Childhood Love Story

Childhood Love Story
Bahagia???


__ADS_3

POV Ara


Pagi ini rasa jantungku berdetak tak tentu arah. Aku tahu kak Rangga telah kembali pagi ini, tak sengaja aku mendengarnya saat Hana dan kak Adnan berbicara.


Bagaimana aku harus menghadapi nya?.


Aku sangat malu dan putus asa, apa kak Rangga masih mau menerimaku, menerima gadis yg tak bisa menjaga kehormatanya sepertiku??.


Saat sidang siswa berlangsung, mata-mata yg memandang jijik padaku kemarin berubah menjadi mata yang kagum. Saat mereka tahu bahwa Ardiansyah Syakieb Al Ghifari adalah saudara kembarku, beberapa diantara dari mereka terang-terangan berusaha mendekatiku.


Tapi aku adalah Ara, orang yang tak mudah percaya.


Kulihat mata brothy Marvel yg menatap tajam satu persatu anak yg membullyku kemarin, perasaan ku menjadi kacau, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi.


Aku sangat mengenal karakternya, dia dingin, keras dan tak tersentuh. Tapi dia satu-satunya yang selalu melindungiku dengan baik, bahkan saat bang Adnan dan Ardi tak mampu.


Sebenarnya sangat berat bagiku mengabaikan perasaanya selama ini, aku bukan gadis bodoh yang tak tau arti tatapan lawan jenis padaku, aku juga tak bodoh untuk bisa mengartikan perhatiannya selama ini.


Tapi dalam hatiku, tertulis satu nama yang tak bisa satu orangpun bisa menghapusnya dari sana. Ya, dia adalah mas Aga.


Mungkin sepuluh tahun yang lalu hanya nama Aga yang aku tahu, hingga beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya lagi.


Pemuda yang selalu menatapku diam-diam, pemuda yang melamar ku walau baru beberapa minggu kami kenal, ternyata adalah pria kecilku dulu.


Rangga Bayu Wijaya, nama yang kini terbingkai indah dihatiku.


Dia satu-satunya yang bisa menggetarkan hatiku, satu-satunya yang bisa membuat detak dalam jantungku. Dia mas Agaku.


Saat melihatnya berdiri di teras rumahku, aku merasa dejavu. Dahulu juga seperti ini, dia selalu menungguku, menunggu kedatanganku, sama..., seperti sekarang.


Saat melihatnya hatiku merasa kacau, aku takut, takut dia membenciku, takut dia akan meninggalkan aku.


Mulutku terasa kelu, saat kak Rangga diam saja sambil mengemudi, sungguh aku takut.


Saat tiba-tiba dia menghentikan laju mobil kami, jantungku terasa akan keluar.


Dia memelukku, kak Rangga menangis dan minta maaf padaku.


Ya Allah, demi Allah aku bersyukur, dia masih mencintaku aku yakin itu.


Sesampai di pantai kami mendinginkan fikiran. Aku bersandar di punggungnya yg lebar, rasanya nyaman, membuatku tenang.


" Aku akan segera menikahimu...apa kau setuju"


Suaranya sungguh mengagetkan ku, aku segera berbalik menatapnya.


Bahkan kak Rangga berniat membawaku serta bersamanya saat kuliah di Boston kelak.


Dan aku menyanggupinya, bagiku tunduk pada suami adalah utamanya tugas istri.


Sudah..., keputusan ku sudah final, aku ingin mengikuti kemanapun kak Rangga pergi.


Jantungku terpompa sangat dasyat saat tangan hangat menyentuh dadaku, otakku terasa kosong seketika. Tanganku bergerak sendiri tanpa aba-aba.


Plak!!!


Tepisan keras mendarat pada tangan kak Rangga yang ku tahu tanpa sengaja menyentuhnya.


Dari wajahnya bisa kulihat penyesalan yg luar biasa.


Aku sedih, akankah ini selamanya?. Ketakutan ini tidakkah akan memperburuk hubunganku kami selanjutnya.


Kukuatan hatiku untuk bisa menghapus bayangan Lenox dari mindset ku, aku harus keluar dari ketakutan ku ini, demi mas Agaku.


Mas Aga...


Dia pria yang sama, selalu bilang kangen.


Bahkan dahulu dia selalu mengatakan ditelfon saat kami sudah berpisah lama.


" Kau lebih seksi dan selalu membuatku ingin, ingin, dan ingin...."


Bisiknya pada telingaku membuat wajahku terasa panas, sekujur tubuhku merinding.

__ADS_1


Aku sangat tahu apa maksudnya, bukan sekali dua kali kak Rangga menunjukkan nya.


Aku mukulinya demi menyembunyikan rasa maluku, tapi justru yang terjadi lebih memalukan. Aku berada diatas tubuhnya kini.


Demi apapun, rasanya sungguh tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.


Gila!!!!, ini gila!!!, jantungku serasa akan lepas dari tempatnya.


Aku hanya bisa terpaku menatap wajah tampanya yang berada di bawahku.


Bahkan aku tau apa yg ditatap oleh matanya itu.


Enggan...


Rasanya enggan untuk melepaskan posisi ini.


Nyaman...


Rasanya sangat nyaman, dada kak Rangga sungguh nyaman.


"Boleh kakak minta ini..." Katanya sambil menunjuk bibirku.


Degh!!!!, Degh!!!


Tuh kan! Tuh kan! Yang kupikir juga apa.


Dari tadi aku sangat tahu kemana tatapannya.


Aku juga ingin...sumpah!!!


Aku juga ingin merasakan nya.


Bahkan beberapa hari lalu aku memergoki bang Adnan dan Hana melakukan nya di dapur.


Sudut hatiku berkata boleh, tapi akal sehatku melarang. Perasaanku menginginkannya tapi kewarasanku berkata jangan.


Dengan segenap kekuatan yang tersisa aku segera menarik diriku dari tubuhnya, ini tidak bisa dibiarkan seperti ini.


Aku harus bersabar, sebentar lagi.


Dan kuharap kak Rangga pun bisa bersabar.


Tapi saat melihat wajah sedihnya, aku merasa tak tega.


Bagaimana ini?.


Kalau kak Rangga marah bagaimana??


Aku bingung harus berbuat apa, dia terlihat tersiksa.


Kak Rangga memejamkan matanya sangat lama.


Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yg sedang difikirkan nya??.


*****************************************


"Kak...." Panggil Ara setelah sekian lama mereka terdiam dengan fikiran masing-masing.


" Hemmmm" Rangga menoleh pada Ara, posisinya masih berbaring di pasir, dengan kedua tangan terlipat menumpu kepalanya sebagai bantal.


" Sudah sore, kita pulang?"


" Tidak, aku ingin membawamu pergi..."


" Kemana??"


" Ke......." Rangga menghentikan ucapanya.


" Kemana?" Tanya Ara lagi.


Rangga menarik tangan Ara dengan cepat, membuat Ara oleng dan terjerembab.


Rangga segera mengunci Ara dibawahnya.

__ADS_1


" Apa yang kakak lakukan?" Tanya Ara lirih.


" Setidaknya ini boleh kan?" Tanyanya dengan menunjuk pipinya.


Tapi belum juga Ara menjawab.


Cup. Cup. Cup


Dengan gemas Rangga menciumi pipi Ara.


Sudahlah, Rangga tetap Rangga, yang selalu mesum setiap berdekatan dengan Ara.


Matahari semakin bergerak barat, mereka memutuskan untuk segera pulang.


Dengan hati yang ringan seringan kapas Rangga membawa mobil dengan suasana hati yg bahagia.


Dia sudah merencanakan untuk segera menumui daddy Hen, dan memintanya segera melamarkan Ara untuknya.


Senyum terus terbit dari bibirnya yang merah, membuat Ara berulangkali menoleh padanya dengan heran.


" Kenapa sih, senyum terus dari tadi..." Tanya Ara akhirnya.


" Rahasia lah..." Jawab Rangga dengan menyunggingkan bibirnya sangat manis.


" Ih...gitu ya, main rahasia-rahasiaan, okelah kalo gitu.." Ucap Ara sambil bersedekap dan membuang pandangannya ke jendela mobil.


" Sayang bukan rahasia sih..., sayang liat sini, sayang liat kakak..." Rangga meraih dagu Ara dengan sebelah tanganya sedangkan tangan satunya tetap fokus pada kemudi.


Ara tetap tak bergeming, justru tubuhnya beringsut mepet pada pintu agar Rangga tak dapat menggapainya.


Citt..


Rangga menghentikan mobilnya.


Tangannya meraih tubuh Ara dan menariknya dengan cepat.


" Jangan begini sayang..., kakak bahagia, sebentar lagi kakak jadi suamimu, kakak senyum terus karena bahagia, sumpah!!!"


Ucap Rangga dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.


"Kakak tidak tau harus berekspresi seperti apa saat ini, tapi entah kenapa rasanya bibir ini ingin terus tersenyum..." Ucap Rangga lagi.


"Oh..." Jawab Ara cuek dengan sedikit mengangguk.


"Oh????, hanya oh???" Tanya Rangga dengan alis berkerut.


" Terus???" Tanya Ara sambil mengulum senyumnya, matanya intens menatap mata Rangga.


Cup.


Dengan cepat Ara mengecup pipi Rangga.


Jantung Rangga terasa berhenti berdetak saat itu juga, nafasnya tersengal seketika.


Pemuda itu membelalakan matanya tak percaya. Di elusnya pipinya. Senyum terbit dari bibirnya


Ya Tuhan ingin rasanya Rangga menari-nari saat ini juga.


Wajahnya yg merah membuatnya terlihat imut, sikapnya yang malu-malu membuat Ara gemas.


Lihatlah, kini senyumnya semakin cerah.


Senyum cerahnya sungguh menyilaukan Ara.


Ara menggelengkan kepalanya gemas. Ara menjulurkan tanganya, membelai rambut gondrong Rangga dengan lembut.


Pecah!!!


Pecah sudah!!, bahagia tiadatara kini dirasakan oleh Rangga.


Dengan masih ditemani sentumnya yg mengembang, Rangga menjalankan lagi lagu mobilnya.


Sumpah, Rangga merasakan bibirnya kelu tak bisa berkata-kata, hanya senyuman yg bisa tersungging dari bibir itu.

__ADS_1


Ara yang malu karena telah melakukan hal yg tidak disangka-sangkanya itu, ikut tersenyum melihat tingkah Rangga.


" Ya ampun, manis sekali kamu kak..." Gumamnya dan masih dapat di dengar oleh Rangga.


__ADS_2