
Hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Rangga terlihat enggan turun dari kasur nya.
Fikiranya terbang ke rumah Syakieb, hati nya dan fikiran nya ikut terbawa pada sosok putri tunggal Ahmadi Syakieb Al Ghifari.
" Kok belum siap-siap son.." Tanya daddy saat tanpa sengaja melintas kamar putranya dengan pintu yg setengah terbuka.
Tak ada sahutan dari dalam membuat daddy Hen masuk kedalam.
" Loh..loh...kok malah melow-melow begitu udah jam berapa ini.." Daddy Hen melihat koper yg terbuka dan baju yg tertumpuk dan belum tersusun sama sekali. Sedangkan Rangga justru tengkurep sambil melamun.
Tak ada reaksi sama sekali dari Rangga. Pemuda itu mematung, asyik dengan lamunannya.
" Putramu sedang patah hati Hon...., ini obatnya sudah mommy bawa..." Ucap mommy Tara sambil tanganya menggandeng Ara dibelakangnya.
Ara mengangguk tersenyum pada daddy Hen.
Mommy Tara mencolek suaminya untuk mengikutinya. Daddy Hen langsung paham dan mengangguk.
Sebelum keluar tangannya terulur pada kepala gadis putri sahabatnya itu dan mengelusnya dengan sayang.
Denis telah menceritakan semua yang terjadi pada mommy Tara sepulang sekolah tadi.
Tapi mommy belum menceritakan pada daddy Hen, dan memilih untuk menjemput calon mantunya dan dibawa kesini.
Sepeninggal daddy dan mommy Ara mematung sesaat, memang bukan pertama kali baginya berduaan dengan Rangga dalam satu ruangan, tapi rasanya tetap beda.
Ara memperhatikan kamar yang tampak rapi dan bersih. Kamar bernuansa abu-abu dan putih yg memang ciri khas pria.
Rangga masih betah dengan lamunannya saat Ara memasukkan baju yang telah dipersiapkan disisi ranjang ke dalam koper.
Bahkan pergerakannya tak mengganggu lamunan Rangga sama sekali.
Satu koper besar telah Ara selesaikan. Sedang satu koper kecil berisi berkas-berkas yang tidak begitu Ara pahami.
" Ini dimasukkan juga tidak?" Tanya Ara bingung.
Rangga segera tersadar dari lamunanya saat suara yg selalu mengisi relung-relung nya terdengar begitu nyata.
" Lili....kamu a..ada disini?" Rangga segera menghampiri Ara yang sedang memegang berkas-berkas ditangannya.
" Iya..tante Tara yang menjemputnya Ara.."
Rangga melangkah maju. Tanganya meraih kedua tangan Ara.
" Aku janji akan menyelesaikan tugasku si Kanada dengan cepat" Ucap Rangga.
" Aku juga akan berusaha menyelesaikan masalah fitnah Jessica segera setelah kepulangan ku nanti..."
Ara hanya diam sambil mengangguk. Rangga tersenyum, sambil tanganya mengacak pucuk kepala Ara.
Rangga dengan cekatan segera menyusun semua bawaanya setelah battery dalam tubuhnya yang lowbat kini kembali fullcharge.
" Kamu ikut kebandara sayang ?" Tanya Rangga dengan tangan yang masih sibuk menjejalkan barang-barang yang sekiranya perlu dibawa.
Ara menggeleng tanpa melihat kearah Rangga sama sekali.
__ADS_1
Rangga menyandarkan dirinya pada dinding kamarnya, ditatap nya gadis yg lagi-lagi nyuekin dia ini.
Ya Tuhan..., bagaimana caraku untuk membuatnya percaya lagi padaku.
Kenapa semua ini terjadi????
Ya Tuhan...., susah payah aku berusaha mendapatkan hatinya haruskah seperti ini akhirnya.
Rangga hanya bisa menarik nafas dan menghembuskan nya pelan.
Sesak didada terasa menghimpitnya.
" Aku belum bisa membuktikannya sekarang bahwa semua yg Jessica ucapkan adalah bohong, tapi yang perlu kau tahu....seluruh hatiku, baik sekarang atau dahulu..., isinya hanya satu...itu kau Liliku..."
Ara lagi-lagi tak bereaksi apa-apa. Foto-foto Rangga bersama Jessica sungguh membuatnya terluka. Dan rasanya sulit untuk kembali seperti sedia kala.
Seumur hidupnya Ara hanya menjaga cintanya pada Aga, bahkan saat Rangga mengungkapkan cintanya saat dia belum tau bahwa mereka pria yg sama pun, Ara berusaha mengulur waktu sampai kedatangan Aga di usianya yg ke tujuh belas.
Mendapati Ara yg terus diam pun Rangga berusaha memahami.
Siapa yg tidak marah melihat kekasihnya tidur berdua dalam satu ranjang dengan wanita lain. Kalau itu dirinya pasti Rangga sudah membuat bonyok semua orang yg ditemuinya.
Tapi lihatlah Ara, marahnya sungguh elegan, hanya dengan diam saja sungguh-sungguh membuat hati Rangga kelabakan tak karuan. Diamnya menyimpan seribu rahasia.
Diamnya membuat Rangga selalu bertanya-tanya, apa Ara mau memaafkan dan lanjut ??? atau memutuskan meninggalkan dan putus???
Rangga menatap gadis yg duduk di tepi ranjang nya dengan tangan yg terampil melipat jaket nya yg tadi dia lemparkan begitu saja.
Rangga mendekatinya dan ingin menjahili gadis yg terlihat jutek itu.
" Tolong ambilkan kaos putih di dalam lemari sampingmu itu sayang.."
Ara yang belum menyadari segera membuka lemari dan mengambil kaos putih untuk Rangga.
Saat badanya berbalik Ara sangat terkejut melihat Rangga yang bertelanjang dada.
Wajahnya memerah seketika, dadanya bagai akan melompat dari tempatnya.
Gadis itu segera memalingkan muka dan memejamkan matanya sedangkan tangan gemetarnya terulur kedepan untuk menyerahkan kaos ditanganya.
Bukan menerima kaos dari Ara, Rangga justru perlahan-lahan mendekati Ara dengan berjinjit agar tidak terdengar pergerakannya. Rangga kembali mengecup pipi Ara yang sedang terpejam dan dalam hitungan detik pemuda itu segera berlari ke kamar mandi dengan tertawa.
Ara langsung terduduk lemas di sisi ranjang. Gadis itu segera menormalkan detakan hatinya yg menggila beberapa saat lalu.
Saat matanya menelusuri sudut kamar Rangga, tatapanya jatuh pada sebuah foto hitam putih dengan latar candi Prambanan. Foto yg dibingkai sangat cantik itu berada di samping nakas.
Ara meraih foto itu dan dielusnya pelan,
dimana ada dirinya kecil dan Rangga kecil yg berangkulan berdua.
Di leher keduanya tergantung liontin yg sama.
"Kenapa kita jadi seperti ini mas Aga??
Kenapa ada orang lain diantara kita, dan kenapa kau bisa bersamanya di satu tempat tidur????
__ADS_1
Hati siapa yg bisa menerima ini...
Kenapa kau tak mengatakan yg sebenarnya???, apa yg kau sembunyikan dariku"
Setetes butiran bening menetes diatas foto itu.
Rangga yg sesaat lalu keluar dari kamar mandi memejamkan matanya, melihat mata indah itu masih saja mengeluarkan air mata, membuatnya membenci dirinya sendiri.
Rangga bersimpuh di bawah lutut Ara, kepalanya terkulai lemah di pangkuan Ara.
" Aku tidak tidur denganya sayang..., aku hanya beristirahat sebentar saat mengantarkan Jessica pulang ke Bandung beberapa minggu lalu.." Rangga mulai menceritakan yg terjadi.
Kejadian yang sebenarnya memang tidak seperti yg ada difoto.
Rangga hanya beristirahat sebentar untuk merilekskan otot nya agar bisa kembali ke Jakarta dihari yg sama. Saat itu Rangga tidak mau melewatkan waktunya berkunjung ke rumah sakit menemui Ara.
Tapi kenapa fotonya jadi seperti itu???
Bahkan disana tak hanya ada Jessica, tapi bu Sasti dan beberapa saudara Jessicapun ada.
Yang membuat Rangga bingung kenapa jadi Jessica bisa tidur di samping nya??.
Semua tanya dibenak Rangga harus dicari jawabannya.
Denis dan beberapa temanya kini sedang memantau gerak-gerik Jessica. Mereka harus segera bisa menemukan bukti ketidak bersalahan Rangga dan segera memulihkan nama baiknya.
"Sudah kak, ini sudah jam berapa?, kakak harus segera ke bandara kan..." Ara menepuk-nepuk pundak Rangga.
" Aku tau kau belum bisa percaya padaku lagi, tapi aku mohon beri aku waktu, setidaknya beri aku dukungan untuk bisa tetap waras.., aku bisa gila jika kau terus mendiamkanku..." Ucap Rangga lagi-lagi hampir menangis.
Memang tidak salah kalau dahulu Ardi memberikan julukan padanya dengan nama Si Aga Cengeng, karena memang benar, dibalik sifat tegas dan cool nya tersimpan hati yang lunak dan lembut.
Ara memberanikan diri menyentuh rambut panjang Rangga. Saat tangan itu dengan pelan menyusup ke dalam rambutnya, Rangga memejamkan matanya. Dahulu Lili juga selalu mengelus rambutnya saat mereka tidur berempat di depan ruang TV rumah kakek Al Ghifari. Dan tentu saja membuat Ardi meradang, tapi dengan sabar bang Adnan menengahi pertengkaran mereka. Rangga segera menahan tangan Ara yg sepertinya akan segera lepas dari kepalanya untuk tetap seperti itu.
Rangga membawa kembali tangan itu pada kepalanya.
" Ada om dan tante kak..." Ucap Ara kikuk.
Posisi mereka sungguh membuat Ara malu pada calon mertuanya yg kini berada di belakang Rangga yg justru enggan berdiri.
" Son...sudah jam berapa ini..., ayo berangkat..." Ucap daddy Hen.
Rangga menggelengkan kepalanya yang masih diatas pangkuan Ara.
" Ayo, ini demi cita-cita mu, urusan disini biar orang-orang daddy yang tangani..." Daddy Hen menepuk pundak putranya itu.
Daddy Hen geram dengan apa yg telah menimpa putranya.
Ada rasa takut yg luar biasa saat harus membayangkan hubungan baik Syakieb dan dirinya akan hancur dengan tersebarnya kabar yg belum jelas kebenarannya ini.
Bersambung....
Visual Rangga ketuaan ya...
Ampun deh🙏🏼🙏🏼🙏🏼..., habis cari gondrong yg mudaan susah🤪🤪
__ADS_1