
Tiga bulan sudah Ara cuti, hari ini adalah hari pertamanya masuk Koas kembali.
Ntah kenapa Ara kembali insecure untuk bertemu dengan rekan-rekanya.
Ara terus bersembunyi di belakang tubuh Rangga yang juga akan langsung ke kantor, karena hari ini tidak ada jadwal mengajar.
" Lili malu Bi..." Bisik Ara.
" Malu apa sih yang...., kamu itu keren!!" Rangga mengelus jilbab Ara dan mengecup keningnya.
" Aku tambah gemukan kan Bi?, ih...nggak seru nih penampilan Lili..." Ara kembali merengek.
" Dih sayang... Kenapa sih mikirin penampilan, memangnya siapa yang mau kamu rayu hemmm?" Rangga melotot tajam.
" Lenox??" Tebak Rangga dengan wajah mengeras.
" Dih!!!, enggak ya.... !!" Sahut Ara.
" Terus?? Kenapa sampai merengek begitu?" Rangga menatap Ara jengkel, takut-takut istrinya ada naksir dokter barangkali.
Kok heboh banget dengan penampilannya sedari pagi.
Kesel dong Rangga, dianya cinta sampai mati, istrinya malah mempercantik diri demi orang lain, fikirnya.
" Lili tuh hari ini stase anak Bi, biasanya kan mereka suka yang cantik kaya princess, nah Lili udah ndut ini loh..." Bisik Ara.
" Nggak ada sayang, nggak ndut kok. Tepatnya lebih bohay dan seksehhh.." Balas bisik Rangga menggigit telinga Ara yang tertutup jilbab nya.
" Mulai deh!!" Ara menabok lengan Rangga geram.
" Hai, dokter Ara. Welcome back...., bagaimana kabar twins..." Sapa beberapa dokter yang kebetulan bertemu di koridor.
" Ahh, iya Alhamdulillah mereka sehat.." Jawab Ara ramah.
" Ara!!" Seru Lenox dari jauh.
" Husst...berisik ini di rumah sakit!!" Seru Rangga dengan suara tertahan.
"Akhirnya...." Ucap Lenox dengan mengusap dadanya.
Rangga menatapnya dengan penuh pertanyaan.
" Akhirnya apa?" Tanya Rangga.
Lenox nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya akhirnya gue semangat lag..., upss!!!" Lenox menepuk bibirnya berulang kali.
Rangga melotot dan mengayunkan tanganya menuju telinga Lenox.
" Eitss...nggak lah!!, nggak swear....." Lenox menundukkan tubuhnya dan menunjukkan dua jarinya tanda promise.
" Gue bercanda kali kak....weekkk.." Lenox menjulurkan lidahnya tiap kali memanggil Rangga kak.
Tawa Rangga dan yang lainya pecah melihat tingkah Lenox hari ini.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah Kantor Berita ternama di Jakarta.
Rayya sedang asyik dengan pekerjaannya saat ponsel di sakunya berdering.
My Hanum😘
Kak, Hanum udah dibawah...
Me.
Langsung ke ruangan publikasi saja Num...
My Hanum😘
Nggak papa ya?, ngganggu kakak kerja nggak?
Me.
Nggak..sayang, udah selesai juga kok
Hanum tersenyum membaca chatingan Rayya yang terakhir.
Sayang?
Kak Rayya ini ada-ada saja
Rayya mengulum senyumnya, walau acara pernikahannya dengan Sekar tidak bisa digagalkan.
Tapi Rayya justru memilih untuk menikahi Hanum terlebih dahulu. Sebenarnya ini adalah ide Denis tepatnya.
Dengan harapan Sekar akan kecewa dan dia sendiri yang akan membatalkanya. Tanpa harus repot-repot mengotori nama baik keluarga.
Bagi Rayya Hanum adalah prioritas, harus tetap yang nomor satu. Entah bagaimana nanti jadinya.
Rayya begitu bersyukur, ayah dan bundanya mau menerima Hanum dengan baik.
Bagaimana Hanum bersikap kepada orang yang lebih tua, mencerminkan didikan moral yang baik dari kedua prang tuanya.
Apalagi setelah ayah dan bunda mengetahui siapa orang tua Hanum.
Mereka bahkan menyetujui rencana putranya untuk menikahi Hanum terlebih dahulu secara sederhana, apalagi minggu depan, abi dan ummi Hanum sudah harus berangkat ke Madinah untuk jangka waktu yang lama.
Rayya terpaku menatap gadis sholehah yang memasuki ruangan tempat kerjanya. Cantik, akhlaknya bagus, sopan santun, lembut setiap kali bertutur kata.
Hanum memiliki wajah yang teduh dan menenangkan, rasa penat dan capek yang dirasakan Rayya dari pagi sampai siang ini sirna seketika saat wajah dengan senyum indah itu muncul dan berdiri dihadapanya saat ini.
" Assalamualaikum kak " Sapa Hanum santun.
" Hem, Waalaikumsalam Num duduklah..." Rayya tergagap sesaat.
Beberapa teman diruangan menoleh ke arah Rayya. Rayya ini pribadi ya ramah kepada siapa saja, tapi Rayya sangat pandai menjaga pergaulannya dengan perempuan.
" Wehhh, siapa nih pak Rayya?" Tanya seorang rekan kerjanya yang kebetulan melewati kubikel Rayya.
" Dia?, oh kenalkan..dia Hanum. Hanum Rafika Aliya calon istri saya..." Ucap Rayya tegas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rayya, rekan-rekanya menoleh kearahnya. Memang diruangan ini hanya Rayya seorang yang masih single.
" Alhamdulillah, akhirnya mas Rayya sold out juga, kirain mas Rayya nungguin Lutinta Lona habis dioperasi ha...ha..ha.." Seloroh rekan Rayya.
" Iya nih, malahan gue sempet fiktor sama lo Ray, gue kirain selera lo hombrengan...ha..ha...sorry Rayy...."
" Iya soale dari jadi anak magang sampai jadi karyawan tetap nggak pernah terlihat deket sama cewek sih..."
" Rupanya dia menyembunyikan permata indah, memang hebat lo Rayy, salut gue sama lo..."
Hanum menutup mulutnya yang terseyum. Pipinya memerah karena tersipu malu.
Begitupun Rayya, pemuda itu menunduk dan mengusap wajahnya, berusaha mendinginkan rasa panas diwajahnya.
" Berangkat sekarang?" Tanya Hanum.
" Ahh..iya. Ini juga sudah selesai."
Rayya merapikan tempat kerjanya yang memang sudah rapi.
" Guy's gue ijin pulang cepat, pak Rohman udah gue kabarin. Kerjaan gue juga udah beres..." Pamit Rayya pada rekan-rekanya.
" Okay...boskuh. Selamat bersenang-senang boskuh..."
" Gas keun Rayy...."
Rayya tersenyum dan melambaikan tanganya kepada rekan-rekanya.
Tanganya yang kanan perlahan meraih jemari Hanum untuk digenggamannya.
" Ummi dan Abi sudah bersiap, mereka langsung ke KUA sepulang dari kedutaan.." Ucap Hanum saat mereka sudah berada di mobil.
" Kamu nggak apa-apa kita menikah cuma kayak gini..." Rayya mengusap pucuk kepala Hanum pelan.
" Nggak papa, asalkan sah dimata hukum dan agama.." Balas Hanum.
" Tapi..." Rayya menatap kedepan tanpa berbicara apa-apa lagi.
Ini tidak adil bagi Hanum. Karena seminggu lagi pernikahannya dengan Sekar akan dilangsungkan secara besar-besaran di salah satu hotel di Bandung.
" Sudahlah kak..., jangan banyak berfikir. Kita serahkan kepada Allah saja bagaimana akhirnya" Hanum menepuk lengan Rayya pelan.
" Tapi Num, kakak merasa tid---"
" Jangan merasakan yang seharusnya tidak kakak rasakan..., Hanum nggak papa. Hanum sudah sangat bersyukur kita bisa bersama..."
" Tapi Num, kakak menyesal karena tidak pernah ada cerita indah diantara kita sebelum ini..." Rayya mempererat genggaman tangannya.
" Kak...Kalau cerita hidup kita selalu indah, Hati ini tidak akan kenal dengan yang namanya sabar dan iklas. Dan lagi kak kalau setiap yang kita inginkan maunya dikabulkan, Kita tak pernah tau indahnya mendekati Allah bersama jutaan do'a dan harapan..." Hanum memberanikan diri mengecup jemari Rayya.
Tiga hari lalu keluarga Rayya sudah datang berkunjung untuk malamar putrinya. Tapi karena bertabrakan dengan kesibukan abi dan ummi Hanum yang harus berangkat Madinah. Maka pernikahan dipercepat sebelum hari itu.
Tidak masalah hanya dicatatan sipil terlebih dahulu.
Apalagi Rayya yang juga telah menceritakan dengan jujur keadanya saat ini.
Abi dan ummi hanya bisa menghormati keputusan Hanum, karena mereka telah melakukan kesalahan diawal.
__ADS_1
Yang mengakibatkan kehidupan pernikahan putrinya terdahulu harus gagal di usia yang baru seumur jagung.
Hingga saat Hanum mengutarakan keinginan menikah dengan Rayya, Satu-satunya pria yang hadir dalam hatinya, merekapun menyetujui niat baik putrinya itu.