
Raya membuka matanya saat merasakan beban berat pada dada dan perutnya.
Bibirnya tersenyum manis saat mendapati kepala Hanum begitu nyaman berbantal pada dada bidangnya, sementara tangan halus istrinya melingkar di atas perutnya.
Rayya memejamkan matanya, mensyukuri rasa bahagia yang tiada tara.
Kesabarannya selama ini berbuah manis. Memang benar bahwa Allah akan memberikan jauh dari yang kita minta asalkan kita selalu memintanya dengan sabar.
Sampai saat ini dia tak habis fikir dengan penyatuan semalam.
Mendapati panas dingin dan begitu bergetarnya tubuh Hanum saat dia menyentunya semalam, Raya jelas sangat yakin bahwa dirinya lah yang pertama menjamah tubuh istrinya itu.
Dan lagi saat dia menerobosnya untuk yang pertama kali, sangat jelas Hanum meringis kesakitan, bahkan masih dipertegas dengan bercak darah di sprei.
Apa ini?, bukankah Hanum janda?
Lalu?
Apa yang terjadi dengan pernikahan mereka?
"Emmmm..." Lenguh Hanum.
" Sshhh..sshhh, bobok lah sayang...." Bisik Rayya dengan terus mengelus rambut panjang dan wangi Hanum.
" Kak...." Suara serak khas bangun tidur Hanum begitu seksi ditelinga Rayya.
" Hemmmm, ya sayang..." Sahut Rayya dengan mengecup kening Hanum.
" Udah jam berapa nih?" Hanum mencoba untuk mengangkat tubuhnya.
" Ssshhhh awwww..." Desisnya, wajahnya meringis menahan pedih dibagian bawahnya.
" Sakit sayang...?,maafkan kakak. Kakak tidak bisa menahan diri semalam, karena kau begitu hot jeletot....". Bisik Rayya sensual dengan senyum manisnya, digigitnya bibir bawahnya gemas.
Hanum semakin tersipu dan mendusel di bawah ketiak Rayya.
" Masih jam tiga pagi. Sini sayangku.., kelonan lagi aja.... Maaf ya, pasti sangat sakit itunya...." Lanjutnya lagi dengan kembali menarik Hanum dalam dekapannya.
" Nggak papa, nggak sakit..." Hanum berusaha tersenyum, tapi jelas Raya tahu istrinya hanya mencoba membuatnya agar tidak khawatir.
Rayya terdiam sesaat, tapi rasa penasarannya sudah tidak bisa ditahannya.
" Num, bagaimana ini bisa. Maksudku, bagaimana jadi aku yang pertama bagimu dan sebaliknya begini?" Rayya mengecup pucuk kepala Hanum begitu dalam dan sepenuh hatinya.
Bukan perkara gadis atau jandanya.
Masalahnya Rayya tak habis fikir dengan ini semua, bagaimana ini bisa begini?.
Rayya dari awal tak mempedulikan status Hanum, asal bersama Hanum saja cukup baginya. Dan jika ternyata Hanum masih gadis itu berarti hadiah dari Tuhan untuknya.
" Hanum ditalak akhi Fahri sesaat setelah ijab qobul" Ucap Hanum masih dalam pelukan Rayya.
" Hahhh??" Rayya menganga tak percaya.
" Coba kakak lihat kedua telinga Hanum" Hanum menyingkap rambutnya kebelakang telinganya.
" Apa yang kakak lihat?" Tanya Hanum selanjutnya.
Rayya mengamati kedua telinga Hanum dengan seksama, tidak ada apa-apa. Sama saja seperti telinga pada umumnya.
" Nggak ada apa-apa, apa memangnya?" Tanya Rayya dengan menggendikkan bahunya.
" Bukankah ujungnya runcing keatas?" Sahut Hanum.
Rayya langsung menatap pada ujung telinga Hanum, dan memang agak runcing sih, tapi wajar.
" Iya sih, terus kenapa?" Tanya Rayya bingung.
" Telinga Hanum seperti telinga setan kata akhi Fahri..." Ucap Hanum sedih.
" Hahh apa sih!!!..ha..ha..ha.ada-ada saja..."
Rayya tak mampu menahan rasa gelinya mendengar alasan yang aneh ini.
" Trus karena kupingmu runcing kamu ditalak?" Tanya Rayya masih dengan tertawa.
" Ya enggak itu saja, katanya dadaku keci----akkhhh" Hanum terkejut saat tiba-tiba Rayya menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.
__ADS_1
Rayya menatap dada Hanum, sementara Hanum menutupinya dengan kedua tanganya yang menyilang.
" Nggak terlalu kecil sih, pas lah digenggaman.., memangnya dia pernah lihat?" Tanya Rayya dengan nada cemburu luar biasa.
" Enggak sih, mungkin dia mengira-ngira..." Jawab Hanum lagi.
Rayya mengangguk, dan terlihat sedang berfikir. Tapi selanjutnya terdengar helaan nafas berat darinya.
" Hahh, sudahlah sayang. Biarkan sajalah, dari kebodohannya aku yang beruntung..., Alhamdulilah akhirnya kamu menjadi Hanumku, utuh untukku..." Rayya mulai mengecupi leher Hanum.
" Masih ada waktu sebelum subuh..." Bisiknya dengan mata yang sudah mulai berkabut gairah.
(🍀)
...***...
Hari Minggu pagi, adalah hari yang membahagiakan bagi Rangga. Hari dimana dia full menyurus kedua putra- putrinya. Mulai dari memandikan dan menyuapi mereka makan.
Sementara Ara memasak, mencuci baju dan membereskan rumah.
" Nah..., Merra sudah wangi...." Ucap Rangga sambil mengecup rambut Meera yang habis dikeramasnya. Sedangkan si Almeer sudah rapi dan santuy di atas baby bouncernya, di temani Shadow kucing Lenox yang diberikan untuk Almeer.
Ting..tong
Bunyi bel pintu mengagetkan penghuni rumah, Ara melongok dari dapur.
" Siapa Bi?"
" Nggak tahu sayang, kakak masih pegang anak-anak nih...." Rangga melambaikan tangan Almaeera padanya dengan disertai senyum manis keduanya.
Ara menyambar jilbab instannya dan melangkah ke ruang tamu, tanganya menyambar mengelus pipi Almeer yang terus menggerakan tanganya menggapai pada mommynya dari atas baby bouncer.
" Bentar ya boy..., ada tamu..., mommy buka dulu ya..."
Cup
Dikecupnya pipi Almeer sekilas.
Seorang gadis cantik, dengan baju yang rapi dan ber branded, stylish berdiri di depan pintu.
" Benar ini rumah Rangga dek?" Tanya wanita itu saat Ara masih terpaku di depan pintu.
" I..iya..., silakan masuk..." Ara melebarkan pintu rumahnya dan mempersilahkan tamunya masuk.
Oh.., barangkali teman kak Rangga...
Wanita itu melihat sekeliling ruangan, ada rasa kagum dari wajahnya. Rumah yang asri dan sejuk, tak terlalu mewah tapi terlihat begitu sangat nyaman.
" Silahkan duduk, saya panggilkan kak Rangga dulu..."
Ara hendak masuk, tapi lengannya dicekal oleh wanita itu.
" Ehh.., tunggu...Nih.. Gue nggak tau kakak lo suka apa?, tapi gue bawain cheese cake, ini buatan gue sendiri..." Ucap wanita tersebut dengan menyodorkan pepperbag pada Ara.
Ara mendadak bingung, wanita itu terus menyebutkan kata kakak lo. Ya emang Rangga kakaknya juga sih.
Siapa ya?, akrab bener dengan kak Rangga sepertinya?
Ara tersenyum manis dan mengangguk lalu masuk ke dalam.
" Siapa sayang?" Tanya Rangga yang saat ini sedang menggendong Almeer, dan bergantian Almaeera di baby boucer.
" Sepertinya temanmu Bi..." Jawab Ara dengan tangan mengambil alih Almeer.
" Teman?" Gumam Rangga pelan.
" Ya udah gih kedepan, Lili buatin minum dulu..." Sambung Ara.
" Almeer sama adek dulu ya sayang..." Ara mengecup pipi twins sebelum masuk ke dapur, meletakkan Almeer pada baby bouncernya.
" Ya, cari saya?" Sapa Rangga pada tamunya.
" Ah, iya.... Salken, gue Sheyla...." Wanita yang bernama Sheyla itu berdiri dan menyodorkan tanganya di depan Rangga.
Sementara Rangga mengatupkan kedua tanganya di dada.
__ADS_1
" Gue Rangga..." Sahut Rangga.
" Oh...okey.." Ucap Sheyla dengan cepat menarik tanganya yang menggantung.
" Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rangga setelah kini mereka kembali duduk.
" Ah, iya gue mau mengucapkan terimakasih karena lo udah bantuin nyokap gue kemarin..."
Rangga mengernyitkan dahinya, dan langsung konek dengan maksud wanita ini.
" Oh iya, tidak masalah.." Sahut Rangga malas.
" Sebagai rasa terimakasih, mama mengundang kakak ke rumah untuk makan malam, kapan kakak ada waktu luang.."
" Waduh sepertinya akan sulit, waktu saya dari buka mata pagi hari sampai malam hari sebelum tidur sudah sangat padat" Jawab Rangga lagi.
Jelas saja, orang dosen nyambi ngantor, belum buat kontennya..
Pasti kaya nih... Hidup gue bisa terjamin tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh pengkolan, tujuh tikungan. Wahhh mantap nih..
Sheyla tersenyum dengan fikiranya sendiri.
" Silahkan diminum kak..." Suara Ara mengagetkan lamunan Sheyla.
" Iya dek, makasih..."
Dek????, batin Rangga.
" Ya udah saya tinggal kedalam lagi ya..."
Ara bergegas berbalik badan, tapi tangan Rangga dengan cepat meraih tanganya dan mengecupnya, lalu mengusapkan jemari Ara pada seluruh wajahnya.
Sheyla terkejut melihat itu semua, tapi tak lama senyumnya tersungging.
" Lo sayang banget sama adek lo ya?, gue salut. Jarang-jarang lo kakak sebegitunya sama adek sendiri..." Ucap Sheyla lagi.
" Hah...tunggu dulu, seperti nya ada yang sa---"
" Assalamualaikum..." Suara Lenox dan Ardi yang muncul dari pintu menghentikan ucapan Rangga.
Tanpa menunggu jawaban salam Rangga keduanya nyelonong masuk. Ardi langsung masuk kedalam sedangkan Lenox, menatap wanita itu lekat.
" Siapa?" Tanyanya pada Rangga.
" Oh, ini...siapa tadi ya?" Rangga menoleh ke arah Sheyla.
" Gue Sheyla..." Sheyla yang melihat lelaki tampan, sebelas duabelas dengan Rangga begitu girang. Dengan cepat wanita itu berdiri dan menyodorkan tanganya ke hadapan Lenox.
" Gue Lenox.." Sahut Lenox dengan mengedipkan sebelah matanya, matanya menatap tanpa kedip penampakan di depanya itu dari atas sampai bawah.
" Waawww, you so sexy. Haummmm" Lenox kembali mengedip ganjen dan membuat suara seolah-olah mirip Harimau.
Tak lama Ardi keluar dengan menggendong Almeer.
Lagi-lagi Sheyla melongo melihat ketampanan Ardi.
" Gue bawa bebeb dulu ya Ga, kita langsung ke rumah kak Rayya soalnya.." Ucap Ardi dengan menjatuhkan tubuhnya disamping Rangga.
" Hai..., gue Sheyla..." Ucap Sheyla sok ramah, lagi dia menyodorkan tanganya.
Ardi menatap Rangga sekilas, dan Ranggapun mengangguk pelan.
" Ah, gue Ardi. Sorry gue lagi gendong bayi..." Ardi menunjukkan tanganya yang tidak bisa menjabat tangan.
" Ah, iya nggak papa..." Ucap Sheyla.
Matanya begitu kagum melihat penampakan yang begitu menyegarkan pagi ini.
Lenox melirik sinis pada wanita itu dan berlalu begitu saja kedalam.
" Siapa Ra?" Tanya Lenox pada Ara yang sedang memasukkan masakannya ke rantang untuk dibawa kerumah Hanum dan Rayya.
" Siapa apa?" Sahut Ara.
" Yang didepan itu?" Tanya Lenox. Tanganya terampil mengangkat Almaeera dan meletakkannya di keranjang gendong bayi, lalu tangan satunya meraih keranjang satunya untuk Almeer.
" Mungkin teman kak Rangga.." Jawab Ara santai.
__ADS_1
" Ku rasa dia naksir suamimu deh.., masa teman dandanannya mirip seorang yang sedang menarik perhatian lawan jenis. Nah lo...mampus lo.." Lenox menggigit bibirnya gemas saat melihat Ara meremas gagang rantang dengan geram.
Sejak tadi sebenarnya dia sudah cemburu, tapi ditahannya. Rupanya Lenox datang untuk menyiram bensin agar semakin berkobar.