Childhood Love Story

Childhood Love Story
Usaha Awal


__ADS_3

Rayya menepuk pundak Ara pelan, karena dari tadi tidak ada pergerakan dari gadis disamping nya ini.


Sementara Rangga menunggu dengan cemas reaksi Ara bagaimana.


Malah Ara justru menatap Lenox seolah mencari dukungan.


Lenox tahu sahabat baiknya ini sedang galau. Selama bertahun-tahun bersama Ara, Lenox sangat tahu bahwa hati dan cinta Ara tak pernah berubah.


Tapi gengsi dan sifat keras kepalanya memang luar biasa.


Lenox mengedipkan sebelah matanya pada Ara, berharap gadis itu sedikit rileks.


Tapi Ara justru menabok punggungnya berulang-ulang.


" Ha..ha..ha..., ada yang salting kayaknya" Bisik Lenox disela pukulan Ara.


Sumpah demi apapun melihat itu Rangga bagai di tersengat listrik ribuan volt.


" Pergilah, bicaralah denganya.." Ucap Lenox pelan.


Rangga kini telah berdiri, menunggu Ara yang tidak juga beranjak. Rangga mengigit-gigit bibirnya cemas luar biasa.


Dia sangat takut kepulanganya ini sudah sangat terlambat.


Adnan memberikan kode pada adiknya itu untuk mengikuti Rangga. Tapi Ara malah menggelengkan kepalanya.


" Ra..., belajarlah dewasa..." Bisik Rayya yang kasihan melihat raut wajah Rangga yang sendu.


" Mut...sayang.... Bicaralah dengan Rangga dek..." Ucap Adnan pelan.


Arapun menatap Adnan ragu-ragu. Dan Adnan pun mengangguk mantap.


Disinilah mereka berdua berada, dipojok cafe.



" Say..emm, apa kabarmu Say...emmm, Lili..?


Rangga jelas tak bisa mengubah panggilan sayangnya, tapi melihat sikap Ara seperti ini dia juga tidak bisa memaksakan diri.


" Kamu sudah bertanya tadi, kamu juga bisa lihat sendiri keadaan ku sekarang. Aku waras!! Sangat sangat waras!!!"


Jawab Ara ketus.


Inilah yang ditakutkan Rangga dengan tidak menghubungi Ara setelah gagalnya acara pesta pernikahan mereka.


Ara tidak bisa diajak bicara dengan baik. Hatinya terlalu sakit.


Dan Rangga paling tidak mampu diketusin oleh Ara seperti ini.


" Say...emmm, kamu terlihat jauh berbeda mm.. maksudku kamu lebih cantik dari sebelumnya.." Ucap Rangga kikuk dan canggung.


" Ya begitulah, dahulu aku kurang cantik, makanya seseorang mencampakkan ku begitu saja" Jawab Ara tanpa menatap Rangga.


" Tidak, bukan itu maksudku Sa...emmm, Lili.." Rangga bingung dan serba salah, tentu saja maksudnya bukan itu.


Rangga kebingungan harus bicara apa lagi. Sumpah saat ini otaknya mati. Andaikan dia bisa, dia ingin sekali merengkuh tubuh gadis yang menguasai hatinya ini dalam pelukanya.


Dia menyesal karena tidak kembali saat itu. Andaikan waktu diulang kembali dia tidak akan mau mengambil keputusan untuk pergi.


Menjadi mahasiswa beasiswa itu terikat, tidak bisa semaunya sendiri. Bisa saja Rangga memutuskan untuk mengambil jalur mandiri. Tapi kita sama-sama taulah bagaimana birokrasi diatas sana.


Semua akan dipersulit andaikan kita berani bertingkah di luar ketetapan.


Sampai hari ini pun hubungan Rangga dan kedua orangtua nya tidak bisa kembali seperti sedia kala.


Daddy memarahinya karena telah membuat keluarga besar menanggung malu.


Dan mommy bahkan tidak mau berbicara dengan nya dari hari itu sampai sekarang.


Ranggapun seolah kualat dengan mommy dan istrinya.


Semua yang direncanakan gagal, apa yang dilakukan tidak sesuai harapannya.


Dan Rangga sadar itu, ini karena tidak adanya restu dari mommy dan istrinya.

__ADS_1


" Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi..." Ara beranjak berdiri karena sedari tadi Rangga hanya melamun.


" Tunggu dulu sa...emmm, maksudku..tunggu!!"


Ara berdiri memunggungi Rangga.


" Ada yang ingin ku tanyakan padamu Sa...emm, Lili.."


" Tanya saja!" Sahut Ara tanpa menoleh.


" Sa...emmm, Apa kau bersamanya?" Tanya Rangga.


" Bersama siapa?, Lenox maksudmu?. Iya" Jawab Ara tegas.


" Sa...emmm, apa kau....emmm. Tidak, tidak jadi. Lupakanlah " Rangga bingung harus bicara apa.


Rasanya sedih!!. Kenapa hubungan mereka menjadi seperti ini.


Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Dan setelah melihatnya lagi hari ini jantungnya berdetak kembali.


Jantung yang bertahun-tahun mati ini kembali beruforia karena telah bertemu dia yang bisa membuatnya berdetak kembali.


" Sa...emmmm..." Rangga memejamkan matanya. Dadanya berdetak tak karuan nafasnya terasa pendek-pendek saat gadis di depannya ini sama sekali tidak peduli padanya.


" Sayang....sayang...hu..hu..hu.." Rangga tak mampu lagi menahan sesak yang sejak tadi menyelubungi hatinya.


Bibirnya tak mampu lagi menahan panggilan sayangnya pada Ara sejak tadi.


Pria muda itu menutup wajahnya begitu saja. Menangis adalah solusi yang tepat untuk mengeluarkan sesaknya yang begitu rupa.


Tak pernah terbayang kan olehnya. Pertemuan dengan Lilinya yang sekian lama berpisah itu harus seperti ini.


" Sayang....." Rangga menatap Ara yang tetap berdiri, seolah tak perduli.


Saat Ara melangkahkan kakinya Rangga seolah ingin mati.


" Kau..., hatimu terbuat dari apa?, kenapa begitu keras padaku sayang...." Ucap Rangga dibalik kedua telapak tangannya.


" Aku hanya membalas apa yang telah kau lakukan padaku" Jawab Ara dengan kembali berhenti.


Siapa yang tidak sakit, keluarga besar sudah mempersiapkan acara pesta pernikahan mereka selama berhari-hari.


Tapi Rangga menggagalkan begitu saja tiba-tiba.


Siapa yang tidak sakit, berdiri sendiri dipelaminan tanpa adanya pengantin laki-laki.


Apa Rangga tidak merasa bersalah dengan itu semua.


Dan sekarang dia datang seolah-olah dialah korbanya.


Ara jelas tak mudah untuk memaafkan begitu saja. Apalagi setelah ditunggu-tunggupun Rangga tak ada itikat baik untuk datang menjelaskan semua.


" Aku bisa jelaskan semua sayang.., Duduklah tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.." Rangga berusaha memperbaiki ini semua. Dia bersumpah akan mendapatkan lagi Lilinya.


" Lenox sudah menungguku, aku permisi..."


Rangga mengeratkan genggaman tanganya.


Lenox telah berpindah kursi, karena jelas dia tidak akan nyambung berbicara dengan genk somplak itu.



Dari tempatnya Lenox terus menatap interaksi Ara dan Rangga.


" Sepertinya kau harus jungkir balik lagi bro..." Desis Lenox.


Drrtt...drrttt...drttt


Ponsel di celana jinsnya bergetar.


Lenox mengeluarkan ponsel itu dan menempelkan ke telinganya.


" Ya sayang...., kangen ya?" Sahutnya cepat dengan senyumnya yang manis.


" ................."

__ADS_1


" Ya, besok sebelum ke kampus kakak jemput kamu dulu Himawari sayang..."


" Le..., pulang yuk..." Ara datang mendekati Lenox yang sedang bertelponan.


Lenox hanya mengangguk pada Ara dan kembali fokus pada ponselnya.


" Udah dulu ya sayang, nyonya besar sudah di depan nih...." Ucap Lenox dengan berdiri mendekati Ara.


" Wari, jadi lolos Olimpiade ke Jerman?" Tanya Ara.


Dia sangat tahu siapa yang sedang berbicara dengan Lenox saat dia menyebutkan nyonya besar.


" Ya iyalah siapa dulu gurunya, gue gitu loh.." Jawab Lenox sambil menepuk dadanya.


" Ckk aku juga berpengaruh kali, lagian kau itu guru mesum!!" Sahut Ara.


" Sstttt, jangan keras-keras..." Lenox meletakkan jarinya di depan bibir Ara, walaupun tidak sampai menempel tapi semua itu terlihat oleh Rangga.


" Kau jangan macam-macam sama adikku yang polos itu Le, atau ku potong terongmu itu!!"


" Ihhh sadis amat calon dokter ini!!!" Ucap Lenox dengan tawanya yang menggelegar.


" Kita balik kesana aja Ra, nggak enaklah mereka aja belum bubar masa kita pulang" Ucap Lenox bijak.


Dan akhirnya mereka kembali ke tempat mereka berada.


Rasya putra Adnan yang melihat auntynya datang segera berlari memeluk.


" Kok belum tidur hemmmm" Ara mengangkat Rasya dalam gendonganya.


Rangga kembali menatapnya.


Sungguh, aura keibuan Rangga tidak ada duanya. Sebenarnya Rangga sudah sangat tahu itu, bahkan sejak mereka sering ke panti dulu.


Andaikan twin's masih ada, tentu cerita mereka tidak akan seperti ini.


" Mut, pulang bareng abang atau Ra.., eh sorry tadi sama Lenox ya?" Adnan merasa tidak enak karena telah salah bicara.


" Iya sama aku tadi berangkatnya, tapi masalahnya ini minta jemput terus..." Lenox mengeluarkan ponselnya yang terus berbunyi.


Ara dengan santai menyambar ponsel Lenox dan melihat nama kontak Himawari dengan tanda love disana.


" Kamu ya!!, di depan mata aja berani selingkuh begini!!" Seru Ara dan kembali mengayunkan tanganya hendak menyambar telinga Lenox.


Tepp!!!


Rangga menangkap tangan itu sebelum menyentuh telinga Lenox.


" Sejak kapan kau berani menyentuh kulit pria lain?" Bisik Rangga geram.


Sejak tadi dia sungguh menahan emosinya, tapi sepertinya Ara tidak peduli dengan perasaannya sama sekali.


Ara ini masih istrinya walaupun kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja.


Tapi lihatlah tingkahnya, dari tadi dia begitu ringan bersikap terhadap Lenox.


Jelas Rangga cemburu, tidak sedikitpun rasa cintanya mati. Walaupun bertahun-tahun harus menjalani komunikasi yang buruk, tapi tak seinchi pun nama Ara bergeser dari tempatnya.


Ara menatap Rangga dengan tatapan tanjam menusuk jantung Rangga.


Tatapan yang dingin dan tak tersentuh.


" Kau ingin tahu?, baiklah. Aku begini sejak suamiku MEMBUANGKU !!!" Balas Ara sengit dan menghempaskan tangan Rangga dengan keras.


" Sayang...dengar, tidak seperti itu yang..."


Ara hendak mengejar Lenox yang berlari keluar cafe dengan tergesa-gesa.


" Lenox!!!" Panggil Ara.


Lenox menoleh sebentar dan tersenyum manis sembari jarinya membentuk Ok.


Lenox sudah hampir lima bulan ini berusaha membuka hatinya untuk Wari.


Tapi kadang-kadang ketergantungan Ara padanya membuatnya oleh sedikit-sedikit.

__ADS_1


Tapi saat melihat tatapan penuh cinta Rangga pada Ara membuat Lenox memilih mundur. Karena Lenox juga melihat tatapan yang sama pada mata Ara, walaupun setengah mati Ara berusaha menyembunyikan nya.


__ADS_2