Childhood Love Story

Childhood Love Story
POV ARA


__ADS_3

POV ARA


Sedari pagi hatiku tidak berhenti bergemuruh. Saat Vera menunjukkan chat darinya di group, bahwa dia bersiap berangkat ke Jakarta dengan menunjukkan foto suasana bandara Massachusetts yang ramai.


Terus terang aku rindu padanya. Rindu yang sungguh membuatku sesak. Rindu yang mencekikku hingga rasanya seolah mau mati.


Apa kau tahu?....aku mengalami kenaikan asam lambung tiga hari ini.


Dan apa kau tau apa sebabnya?. Tentu saja karena mendengar kepulangannya.


Ahhh...ya Allah bagaimana ini?


Aku benar-benar takut.


Aku tak tahu harus bagaimana?.


Apa dia akan memutuskan untuk meninggalkan aku. Karena aku tidak memperdulikannya selama ini.


Semua ini salahku...


Aku yang terlalu menuruti emosiku..


Aku yang tidak dewasa.


Mungkin benar kata papa, kakak tidak datang pasti ada alasannya.


Tapi sayangnya aku tidak mau memberikan kesempatan untuknya menjelaskan. Hatiku terlalu sakit menanggung ini semua di usiaku ini.


Aku sebenarnya diam-diam mencari tahu kabarnya dari kenalan Chandra yang kuliah di sana. Dan beberapa kali teman Candra bahkan mengirimkan foto kakak padaku.


Melihatnya terlihat sehat dan baik-baik saja sudah cukup membuatku tenang.


Tapi..


Tetap saja aku tidak bisa tenang untuk hari ini, entah kenapa aku didera rasa gugup yang hebat.


" Beb, gue yang antar ke Birdman cafe atau gimana?"


Pertanyaan bang Ardi benar-benar membuatku terkejut.


Ini nyata, hari ini telah tiba. Dia pulang...


Dia datang...


Ya Allah..., aku harus bagaimana?


Lenox!!


Ya..., aku harus membawanya. Mungkin dengan keberadaan Lenox, aku bisa lebih rileks. Ya..., Lenox!!. Lenox adalah solusinya. Alhamdulillah.


" Apa dia datang?"


Lagi, pertanyaan bang Ardi membuatku terserang demam tiba-tiba. Entahlah..


Yang jelas setelah gagalnya pesta pernikahan kami, kami seluruh keluarga tidak ada lagi yang menyebut namanya.


Kami semua hanya menyebutnya 'dia'.


Sesungguhnya aku takut.


Aku tidak mau semua seperti ini.


Aku tidak mau kehilangan dia, lagi...


Tapi...


Semenjak hari itu dia tidak lagi menghubungiku, dan aku paham. Karena aku yang memintanya.


Aku hanya ingin mengurangi dosa, karena komunikasi kita selalu berakhir buruk setelah kejadian memalukan keluarga kami.


Aku yang terlalu menumpuk kemarahan!!, dan dia yang tidak tahu diri!!.


Ya Allah kenapa keadaan kami jadi seperti ini....


" Jadi??, gimana??"


Ya Allah bang Ardi.....


Kenapa kau tanya padaku gimana?


Akupun tak tahu ini akan jadi gimana?


Aku hanya bisa menunggu keputusan darinya.


Ya Allah, jikalau bisa rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya. Agar sesak ini pergi..


Ya Allah, jikalau bisa rasanya aku ingin berteriak sepuas-puasnya. Agar terlepas semua beban yang menikam hati ini hilang...


" Tapi kalian masih suami istri..."


Suami istri????


Apakah kami masih suami istri.


Terakhir kami berkomunikasi itu dua tahun lalu.


Saat mommy harus masuk ke rumah sakit karena terlalu overthinking.


Dan mau tidak mau aku harus mengabari nya. Tapi...


Dengan alasan yang bagiku ada-ada saja dia tetap tidak pulang juga.


Rangga Bayu Wijaya telah hilang..


Berubah menjadi robot beku yang hanya tau membaca, belajar dan bereksperimen.


Hatinya beku, perasaannya beku, dan rasa cintanya pun mati.


Tidak ada daddy dan mommy disana, apalagi aku???


Suami istri???


Apakah kami masih suami istri??


Entahlah...akupun tidak tahu.

__ADS_1


" Araaaa"


Itu suara Natasya..


Ya Allah lihatlah sahabat ku itu...


Dia masih sama, cetar membahana badai...hi..hi..hi..


Ya Allah...


Kangen masa putih abu..


Dimana ada dia yang....akhhh...sudahlah itu masa lalu.


Lihatlah, mereka berdua menangis. Natashaku yang terlihat selalu kuat itu terlihat rapuh.


Dan Veraku..


Young mommy yang luar biasa..


Sahabat-sahabatku...


Love you all..


Rasanya sesak mengingat bagaimana perjalanan hidup kak Vino dan Vera diawal mereka memutuskan berumah tangga.


Bertahun-tahun di buang dari keluarga Ramdani Malik, Dan Alhamdulillah..


Setelah lahirnya Saga Vino Malik semua berubah. Hati papa kak Vino terketuk oleh kelucuan Saga, balita imut yang gantenya mirip papanya ha..ha ha..dan bahkan akupun jatuh cinta denganya..hi..hi..hi.


Jatuh cinta dengan Saga!!!, bukan Vino.


Lenox menepuk pundakku, dan kamipun masuk ke Bridman Cafe beriringan.


Wah kak Rayyan Athaya telah duduk disana ternyata.


Satu-satunya yang waras di antara kami berdelapan.


Satu-satunya yang kalem dan tenang.


Satu-satunya yang tidak bermasalah???


Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, bagaimana kami melanjutkan hidup kami masing-masing sampai pada masa ini.


Penuh suka duka yang telah terlewati. Semua telah ditakdirkan, semua telah dituliskan, kita tinggal menjalankan.


Bahkan ditambah lagi dengan kedatangan kak Denis. Yang ternyata juga ikut menceritakan masalahnya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Natasya dan kak Denis. Kenapa hubungan mereka menjadi seperti itu. Dulu aku fikir kami akan menjadi couplean yang heboh, karena pasangan kami dari genk kami sendiri.


Tapi nyatanya...


Hidup ya seperti ini, masalah datang silih berganti.


Maunya sih ya..santai-santai saja. Leha-leha saja, tapi hidup tanpa masalah jelas hidup yang kaku dan nggak seru!!, memangnya ada yang mau seperti itu??.


" Assalamu'alaikum.."


Deghh!!!


Suara itu....


Ya Allah.....


Sumpah!, Sumpah!, Sumpah!


Aku mau pingsan rasanya....


Aku perlu pasokan udara ke paru-paru.


Tolong!!!!, Lenox kamu kemana sih?. Cepat tolong aku.


Sembunyikan aku dari mata itu ya Tuhan.


Mata yang selalu menatap ku dengan cinta ini masih sama..


Senyum yang selalu meneduhkan ku ini juga masih sama..


Tapi hatinya???. Masihkah sama???


" Kak..apa kabar?"


Suara Natasya akhirnya memutuskan tatapan mengerikan kak Rangga padaku. Tak tau lagilah. Aku pusing dan stress dadaku sesak ingin menangis.


Atmosphere di cafe ini kenapa tiba-tiba berat begini.


" Sa..emmm, Li apa kabar?"


Hahh!!!, dia memanggilku apa???


Li??? Lili...


Ya Tuhan dia benar-benar marah..


Dia tidak mau lagi menyebutkan sayang...


Fix ini!!, udah jelas ini!!. Aku di buang....


" Alhamdulillah.." Jawaban itu yang terlintas. Jawaban klasik beribu makna.


Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Semua isi otakku rontok kemana?, aku tak tahu.


Lihatlah dia, tubuhnya semakin tinggi dan kokoh dari sebelumnya.


Dan lihatlah wajahnya, dia lebih tampan dari sebelumnya.


Ya Allah, inikah suamiku?


Inikah pemuda yang mengucapkan ijab qobulnya untukku lima tahun lalu...


Inikah wujud mas Agaku....


Tampan..., dia sungguh tampan.. Bahkan kurasa aku jatuh cinta lagi padanya.


Tapi bagaimana denganya?

__ADS_1


Akkhhhh....jangan...


Jangan sampai dia punya yang lain disana!!!


Akkhhhh...aku bisa mati jika itu terjadi.


" Mommy..., men..men..."


Saga!!!. Alhamdulillah...


Akhirnya datang juga, mereka bisa membantuku membuang sesakku ini.


Dengan begini jantungku tidak terus berdetak seakan ingin merontokkan semua organ dalam tubuhku.


Dia terus menatapku, aku tahu..


Tapi kenapa tatapanya seperti itu?


Dia marah?


Apa dia tidak suka aku bersama Lenox?, tapi bukanlah kata mereka dia sendiri yang menitipkan aku pada Lenox.


Dan aku harus bagaimana?


Saat kak Denis berangkat ke Australia, kak Rayya harus fokus dengan kuliah dan pekerjaannya, dan kak Vino juga harus kerja di kantor, kuliah dan memastikan keluarga kecilnya bahagia, saat itu yang ada hanya Lenox. Kita tahu sendiri bagaimana keadaan Ardi saat itu, mengenaliku saja dia tidak.


" Lili bisa kita bicara?"


Hahh!!


Kalut, saat ini aku tidak mampu berfikir apa-apa lagi.


Sudahlah... Mungkin ini sudah saatnya. Semua memberikan dukungannya, dan baiklah mari kita coba bicara.


Sebenarnya aku ingin sekali melompat memeluknya, memeluk pria yang berdiri di depanku ini. Tak taukah kamu kak...aku kangen...


Benar-benar kangen berat..


" Say....emmm, apa kabar mu say..emmm Lili?"


Kenapa harus ragu-ragu kau memanggilku sayang kak?


Ataukah kau sudah tidak sayang lagi??


Huh sudahlah rasanya aku bisa gila!!!


Saat kau lagi-lagi bertanya kabarku saja rasanya aku pengen tonjok wajah itu.


Lagi dan lagi kau terus ragu-ragu memanggilku sayang. Sumpah itu membuatku emosi!!.


Dan lagi apa?, kau bertanya apa aku bersama Lenox.


Ya jelas!!, kan kamu yang amanahin Lenox untuk menjagaku. Gimana sihh???


Trus tampangmu sok menyedihkan itu apa kak???


Kau bertingkah seolah-olah aku terdakwa yang harus kau adili. Dan kau korbanya??


Kenapa kak? Kenapa wajahmu seperti itu??. Aku tak sanggup lagi melihatmu begitu. Aku harus pergi.


" Sayang .. Sayang..hu..hu...hu..."


APA????


Dia menangis???


Tidak..., ya Allah ampunilah aku...


Astaghfirullahalazim...suamiku menangis karena aku..


Tidak ini tidak boleh..aku harus pergi...


Maafkan aku kakak...


Maaf.....


Tapi sakit hatiku belum hilang...


Rasa sesakku belum sepenuhnya lega..


Beri aku sedikit waktu lagi pleaseee...


" Sayang...." panggilnya lagi.


Sumpah aku ingin berbalik dan memelukmu kak...sumpah..


Tapi aku malu jika kau tidak memulainya dulu.


" Kau..., hatimu terbuat dari apa?, kenapa begitu keras padaku sayang?"


Apaaaa?


Tidak sadarkah kau kak!!


Aku begini karena kau!!!


Hatiku beku karena kau..


Dan dengan mudahnya kau bertanya.


Baiklah jika kau ingin jawabanku yang sesungguhnya.


"Aku hanya membalas apa yang telah kau lakukan padaku..."


Entah bagaimana bisa meluncur kata-kata seperti itu dalam mulutku.


Dan aku Jelas!! Sah..dan Nyata...


Aku menyesalinya....aku menyesal..


Maafkan aku...kakak....


Maafkan aku...cintaku....


Sayangku......

__ADS_1


__ADS_2