gadis ini luar biasa. Bahkan saat Rangga tidak datang di acara resepsi pernikahan mereka dahulu, dia tetap bersemangat melanjutkan hidupnya.


" Hufftt, semoga aja aku salah paham Ra..."


" Nah gitu dong..., ayo ah cuzz..."


Dan disinih mereka berada, di sebuah klinik kandungan. Mengapa mereka memilih kesini!, karena mereka harus menjaga rapat berita ini. Karena misi mereka adalah memberikan kejutan untuk Rangga.

__ADS_1


Jelas mereka harus pintar-pibtar memilih, karena beberapa dokter kandungan di kota ini adalah teman sosialita mommy Tara. Ara hanya takut, gagal memberikan kejutan.


__ADS_2